
Hari itu, suasana di kediaman Finn Walter cukup ramai. Para pelayan terlihat rapi mengenakan pakaian formal, bukan memakai pakaian seragam yang biasa mereka kenakan. Begitu juga dengan para pengawal.
Hiasan bunga peony, marigold, serta lilac memenuhi seluruh rumah itu. Rumah megah yang biasanya suram dan sunyi, kini menjadi berwarna-warni dan ceria.
"Aku tak percaya kalau aku akan menikah lagi denganmu, Finn," kata Mia. Senyum tak hilang dari wajah manisnya.
Finn mengecup bibir Mia yang selalu berhasil membangkitkan gairahnya itu. "Aku juga tidak percaya kalau aku bisa jatuh cinta pada seorang gadis berusia 20 tahun,"
"Seharusnya tidak perlu pesta lagi, 'kan? Cukup aku dan kau saja yang tau kalau kita sudah sungguh-sungguh menjadi suami istri," ucap Mia lagi.
"Tidak masalah. Anggap saja ini pesta untukmu. Ayo, acaranya sudah akan dimulai," kata Finn menggandeng tangan istri kecilnya itu.
Josh yang menjadi wali menikah mereka tampak sedikit muram. Wajahnya tidak seceria hari-hari biasa, tetapi begitu melihat Mia dalam balutan gaun putih, mau tidak mau sudut bibirnya terangkat dan kedua matanya nampak berbinar bahagia. "Kau sangat cantik, Mia,"
"Terima kasih, Josh. Ini berkat pertolonganmu hingga aku bisa berada disini bersama kalian," ucap Mia, dia mengambil seikat bunga mawar putih yang diberikan oleh Josh.
"Bolehkah aku memelukmu, sebentar saja," pinta Josh.
Mia segera merentangkan kedua tangannya, tetapi Finnlah yang pada akhirnya memeluk Josh. "Lanjutkan pekerjaanmu, Josh. Kau minta kenaikan gaji, 'kan?"
Josh mendengus dan memandang sebal ke arah Finn. "Baik, Tuan Walter,"
Pria itu segera naik ke atas podium dan memimpin acara hari itu. Pesta pernikahan mereka berlangsung dengan meriah dan cukup menyenangkan.
"Kau lelah?" tanya Finn malam itu. Netranya terus melekat pada sosok gadis yang memakai gaun tidur menerawang di depannya.
Gadis itu tidak menari atau meliuk-liukkan tubuhnya hanya untuk menarik perhatian Finn. Dia terdiam dan bahkan tersipu malu. Wajahnya yang merah padam dan selalu tertunduk itu, justru membuat Finn ingin menyentuhnya.
"Tidak," jawab Mia.
Finn menarik tangan Mia dan menjatuhkan gadis kecil itu di pangkuannya. Rambut panjang gadis itu tergerai ke samping tubuhnya dan dengan lembut Finn menyibakkan rambut perunggu Mia.
Jari-jarinya berlarian di sekitar lengan Mia, membuat gadis itu memejamkan kedua matanya menikmati sapuan lembut jari jemari Finn.
Melihat istri kecilnya memejamkan mata, jari Finn berlari lagi dan beristirahat di pipi Mia. Dia memindahkan tangannya ke belakang leher Mia dan mendorongnya sehingga bibir mereka saling bertemu.
Finn memagutnya perlahan. Dia ingin memastikan, istrinya akan sangat menikmati malam ini, walaupun ini bukan malam pertama mereka, tetapi Finn ingin, Mia merasakan indahnya malam pertama.
Pagutan mereka semakin dalam dan menuntut. Jari-jari Finn kembali berkeliaran hingga dia menemukan dua buah benda padat yang dia rindukan. Finn menyentuhnya dengan lembut.
__ADS_1
Satu dessahan lolos begitu saja dari mulut mungil Mia. Finn membiarkan Mia terus bersuara sementara bibirnya sibuk melakukan sesuatu yang membuatnya semakin panas.
Kini tak hanya satu dessahan, tetapi setiap lidah, bibir, atau tangan Finn menyentuh setiap jengkal tubuhnya, Mia mengeluarkan lenguhan dan erangan nikmat.
Tak mau membuang waktu, Finn segera melepaskan semua benang yang menempel di tubuh istrinya itu dan melakukan penyatuan. Kali ini, dia tidak kasar atau terburu-buru. Dia bergerak perlahan dan penuh kelembutan, sesekali Finn mengecup kening atau bibir Mia dan membuat gadis itu menggelinjang, tak berdaya.
Finn mempercepat gerakannya saat dia merasakan sesuatu yang berada di bawahnya mendesak untuk segera dikeluarkan.
"Finn!" ucap Mia, dia mengeratkan cengkeramannya pada punggung Finn.
Finn tau, Mia sudah hampir sampai puncaknya. "Aku tau, Sayang," Finn kembali mempercepat tempo gerakannya dan menumpahkan semua cairan cintanya di dalam inti tubuh Mia.
Setelah melakukan pelepasan, mereka berdua tertidur saling berpelukan.
Keesokan harinya, di suatu tempat yang cukup jauh dari kota. Lilian Colton tampak resah dan gelisah.
"Ada apa denganmu, Ma?" tanya Alex kepada istrinya.
"Aku rindu Mia. Sepertinya, aku dihantui oleh bayang-bayang anak itu. Aku merasa sangat bersalah karena telah memperlakukan dia seperti sebuah barang," ucap Lilian.
