Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Cemburu


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Mia sudah merasa beradaptasi berada di kediaman Finn Walter. Kebanyakan hari-harinya, dia habiskan untuk bermain bersama pelayan-pelayannya atau Josh.


Hubungan Mia dengan Josh semakin dekat. Hal ini berbanding terbalik dengan hubungannya dengan Finn yang justru menjauh.


Semenjak kejadian Mia menghajar Finn, pria itu selalu memandangnya kesal. Mia pun lebih kesal, dia menganggap Finn hanya mempermainkannya dan setelah itu dia akan dibuang, sama seperti wanita-wanita lain yang pernah ada di hidup Finn.


"Kenapa kau selalu ada di sekitar Mia? Apa yang kau cari dari gadis itu?" tanya Finn. Entah mengapa, dia tidak suka melihat kedekatan antara Josh dengan Mia. Padahal, dia nyaris tidak pernah berbicara kepada Mia lagi semenjak kejadian itu.


"Sudah jelas, bukan?" jawab Josh tersenyum. Tentu saja, dia akan masuk begitu Finn lengah. Toh, status Mia sebagai istri Walter hanya sekedar status tanpa arti. Lagipula, Finn tidak peduli dengan gadis itu.


"Kau mengincarnya?" tanya Finn, dia menggertakan gigi geliginya. "Kenapa?"


Josh mendengus kasar sambil menenggak minuman yang berada di botol kaca bening berwarna cokelat. "Aku mencintainya dan aku menginginkan gadis itu untuk menjadi milikku, Finn. Kupikir, ini saatnya aku harus jujur kepadamu,"


"Tidak boleh! Dia milikku, Josh! Sampai kapan pun, dia milikku! Bahkan aku sudah menandainya sebagai milikku!" ucap Finn keras. "Aku sudah membayar mahal untuknya!"


"Akan kukembalikan uangmu seharga kau membeli Gadis Colton itu!" desak Josh. Dia sudah bertekad, apa pun yang terjadi, Mia akan tetap menjadi miliknya. Meskipun nanti, dia harus melenyapkan teman kecilnya sendiri.


"Kau sanggup? Dia gadis mahal, Josh. Kau tidak akan sanggup membelinya," cemooh Finn sambil menyalakan perapian.


Suhu bulan itu memang sedang dingin, semua perapian di rumah itu dinyalakan bersamaan untuk menghindari ruangan itu dari dinginnya udara.


"Dia bukan barang yang bisa kau beli, Finn. Dia seorang manusia yang memiliki hati dan perasaan, sama seperti semua wanita yang pernah kau tiduri lalu kau buang begitu saja!" tukas Josh geram.


Selepas kepergian Josh, Finn kembali sibuk dengan entah apa yang sedang dikerjakannya. Pikirannya tidak fokus, sesekali dia dapat mendengar suara derai tawa Mia yang sedang bersenda gurau atau berlarian di taman.


Sesekali, Finn mengintip gadis itu dari balik jendela ruangannya dan sudut bibirnya terkembang saat melihat Mia. Namun, setelah dia sadar, dia menutup kasar jendela itu dan memusatkan perhatian kepada pekerjaannya.


Sama seperti Finn, Mia tidak berusaha untuk mencoba mendekati Finn. Semakin hari, sikap Finn semakin dingin.

__ADS_1


"Pantas saja telapak tangannya sedingin es, sifatnya pun seperti es. Aku takut sebentar lagi dia akan berubah menjadi beruang kutub," kata Mia kepada salah seorang pelayan di suatu hari.


Pelayan itu merasa bersalah karena dia menertawakan tuannya. "Saya mohon, jangan berkata seperti itu tentang Tuan Walter, Nona,"


"Itu kenyataan. Kau tau, dia terlalu sering menghabiskan waktunya seorang diri dan dia benar-benar menjaga jarak denganku setelah dia mendapatkan apa yang dia mau! Maksudku, aku bukan wanita jallang seperti yang dia pikirkan," jawab Mia membela diri. Wajahnya memerah saat dia kembali teringat hari dimana kehormatannya direngut oleh Finn.


"Apa yang telah dia ambil darimu, Mia?" tanya Josh tiba-tiba, dan dia duduk di samping Mia. Pria itu melirik ke arah ruangan kerja Finn dan memastikan apakah sahabatnya itu ada disana atau tidak.


"Ah, bukan apa-apa." jawab Mia salah tingkah. "Aku ingin pergi keluar. Ada apa diluar sana?"


Mia memanjat pohon dengan cekatan dan duduk di atas dinding pembatas tempat Finn dengan dunia luar. Di bawah mereka sekitar enam sampai sepuluh orang pengawal sedang berjaga dan memperhatikan Sang Nona Walter supaya tidak nekad melarikan diri. "Aku tidak akan lompat!" ucap Mia sambil membelalakkan kedua matanya ke arah mereka.


Josh mengikuti jejak Mia dan kembali duduk di samping gadis itu. "Kau tidak pernah berbicara dengan Finn?"


