
Sejak saat pertengkarannya dengan Ronald, Finn selalu meminta Mia untuk menjauh. Dia tau sampai sejauh mana ayahnya itu akan bertindak. Pria itu tidak ingin Mia bernasib seperti ibunya.
Namun, bukan Mia namanya kalau dia menyerah begitu saja pada Ronald. Semakin Ronald marah, semakin gadis itu mendekatinya.
"Tuan, selamat pagi," sapa Mia di suatu pagi. Dia membukakan tirai di kamar Ronald dan membawakan pria tua itu secangkir kopi hangat dan pancake dengan butter dan mapple sirup di atasnya.
Perlahan, Ronald membuka kedua matanya. "Woah! Sedang apa kau di sini?"
"Membawakan Anda makanan. Jika Anda ingin mandi, aku sudah menyiapkan air hangat serta pakaian yang hangat juga karena cuaca sedikit dingin, jadi aku menyiapkan sweater serta celana panjang untuk Anda pakai," kata Mia sambil menunjukan pakaian serta air hangat yang sudah dia siapkan untuk Ronald.
Ronald mengendus kopi yang dibawa Mia. "Hahaha! Aku tidak memberi Anda racun atau sesuatu, kok. Mau aku meminumnya lebih dulu?"
Mia hendak mengambil cangkir kopi itu, tetapi Ronald menepis tangan Mia. "Tidak usah! Kalau kopi ini tidak enak, aku akan memuntahkannya!"
Senyum menghiasi wajah Mia. "Silahkan, Tuan. Saya permisi dulu,"
Selepas kepergian Mia, Ronald menyesap kopi hangatnya dan dia mengulum senyum. Dalam hati dia memuji kopi buatan istri putranya itu. "Hmmm," gumam nikmat keluar dari mulut Ronald.
Dia kemudian mengambil piring berisi pancake dan memotong kecil kue berbentuk bundar itu. "Hmmm, boleh juga,"
Tak beberapa lama, dia sudah menghabiskan empat lapis pancake yang dibuatkan oleh Mia dengan rasa puas. Setelah makan, dia bersiap mandi. Dilihatnya seikat bunga marigold berwarna jingga menghiasi meja kerja di kamar Ronald.
Air hangat yang disiapkan Mia pun sempurna. Pagi itu, Ronald benar-benar dapat merasakan kenikmatan hidup yang sesungguhnya. Pikirannya tenang dan semua emosi seolah menguap dari dalam dirinya.
Setelah semuanya selesai, pria itu keluar dari kamarnya. Lagi-lagi harum bau masakan menghibur indera penciumannya. Tidak biasanya, di rumah Finn dipenuhi wangi manis vanila seperti ini.
Langkahnya tertarik untuk mendekati sumber harum itu. "Siapa yang sedang memasak?"
__ADS_1
Seorang pelayan yang sedang merapikan meja makan, menghentikan aktifitasnya. "Nyonya Walter, Tuan,"
"Walter yang mana? Yang kecil atau yang besar?" tanya Ronald lagi.
Pelayan itu menyembunyikan tawanya. "Nyonya Mia Walter, Tuan,"
Ronald mendengus. "Huh!" Pria tua itu mengintip dapur dan benar apa yang dikatakan oleh pelayan kalau Mia sedang asik membuat kudapan manis di dapur.
Dalam diam, Ronald memperhatikan gadis itu dan memuji keteguhan hati Mia. Begitu Mia selesai, Ronald berlari kecil ke meja makan dan membuka koran, berpura-pura membaca.
"Halo, Tuan Ronald. Wah, sudah tampan rupanya, Ayahku ini," ucap Mia sambil membawa piring berisi kue kismis yang tadi dia buat. "Ah, ini untuk Finn. Dia suka sekali kue ini."
"Finn? Sejak kapan dia suka kudapan manis?" tanya Ronald tak percaya. Netranya sesekali menatap kue kismis yang menggodanya itu.
"Sejak dia menikah denganku, hehehe. Ini untuk Anda, Tuan. Silahkan dinikmati," kata Mia, dia menyajikan tiga potong kue kepada Tuan Ronald Walter. "Aku permisi dulu, Tuan,"
"Kue kismis. Aku memberikan tiga potong untuk ayahmu. Kenapa kau tidak berusaha untuk dekat dengan ayahmu?" tanya Mia sambil menyajikan kue-kue itu kepada Finn. Dia juga menuangkan secangkir teh chamomile hangat untuk suaminya itu.
"Terima kasih, Sayang," ucap Finn, dia mengecup bibir manis istrinya selagi Mia duduk di menyamping di pangkuannya. "Aku tidak pernah dekat dengan ayahku,"
Finn pun memulai ceritanya. "Kami berasal dari keluarga terpandang di desa saat itu. Ayah jatuh cinta pada ibu, yang saat itu hanyalah seorang gadis desa yang dilahirkan dari rahim seorang budak wanita,"
"Seperti aku?" tanya Mia.