Alex menyesap kopi hitam panasnya. "Semua sudah terjadi dan firasatku mengatakan Finn Walter memperlakukan anak kita dengan cukup baik,"
"Tidak mungkin! Walter tidak akan menjual Mia kembali. Sudah gempar desa ini kalau itu terjadi," jawab Alex berusaha menenangkan istrinya. "Kau tenang saja, Sayang. Anak kita akan baik-baik saja dan aku rasa, dia bahagia tinggal bersama Finn Walter. Kita masih dikirimkan uang setiap minggunya, berarti mereka baik-baik saja,"
"Semoga. Bisakah kita mengunjunginya?" tanya Lilian.
Alex mengerutkan keningnya. "Aku rasa tidak masalah. Ayo, siap-siap,"
Pasangan Colton pun bersiap-siap dengan cepat dan memanggil sebuah taksi untuk membantu mereka sampai di kota. Biasanya mereka menggunakan trem untuk ke kota, tetapi karena bantuan uang yang diberikan oleh Finn, hari itu mereka sanggup menggunakan taksi.
Setibanya mereka di tempat Finn, pengawal di rumah itu segera mencegat langkah mereka. "Ada kepentingan apa?"
"Kami orang tua Mia Colton. Ingin bertemu dengan putri kami," jawab Lilian.
Pengawal itu saling berbisik, dan mereka meminta pasangan Colton untuk menunggu. "Tunggu disini!"
Tak lama, Josh keluar dan menyambut pasangan Colton dengan ramah. "Halo, selamat datang. Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya Colton,"
Lilian dan Alex mengikuti Josh untuk masuk ke dalam rumah Finn. Rumah itu tampak sepi dan sunyi. Lilian mulai khawatir, dia ingin sekali bertemu dengan Mia hari itu. "Maaf, Tuan. Kenapa sepi sekali?"
__ADS_1
"Silahkan duduk, Nyonya." ucap Josh ramah, kemudian dia meminta kepada pelayan untuk menyajikan makanan ringan serta minuman untuk pasangan Colton.
Setelah semua tersaji di atas meja, Josh duduk bersama mereka. "Kalian ingin bertemu Nyonya Walter?"
"Iya, Tuan. Di mana dia? Di mana putri kami? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Lilian menuntut.
Josh tersenyum. Beruntunglah pasangan Colton karena mereka bertemu dengan Josh yang memiliki kesabara setebal batu bata. "Tuan dan Nyonya Walter sedang bepergian keluar kota. Karena kesibukan Tuan Walter, mereka baru sempat berbulan madu kemarin,"
Lilian menautkan jari-jarinya. "Bulan madu? Benarkah?"
"Benar. Mereka berangkat kemarin malam dan kemungkinan akan kembali minggu depan. Maaf, kami belum sempat memberitahukan kepada kalian dan memang rencananya hari ini kami akan ke desa untuk menemui kalian, tapi kalian sudah datang lebih dulu," jawab Josh sopan.
"Kami mendengar kabar tidak sedap pekan lalu tentang Mia di Pasar Budak," ucap Alex. "Kami khawatir, makanya kami datang untuk memastikan putri kami baik-baik saja,"
Josh kembali tersenyum. "Oh, kabar itu. Sudah pasti tidak benar dan tidak mungkin. Tuan Walter sangat mencintai putri Anda, jadi tidak mungkin dia membuang atau menjual Mia kembali,"
Josh menyilangkan kedua jarinya di belakang, dia berbohong. Untunglah, dia memiliki kemampuan untuk dapat merangkai kata dengan baik. Di tambah lagi senyumnya yang menawan dan terlihat meyakinkan. Lilian pun segera mempercayai kata-kata manis dari Josh itu.
"Syukurlah kalau begitu. Kami sangat lega sekaligus berterima kasih kepada Tuan Walter karena dia mau mencintai putri kami," ucap Alex penuh haru.
Sementara itu di negeri seberang, Finn dan Mia sedang melakukan pemanasan yang sangat panas. Dessahan demi dessahan seakan berlomba dan bersahutan dari mulut mereka.
"Oh, Finn. Aku sebentar lagi sampai. Ah, ...." dessah Mia.
Finn mengangguk dan semakin menghujamkan miliknya ke dalam tubuh Mia. Tak lama kemudian, mereka kembali melakukan pelepasan yang sungguh melegakan.
"Ternyata ini namanya bulan madu," kata Mia terengah-engah.
Finn tertawa kecil dan memeluk tubuh istrinya. "Aku akan membuatmu merasakan bulan madu setiap hari, Mia." katanya sambil mengecup kening Mia.
Mia mengeratkan pelukannya pada tubuh Finn. "Jangan, nanti aku tidak bisa berlari-lari, hehehe,"
Selagi mereka menikmati waktu berdua, telepon penginapan itu berdering. Finn mengangkat telepon itu dan tak lama dia berbicara kepada seseorang dengan nada serius, "Kalau mereka datang lagi, katakan saja anak mereka sedang bahagia bersamaku," setelah itu, Finn menutup telepon tersebut.
"Orang tuamu datang dan mencarimu ke rumah," kata Finn kepada Mia.
Pikiran Mia segera melayang kepada orang tuanya. Segera saja dia dilanda kegalauan. "Aku tidak tau harus kesal atau berterima kasih kepada mereka. Kalau mereka tidak menjualku, aku tidak akan bertemu denganmu. Tapi, aku tidak suka dengan cara mereka yang seperti itu,"
"Lupakanlah. Selama kau bersamaku, aku tidak akan membuatmu bersedih dan aku akan selalu melindungimu, Mia. Jangan khawatir," janji Finn ditutup dengan sebuah kecupan lembut di bibir Mia sambil berharap dalam hati, semoga dia dapat menepati janjinya itu.
__ADS_1
......................