
Kehidupan Mia di desa sama seperti sebelum dia dijual kepada Finn Walter. Dia menjalani hari-harinya dengan bekerja dan melayani kedua orang tuanya. Sebisa mungkin, Mia menyibukkan diri hingga larut malam untuk melupakan Finn Walter.
Beberapa waktu yang lalu, Finn pernah berkata kepada Mia. Jika, Mia dikatakan bercerai dari pria itu, maka akan banyak para pria lain yang berbondong-bondong untuk meminangnya. Ramalan Finn tersebut menjadi kenyataan.
Rumah keluarga Colton tidak pernah sepi dari para pengunjung. Mereka membawakan buah, ayam, kambing, sapi, bahkan tidak sedikit yang memberikan keluarga Colton sejumlah uang.
Namun sayang, tidak ada satupun dari mereka yang ditanggapi oleh Mia. Setiap kali ada pria yang datang, dapat dipastikan Mia akan sibuk bekerja.
Entah itu mengambil air, membantu wanita-wanita tua mengepak barang, merajut sweater, sampai bekerja menjaga Tuan Rufus di rumahnya.
"Mia, apakah tidak ada dari para pria itu yang bisa menyentuh hatimu?" tanya Lilian.
Mia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Aku tidak tertarik dengan pria,"
"Kau tiba-tiba saja kembali dan tidak bercerita apa yang terjadi dengan pernikahanmu. Katakanlah pada ibumu ini, Mia, apa yang terjadi?" desak Lilian.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bosan. Jika aku dilahirkan kembali di kemudian hari, aku akan meminta pada Tuhan untuk menjadi seorang pria kaya," ucap Mia santai. Luka yang ditorehkan oleh Finn, masih terasa sangat sakit. Setiap malam sebelum tidur, Mia akan menangis dulu setelah itu dia akan tidur.
Belum lagi, dia menahan rasa rindunya kepada Josh. Saat malam tiba, biasanya dia akan memanjat loteng dan memandangi bintang-bintang.
"Josh, kau sudah berada di tempat yang indah, kah? Andai saja saat itu kau mengajakku, Josh. Aku tidak akan kesepian." ucapnya seorang diri.
Mia selalu menceritakan aktivitasnya hari itu pada langit malam dan berharap Josh akan datang, melambaikan tangan ke arahnya dengan senyumnya yang selalu ceria, dan mengajak Mia untuk pergi.
"Kenapa kau pergi sendiri, Josh? Kenapa kau tidak menungguku? Kau tau, aku membutuhkanmu," ucapnya lagi. Begitu saja aktivitas Mia setia malam..
Lilian dan Alex Colton awalnya berpikir kalau kepulangan Mia hanya untuk sementara, sehingga mereka terus menunggu Finn untuk menjemput putri mereka.
Namun, harapan tinggallah harapan. Finn tidak pernah datang, begitu juga dengan uang mingguan yang biasa Finn berikan kepada mereka.
Suatu hari, Lilian mendengar kabar angin yang tidak sedap. Kabar itu mengatakan, Finn telah menceraikan Mia. Maka dari itu, Lilian meminta penjelasan dari putrinya tentang kabar itu.
__ADS_1
Lagi-lagi Mia bungkam dan memilih untuk tidak menjawab atau pun memberikan penjelasan kepada kedua orang tuanya.
"Pa, apa kita datang saja ke tempat Walter? Kita minta penjelasan bagaimana nasib anak kita?" usul Lilian.
Alex mengusap dagunya. "Andai saja Mia mau memilih salah satu dari pria-pria itu, kita tidak perlu mengemis pada Walter! Membuang waktu saja!"
Pada akhirnya, Alex menyempatkan diri untuk menemui putri mereka. "Ada apa dengan kau dan Walter? Apa kabar yang beredar itu benar?"
"Terserah Ayah, mau percaya pada mereka atau tidak." jawab Mia sekenanya.
"Ayolah, Mia! Kami sudah tau, pendapatanmu dari Rufus tidak cukup untuk hidup kita bertiga. Berhentilah untuk bersikap bodoh. Apakah hubunganmu dengan Walter, sudah tidak dapat kalian perbaiki?" desak Alex.
Mia menggelengkan kepalanya lagi. "Andaikan bisa, aku tidak mau."
