Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Serangan Tiba-Tiba


__ADS_3

"Hai, Finn," sapa Mia.


"Canggung sekali. Apakah tidak bisa kita seperti biasa saja? Maksudku, kemarin kita sudah bertemu dengan-,"


"Suasana yang berbeda," jawab Mia, melanjutkan kalimat Finn.


Sejak kedatangan Finn ke rumah Grant Wilson dan berbicara empat mata dengan Mia, mereka tampak sangat canggung.


Keheningan lebih sering menyapa mereka, komunikasi yang mereka lakukan pun cenderung mengarah pada komunikasi tertutup yang hanya membutuhkan jawaban singkat.


"Bagaimana kabarmu, Finn?" tanya Mia.


"Baik, dan bagaimana denganmu?" balas Finn.


Mia tersenyum simpul. "Ya, aku juga baik,"


Setelah itu, keheningan menyambut mereka. Hampir dua puluh menit mereka menghabiskan waktu dalam diam. Entah apa yang ingin mereka bicarakan sebenarnya. Lidah mereka terasa kelu sehingga tanpa sadar kata-kata yang ingin mereka keluarkan seakan membeku, tak sanggup mereka sampaikan.


"Bisakah kita keluar? Maksudku, kita-,"


Mia menggelengkan kepalanya. "Kalau kau tau, seujung rambutku pun tidak boleh terlihat keluar dan bahkan angin tidak boleh menghembuskan harum tubuhku, Finn,"


Finn mengusap wajahnya. Ada sebagian kesalahannya di sana. "Mia, aku sungguh-sungguh minta maaf,"


"Bukan salahmu. Aku rasa semuanya memang sudah harus terjadi. Beruntunglah aku selalu dipertemukan dengan orang-orang baik, seperti Gwen, Pat, dan Luigi. Merekalah penolongku," kata Mia. Dia merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan mereka. Maka dari itu, dia tidak pernah mengeluh atau pun menyesali keputusannya.


"Ya, aku berhutang budi pada mereka. Seharusnya, akulah yang bertanggung jawab atasmu. Tapi, justru akulah yang membuatmu menderita seperti ini," ucap Finn.


Mia meletakkan telapak tangannya di pipi Finn. Finn mengambil tangan kecil itu dan mengecupnya. "Aku merindukanmu, Mia. Andaikan saat itu, aku tidak menyuruhmu pergi dan bersikap tegas pada Beth, aku tidak akan kehilanganmu,"


Cairan sebening kristal jatuh dengan cepat dan membasahi pipi Finn. Finn yang super hebat itu, kini menangis di hadapan gadis yang dicintainya.


Mia berdiri dan memeluk pria yang sedang menangis sesenggukan itu. "Finn, jangan kau salahkan dirimu sendiri. Tidak ada yang salah dan mungkin memang inilah jalan kita,"


Finn menggelengkan kepalanya. "Jalanku adalah jalanmu, Mia. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Apalagi, Luigi memberitahuku kalau kau dan Wilson akan pergi jauh. Sku tidak bisa, Mia. Aku tidak bisa jauh darimu,"


Suara Mia tercekat. Pria yang dia cintai sudah sedekat ini darinya, tetapi entah mengapa seperti sulit untuk digapai. Semua kenangan mereka saat mereka bersama seolah-olah sudah terjadi bertahun-tahun lalu, padahal hal itu baru saja terjadi.


"Aku pun merindukanmu, Finn. Aku sangat rindu padamu. Aku tidak siap jika kita harus berpisah," ucap Mia.


Saat pertemuan terakhir mereka beberapa waktu yang lalu, Mia terpaksa berbohong pada Finn dan pada dirinya sendiri. Gadis itu mengatakan kalau dia sudah mencintai pria lain.

__ADS_1


Mia merasa sekaranglah saatnya, untuk mengungkapkan segala yang dia rasakan selama ini. "Maafkan aku, saat kau datang kesini kemarin, aku mengusirmu dan berbohong kepadamu. Sulit sekali untukku melupakanmu. Tapi aku sadar, kita tidak bisa bersatu untuk saat ini,"


"Aku akan menunggumu, Mia. Sampai kapanpun aku akan menunggumu," kata Finn berjanji.


"Aku takut. Aku takut kalau kita tidak bisa bertemu kembali. Aku takut tidak bisa melihatmu lagi saat aku kembali nanti," ucap Mia.


Sekali lagi, Finn menguatkan Mia untuk menjadi seorang gadis yang kuat. "Kita pasti akan bertemu kembali, Mia. Ingatlah di manapun kau berada, kita akan selalu berada di bawah langit yang sama,"


"Jadi, kita pasti akan bertemu lagi? Begitukah maksudmu?" tanya Mia.


Finn mengangguk dan kembali merengkuh Mia dalam dekapannya. "Pasti, Sayang. Aku berjanji dengan segenap nyawa dan hidupku, kita pasti akan bertemu kembali dan segalanya akan membaik dengan cepat,"


Sementara itu di ruangan yang lain, Gwen, Pat, Luigi, serta Grant sedang menyusun rencana bagaimana membawa Mia dari rumah itu dengan selamat.


"Apa kalian berani menjamin tidak ada yang mengikuti kalian ke sini?" tanya Luigi pada Gwen dan Pat.


