
Seisi rumah digemparkan dengan perubahan sikap Finn Walter. Biasanya, pria dingin itu jarang sekali keluar dari ruangannya dan selalu sendirian. Namun beberapa hari terakhir ini, dia selalu ada dimana-mana, di semua bagian di rumah itu.
Segera saja, hal itu menjadi perbincangan hangat oleh seisi rumah megah itu.
"Tuan Walter sekarang berbeda, ya? Dia mau keluar dan menyapa kita. Ternyata dia tampan kalau sedang tersenyum," ucap salah seorang pelayan wanita yang detik itu juga jatuh cinta kepada Finn hanya karena pria itu mengucapkan selamat pagi kepadanya.
Tentu saja, hal ini ada sangkut-pautnya dengan Mia Colton. Gadis yang sejauh ini berhasil melelehkan hati Finn yang dingin itu.
"Sapalah para pelayan dan pekerja di rumahmu dan jangan lupa tersenyum. Tersenyum tidak akan mengurangi wibawamu, Finn," saran Mia kepada Finn suatu hari.
"Berisik!" tukas Finn kemudian.
Tak hanya itu, Finn bersikap lebih hangat kepada Mia. Tidak setiap hari, tetapi paling tidak dalam satu hari itu, dia bersikap lembut kepadanya.
Suatu hari, Finn mencari Josh. Ada sesuatu yang akan dia sampaikan kepada pria yang sudah dekat dengannya selama puluhan tahun itu.
"Kenapa kau mencariku?" tanya Josh. Suaranya terdengar gusar entah karena apa.
"Bantu aku. Aku akan mengungkapkan cintaku kepada Mia malam ini," kata Finn.
"Uhuk! Uhuk! Apa? Kau tidak mabuk, 'kan?" tanya Josh meragukan pendengarannya.
Finn tersenyum, baru kali ini dia tersenyum tulus seperti itu. "Tentu saja tidak. Lihat saja, aku sanggup berdiri tegak dan aku tidak meracau,"
"Kau sungguh-sungguh mencintainya atau hanya perasaan sesaat?" tanya Josh, kini pertanyaan sampai pada tahap menyelidik. Pria itu sudah mengenal bagaimana Finn memperlakukan seorang wanita.
"Aku sungguh-sungguh dan perasaan ini baru kusadari akhir-akhir ini," jawab Finn.
Josh memincingkan kedua matanya. "Bukan karena dia dekat denganku, 'kan? Maksudku, kau punya kecenderungan untuk memiliki apa yang orang lain miliki, Finn!"
Finn tertawa. "Hahaha, tadinya kupikir seperti itu. Tapi, setelah kupikir-pikir lagi, aku sungguh mencintainya," jawab Finn lagi.
"Kau mengingatkanku pada Beth Parker. Kau ingat dia? Apa yang kau lakukan kepadanya?" tanya Josh tajam.
Wajah Finn mengeras seketika. "Apa kau ingat kalau kita sudah pernah membahas hal ini? Aku akan membunuhmu jika kau menyebut nama Beth? Ini bukan sekedar ancaman, Josh! Apa kau ingat itu?"
"Mia adalah seorang gadis yang polos! Bahkan dia tidak tau kalau dia menyukaimu, shhit!" umpat Josh. "Apa kau tau alasan dia tidak berani mendekatimu? Karena dia selalu berdebar-debar jika berada di dekatmu!"
"Benarkah begitu? Dia menyukaiku?" tanya Finn, meragukan pendengarannya. Wajahnya kembali berganti dengan cepat.
Josh mengacungkan jari tengahnya. "Aku pergi!"
"Josh! Tunggu dulu! Aku butuh bantuanmu, kau teman terdekat Mia, bantu aku!" pinta Finn lagi.
"Cari tau sendiri!" tukas Josh, dia pergi dengan membanting pintu kesal.
__ADS_1
Finn menghela napasnya panjang. "Apa salahku? Kenapa dia tidak pernah percaya kalau aku benar-benar jatuh cinta?"
