
Di suatu siang, Mia sedang menunggu kedatangan seseorang di sebuah restoran klasik tak jauh dari tempat Nyonya Clark.
Tak lama, seorang wanita cantik dengan terusan berwarna merah terang berjalan menghampirinya. "Halo, kau Mia?"
Mia bangkit berdiri, dia mengulurkan tangannya dengan ramah dan tersenyum kepada wanita itu. "Halo, kau Jenna Blanc?"
Wanita cantik bernama Jenna itu mengangguk dan tersenyum. Mia mempersilahkan Jenna untuk duduk. "Silahkan duduk,"
Beberapa waktu lalu, dia meminta bantuan Willia untuk mencari tau tentang Jenna Blanc ini dan entah keberanian darimana, Mia mengatakan ingin bertemu dengan Jenna saat makan siang.
Willia pun sempat terkejut saat itu. "Nona, ah, maksudku, Mia, ah bukan, Tiffany, apakah kau yakin?"
"Panggil Mia saja, setelah urusanku dengan Jenna selesai, aku akan mengatakan kepada Nyonya Clark tentang siapa aku sebenarnya," uvap Mia.
"Ta-, tapi, ...."
"Percayakan saja kepadaku. Aku rasa segalanya akan segera membaik. Aku punya firasat kuat tentang itu," kata Mia lagi, memotong ucapan Willia.
Akhirnya, Willia pun mengalah dan membiarkan Mia bergerak sesuai rencananya.
"Senang bertemu denganmu, Nona Blanc," sahut Mia. "Hari ini, kita akan saling berkenalan sambil makan siang. Kau mau, 'kan?"
"Tentu saja aku mau. Begitu aku mendengar kabar dari pelayanmu kalau kau ingin menemuiku, aku senang sekali. Aku ingin tau, wanita seperti apa yang berhasil meluluhkan hati seorang Grant Wilson," kata Jenna tersenyum. Nampak sekali di wajahnya raut bahagia, yang membuatnya semakin cantik.
Mia menyibakan rambut hitamnya ke belakang. "Kau yang hebat. Kau membawa dampak besar pada Grant. Itu luar biasa. Kau tidak hanya sanggup meluluhkan hatinya, tapi kau membuatnya tergila-gila padamu,"
"Apa maksudmu? Apa kau ingin membahas tentang aku dan Grant?" tanya Jenna.
Obrolan mereka terpotong karena waitres membawakan buku menu kepada mereka. Dengan sopan, Mia menawarkan buku menu itu untuk dilihat oleh Jenna terlebih dahulu.
Setelah Jenna memesan, barulah Mia memesan makanan. "Terima kasih," ucap Mia kepada waitres itu.
"Jadi, itukah alasanmu menemuiku, Mia?" tanya Jenna.
Mia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya ingin mengenalmu dan menanyakan tentangmu. Hari ini, kita akan membahas segalanya tentangmu dan tentangku, Nona Blanc,"
"Seperti?" desak Jenna lagi.
__ADS_1
"Aku memutuskan untuk mundur dari hidup Grant Wilson. Aku tidak tau apakah Grant menceritakan tentang bagaimana hubungan kami kepadamu atau tidak," jawab Mia.
"Ya, dia menceritakan hubungan kalian dan dia merasa bersalah karena dia merasa telah menyakitimu," sahut Jenna. Wajahnya datar dan tanpa perasaan.
Tak lama, pelayan restoran itu datang membawa pesanan makanan mereka. Setelah semua makanan dihidangkan, mereka melanjutkan obrolan mereka kembali.
"Tapi, kau mencintainya?" tanya Mia sambil memotong daging domba yang telah dia pesan.
Jenna mendengus. "Kalau aku tidak mencintainya, untuk apa aku mengambilnya darimu? Aku tau, dia selalu mencintaiku, Mia. Aku tau itu dari saat kita bertemu di toko dekat pantai dan dia menatapku seperti melihat hantu,"
"Yang aku tau, kau membuat Grant trauma karena kau berselingkuh darinya. Apakah itu benar?" tanya Mia lagi.
Saat mereka membicarakan hal ini dengan gaya elegan tanpa emosi, membuat rasa sakit Mia sedikit terangkat dan perlahan rasa sakit itu memudar lalu menghilang. Ini seperti pengobatan yang manjur untuk Mia.
"Aku tidak tau kalau dia trauma. Tapi kuakui, itu kesalahanku. Aku tak pernah menyangka aku membuatnya terluka begitu dalam," jawab Jenna. "Kurasa, cukup tentangku. Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa kau menyerah pada Grant? Kenapa kau tidak berusaha mempertahankan hubungan kalian?"
Lagi-lagi Mia tersenyum. "Untuk apa aku menggenggam sesuatu yang sudah terlepas? Itu akan menghabiskan tenagaku, Nona Blanc. Aku hanya mendoakan kebahagiaan untuk kalian berdua,"
Senyum tulus Mia membuat Jenna menyerah. Ada rasa bersalah di benaknya karena telah merebut kekasih dari gadis yang sedang asik menusuk-nusuk saladnya itu.
Di kediaman Grant Wilson, salah seorang pengawal Grant memberikan paket berbentuk sebuah kotak yang besar dan terasa dingin.