Mereka berdua pun mengangguk dengan yakin. "Kami yakin, barisan para pengawal Walter sungguh sangat membantu kami keluar dari rumah itu,"


"Aku berharap seperti itu tapi tidak ada salahnya jika kita tetap terjaga dan waspada. Mia akan tetap kuasingkan sementara di luar negeri dan untuk waktu selama itu semoga tidak terjadi sesuatu kepada kita. Dan suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali," ucap Luigi penuh harap.


Gwen dan Pat menyilangkan jari tangan mereka bersamaan. Mereka harapan yang sama dan tidak ingin sesuatu terjadi kepada mereka.


"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku takut sekali," kata Pat.


Pat mengangguk. "Ya, semoga,"


Entah apa yang dilakukan oleh Mia dan Finn saat ini, mereka membiarkan kedua pasangan itu melepas rindu. Karena mereka juga tidak tau, kapan Mia dan Finn bisa bertemu kembali.


Di tengah kedamaian itu, tiba-tiba saja suara rentetan senapan memenuhi halaman depan kediaman Wilson.


"MIA! MIA! AKU DATANG! HAHAHAHA!" suara seorang pria berteriak nyaring.


Mia mengenali suara itu. "Itu Rufus!"


Segera saja, Luigi membuka ruangan di mana Finn dan Mia berada. "Mereka datang,"


Mia dan Finn mengangguk. "Mia, pergilah." ucap Finn kepada Mia. Kemudian, dia berbicara lagi kepada Grant. "Wilson, jaga dia,"


Grant mengangguk. "Taruhannya adalah nyawaku, Walter. Kau tidak perlu khawatir,"


Mia memeluk Finn cukup erat. "Berjanjilah padaku untuk hidup, Finn. Berjanjilah,"

__ADS_1


Seusai berpesan kepada Finn, Mia memeluk Gwen dan Pat bergantian. Setelah itu, dia memeluk Luigi. "Terima kasih untuk segala bantuanmu, Luigi,"


Luigi mengecup bibir Mia. "Aku sayang padamu, Sayang. Pergilah,"


Tepat di saat Grant menarik tangan Mia, James Arthur dan Rufus menendang pintu ruangan utama rumah Wilson hingga terbuka lebar.


"Di mana gadis itu?" seru James.


"Tidak ada! Tidak ada Mia disini!" jawab Gwen memberanikan diri.


James memiringkan kepalanya menatap Gwen lekat-lekat. "Kau dan kau! Wanita Jallang penipu!"


"Siapa suruh kau begitu bodoh hingga bisa kami tipu?" tukas Pat tak mau kalah.


Tugas mereka berada di sana untuk mengulur waktu sampai Mia dan Grant dapat pergi dengan selamat. Namun James sepertinya tau apa yang mereka rencanakan, dia meminta anak buahnya serta Rufus untuk menggeledah seisi rumah. Sedangkan sisa anak buahnya, bertugas untuk mengikat tangan mereka yang berada di ruang tengah rumah Grant.


Sementara itu, tangan James yang dekil mencengkeram pipi Gwen. "Wanita Budak Sialan ini, harus kita beri pelajaran! Diapakan kira-kira, yah? Bagaimana kalau kau melanjutkan permainan kita tadi? Huh, bagaimana Sayang?"


Dengan berani, Gwen mengeluarkan salivanya ke arah wajah James. Tentu saja, hal ini semakin menyulut kemarahan James. "Wanita Sialan!"


"Lepaskan kami, Arthur!" tukas Pat. Tubuhnya bergetar ketakutan saat dia melihat Gwen bersimpuh di hadapan James dan pria itu mengarahkan batang beruratnya yang dekil ke wajah Gwen.


James seakan tuli, dia tertawa riang sambil terus memaksakan Gwen untuk memasukan batangnya itu ke dalam mulutnya. "Hahaha! Ayo, Manis! Lakukan untukku! Hahaha!"


"James Arthur, hentikan! HENTIKAN!" pekik Luigi dan Finn bersamaan. Mereka sama sekali tak berdaya dibawah ancaman senjata yang menempel di pelipis serta punggung mereka.


Sementara itu, Rufus terus mencari ke halaman belakang sambil berteriak memanggil mangsanya. "Mia! Mia, anakku, datanglah padaku, Sayang! Apakah kau tidak mau melihat luka yang kau pukulkan di kepalaku?"


Mia dan Grant terperangkap, mereka bersembunyi di balik dinding kolam renang, dekat sekali dengan posisi Rufus saat ini.


"Bagaimana kita bisa keluar, Grant?" bisik Mia.


Grant menempelkan jari telunjuknya ke bibir Mia. "Sst, bersabarlah," bisiknya.


Namun tiba-tiba saja, seorang pria membekap mulut Mia dengan kasar dan menariknya menjauh dari Grant.


"Hhmmpphh! Hhmmpphh!" pekik Mia meminta tolong.


Grant berusaha menarik tangan Mia, tetapi dia diserang senapan oleh Rufus. Pria itu berlari, berniat mencari bantuan.


"Mia diculik!" pekiknya, berharap Finn dan kawan-kawannya mendengar teriakannya dan mengejar si penculik Mia.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2