Pria itu pun terpaksa berpikir sendiri tentang apa yang di sukai oleh Mia. "Ah, Willia. Aku harus menemui Willia, dimana anak itu?"
Finn keluar kamar dan mencari Willia di kamar Mia, tetapi pelayan wanita muda itu tidak ditemukan disana. Dia pun putus asa dan meminta kepada seorang pelayan yang lain. "Dimana Willia?"
"Willia sedang bersama Nona Mia," jawab pelayan itu.
"Nona Walter, mulai saat ini biasakan panggil istriku dengan Nona Walter. Panggil-," Finn menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Tolong panggilkan Willia untukku. Terima kasih,"
"Baik, Tuan Walter," jawab pelayan itu tersipu malu dan kemudian dia berlari kecil dengan wajah memerah.
Tak lama, seorang gadis putih dengan rambut tergulung rapi berpakaian pelayan datang dan mengetuk pintu ruangan Finn.
"Masuk," titah Finn, dia sudah menyiapkan pertanyaan untuk dia tanyakan kepada gadis pelayan itu.
Mendengar perintah masuk dari tuannya, gadis pelayan itu pun segera memasuki ruangan. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan Walter?"
"Willia, sa-, .... Mia?" Finn terpana melihat Mia datang dengan memakai pakaian pelayan. Dia pun segera mengunci pintu dan menutup seluruh jendela di ruangan itu. "Kenapa kau memakai pakaian seperti itu? Ah, kepalaku pusing!"
Finn memegangi pelipisnya dan memijatnya perlahan. "Kemana pakaianmu? Atau kau sengaja menggodaku dengan pakaian seperti itu?"
Mia tersenyum sambil memperlihatkan pakaian pelayannya kepada Finn. "Cantik, 'kan? Kau suka?"
"Ini bukan masalah suka atau tidak suka, Mia." suara Finn terdengar putus asa dan dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat ke arah Mia.
"Jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa berhenti memakanmu siang ini, Mia!" Finn segera melummat bibir pink Mia dan memagutnya dengan panas.
Mia mengalungkan lengannya di pundak Finn. Pagutan mereka kian memanas, tangan Tuan Finn mulai bosan untuk dia dan dia pun mengizinkan kedua tangan serta jari-jarinya untuk menjelajah tubuh Mia dan mencari titik sensitif gadis itu.
Ruangan itu berubah menjadi panas bersamaan dengan meningkatnya intensitas pergerakan mereka. Sementara itu di luar ruangan, Willia masih dengan setia menunggu di depan pintu ruangan itu.
"Willia, apa yang kau lakukan di depan ruangan Tuan Walter?" tanya Josh yang sedang lewat dan melihat gadis pelayan itu menanti dengan sabar.
"Saya sedang menunggu Tuan dan Nona Walter di dalam, Tuan," jawab Willia.
Josh berkacak pinggang dan mengerenyitkan keningnya. Dia mendekati ruangan itu dengan tangan terkepal dan hendak mengetuk. Namun, niatnya itu urungkan. "Tidak perlu ditunggu, Willia. Dua orang bodoh ini akan tidak akan selesai sampai matahari tergelincir dan masuk ke dalam peraduannya."
"Baik, Tuan," ucap Willia. Akan tetapi, dia hanya mundur beberapa langkah dan duduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan Finn.
Josh kembali mengurungkan niatnya untuk pergi begitu saja. "Ah, Willia. Bantu aku untuk menyiapkan ini dan ini,"
Willia mengangguk. "Ini untuk Nona? Baik, Tuan. Saya akan sampaikan ini kepada kepala koki,"
Setelah Willia pergi, Josh mengutuk dirinya sendiri kenapa dia harus ikut campur urusan Mia dan Finn. "Aku memang pria baik," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Selang beberapa jam, Finn meminta Mia untuk bersiap-siap dan merapikan dirinya.
