Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Kemenangan Yang Manis


__ADS_3

"Kau mau ke mana?" tanya Grant di suatu pagi. Pria itu baru saja kembali entah darimana dan saat dia sampai di rumah, dia sudah melihat Mia sedang mengepak pakaiannya ke dalam koper besar.


"Aku rasa hubungan kita sudah berakhir. Tidak ada yang tersisa dari hubungan ini, 'kan?" jawab Mia. Suaranya terdengar lelah dan putus asa.


Grant tertunduk. Dia tidak ingin menyakiti gadis yang kini ada di hadapannya itu, gadis yang menyembuhkan luka dan traumanya. Tidak! "Maafkan aku, Mia. Aku tak bermaksud menyakitimu tapi aku juga belum bisa menjelaskan kepadamu, apa yang terjadi denganku. Ini terlalu mendadak dan sulit untukku. Kumohon mengertilah aku, Mia,"


Mia melipat pakaian terakhirnya dan memasukan pakaian itu ke dalam koper, lalu dia menutup rapat koper itu. Dia berjalan mendekati Grant dan duduk di sampingnya. "Aku sudah mencoba untuk mengertimu, Sayang. Aku hanya lelah. Aku seperti mencintai bayanganmu."


"Di malam saat kau mengatakan apakah aku mau untuk menjadi pendamping hidupmu atau tidak, harapanku melambung tinggi saat itu juga," tutur Mia menyambung ucapannya.


Kenyataan bahwa Grant tidak mencintainya itu lebih menyakitkan daripada mereka saling mencintai tetapi kondisi mengharuskan mereka untuk berpisah, seperti halnya dengan Finn dan Mia.


Dalam kasus ini, Mia baru saja meletakan hatinya pada Grant. Namun, Grant membiarkan hati Mia tergeletak begitu saja. Bahkan Mia tidak tau apa yang menyebabkan Grant berubah seperti ini? Apakah karena wanita itu? Jenna Blanc? Mengapa Grant tidak mengatakan secara langsung kalau dia mencintai Jenna, alih-alih dia mempertahankan Mia di sampingnya?


"Kau membunuhku perlahan-lahan, Grant," kata Mia.


Grant masih tertunduk dan terdiam. Pria itu tidak berani berbicara atau sekedar membantah pernyataan Mia tersebut. Dia terlalu takut untuk menyakiti perasaan Mia, walaupun tanpa sadar, dia sudah menyakiti hati gadis itu.


"Lalu, ke mana kau akan pergi?" tanya Grant.


"Ke mana langkah kakiku membawaku, Grant. Aku tidak ingin berlama-lama di sini dan mengganggumu. Aku tau apa keputusanmu." jawab Mia. Dia pun bangkit berdiri, mengambil kopernya, dan bergegas keluar dari kamar yang pernah menjadi tempat kenangan dirinya dengan pria yang pernah dia cintai itu.


Di luar, Willia sudah menunggunya. "Nona, Nyonya Clark sudah mengizinkan kita untuk tinggal di sana sementara. Tapi, apakah Anda sudah yakin dengan keputusan ini?"


Mia mengangguk mantap. "Aku sudah yakin sekali, Willia. Setelah ini, kita harus bekerja keras supaya bisa mengumpulkan uang untuk menyewa sebuah rumah kecil atau mungkin, kita bisa kembali,"


"Baik, Nona. Menurutku, akan sulit untuk kembali," kata Willia, dia membantu Mia untuk membawa kopernya.


"Berhentilah memanggilku Nona dan berhenti juga melayaniku. Aku sudah tidak bisa membayarmu lagi. Kita berteman saja karena kita harus bekerja sama untuk mengumpulkan uang," tukas Mia tegas.


Willia tersipu malu. Bagaimana bisa dia bersikap biasa saja di hadapan seseorang yang sudah terbiasa dia layani seperti Mia? "Anda tidak perlu membayarku, Nona. Aku akan tetap berada di samping Anda,"

__ADS_1


"Ah, andaikan semua pria dalam hidupku sepertimu, Willia. Aku tidak akan sakit hati dan berpindah-pindah seperti ini," ucap Mia.


Mereka pun kemudian berjalan menuju toko bunga Nyonya Clark. Wanita tua itu sudah menunggu mereka di depan tokonya yang bercat putih klasik. Dengan senyumnya yang khas, dia menyambut kedatangan Willia dan Mia. "Tiffany, anakku." sapa Nyonya Clark sambil merentangkan tangannya lebar-lebar untuk memeluk Mia.


"Nyonya, terima kasih atas kesediaannya menampung kami. Tapi sebelum itu, aku harus jujur padamu tentang satu hal," kata Mia.


Nyonya Clark mengerenyitkan keningnya. "Masuklah dulu, Sayang. Kita bisa bicara di dalam,"


Sementara itu, Finn masih dalam perburuannya mencari James dan Rufus. Setelah dia menghubungi Dave dan ternyata mereka berdua berhasil menangkap dan menyekap Dave.


Saat ini, Finn sedang menuju tempat di mana Dave disekap. "Kita harus bergegas ke Selatan dan berpencar! Jangan bergerombol! Cari di mana kira-kira persembunyian James dan Rufus!"