"Namanya tertera di atas paket itu, Tuan," jawab pengawal tersebut.
Grant membaca nama yamg tertera di atas paket besar itu. 'Finn Walter'. Grant memutar kedua bola matanya, dia berusaha mengingat kapan dia pernah menyebutkan alamat rumahnya. "Darimana dia tau alamat rumah ini?" tanya Grant lebih kepada dirinya sendiri.
Grant mengambil pisau dan membuka paket itu. "Kotak pendingin? Apa ini?"
Tanpa ragu, Grant membuka kotak itu dan sejurus kemudian dia berteriak ketakutan. "Waaaaa! Walter gila! Gila! Dia benar-benar gila!"
Grant mendekati kotak itu lagi dan berusaha mengenali potongan kepala itu. "Mereka, ...."
Di sisi salah satu kepala, terdapat secarik kertas yang terbungkus plastik. Perlahan, Grant mengambil dan membaca isinya. "Sesuai janjiku, aku mengirimkan kepala ini untukmu. Kau bisa menjadikan kepala-kepala itu hiasan di atas tungku apimu. Aku akan ke sana untuk menjemput Mia, tunggu aku! Sampai bertemu, Wilson."
Grant menghembuskan napasnya. "Orang gila Walter ini!" Dia merobek kertas itu setelah membacanya satu kali lagi dan meminta pelayannya untuk menyingkirkan kotak pendingin berisi kepala para penjahat itu.
Malam hari itu, setelah toko bunga Nyonya Clark tutup, Mia mengajak wanita tua penyuka bunga itu untuk berbicara.
__ADS_1
"Ada apa, Tiff? Kau seperti akan pergi jauh," tanya Nyonya Clark.
Mia duduk berhadapan dengan wanita tua itu. "Sebelumnya aku minta maaf kalau kau merasa dibohongi olehku,"
Nyonya Clark mengerutkan keningnya. "Ada apa ini? Kenapa kau berkata seperti itu? Aku jadi seram. Ada apa sebenarnya, Tiffany?"
"Namaku bukan Tiffany, Nyonya Clark. Namaku, Mia," jawab Mia. Dia sudah pasrah kalau nantinya Nyonya Clark akan marah kepadanya.
Mia pun menceritakan tentang dirinya kepada wanita pemilik toko bunga itu. "Begitulah Nyonya Clark. Aku hanyalah seorang gadis biasa dan bukan seorang putri bangsawan. Aku juga bukan istri dari pengusaha ternama, Grant Wilson. Maafkan atas semua kebohonganku, Nyonya,"
Wanita bernama asli Emily Clark itu terdiam sesaat. Suasana canggung memenuhi ruangan keluarga rumah Nyonya Clark.
Mia tidak berani mengangkat wajahnya, dia takut memandang Nyonya Clark yang akan marah kepadanya. Namun ternyata perkiraannya salah. Alih-alih marah, wanita tua itu justru memeluknya.
"Aku tidak akan marah kepadamu, Mia. Mau siapapun namamu, aku tidak peduli. Kau gadis baik, gadis kuat, dan aku menyukaimu, Sayang. Mana mungkin aku marah hanya karena masalah sepele seperti ini," kata Nyonya Clark sambil terus membelai punggung Mia dengan sayang.
"Benarkah kau tidak akan marah?" tanya Mia, dia masih belum mempercayai pendengarannya.
Tetapi, begitu dia melihat gelengan kepala dari wanita yang kini menatapnya penuh cinta itu, dia percaya. Mia memeluk wanita tua itu lagi dengan erat. "Terima kasih, Nyonya Clark,"
Setelah Mia mengungkapkan segalanya, beban di pundak gadis itu kini terasa ringan. Begitu juga dengan hatinya. Dia dapat kembali tidur nyenyak tanpa menangis atau merasa takut.
Beberapa hari kemudian, Grant datang menghampirinya di toko bunga Nyonya Clark. "Mia, ada yang ingin bertemu denganmu,"
"Jenna? Aku sudah bertemu dengannya beberapa waktu lalu dan aku sudah mengikhlaskanmu dengannya. Tenang saja Grant, aku tidak akan memaksamu untuk bersamaku," kata Mia.
Namun Grant menggelengkan kepalanya. "Bukan Jenna, tap-,"
"Mia Walter! Apa kau sudah melupakanku?" pekik seorang pria tampan berkaca mata hitam dengan kemeja berwarna hijau kotak-kotak serta dasi kupu-kupu norak menghiasi lehernya.
Senyum Mia mengembang semakin lebar, air mata harunya turun tanpa diperintah. "Finn Walter? Ataukah aku bermimpi bertemu dengan Finn Walter di sini?"
Finn berlari dan menggendong gadis itu dalam dekapannya. "Kau tidak bermimpi, Mia. Ini aku! Sesuai janjiku, aku datang menjemputmu. Kau mau kembali atau menetap di sini, aku tidak peduli. Yang terpenting, aku sudah bersama denganmu,"
Mia memeluk leher Finn. "Kupikir aku bermimpi, Finn! Oh, kau akhirnya menemukanku!"
Finn menurunkan Mia, menarik ceruk leher gadis itu untuk mendekat dan memagutnya. "Aku merindukanmu Mia Walter!"
__ADS_1
...----------------...