Mia menggeleng. "Bagaimana aku bisa berbicara dengannya kalau dia selalu mengusirku?"


"Dia takut denganmu? Hahaha!" ejek Josh tertawa.


Josh berusaha mencerna ucapan gadis itu. "Kau, ...."


Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka di atas tembok itu hingga seseorang memanggil nama Mia.


"Mia! Turun sekarang, aku membutuhkanmu!" titah pria itu.


Mia menoleh ke sumber suara dan memincingkan kedua matanya. "Oh, Tuanku memanggil," sindir Mia kemudian dia turun dengan sekali lompat dan menghampiri si pemanggil.


"Ikut aku!"


"Kau membutuhkanku, Tuan Walter?" ejek Mia lagi saat pria itu menggandeng tangannya. Sebenarnya, jantung Mia saat ini tidak dapat tenang, dia takut kalau Finn akan melakukan hal seperti kemarin lagi.

__ADS_1


Finn membawa Mia ke dalam kamar Mia sendiri dan menghempaskan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Mia mengaduh. "Aduh," dan dia segera mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mempertahankan diri.


Dilihatnya sebuah pisau buah dan dia mengarahkannya je arah Finn. "Jangan mendekat atau aku akan menusukmu dan mengoyak tubuhmu!"


"Benarkah? Kau berani melakukan itu padaku?" Finn bergerak perlahan mendekati Mia. Dia dapat melihat gadis itu ketakutan, pegangan pisaunya bergetar. Dengan mudahnya, Finn merebut pisau itu dari tangan Mia. "Lihat, 'kan? Kalau kau ingin membunuh seseorang, maka mantapkanlah hatimu dan niatkanlah,"


Finn membuang pisau itu ke luar jendela tanpa peduli pisau itu bisa mencelakakan orang lain. Dia segera mengunci kedua pergelangan tangan Mia. "Hari ini, kau harum bunga melati, Mia. Aku suka,"


Mia terkesiap saat Finn mengecup lehernya dan menyesapnya kuat.


"Kau sudah terbiasa, yah? Sekarang, lakukan tugasmu sebagai istriku!" perintah Finn. Pria itu menurunkan gaun yang dipakai Mia dan menatap setiap lekuk tubuh Mia dengan seksama.


"Tu-, tunggu! Finn! Kau mendekatiku hanya untuk memakai tubuhku? Itukah yang kau sebut dengan tugas istri? Kau gila!" tukas Mia, dia melemparkan semua yang bisa dia lemparkan ke arah Finn. Gadis itu juga mengambil selimut dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Apa yang kau harapkan dari seorang istri? Sama seperti hubunganmu dengan Josh! Nikahi saja Josh, tapi kalau aku membutuhkanmu untuk menyalurkan hasratku, aku akan tetap memanggilmu karena kau sudah menjadi milikku, Mia!" ujar Finn. Kata-katanya tajam dan nada suaranya terdengar panas.


Mendengar hal itu, emosi Mia kembali memuncak. "Apa kau pernah merasakan kehangatan keluarga? Diajak makan bersamaku saja kau menolak, kau selalu menghindariku, Finn! Kau bangun dinding tinggi dan tebal sampai aku lelah merubuhkannya! Untuk apa kau menikahiku kalau begitu?"


"Supaya kau bisa melayaniku kapan pun aku membutuhkanmu, Mia! Apa yang kau dapatkan dari keluarga? Dijual! Ya, kau dijual oleh keluargamu! Sadarlah!" balas Finn tak mau kalah.


Jantung Mia seakan dihujam sebilah pedang tajam saat Finn berkata demikian. "Ya, maka itu aku tidak suka kalau kau memanggilku Gadis Colton!"


"Menurutlah kepadaku, Mia! Aku bisa menggantikan keluargamu!" Finn menarik selimut Mia. Namun, Mia menahan sekuat tenaga agar selimut itu tidak jatuh.


"Tidak mau! Aku bukan bonekamu, Finn!" tolak Mia. Suaranya tercekat dan bergetar menahan tangis.


"Minta saja Josh untuk membelimu dan aku akan membuka harga untukmu," kata Finn dengan senyum liciknya. Seakan belum puas menyakiti Mia dengan kata-kata, Finn juga menyerang gadis itu dengan terus menarik lepas selimut yang menutupi tubuh Mia.


"Kenapa harus Josh? Dia tidak ada hubungannya denganmu!" tukas Mia lagi.

__ADS_1


Finn mendekati Mia, mencengkeram dagunya kasar. "Ada! Kau selalu mencari dia, kau selalu bermain bersamanya, kau selalu tertawa saat dekat dengannya, dan kau selalu menikmati waktumu bersamanya! Kenapa kau tidak memaksaku untuk membuka pintuku? Kenapa kau tidak mendesakku untuk bicara denganmu? Kenapa, Mia!" Emosinya dia tumpahkan lewat ciumannya yang kasar kepada Mia. "Lihatlah saja aku, Mia! Lihatlah aku!" bisiknya.


...----------------...


__ADS_2