Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Masa Lalu


__ADS_3

"Grant, kau baik-baik saja?" tanya Mia setelah pertemuan mengejutkannya dengan wanita bernama Jenna. "Boleh aku tau, siapa wanita itu?"


Grant terdiam, tatapan matanya kosong bahkan dia memberikan gula balok ke dalam kopinya terlalu banyak sampai Mia harus menjauhkan tempat gula tersebut dari Grant.


Mia pun menjauh. Dia mengajak Willia untuk menemaninya. "Willia, ke mana wanita cantik tadi?"


"Maafkan saya, Nona tapi saya tidak tau wanita mana yang Nona maksud," jawab Willia.


Mia menghela napas. Benar kata Willia, banyak wanita keluar masuk di toko kecil itu dan mereka semua cantik. Rasa penasaran Mia menguasainya. Siapa dia? Kenapa Grant tiba-tiba membeku hanya karena melihatnya? Jenna? Nama itulah yang terus terngiang di ingatan Mia.


Dia menjulurkan kepalanya lagi ke dalam untuk melihat kondisi Grant. Namun, Grant tetap seperti tadi. Tidak bergerak dan tidak dapat diajak bicara.


"Dia seperti orang mati saja, tapi matanya terbuka. Mengerikan! Apa sih cantiknya wanita itu? Hhhh, tapi memang cantik sekali, Grant seperti tersihir, tak berdaya! Dasar Pria Mata Keranjang! Kau sudah punya aku, tapi melihat wanita cantik, kau tidak bergerak! Konyol!" Mia mengetuk-ngetuk kaca toko itu dengan kesal, sampai beberapa orang yang berada di dalam toko tersebut, menoleh memandangnya. "Cih!"


Saat malam hari tiba, Grant masih tetap terdiam. "Grant! Hei, apa yang terjadi padamu? Kau tiba-tiba saja diam seperti patung. Ada apa denganmu?"


Grant tertunduk, keningnya berkerut-kerut. "Kau ingat ceritaku kemarin?"


Mia mengangguk cepat.


"Wanita itu namanya Jenna dan dia adalah wanita yang paling kutakuti. Dialah wanita yang membuatku trauma dan dia juga wanita yang berada di dalam ceritaku kemarin," jawab Grant, tatapan matanya masih kosong.


Jantung Mia seakan berhenti, ada ketakutan yang menyusup ke dalam hatinya. Perasaannya seketika berubah menjadi tidak nyaman. "Jenna? Diakah yang membuatmu trauma?"


Grant mengangguk. "Yup, maafkan aku, aku masih terkejut karena bisa bertemu dengannya di sini. Maaf, aku merusak hari kita, Mia,"


Perubahan sikap Grant, membuat Mia ragu pada perasaannya sendiri. Apakah dia akan melanjutkan hubungannya dengan Grant ataukah dia akan mundur?


"Bagaimana perasaanmu? Apakah jantungmu berdebar-debar?" tanya Mia, dia memegang jantung Grant dan menekannya sedikit untuk mengetahui detak jantung kekasihnya itu.

__ADS_1


Grant tersenyum. Dia mengambil pergelangan tangan Mia dan mengecupnya. "Aku tidak akan pergi ke manapun, Mia. Kuakui, aku sempat berdebar tadi dan seperti kau katakan, aku sempat mematung. Tapi sekarang, aku sudah kembali ke diriku sendiri dan fokus kepadamu,"


Pria itu menyapukan bibirnya ke bibir Mia. Dia menyesap dan menggerakkannya lembut. Mia yang sedari tadi sudah duduk di pangkuan Grant segera saja menyambut pagutan itu.


Ciuman mereka pun berubah menjadi panas. Kini, Grant memindahkan bibirnya ke dalam leher Mia dan menyesap leher jenjang itu. Dia menjilati sepanjang leher itu dan berbisik, "Aku mencintaimu, Mia,"


Mia mendessah saat Grant berbisik di telinganya. Kulitnya meremang dan Grant kembali mencium bibirnya. Kedua tangan bebas pria itu, kini dia arahkan ke seonggok daging nan padat yang berada di bagian depan tubuh Mia.


Jari-jarinya dia mainkan di sana sementara lidah Grant masih asik bermain di leher Mia. Bosan dengan itu, bibirnya kini beralih ke bawah sampai dia menemukan apa yang tadi dimainkan oleh jari-jarinya.