"Untuk apa?" tanya Mia, sambil memakai kembali pakaiannya yang sudah acak-acakan karena pertarungannya dengan Finn tadi.
"Kau akan makan malam dengan pakaian itu?" tanya Finn lagi. "Aku tidak akan membiarkanmu keluar ruangan ini dengan memakai pakaian yang menggoda itu. Josh bisa saja menculikmu kapan saja aku lengah. Pakai jasku!"
Finn mengambil sebuah jas berwarna hitam dan dia menutupi tubuh Mia dengan jas itu. "Pakailah setelah itu masuk ke kamarmu sampai aku datang menjemputmu!"
"Kenapa begitu?" bantah Mia.
Finn kembali mendaratkan ciumannya di bibir Mia. "Turuti saja apa kataku atau semuanya akan berantakan,"
"Apa yang berantakan? Apa itu, Finn? Hei, beritahu aku!" tuntut Mia.
Namun, Finn sudah mendorongnya untuk keluar dari ruangannya. "Willia , rapikan dia! Ada sebuah kotak di atas ranjang Nona Walter, buka dan pakaikan itu untuknya. Aku minta 40 menit ke depan, dia sudah siap!"
"Baik, Tuan Walter. Ayo, Nona," ucap Willia sambil menggandeng tangan Mia.
Sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Finn, Willia sudah membuat Mia cantik dalam waktu kurang dari 40 menit. Dan sekarang, gadis itu sedang mematut dirinya sendiri di depan cermin.
"Wah, gaun ini cantik sekali," kata Mia sambil memutar-mutarkan tubuhnya. Gaun berwarna pink cerah dengan lengan menjuntai itu sangat cocok dipakai oleh Mia dan kontras sekali dengan warna bronze pada rambutnya.
Kemudian dia melihat Willia. "Aku akan memberikan satu gaun untukmu. Gaun ini belum pernah kupakai. Kata Finn, seluruh barang yang ada disini milikku, jadi kau tidak perlu khawatir." Mia berjalan ke lemari besarnya dan mengeluarkan sebuah gaun berwarna biru metalik dengan manik-manik kecil yang cantik dan dia memberikan gaun itu untuk Willia. "Ambillah, ini untukmu,"
"Terima kasih," kata Willia sungkan.
Tak lama, pintu kamar Mia diketuk dan datanglah Finn yang malam itu tampak tampan dengan satu set jas berwarna putih.
"Sudah siap?" tanya Finn. Dia tampak tersipu saat melihat Mia tersenyum ke arahnya. "Kau cantik sekali,"
Finn menggandeng tangan Mia untuk makan di tempat yang sudah dia persiapkan. Ruangan makan itu sudah disulap menjadi sebuah ruangan yang romantis dengan cahaya lilin yang temaram serta musik klasik yang mengalun langsung dari pemain musik itu sendiri.
Mereka makan sambil sesekali berbincang-bincang mengenai apa pun.
"Apakah kau yang menyiapkan semua ini? Kurasa tidak mungkin," tanya Mia menggoda.
"Idenya dariku, tentu saja. Tidak ada yang bisa memberikan ide sebrilian ini selain aku," jawab Finn sombong.
Mia tersenyum. "Terima kasih untuk kejutannya. Tak kusangka kau manis sekali,"
Finn merasa inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kepada gadis cantik yang ada di hadapannya itu.
"Mia, kurasa aku sudah menurunkan standarku cukup jauh, sampai aku bisa jatuh cinta kepada seorang gadis kecil sepertimu," kata Finn, kini dia berjalan mendekati Mia dan berlutut didepannya. "Entah bagaimana caramu membuatku terpaku kepadamu, aku tidak mengerti. Saat ini, aku hanya mengerti satu hal, aku mencintaimu, Mia,"
Kecupan lembut Finn pun mendarat mulus di bibir Mia. "Maukah kau kali ini bersungguh-sungguh untuk menjadi istriku?"
__ADS_1
Anggukan serta senyuman Mia menjadi jawaban untuk Finn saat itu.
...----------------...