Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Cinta Baru


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,


Hiruk pikuk suara lalu lalang kendaraan, gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, riuh rendah suara orang bercakap-cakap sambil berjalan memenuhi Kota Metropolis. Kota yang berada di salah satu negeri itu, selalu sibuk dan bising. Mulai dari terbitnya matahari hingga Sang Pemilik Siang itu kembali ke peraduannya.


Seorang gadis cantik dengan balutan terusan berkerah berwarna hijau cerah dihiasi motif kotak-kotak kecil dan topi anyaman sedang berjalan menyusuri tokoh-tokoh bunga yang berada di sisinya.


"Ini akan di antarkan ke mana, Nona?" tanya seorang penjual bunga.


Gadis itu menuliskan sebuah catatan kepada si penjual dan memberikan catatan itu kepadanya. "Tolong antarkan saja ke alamat ini,"


"Atas nama siapa?" tanya penjual itu lagi.


Gadis itu tersenyum, "Tiffany Wilson,"


"Baik, Nona Wilson. Kami akan segera antarkan,"


"Terima kasih," ucap gadis bernama Tiffany itu.


Setelah dari toko bunga pun nggak di situ menuju ke sebuah mobil mewah berwarna hitam dan dia masuk ke dalam mobil tersebut.


Tak sampai 30 menit, mobil hitam itu berhenti di sebuah rumah mewah. Tadi situ masuk dan melepas topinya. Dia mengelola nafas panjang kemudian dia duduk di sebuah sofa berwarna senada dengan dinding rumah itu. "Huft, Tiffany. Aku belum terbiasa dengan nama itu," ucapnya bermonolog.


Salah seorang pelayannya yang setia datang menemuinya. "Nona Mia, Anda sudah kembali?"


Gadis itu tersenyum. "Willia, kau satu-satunya orang di kota ini yang masih memanggilku dengan nama itu. Aku merasa, Mia jauh sekali dari sini,"


"Nama Tiffany itu, 'kan hanya sementara, Nona. Aku yakin sebentar lagi Anda bisa kembali menjadi Mia lagi," kata Willia menghibur Mia.


Gadis itu hanya tersenyum kecil menanggapi pernyataan dari pelayan setianya. Sudah sekitar 4 bulan Mia tinggal bersama Grand Wilson di sebuah negeri yang jauh dari tempatnya dahulu.


Segala identitas yang ada hubungannya dengan Mia dilepaskan. Warna rambut Mia yang biasa berwarna bronze berubah menjadi hitam dengan poni tipis dan panjang. Rambutnya yang biasa lurus kini dibuat sedikit bergelombang.


Saat awal Mia tiba di negeri itu, dia sudah diperkenalkan dengan nama Tiffany Wilson, istri dari seorang Grant Wilson.


Sampai saat ini, gadis itu belum terbiasa dengan panggilan orang-orang yang menyapanya dengan 'Tiff'. Dia juga belum terbiasa dengan suasana kota besar.

__ADS_1


Dia merindukan semua orang yang ada di tempatnya dahulu. Tidak ada kabar, tidak ada berita, Mia seperti terisolasi dari dunia yang dia cintai.


"Kau benar, Willia. Apakah ada kabar dari sana?" tanya Mia. Walaupun setiap hari mendapatkan jawaban yang sama dari Willia, tetapi dia tidak pernah bosan untuk bertanya apakah ada kabar dari Gwen atau dari Pat atau bahkan dari Finn.


Willia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Nona,"


Mia menghela napasnya panjang. Sebelum dia pergi saat itu, hatinya terasa seperti teriris-iris tipis karena dia melihat pria yang dicintai sedang berpagutan dengan sahabat yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Namun rasa sakit itu perlahan menghilang, berganti dengan kerinduan yang amat sangat.


"Aku merindukan mereka, Willia," sahut Mia, dia menekuk kedua lututnya dan membaringkan kepala di atas lututnya itu.


Willia memeluk Mia. "Sabar ya, Nona. Semoga segalanya cepat berakhir dan kita bisa mendapatkan kabar baik,"


Mia mengangguk. "Ya, semoga Willia,"


Bukan tidak menikmati hidupnya di kota besar itu, tetapi Mia benar-benar tidak bisa melupakan orang-orang yang pernah dekat dengannya.


Hubungannya dengan Grant juga semakin dekat. Mereka tinggal di rumah besar itu hanya berdua. Grant bekerja di salah satu perusahaan yang terletak di pusat kota.


