
Suara dart membangunkan Mia dari tidur paginya hari itu. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan segera beranjak dari ranjang dan berlari menghampiri jendela untuk melihat siapa yang menciptakan suara berisik itu.
Dia memincingkan kedua matanya melihat lebih jelas siapa yang sedang bermain papan target. "Josh!" bisik Mia. Dia pun mengambil baju hangat dan memakainya dengan asal, lalu berlari menemui pria bertubuh tinggi dan besar itu.
"Josh! Selamat pagi!" sapa Mia sambil melambaikan tangan dengan semangat.
Josh hanya melihat sekilas tanpa membalas sapaan Mia. Bahkan, ketika gadis itu mendekat, Josh segera menyudahi permainannya.
"Josh! Hei, Josh!" Mia menghentikan langkahnya di tempat Josh tadi bermain. Gadis itu memiringkan kepalanya melihat punggung Josh. 'Ada apa dengannya?' tanya Mia dalam hati.
Karena tidak mendapatkan sambutan hangat dari Josh, Mia kembali ke dalam kamarnya dan betapa terkejutnya dia, karena Finn sudah berada di sana, menunggunya.
"Huh! Sedang apa kau di sini?" tanya Mia.
Wajah Finn memerah saat melihat Mia yang masih memakai gaun tidur dan hanya dilapisi oleh baju hangat. "Lain kali, pakailah pakaian yang benar, Gadis Kecil!"
"Sudah! Ada perlu apa kesini?" Mia mengulangi pertanyaannya.
"Temani aku!" jawab Finn singkat.
"Ke mana?" tanya Mia.
Finn meraih pergelangan tangan Mia dan menariknya. Baru kali ini Mia merasakan telapak tangan Finn menyentuhnya. Berbeda dengan Josh, tangan Finn terasa sangat dingin. "Ikut sajalah!" jawab Finn tak sabar.
"Aku belum pernah melihatmu makan? Apa kau sudah makan atau kau sedang tidak enak badan? Tanganmu ini dingin sekali. Ini suhu tidak normal! Hei, kau mendnegarku?" ucap Mia sambil berdecak kesal.
"Itu bukan urusanmu! Masuklah!" Finn membawa Mia ke ruangan kerjanya. "Mulai hari ini, kau akan tetap berada disini bersamaku!"
"Kenapa?" tanya Mia ingin tau. Dia melihat sekeliling ruangan dan mengangumi segala yang ada di dalam ruangan kerja pria tampan itu.
Finn tidak menggubris pertanyaan Mia dan segera saja dia melanjutkan kembali pekerjaannya. Hari sebelumnya, dia memberikan peringatan kepada Josh untuk menjauhi Mia. Dia tidak senang jika Josh dan Mia terlalu dekat.
Maka dari itu, mulai hari ini, Finn memutuskan untuk membawa Mia ke manapun dia pergi. Setelah memutuskan hal itu Finn pun menjadi jauh lebih tenang.
__ADS_1
Lain lagi dengan Josh, di hari itu dia ingin sekali membantah Finn. Namun, dia paham kalau dia masih membutuhkan Finn dalam hidupnya. Dan lagi, dia memiliki janji dengan seorang gadis yang harus dia tepati.
"Bagaimana pun juga, aku harus mendapatkan uang itu untuk membebaskan Mia dan mungkin, kami bisa mencoba untuk tinggal bersama," tutur Josh malam itu kepada seorang teman. "Dan yang harus kulakukan hanyalah menjauhi Mia. Itu sulit tapi harus kulakukan,"
Josh tidak menyangka jika saat dia bangun pagi dan bermain dart, orang yang pertama dia temui adalah, Mia. "Aku berlari seperti seorang pengecut, hah!"
"Ada kalanya seorang pahlawan juga bertindak seperti seorang pengecut hanya untuk memenangkan pertempuran, 'kan?" ucap teman Josh saat itu.
"Kau benar, Dave." balas Josh lagi, dia menyesap minuman beralkohol yang ada di depannya.
"Hei, sepertinya kau jatuh cinta pada si Colton ini. Benar dugaanku?" tanya Dave. Dave adalah salah seorang pengawal Finn, dia seorang pria berkepala botak dengan badan tinggi besar, tak berbeda jauh dengan Josh.
"Ya, sepertinya. Aku jatuh cinta padanya saat kami bertabrakan di hari pernikahan Finn dengan gadis itu. Rntah kenapa, aku ingin sekali menolongnya. Saat itu, matanya tampak ketakutan dan bingung," jawab Josh. Ingatan pria itu melayang ke waktu pertama kali dia bertemu dengan Mia.
Dave mendengus. "Lupakan Colton kalau kau ingin berumur panjang. Finn tidak akan segan membunuhmu dan menganggapmu sebagai seorang pengkhianat."