Para pengawal mulai terpecah dan menyebar ke segala arah dengan tujuan yang sama, Kota Selatan. Kali ini, Finn hanya ditemani oleh satu orang pengawal yang ikut bersama dalam satu mobil.


Setibanya mereka di Selatan, Finn kembali menghubungi James melalui ponsel Dave. "Di mana kalian?"


"Kau sudah tiba? Cepat sekali! Kau punya sayap rupanya, hah! Hahaha!" ejek James. Kemudian dia berdeham dan suaranya kembali terdengar serius. "Ehem! Apa kau sendiri atau pengawalmu mengikutimu?"


Finn sengaja memancing kemarahan James supaya dia mau memunculkan batang hidungnya sehingga dia tidak perlu susah-susah mencarinya.


"Hahaha! Kalau begitu, temanmu ini akan mati!" ucap James mengancam.


"Bunuh saja dia! Tembak kepalanya sekarang, kurasa aku sudah tidak membutuhkannya lagi! Hahaha! Oh, aku ingin memberi kalian hadiah, jadi, keluarlah dan jemput aku," kata Finn. "Apa kalian ingin tau, bagaimana kabar bos kalian yang cantik itu?"


Dari seberang terdengar James berdecih. "Bos Parker kami baik-baik saja! Jangan menakuti kami, Walter! Cari aaja kami," terdengar juga suara tarikan pelatuk senapan. "Kau dengar? Senjataku sudah akan beraksi,"


"Apakah bosmu sudah membayar sisa uangnya? Hahaha, pasti belum dan dia tidak akan bisa menbayar sisa uang kalian. Aku berani menjamin itu," kata Finn lagi. Di saat dia mengulur waktu, pengawal yang ikut bersamanya membisiki dia sesuatu.


"Benarkah? Mereka sudah terkepung? Kita ke sana," ucap Finn dalam bisikan pada pengawalnya.


"Arthur, kau sedang menghitung? Hahaha! Ayolah, dulu kita berteman baik, Arthur. Lalu kau berubah," kata Finn lagi. "Anyway, aku akan segera ke tempatmu. Tunggu kedatanganku, kita akan berpesta,"

__ADS_1


"Apa maksudmu, Walter? Kenapa kau tau Parker menghentikan pembayaran kami?" tanya James. Setelah dia tadi mengingat dan menghitung, sudah beberapa minggu tidak ada kabar dari Beth Parker.


Finn tertawa puas dan penuh kemenangan. "Tenang saja, aku datang bersama bos kalian. Tunggu saja, Arthur dan siapkan hidangan untukku,"


Finn pun mengakhiri panggilannya dan segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi melewati pasar-pasar dan orang-orang yang berteriak marah.


Tak beberapa lama kemudian, sampailah dia di sebuah rumah megah dan pohon anggur dan strawberry memenuhi pekarangan rumah itu. "Rufus, pria botak itu memiliki selera yang tinggi, hah!" Finn masuk setelah memetik satu buah strawberry yang sudah berwarna kemerahan tanda matang.


Dia menggedor-gedor pintu dengan kencang. "Rufus! Arthur! Aku datang bersama bos kalian! Buka pintunya!"


Seorang pria berpakaian kumal segera membukakan pintu untuk Finn. Dengan langkah pongah, Fin memasuki rumah itu sambil menenteng kotak pendingin.


"Kau datang sendiri? Di mana Parker? Kau pembohong rupanya, Walter!" tukas James, dia membuang salivanya di hadapan Finn.


Finn menarik sebuah meja dan meletakkan kotak pendingin itu di atas meja. "Aku tidak pernah berbohong, Arthur. Hidupku selalu penuh dengan kedamaian. Hanya saja akhir-akhir kalian mengusik kedamaianku dan menggelitik sisi liarku. Nah, lihatlah! Ini Beth Parker yang kalian nantikan! Hahaha!"


Begitu Finn membuka kotak pendingin itu, kepala Beth dengan sisa busa masih menempel di mulutnya tampak kaku dengan balok es di sekelilingnya. "Oh, ini oleh-oleh untuk kalian, aku tau kalian merindukannya,"


Finn pun melemparkan beberapa helai rambut Beth yang telah dia potong ke arah James. "Kau telah memihak orang yang salah, Arthur. Andaikan kau tidak mengkhianatiku, kau tidak akan mati mengenaskan seperti ini,"


"Lepaskan anak buahku!" tukas Finn, matanya menatap lapar ke arah orang-orang itu terutama ke arah James.


Tanpa menunggu pengulangan perintah, Dave pun berhasil dilepaskan. Finn mengeluarkan suatu benda berbentuk lonjong dengan sumbu yang sudah terbuka. "Jika ada yang menarik pelatuk, desa ini akan kuleburkan!" ancamnya dengan wajah serius.


Mereka pun tak ada yang berani berkutik dan ketika Finn sudah sampai di luar, dia berbisik pada pengawalnya. "Habiskan mereka, sisakan kepala Rufus dan Arthur untukku!"


Dalam hitungan detik, suara senapan bergemuruh mengudara di seluruh desa itu. Finn tersenyum miring, merayakan kemenangannya dalam hati. Dan tak sampai enam puluh menit, tiga kepala sudah bertumpuk di kotak pendingin yang tadi dia bawa.


"Oke, siap dikirim!" ucap Finn dan kemudian dia menutup kotak pendingin itu.


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2