"Bedanya, kau dijual karena hutang keluargamu tapi kau berasal dari keluarga terpandang. Berbeda dengan ibuku," jawab Finn. "Ayahku senang mabuk-mabukan dan Pasar Budak itu sudah ada sejak zaman dahulu, hanya namanya saja yang berbeda. Ayahku suka jajan wanita disana. Dia menghabiskan uangnya hanya untuk itu. Sampai suatu ketika, perusahaan ayahku mengalami kebangkrutan dan membuat emosi ayahku labil. Dia pulang dalam kondisi mabuk dan menjadikan ibuku sebagai pelampiasan. Kau tahu, menjadikan ibuku pelampiasan hasratnya dan kalau ibu tidak mau atau ayahku tidak puas, maka ayah akan memukul ibuku tanpa ampun,"
Suara Finn bergetar saat menceritakan itu. Mia memeluk suaminya dengan erat. Berusaha mengurai kesedihan dan rasa trauma yang dialami oleh Finn. "Kalau kau sudah tidak mampu, jangan lanjutkan, Finn."
__ADS_1
Namun, Finn menggelengkan kepalanya. "Kau orang kedua setelah Josh yang kuceritakan tentang masa-masa kelam dalam hidupku,"
"Terima kasih, Finn. Baiklah kalau begitu, aku akan mendengarkan," kata Mia.
Finn mengulas senyumnya. "Suatu hari, ibuku sakit. Kondisi kami saat itu sangat menyedihkan. Kami kelaparan, kami sedih, tubuh kami sakit semua karena tidak nyaman. Malam itu, ayahku pulang. Dia tidak peduli pada ibuku yang sedang sakit. Dia memaksa ibuku untuk melakukan hubungan badan, entah kenapa di malam itu, ayah tampak liar sekali seperti orang kesetanan. Dia berteriak dengan gembira, sementara ibuku menangis, merintih, dan memohon pada ayahku untuk berhenti. Tapi, ayahku tetap tidak peduli. Sampai ayah sudah mendapatkan kepuasannya, kondisi ibuku melemah. Tanpa ampun, dia memukuli ibuku dengan gelap mata. Aku memegangi kaki ayahku, berusaha menghentikan tangannya. Tapi, justru dia menyerangku."
Laki-laki itu berhenti sejenak untuk mengumpulkan memori serta oksigen, berharap dia kuat untuk meneruskan ceritanya. "Ayah memukuli ibuku sampai ibuku benar-benar pergi,"
Suasana sunyi seketika saat Finn sampai di bagian dia kehilangan nyawa ibunya. Mia kembali mengeratkan pelukannya untuk Finn. "Aku turut bersedih untuk ibumu, Finn. Aku tau bagaimana perasaanmu saat itu,"
"Aku takut, Mia. Takut sekali saat itu. Begitu ayahku melihat ibuku tak bergerak lagi, dia menatapku dan mengangkatku. Tamparan demi tamparan melayang di pipiku. Begitu setiap hari. Sampai aku memutuskan untuk melarikan diri dan bertemu dengan Josh beserta keluarganya," kata Finn mengakhiri ceritanya. "Ayahku mencariku, tapi aku terus bersembunyi. Ketika aku dan Josh dewasa, kami merantau ke kota dan aku baru bisa melupakan ayahku saat itu. Lega sekali rasanya saat keluar dari desa,"
Mia mengangguk-angguk. "Aku tau dan aku paham bagaimana rasanya itu,"
"Saat ini kau sudah bersamaku, Finn. Aku akan memastikan kebahagiaanmu. Aku akan selalu membuatmu tersenyum dan keluar dari rasa takutmu," kata Mia berjanji.
Finn mendekati wajah Mia dan mempertipis jarak mereka. Perlahan, dia mengambil alih bibir gadis itu dan memagutnya. "Karena kau sudah berjanji, maka itu jangan pernah pergi dariku, Mia dan tetaplah disisiku. Hanya kaulah yang mampu membuatku bahagia saat ini,"
"Aku berjanji," ucap Mia melanjutkan pagutan mereka.
Satu kesalahan yang Mia lakukan pagi itu, dia lupa merapatkan pintu ruangan Finn sehingga seseorang bisa mendengarkan percakapan mereka.
"Tuan Ronald, makam siang sudah tersedia," ucap pelayan kepada Ronald yang sedari tadi berdiri termangu di depan pintu ruangan Finn.
Dia melepaskan kacamatanya dan mengusap air mata yang sempat menetes dari pelupuk matanya.
...----------------...
__ADS_1