"Kau tau bagaimana setiap wanita berakhir di tangan Finn Walter, 'kan, Dave? Mereka hancur dan berakhir mengenaskan. Kali ini, aku tidak akan membiarkan Mia jatuh ke tangan Finn Walter. Walaupun nantinya aku harus bertarung dengan Finn Walter," ucap Josh dengan sorot mata tajam memandang jauh ke depan.
Sementara itu,
Namun, semuanya sia-sia dan berakhir dengan Mia yang selalu mengetuk-ngetuk jendela. "Aku bosan, Finn. Aku sudah selesai dengan semua tugasku, aku hanya mau berada disana,"
Finn melihat sekilas gadis tawanannya itu yang sedang berpangku tangan dan terus memandang keluar jendela. "Apa kau tidak mengerti bagaimana seharusnya aku memperlakukanmu? Aku sudah cukup baik hanya mengurungmu dan tidak berbuat hal yang menyakitimu,"
Mia menoleh. "Kenapa kau harus mengurungku?"
"Karena kau selalu mencari Josh. Kenapa kau tidak pernah mencariku?" tuntut Finn, kali ini dia menghampiri Mia dan ikut berdiri di sampingnya.
"Karena aku tidak takut saat bersamanya," jawab Mia jujur. "Kalau aku bersamamu, aku selalu takut dan berdebar-debar."
Jauh di dalam lubuk hati Finn, seekor monster besar kembali meraung dan mencakar pintu hatinya sehingga Finn merasakan pedih sesaat setelah dia mendengar pernyataan Mia tersebut.
Finn pun menutup jendela otomatis itu dan dia kembali mendekati Mia. "Lihatlah aku!"
__ADS_1
"Ada apa denganmu? Jangan membuatku takut, Finn!" rintih Mia ketakutan.
Dengan kasar Finn merobek gaun tidur yang masih dikenakan oleh Mia, sehingga kini terpampang dihadapannya pemandangan indah dari seorang gadis yang belum pernah dijamah oleh pria manapun.
"Finn! Berhenti disitu atau aku akan kembali berteriak!" ancam Mia, dia menyilangkan kedua tangan di dada untuk menutupi bagian tubuhnya.
"Kau tau berapa harga yang ditawarkan untukmu? Mahal, Mia. Sangat mahal! Tapi, dimatamu selalu ada Josh!" kata Finn liar.
Mia berusaha menghindari Finn, tetapi pria itu seakan mengunci pergerakannya. Mia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Jangan, Finn. Kumohon,"
Hasrat kelaki-lakian Finn sudah tidak dapat ditahan lagi, kala dia memandang lekuk indah tubuh gadis yang ada di depannya itu. Belum lagi, warna kulit pucatnya yang seperti yoghurt dan bibir penuh berwarna merah yang menggodanya.
Dengan kasar, Finn melummat bibir itu. Tangannya menjamah setiap inci tubuh Mia. Dia mengungkung Mia di bawahnya.
Setelah puas dengan bibir Mia, ciumannya kini beralih ke leher dan terus menurun. Mia berusaha menarik Finn, tetapi tenaganya tidak cukup kuat.
Dia mulai meneteskan cairan sebening kristal dari kedua matanya. "Finn, aku berjanji tidak akan mencari Josh lagi. Aku mohon, berhentilah. Jangan lakukan itu, Finn!"
Derai tangis Mia berhasil mengetuk pintu hati Finn dan Finn kembali memagut bibir basah karena air mata itu. "Aku akan berhenti dan memberikanmu dua pilihan,"
Tangan Finn masih menari-nari di pucuk bukit kembar Mia yang tadi ditinggalkan oleh bibir dan lidahnya. "Yang pertama, kau boleh mencari Josh dan pergi bersamanya dengan syarat, kau harus membayar lima kali lipat semua uang yang sudah kubayarkan kepada orang tuamu,"
Finn kembali melummat benda kenyal semerah ceri milik Mia, jari jemarinya belum berhenti bermain dan membuat Mia mendessah kecil. "Yang kedua, kau harus menjalankan tugasmu sebagai istriku,"
Suara Finn yang nyaris berbisik di telinganya serta jari-jarinya yang tidak berhenti membuat Mia hanyut dalam permainan Finn.
"Bagaimana, Mia? Yang mana pilihanmu?" tanya Finn dari balik ceruk leher Mia.
"Ba-, baiklah. Aku akan menjalankan tugasku sebagai istrimu." jawab Mia dengan suara tercekat.
Finn mengangguk penuh kemenangan dan tubuhnya mulai memblesak inti Mia, membuatnya merintih kesakitan. Air mata kembali menetes membasahi pipinya. "Sakit, Finn,"
Seakan tuli, Finn tetap memaksa masuk lebih ke dalam inti Mia dan memborbardir tubuh mungil itu sampai sebercak darah mengalir dari dalam inti gadis itu.
__ADS_1
"Sekarang, kau resmi menjadi milikku, Mia." bisik Finn penuh kemenangan.
...----------------...