Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Pekerjaan Baru


__ADS_3

"Nah, di atas itu adalah rumahku dan di bawah ini, tempat para pegawaiku bekerja," ucap Luigi menunjuk pada sebuah rumah yang memiliki tiga tingkat dan di bagian bawah rumah itu penerangannya sedikit gelap dan remang-remang. "Masuklah,"


Luigi mengajak Mia untuk naik ke atas tangga spiral bukan masuk ke dalam. "Untuk masuk ke dalam rumahku kau harus melewati tangga ini tapi jika kau ingin masuk ke dalam kantorku Kok bisa langsung masuk dari pintu bawah tadi. Kau mengerti?"


Mia mengangguk dan kemudian kembali mengikuti Luigi menaiki tangga spiral hingga lantai paling atas. "Ada apa di lantai dua ini?"


"Oh, itu tempat untuk para senior. Kau tahu sebenarnya aku menyewakan para penari dan para penari yang sudah memiliki kualitas serta jam terbang yang tinggi aku akan menempatkan dia di tempat yang khusus. Mereka tidak akan kugabungkan dengan para penari pemula yang ada di bawah sana," jawab Luigi tersenyum.


Mereka pun tiba di lantai tiga yaitu rumah Luigi atau tempat Luigi tinggal. Rumah itu seperti rumah pada umumnya dan memiliki beberapa ruangan. Lagi-lagi Luigi mempersilahkan MiA untuk masuk dan duduk di manapun dia mau.


"Oke, Mia. Aku menerbitkan seorang penari. Biasanya mereka akan tampil setiap malam. Nanti jika kau ingin menjadi seorang penari aku akan mengenalkan kau dengan seorang senior yang menurutku dia spesial untukku. Sementara ini aku memiliki dua lowongan pekerjaan yaitu sebagai seorang pramusaji dan seorang penari. Mana ingin kau pilih? Atau kau ingin mengambil keduanya?" tanya Luigi.


Seorang wanita berpakaian minim masuk ke dalam dengan membawa dua cangkir teh hangat. "Hai, Luigi. Kau sudah kembali? Tumben sekali, biasanya kau baru pulang sore hari setelah dari tempat adikmu,"


Luigi mengambil lengan wanita sekssi itu dan mendudukan wanita itu di pangkuannya. "Aku merindukanmu, Gwen."


Mia membelakakan kedua matanya saat Luigi mencium bibir wanita itu begitu saja di hadapannya, belum lagi tangan Luigi yang asik meremmas salah satu bukit milik wanita itu yang sedikit menyembul. Wajah Mia memerah dan cepat-cepat dia mengalihkan pandangannya.


"Gwen, kenalkan ini Mia Walter. Dia akan bekerja bersama kita mulai malam ini," ucap Luigi mengakhiri pagutannya


"Coltonkah? Hai, aku Gwen. Ya, panggil saja begitu," kata wanita cantik itu mengulurkan tangannya.


Mia membalas uluran tangan Gwen. "Namaku, Mia. Mia saja tanpa Colton atau Walter,"


"Oke, Mia." ucap Gwen lagi. Dengan anggun dia kembali pada Luigi dan memagut pria itu kembali.


Mia memandang mereka. Apa mereka suami istri? Apakah sopan bertanya seperti itu?


"Itu Gwen. Dia salah satu pekerjaku. Dia spesial, kau tau? Ah, jadi pekerjaan apa yang kau inginkan?" tanya Luigi. "Kau sudah bisa mulai bekerja malam ini. Aku punya satu ruangan untukmu. Nah, di sanalah kau akan tinggal. Silahkan beristirahat dan letakkan barangmu, nanti akan ada salah seorang pekerjaku lagi yang akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang harus kau lakukan. Ada pertanyaan?" tutur Luigi panjang.


Mia melongok ke ruangan yang ditunjuk oleh Luigi. "Bukankah ini rumahmu?"


Luigi merangkul pundak Mia. "Sayang, ini memang rumahku tapi karena kau seorang gadis yang istimewa, aku menempakanmu di atas sini, bersamaku,"

__ADS_1


Mia merasa risih dan berusaha melepaskan tangan pria itu. Kemiripan Luigi dengan Finn, membuat Mia kadang berdebar jika terlalu dekat dengan Luigi. "Aku di lantai satu saja, tidak apa-apa,"


"Oh, aku tidak akan tega menempatkanmu bersama dengan yang lain. Kau istimewa, Mia. Teramat istimewa. Aku ingin kau menjadi penting dalam hidupku," ucap Luigi. Netranya bertumpu pada netra Mia. "Sekarang, istirahatlah,"


Jantung Mia berdebar dengan cepat. Dia tidak tau perasaan macam apa yang menghinggapinya tadi. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan cepat dan dia berusaha menyadarkan dirinya sendiri. 'Tidak, Mia! Jangan jatuh cinta lagi!'


Mia pun merebahkan tubuhnya di ranjang. "Ah, nyaman sekali."


Tak lama, kedua matanya pun terpejam. Tubuhnya terasa lelah dan berat. Semenjak Josh pergi, hidupnya menjadi kacau dan dia sama sekali tidak memiliki rumah untuk pulang.


Dia pun merindukan Finn. Baru saja cintanya berbalas, tetapi dia sudah kembali ditinggalkan. Tak terasa, air matanya menetes membasahi bantal yang dia pakai.