Mereka sering berpergian keluar hanya untuk menghabiskan waktu. Jika Grant bekerja, Mia akan berjalan-jalan seorang diri seperti pagi tadi.


"Tiffany," sapa Grant, dia menemui Mia sedang bermain air di kolam renang kecil milik mereka.


Mia tidak menoleh sedikit pun dan dia tetap memainkan kakinya di dalam air hingga terdengar bunyi berkecipak kecil.


"Hei, seru sekali kelihatannya," ucap Grant sabar.


"Hei, Grant. Kok sudah pulang? Apa kau akan mengajakku pergi ke suatu tempat?" tanya Mia antusias, tetapi sedetik kemudian dia sudah lupa dengan pertanyaannya itu dan kembali asik dengan cipratan air yang terbentuk dari kedua kakinya.


"Apa yang kau inginkan, Tiff?" tanya Grant lagi.


Mia terdiam, tatapan matanya kosong mengarah ke kolam. Grant pun memeluk gadis itu. "Hei, kuatlah, Sayang,"


"Aku sudah kuat dan terus berusaha untuk kuat. Tapi, entahlah. Seperti ada yang salah," jawab Mia, suaranya tercekat karena menahan tangis. "Dan nama Tiffany itu, aku tidak menyukainya."


Grant menghela nafas panjang. Grant belum sempat membicarakan bagaimana perasaan Mia saat namanya dirubah dan saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di negara asing itu.

__ADS_1


Pria itu pun merasa bersalah karena bahkan dia tidak bertanya apakah Mia baik-baik saja atau tidak. Yang menjadi prioritas Grant saat itu adalah Mia selamat dan tetap hidup.


Saat mereka sampai di negara asing tersebut, mereka segera mencari salon dan mengecat rambut Mia. Tak hanya itu, mereka juga merubah model rambutnya serta gaya berpakaiannya. Detik itu juga Grant memperkenalkan kepada orang-orang di sekitar mereka, kalau mereka adalah suami istri dan dia menyebut nama Mia sebagai Tiffany Wilson.


"Mia, maafkan Aku. Aku tidak menyadari kalau kau tidak baik-baik saja dan kepindahan ini berat untukmu. Seharusnya aku menanyakan ini lebih awal. Yang aku pikirkan adalah kau selamat dan hidup dan semua baik-baik saja tapi ternyata aku salah," ucap Grant.


Lengan Grant mulai basah karena air mata Mia yang menetes. Pria itu membiarkan Mia menangis di dalam pelukannya.


Setelah puas menangis, Mia mengangkat wajahnya. "Maaf, aku hanya merindukan teman-temanku,"


"Aku tau, Sayang. Aku paham," ucap Grant, dia membantu Mia mengusap air mata dengan jari-jarinya.


"Aku tidak suka nama Tiffany dan aku tidak suka menjadi Mia, tapi aku suka rambut baruku. Aku juga suka anjing collie di tempat Nyonya Clark yang menjual bunga itu. Tapi, aku lebih suka kalau teman-temanku ada di sini bersamaku," sahut Mia lagi sesenggukan.


Grant mengembangkan senyumnya. "Kau ini!" ucap pria itu sambil mengacak-acak rambut Mia.


"Apa kau jadi suka padaku?" tanya Mia tiba-tiba.


Grant membulatkan kedua matanya. "Hah? Apa? Hahahaha! Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Ya, mungkin saja kita benar-benar berakting seperti sepasang suami istri sungguhan," jawab Mia. Selama ini mereka memang lebih seperti seorang sahabat, bukan seperti suami istri.


"Kau mau?" tanya Grant. "Aku menjaga dan menahan supaya aku tidak mengungkapkan perasaan di hatiku,"


"Kenapa kau menahan? Kau bisa mengatakannya langsung kepadaku," tanya Mia. "Maksudku, paling tidak aku bisa melupakan Finn sesaat,"


Bayangan Finn dan ingatan tentang bagaimana pria itu berciuman dengan Pat, terkadang membuat Mia ingin membalas dendam dan mengirimkan gambar itu kepada Finn.


"Kalau begitu, bolehkah aku menyukaimu?" tanya Grant.


Dengan wajah tersipu, Mia menganggukan kepalanya. "Silahkan,"


Grant mengarahkan wajahnya kepada Mia dan memperkecil jarak di antara mereka. Perlahan, Grant mengecup bibir Mia dan menunggu respon dari gadis kecilnya tersebut. Setelah Mia membalas kecupan manis itu, Grant memagutnya lembut.


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2