"Mia! Kalau begitu, pilihlah salah satu dari pria yang datang dan nikahi mereka!" tegas Alex Colton, tanpa memperdulikan perasaan putrinya.
"Tidak mau! Aku tidak mau menikah dengan siapa pun! Sekalipun dia anak kaisar!" tolak Mia dengan tegas.
Alex putus asa. Dia pun menyetujui usul Lilian untuk datang menemui Finn.
Tak sampai dua jam, mereka sudah tiba di kediaman Finn. Beberapa orang pengawal menyambut kedatangan mereka. "Anda ingin bertemu dengan siapa?"
"Kami mertua Tuan Walter, ingin bertemu dengan menantu kesayangan kami," jawab Alex sambil tersenyum.
Pengawal itu mengizinkan pasangan Colton untuk masuk. Tak lama, Finn pun menemui mereka bersama dengan Beth yang masih berjalan dengan menopang tongkat di sisi kanannya. Pasangan Colton segera berdiri untuk menyambut mereka.
"Halo, Tuan Walter," sapa Alex dan Lilian bersamaan.
"Duduk," titah Finn. " Ada keperluan apa kalian ke rumahku?"
Alex dan Lilian salah tingkah. Mereka tampak gugup dan menimbang bagaimana cara yang baik untuk mengungkapkan pertanyaan mereka.
__ADS_1
"Kami hanya ingin tahu bagaimana hubunganmu dengan putri kami?" tanya Lilian memberanikan diri..
Finn memasang wajah lelah dan putus asa. "Kalian lihat? Aku bersama dengan seorang wanita lain, tandanya aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan putri kalian,"
"Berarti, kalian bercerai? Ta-, tapi kenapa? Apakah Mia kami melakukan kesalahan?" tanya Alex.
Finn menyalakan rokoknya dan menghisap dalam-dalam batang tembakau itu. "Kurasa itu bukan urusan kalian. Aku tidak meminta uangku kembali jadi aku berharap, kalian juga tidak memintaku untuk kembali pada putri kalian,"
Alex dan Lilian saling berpandangan. "Ja-, jadi? Kau benar-benar menceraikan putri kami?"
"Hei, orang tua! Sudah jelas, 'kan apa yang dibicarakan oleh suamiku! Apakah kalian tahu kalau kalian mengganggu?" tukas Beth.
Finn beranjak dari kursinya dan menatap pasangan Colton dengan pandangan memohon. "Pergilah, sebelum aku meminta uangku kembali!"
Dengan langkah lunglai, Alex dan Lilian meninggalkan rumah Finn. "Kita harus bagaimana, Pa?" tanya Lilian..
"Kita harus paksa Mia untuk kembali menikah dengan pria kaya. Aku akan membuat sayembara. Barangsiapa yang berhasil mengajak anak kita untuk berkencan, maka dia boleh menikahinya. Bagaimana dengan itu?" tanya Alex, matanya berbinar..
Lilian mengembangkan senyumnya. "Itu ide bagus. Ayo, kita umumkan secepatnya!"
Alex mengangguk dengan semangat. Mereka pun kembali ke desa dengan membawa sejuta harapan tentang masa tua mereka.
"Aku tidak mau menikah! Tidak mau!" tolak Mia saat Alex memberitahukan kepadanya tentang usul untuk mengadakan sayembara.
"Harus! Jangan egois, Mia! Pikirkan masa tua kami juga! Kau tidak ingin kami menjadi pengemis di pasar, 'kan! Ayolah, Mia, bekerja samalah dengan kami!" ucap Alex memaksakan kehendaknya.
"Aku akan bekerja. Aku sudah bekerja di beberapa tempat. Bersabarlah, Ayah. Kumohon, jangan paksa aku untuk menikah," pinta Mia dengan tatapan memohon.
Alex menggeleng. "Tidak! Kau harus tetap menikah. Besok pagi, akan ada seorang pria yang akan mengajakmu untuk berkencan, temui dia!"
Malam itu, Mia menunggu kedua orang tuanya tertidur. Dengan berjingkat-jingkat, dia keluar dari rumah itu dengan membawa tas berisi pakaian miliknya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ayah, Ibu," ucap Mia.
...----------------...