Karena lelah, Mia pun benar-benar jatuh tertidur dan baru bangun ketika seorang wanita mengetuk pintu kamarnya. Mia mengerjapkan kedua matanya. "Masuk saja, aku tidak mengunci pintunya,"


Seketika dia teringat, dia bukan di rumah Finn lagi dan dia bergegas berdiri untuk membukakan pintu. "Maafkan aku, kupikir, ... "


Wanita itu tersenyum. "Tidak apa-apa. Namaku, Patricia. Panggil saja Pat. Luigi memintaku untuk menemanimu. Kau ingin mulai bekerja malam ini, 'kan?"


Mia mengangguk. Dia terpana melihat wajah wanita itu. Cantik seperti sebuah lukisan klasik hasil karya pelukis terkenal. "Kau cantik," kata Mia tanpa bisa menahan kekagumannya.


"Gwen?" tanya Mia.


Pat menggeleng. "Gwen itu kesayangan Luigi. Dia melakukan apa saja yang Luigi minta. Kalau aku, aku punya prinsip. Aku bekerja disini tapi tidak untuk melayani,"


"Apa maksudmu?" tanya Mia. Saat dia mendengar kata melayani dari mulut Pat, rasa takut menyergapnya. Dia tau kata melayani dari Finn saat itu.


"Kau tau, kau menari dan jika ada seseorang yang tertarik padamu, maka kau harus ikut dengannya dan melayani dia, sesuai dengan apa yang dia inginkan," jawab Pat.


Netra Mia membulat. "Benarkah seperti itu? Tapi, aku tidak menari. Aku menjadi pramusaji."


"Justru itu lebih parah. Kalau kau menari, kau bisa memakai alasan sedang lelah atau tidak enak badan. Nah ini, pakailah!" tukas Pat memberikan satu set pakaian seorang ksatria wanita dengan atasan terbuka dan bagian dada yang menyembul seperti yang dipakai Gwen tadi.


"Aku harus pakai ini?" tanya Mia, menjembrengkan pakaian itu.

__ADS_1


Pat mengangguk dan dengan cepat, dia membuka pakaian yang dikenakan oleh Mia dan menggantinya dengan baju seragam minim berwarna merah itu. "Kau harus cepat. Luigi bisa menghabisimu kalau kau terlambat,"


"Baik, maafkan aku," kata Mia.


Pat membantu Mia untuk menata rambut perunggunya. "Rambutmu indah. Pakai ini! Ayo, kita segera turun!" Pat memakaikan mahkota kecil di atas kepala Mia dan menggandeng tangan gadis itu untuk turun ke lantai satu.


Setibanya di lantai bawah, Luigi memandangnya dengan tatapan memuja. Dia membuat lingkaran dengan dua jarinya ke arah Mia mengedipkan sebelah matanya.


"Hari ini kalian kedatangan seorang teman baru. Tiadalah gadis yang cukup istimewa terutama untukku. Hehehe, aku perkenalkan kepada kalian, Mia. Kemari, Sayang. Mendekatlah padaku," ucap Luigi mengulurkan tangannya kepada Mia dan menuntun gadis itu untuk berdiri di depan.


Suara bisik-bisik memenuhi ruangan itu. Mia yang sudah terbiasa dengan bisik-bisik dan gunjingan pun tidak ambil pusing dengan suara yang menyerupai bunyi lebah itu.


"Di sini, Mia akan bekerja sebagai pramusaji dan mungkin Patricia tahu Gwen akan mengajar ini untuk sesekali menari jika diinginkan oleh para tamu. Bagaimana, Mia?" tanya Luigi. Tatapan memujanya kini berubah menjadi tatapan lapar saat melihat dua gundukan padat yang terpampang di depan matanya.


Mia mengangguk. "Ya," jawab Mia singkat.


Luigi menepuk tangannya. "Oke, kalau gitu perkenalan cukup sampai sini saja. Dan untuk hari ini Mia tidak bekerja dulu tapi dia akan duduk di kursi singgasana bersama denganku. Kita akan berbincang-bincang sambil memperkenalkanmu kepada para tamu serta langganan di rumahku ini,"


Pria itu merangkul Mia. Suasana rumah Luigi semakin malam semakin ramai. Para tamu berdatangan, ada yang hanya duduk saja sambil menikmati tarian dari para wanita, ada yang memesan makanan atau hanya sekedar memesan bir atau minuman lain.


Sepanjang malam itu, Luigi tidak berhenti tersenyum. Sampai tiba-tiba saja, dia berbisik di telinga Mia. "Aku ingin melihatmu menari. Menarilah bersama dengan Gwen,"


Luigi mengajak Mia ke sebuah ruangan dengan cahaya temaram. Ada tiga panggung kecil berbentuk lingkaran. Gwen, Patricia, dan satu orang wanita meliuk-liukkan tubuh mereka pada sebuah tiang. Dengan pakaian seminim dan seterbuka itu, para tamu dapat melihat dengan jelas bentuk serta isi di balik pakaian mereka.


Satu wanita yang berada di ujung panggung tiba-tiba saja turun, dia menghampiri pria yang ada di depannya dan menari di hadapan pria itu sambil sesekali bergerak erotis di pangkuan pria itu.


Mia menalan salivanya. "A-, Aku tidak bisa seperti itu,"


"Tenang saja, aku yang akan menjadi langganan pertamamu," ucap Luigi sambil meremmas tubuh bagian bawah Mia.


Wajah Mia tampak ketakutan, dia melihat ke arah para penari itu. Ingin sekali dia lari dari sana, tetapi Gwen sudah menarik tangannya untuk naik ke atas panggung.


"Mia, menarilah. Gerakan tubuhmu, ikuti irama musiknya. Asal saja. Kau mau bertahan hidup, 'kan?" ucap Gwen pelan.

__ADS_1


Mia tidak punya pilihan lain selain mengangguk. "Ya, aku akan mencobanya,"


***


__ADS_2