Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Rencana


__ADS_3

Malam hari itu, lagi-lagi Grant tidak pulang ke rumah. Entah apa yang dilakukan oleh Grant dan Jenna di luar sana. Kali ini, tidak ada air mata yang mengalir di pipinya. Namun, rasa sakit yang dia rasakan melebihi sakitnya saat dia berpisah dengan Finn.


Mia hanya terdiam semalaman, tatapan matanya kosong, tidak dapat diterka apa yang sedang dia pikirkan. Willia dengan setia menemani nona kesayangannya itu. Perubahan sikap Mia yang sangat drastis membuatnya khawatir.


Gadis pelayan itu berpikir apa yang harus dia lakukan untuk membuat nona-nya ceria lagi. Keesokan harinya, Willia meminta kepala koki untuk membuatkan vanila cream brulee, makanan kesukaan Mia sejak mereka berada di negara itu.


Willia juga menyiapkan susu hangat, strawberry cokelat foundue, serta roti. Setelah hampir setahun melayani Mia, Willia paham sekali apa yang menjadi kesukaan majikan wanitanya kalau dia sedang sedih seperti ini.


"Nona, sarapan sudah siap," ucap Willia. Dia segera membuka jendela dan membiarkan hangatnya sinar matahari masuk ke dalam kamar itu.


Mia muncul dari balik selimutnya. "Apa dia belum kembali?"


Willia tersenyum. "Belum, Nona. Tapi aku bisa menemani Nona sarapan di bawah. Sudah ada vanila cream brulee untuk sarapan,"


Mia menghela napas panjang dan menenggelamkan kembali dirinya ke dalam selimut. "Ah, aku sedang malas makan, Willia. Kau saja yang makan,"


"Baiklah. Aku akan membiarkan Nona tidur lima belas menit lagi," kata Willia dengan sabar. Dia pun segera keluar dan menutup pintu kamar Mia rapat-rapat.


Selepas Willia pergi dari kamarnya, Mia beranjak dari kamar. Dia melihat ke arah luar jendela. Tampaklah mobil Grant memasuki halaman rumah mereka. Rasa tertusuk itu datang kembali.


Setelah melihat Grant memarkirkan mobilnya, Mia pun buru-buru melompat ke kasur dan kembali bergelung di dalam selimutnya.


"Kau belum bangun?" tanya Grant saat dia masuk ke dalam dan melihat Mia masih bergelut dengan selimutnya.


"Kau sudah pulang? Kenapa tadi malam tidak pulang? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Mia, dia menyingkap selimutnya dan menatap Grant.


Grant merayap naik ke atas ranjang, mengecup kening Mia, dan berbaring di samping kekasihnya. "Tidak terjadi apa-apa, Sayang,"


"Kenapa kau tidak pulang?" tanya Mia, masih menatap Grant yang kini terpejam.


Pria itu terdiam, tidak menjawab, dan pada akhirnya suara dengkuran dari mulutnya yang menjawab pertanyaan Mia. Karena kesal, Mia pun berdecak dan turun dari ranjangnya.


"Willia, duduklah di depanku. Temani aku makan," pinta Mia.


Willia yang saat itu sedang melayani sarapan nonanya tersebut hanya tersenyum. "Mau aku bangunkan Tuan Wilson?"


Mia menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Temani saja aku makan,"

__ADS_1


Mia pun mengambil mangkuk berukuran sedang, menuangkan susu serta segenggam sereal ke dalam mangkuk itu. "Duduklah di sini,"


Mau tak mau, Willia pun duduk di kursi makan yang sudah disiapkan oleh Mia. "Ta-, tapi, Nona, ...."


"Sudah, makan saja!" tukas Mia, dia menyuap sesendok besar sereal ke dalam mulutnya disertai dengan sesendok vanila cream brulee.


Selama beberapa hari, Grant masih sering jarang pulang. Dia akan pulang di pagi hari kemudian tidur, sekitar jam makan siang, dia sudah pergi lagi. Begitu saja aktivitas Grant.


Hal ini membuat Mia sebal. Tak tahan dengan sikap Grant, akhirnya Mia menceritakan kekesalannya kepada Willia. Dia menumpahkan segala emosinya pada pelayan setianya.


"Aku sudah meletakkan hidupku padanya, tapi kenapa dia pergi dengan Jenna? Aku sudah percaya padanya. Bagaimana ini, Willia? Kupikir inilah saatnya aku bisa berbahagia, ternyata aku patah lagi," ucap Mia muram.


Willia menggenggam erat tangan Mia. "Bersabarlah, Nona. Mungkin Tuan Winston bukan pria baik untuk Anda,"


"Kurasa, kita harus pergi dari sini secepatnya," kata Mia tiba-tiba.


