Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Damai


__ADS_3

Sejak Finn berani menceritakan kisahnya pada Mia, penilaian Ronald terhadap Gadis itu kini berubah. Dia berusaha untuk menerima Mia di dalam hidup anaknya. Dia mengagumi bagaimana Mia dapat membuka hati seorang Finn yang memiliki trauma karena ulahnya.


Ronald pun baru menyadari kalau luka yang dia torehkan dalam hidup Finn sangat dalam sampai-sampai Finn harus mengalami cobaan hidup yang begitu berat terutama saat putranya itu harus kehilangan sosok seorang ibu di tangan dirinya sendiri.


Seperti sebuah film yang diputar, malam itu Ronald tidak dapat tidur dengan nyenyak. Dia teringat-ingat bagaimana dia berbuat kasar kepada istrinya juga Finn. Betapa pahit rasanya hidup saat dia mengingat hal itu.


Selepas kepergian istri serta anaknya, hidup Ronald menjadi berantakan dan tak karuan. Usaha yang sempat terjatuh dan kemudian dia bangun kembali, menjadi hancur berantakan. Hidupnya tak lagi sama dan terasa sepi sekali. Di situlah titik balik Ronald, Dia memutuskan untuk berhenti minum alkohol dan bermain wanita. Dia merintis kembali dari nol usahanya sambil terus mencari Finn.


Sampai pada suatu hari, dia melihat dari koran berita kalau Finn Walter menjadi seorang bangsawan yang kaya raya berkat usaha yang didirikannya.


Betapa bangganya Ronald sebagai ayah. Dia pun bergegas menemui Finn saat itu, tetapi Finn-lah yang menemui pria tua itu lebih dulu dan mengatakan kalau saat ini dia sudah hidup bahagia dan meminta Ronald untuk tidak mencari dia lagi atau masuk ke dalam hidupnya.


Pedih rasanya hati Ronald, tetapi paling tidak dia sudah puas dengan kehidupan yang Finn jalani sekarang.


Hari itu seperti biasa, Mia sudah siap dengan baki sarapan yang dalam beberapa hari ini diantarkan ke kamar Ronald. Yang membuka tirai jendela dan kemudian menyiapkan air hangat untuk ayah mertuanya itu.


"Selamat pagi Mr, Walter. Apakah tidur Anda nyenyak tadi malam?" tanya Mia ceria.


Ronald memperhatikan gadis itu mengganti bunga di meja kerjanya. Ya, Mia tidak pernah membiarkan Ronald memandangi bunga layu di kamarnya. Dia selalu mengganti bunga itu dalam dua hari sekali.


"Hei! Aku ingin bicara denganmu, mendekatlah!" tukas Ronald.


Mia menelengkan kepalanya. "Baik, Tuan Walter, saya akan ke sana,"


Gadis cantik yang hari ini dikepang dua itu pun melangkahkan kakinya, mendekati Ronald. "Silahkan bicara, Tuan,"


"Sudah berapa lama kau mengenal anakku?" tanya Ronald.


Mia memutar bola matanya ke atas. "Hmmm, kira-kira sekitar lima bulan,"


Ronald mendengus sambil membuang tawanya. "Lima bulan? Luar biasa. Hanya dalam waktu sesingkat itu, kau sanggup membuat anakku bertekuk lutut padamu. Katakan padaku, sihir apa yang kau gunakan?"


"Aku tidak memakai sihir apa pun." jawab Mia dengan segala keluguannya.


Lagi-lagi Ronald mendengus. "Kau seperti pusat kehidupan putraku, Colton. Dia membuka segalanya padamu, itu sesuatu hal yang luar biasa,"


"Apakah Anda percaya cinta? Cintalah yang melakukan segalanya, bukan aku," ucap Mia.

__ADS_1


Ronald terdiam, dia tertunduk. Cairan bening menetes dan terjatuh pada selimut yang dipakainya. "Aku bersalah pada anak dan istriku," kata pria tua itu terisak..


"Aku menyebabkan luka batin pada anakku. Seharusnya saat itu aku menyerahkan diri pada polisi dan menjalani hukuman. Tapi, aku terlalu penakut. Aku membayar rumah sakit untuk memanipulasi kematian istriku. Aku buruk sekali, Colton," sambung Ronald masih terisak.


Tangan Mia menepuk punggung tangan keriput yang bertahan pada ujung selimut. Dia terus mendengarkan tanpa bicara. Gadis itu ikut merasakan, penyesalan yang dirasakan oleh Ronald sambil berpikir, apakah nanti orang tuanya akan menyesal seperti ini?


Setelah puas menangis, Ronald mengusap air matanya. "Colton, tentang Beth Parker-,"


"Maafkan saya, Tuan Walter. Kalau menyangkut Beth Parker, saya harus bicara. Biasanya, saya mengizinkan orang lain mengambil alih hidup saya, tapi untuk kali ini saya akan membiarkan ego saya untuk bekerja," kata Mia..


"Kau tidak mau menyerahkan Finn pada Parker. Walaupun gadis itu sedang mengandung?" tanya Ronald, nada suaranya terdengar kesal.