Hisapan pertama Grant pada pucuk bukit Mia, membuat gadis itu mendessah cukup kencang. "Aaah! Grant,"


Sementara dia melarikan mereka (jari-jari nakal itu) ke liang Mia yang sudah basah dan licin. Gadis itu semakin menekan kepala Grant, seolah-olah tidak ingin melepasnya. "Grant, ... Oh!"


Tak mau membuang waktu, Grant memindahkan Mia ke kursi yang dia duduki dan dia naikan kedua kaki Mia ke atas punggungnya, sementara lidah laki-laki itu menusuk dan menghujam liang Mia, membuatnya semakin basah.


"Aku tau, Sayang. Ayo, kita lakukan itu bersama-sama!" dengan sekali hentakan, mereka pun melakukan pelepasan. Grant mengeluarkan cairan cintanya di dalam liang Mia. Kecupan hangat, menutup kegiatan mereka malam itu.


Sementara itu,


Pat bersedekap dan menutup mulutnya. "I-, itukah?"


Finn mengangguk bangga. "Yup, kalau perlu aku akan kirimkan ini ke tempat Grant Sialan itu! Aku tinggal mencari James dan Rufus dan mengoleksi kepala mereka. Hahaha!"


Wajah Pat pucat pasi. Dia tidak tau harus senang atau bagaimana menanggapi Finn yang saat ini sedang tersenyum lebar.


Betapa terkejutnya wanita itu, saat Finn menjemputnya di rumah penari dengan bersemangat.


"Patricia, aku punya kejutan untukmu. Ikut aku!" kata Finn saat menjemputnya. Dia segera menarik tangan Pat dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Pat yang saat itu kebingungan, mengikuti Finn dengan pasrah. Wanita itu berpikir, Finn akan menunjukkan sesuatu yang indah kepadanya, tetapi ternyata, Finn memberitahukan sesuatu hal yang memuakkan.


"Dia menangkapku saat aku mabuk dan dia mengikat tangan serta kakiku. Dia merekam semua yang dia lakukan kepadaku. Itu gila!" ucap Finn sebelum dia merasa bersalah. "Lagipula kupikir, dia pantas mati. Dia sudah menyebabkan orang yang kusayangi pergi meninggalkanku. Sebut saja, Josh, Luigi, dan Mia! Perempuan Gila!"


Pat benar-benar kehabisan kata-kata. Ini terlalu sadis. "Tapi, kenapa kau harus, ...?"


"Untuk membuktikan kalau dia sudah mati!" jawab Finn liar. "Grant menantangku untuk memastikan mereka mati dengan membawa kepala mereka masing-masing. Jadi, kukabulkan permintaannya itu,"


"Hanya untuk Mia?" tanya Pat.


Finn melihat ke arah Pat dan menatapnya tajam. "Ya, apa ada masalah dengan itu?"


"Tidak. Aku hanya berpikir, dosamu terlalu banyak jika kau rela melakukan itu demi seorang gadis yang sudah memiliki pria lain di hatinya," jawab Pat. Suaranya datar dan tak berwarna. Wanita itu cemburu melihat Finn melakukan apa saja demi Mia seorang. Kenapa Finn tidak melihatnya? Apakah dia harus menggila juga supaya Finn berkenan melihatnya?


"Aku tau, kau cemburu. Kurasa itu hal yang wajar. Kalau kau mencintai seseorang, kau akan melakukan apa pun demi orang yang kau cintai. Begitu, 'kan?" ucap Finn.


Wajah Pat memerah. "Aku tidak cemburu!"


"Ya, kau cemburu! Aku tidak tau kenapa kau cemburu. Kalau kupikir-pikir, aneh sekali kalau kau ingin menjadi Mia. Dijual, diculik, diteror, dan diburu orang hanya karena orang itu juga iri padanya. Kenapa tidak jadi dirimu sendiri? Banggalah pada dirimu sendiri, Pat! Kau cantik, pintar, dan aku suka padamu karena kau adalah kau!" tukas Finn.


Pat terdiam. Dia tidak percaya, Finn akan mengatakan kalau pria itu menyukai dirinya yang seperti ini. "Be-, Benarkah Walter?"


Finn mengangguk. "Yup,"


Mendengar jawaban Finn, segera saja Pat melompat ke dalam pelukan pria itu dan menyambar bibirnya. "Aku juga menyukaimu, Walter!"


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2