"Lalu, Anda mau pergi ke mana?" tanya Willia. Di kota besar itu, Mia hanya dekat dengan para pedagang yang berada di dekat rumah mereka.


Mia terdiam sesaat. "Mungkin untuk sementara, kita bisa menumpang pada Nyonya Clark sambil membantunya berjualan supaya tidak terlalu merepotkan,"


"Kalau begitu, aku akan bertanya pada Nyonya Clark. Nona pikirkan kembali rencana Nona ini," sahut Willia dengan bijak.


"Baiklah, jika itu keinginan Anda. Kau tidak bisa mencegahnya, 'kan?" timpal Willia lagi.


Mia beranjak dari kursinya dan menatap taman. "Kalaupun aku tetap di sini, aku tetap merasa sendiri, kesepian, dan terkurung. Dia sudah tidak melihatku lagi, Willia,"


Tak tega mendengar curahan hati Mia, Willia akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Nyonya Clark dan melakukan sesuatu untuk nona mudanya tersebut.


Berbeda dengan Mia, Finn justru sedang bersenang-senang. Pria itu selalu terlihat berada di rumah penari ataupun bar terdengar di kota itu.


Terkadang dia bersama Pat, tetapi dia lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri.


"Walter, resmikan saja hubunganmu dengan penari itu. Kasihan dia jika kau terus menggantungnya," kata seorang pengunjung rumah penari di suatu malam.


Finn hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak melepaskan pandangannya pada Pat sedetik pun. Entah kenapa, dia tidak bisa mencintai wanita itu.


"Hei, kalau kau hanya berniat mempermainkan dia, berikan saja Pat untukku!" ucap pria asing itu lagi.

__ADS_1


Finn mendengus. "Dia milikku!"


Selagi dia asik melihat Pat dan Gwen menari, Harvey dan Dave memasuki ruangan itu.


"Tuan Walter, kita perlu bicara," kata Dave.


Finn beranjak dari sofa, dia memberikan peringatan pada pria asing itu untuk tidak menatap Pat terlalu lama apalagi mengajaknya berkencan. "Kau sudah kutandai!"


Mereka bertiga menjauh dari keramaian dan duduk di sebuah bar yang tak jauh dari rumah penari itu.


"Ada apa? Kau mengganggu kesenanganku, Dave! Gadisku hampir saja diambil orang lain!" ucap Finn kesal, dia menggerutu kepada pria-pria yang menjemputnya itu.


Dave dan Harvey saling berpandangan dan tersenyum. "Kami mendapat kabar,"


"Kabar? Kabar apa?" tanya Finn tak paham. Keningnya mengerut mendengar perkataan Dave.


"Kami merasa hidupmu terlalu santai, Tuan Walter. Sudah saatnya kita berburu lagi," ucap Dave masih dengan senyum misteriusnya.


Finn mengerenyitkan keningnya. "Apa maksud kalian hidupku terlalu santai? Kalian tau aku sudah memenangkan pertarunganku dengan Parker. Aku tinggal mencari dua bajinggan lagi, setelah itu aku akan menjemput istriku dam kubawa kembali ke sini,"


"Kami mendapat pesan SOS dari pelayan istri Anda, Tuan Walter," jawab Harvey.


Sontak saja, Finn meluruskan posisi duduknya. "Willia?Apa maksudmu? Mia baik-baik saja, 'kan?"


"Aku rasa, Anda harus mempercepat perburuan Anda selanjutnya, Tuan," jawab Dave.


Mata Finn bersinar. "Itu mudah saja. Besok pagi, kita akan bergerak." Maka, malam itu Finn beserta Harvey dan Dave menyusun rencana untuk perburuan mereka di pagi hari.


Finn sangat bersemangat malam itu, bayangan untuk menjemput Mia membuatnya sangat senang dan bergairah. Rencana serta strategi dia susun dengan cepat. Senjata apa saja yang mereka bawa juga sudah mereka siapkan.


"Temui aku di rumah penari sebelum ayam berkokok. Bawalah apapun yang aku katakan tadi. Oke? Mungkin saja, ada seseorang yang mendengar percakapan kita, jadi kurasa kita tidak perlu berbisik-bisik dan berpura-puralah tertawa. Kembangkan senyummu, Dave. Hahahaha! Seperti itu," kata Finn.


"Hahaha! Baiklah, Tuan Walter!" jawab Dave dan Harvey.


Finn tersenyum puas malam itu. Kemungkinan besar besok pagi, koleksi kepala yang sudah dia kumpulkan bisa dia kirimkan kepada Grant Wilson.


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2