Namun Mia menggelengkan kepalanya. "Parker tidak mengandung anak siapapun, Tuan. Percayalah."


Melihat raut wajah Ronald yang tampak belum yakin, membuat Mia sedikit mengeraskan hatinya. "Selama Finn masih menginginkan saya ada di sampingnya, selama Finn masih membutuhkan saya di hidupnya, dan selama Finn masih mencintai saya, saya tidak akan pergi ke manapun, Tuan. Kecuali suatu saat nanti, Finn meminta saya pergi, maka saya akan pergi,"


"Kau anak baik, Colton. Sungguh." ucap Ronald melihat kesungguhan hati Mia. "Terima kasih karena kau telah bersedia mencintai putraku dengan segala kekurangan dan kelemahannya,"


Mia tersenyum. "Terima kasih juga Anda mau peduli padaku, Tuan. Oh, saya punya satu permintaan,"


"Jangan panggil saya Colton. Panggil dengan Mia saja," jawab Mia sambil menyunggingkan senyumnya.


Ronald melepaskan tawanya. "Ahahaha, baiklah, baik. Mia,"


Mia mengangguk senang. "Terima kasih, Tuan Walter,"


Hubungan Ronald dan Mia pun membaik sejak hari itu. Awalnya, mereka meragukan pendengaran mereka saat Ronald memanggil Mia bukan dengan Colton.


"Mia! Bisakah kau berjalan? Bagaimana jadinya kalau kau menabrak pria tua ini, Mia? Belajar anggun! Kau seorang istri bangsawan!" tukas Ronald. Suaranya tak lagi tinggi, melainkan riang dan penuh canda.


"Akhirnya, dia berhasil juga," ucap Josh pada Finn siang itu.


Finn tersenyum. "Ya, aku tau dia akan berhasil. Berarti, tinggal satu masalah kita, Beth Parker."


Beth Parker semakin geram begitu mengetahui Mia dan Ronald sudah berbaikan dan saat ini mereka sangat dekat. Sulit sekali masuk menyeruak di antara mereka.


"Ck! Bagaimana lagi caraku untuk mendekati Ronald? Aaarrgg! Gadis Budak Sialan! Bisa-bisanya dia mempengaruhi Ronald!" ucap Beth gusar.

__ADS_1


Bagaimana tidak gusar, rencana Beth berantakan semua hanya karena gadis desa brengsek itu! Beth pun kembali menyusun rencana.


Suatu hari, Beth memasukan bantalan perut yang lebih besar ke balik bajunya. Kemudian dia pergi menuju rumah Finn dengan membawa sekeranjang buah-buahan.


"Selamat pagi, Ayah," ucap Beth pada Ronald.


"Oh, Parker. Aduh, kenapa kau membawa berat kalau sedang mengandung?" tanya Ronald, segera meminta pelayan untuk mengambil alih keranjang buah yang dibawa oleh Beth.


Beth tersenyum manis. "Tidak masalah, buah-buahan itu untuk Finn dan Ayah,"


"Hohoho, kau terlalu memanjakanku, Parker," balas Ronald tersipu. "Duduklah dulu,"


Beth pun berjalan dengan tertatih dan duduk dengan memegangi pinggang belakangnya. "Sekarang susah duduk. Pinggangku jadi cepat lelah dan pegal,"


"Wajarlah, kandunganmu semakin besar, Parker," ucap Ronald. "Mau kupanggilkan pelayan untuk memijatmu?"


Senyum puas terukir di wajah Beth. "Tidak perlu, Tuan. Terima kasih." kepala Beth celingukan ke kanan dan ke kiri. "Di mana Tuan Walter? Sedari tadi aku belum melihatnya,"


"Tampaknya dia sedang rapat bersama Winston. Oh, ini dia Mia dengan kudapannyam. Kau mau?" tanya Ronald sambil menawarkan roti lapis tiramisu yang dibawakan oleh Mia.


"Selamat pagi, Nyonya Parker. Bagaimana kabar Anda hari ini?" tanya Mia menggoda Beth.


"Huh! Tidak perlu bertanya seperti itu!" katanya galak. Namun, tiba-tiba saja dia mual dan berlari ke kamar kecil. Dari luar terdengar suara muntahan Beth. Ronald segera memanggil pelayan untuk membantu wanita itu, sedangkan Mia dimintai tolong untuk memanggil Finn.


"Hei, istrimu mual," ucap Mia kesal.


Baik Josh maupun Finn tertawa. "Kau mengandung, Mia?"


"Bukan aku! Nyonya Parker!" tukasnya.


"Kita tidak bisa membiarkan dia berlarut-larut tenggelam dalam perannya. Josh, bantu aku untuk membongkar semua kebohongan yang telah dilakukannya!" sahut Finn tegas.


Josh mengangguk. "Aku setuju. Ini sudah keterlaluan!"


Mereka pun menyusun rencana untuk membongkar kebohongan Beth. "Kita akan jalankan esok hari saat dia datang,"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2