Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Misi Pencarian


__ADS_3

Hubungan Grant dengan Mia semakin dekat, karena Mia dilarang keluar oleh Luigi dan dilarang mengetahui dunia luar juga. Satu-satunya manusia yang menemani Mia hanyalah Grant Wilson.


Ketika Mia bosan, Grant memakaikan Mia rambut palsu serta kacamata hitam dan topi lebar untuk mengajaknya keluar rumah. Semua dilakukan tanpa sepengetahuan Luigi. Sejauh ini, hal itu dapat menghibur Mia.


Namun, tidak ketika dia merindukan Pat dan Gwen, atau bahkan Finn Walter. Apa pun yang dilakukan oleh Grant, tidak akan sanggup mengobati rasa rindu Mia.


"Kau benar-benar masih seorang gadis kecil," ucap Grant. Tetapi, dia tidak menyerah. Segala cara dia lakukan untuk menghibur Mia dan mengalihkan rasa rindunya.


"Mia, ceritakan sesuatu tentang dirimu," pinta Grant suatu hari, saat dia melihat Mia termenung menatap jendela luar di suatu hari.


"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanya Mia bersikeras. Grant Wilson tidak seperti Luigi atau Finn. Hatinya belum terketuk untuk melihat Grant, walaupun Grant adalah sosok pria yang baik dan perhatian padanya.


"Supaya kau tidak termenung," jawab Grant. "Atau kalau kau mau, kau bisa ceritakan padaku tentang Finn Walter,"


Mia menoleh, memandang Grant yang sudah duduk di hadapannya. "Tentang Finn?"


Grant mengangguk. "Yup, dan aku membuatkanmu makanan manis kesukaanmu yang pernah Ronald bawakan untukmu. Ayo, kita bercerita,"


Mia berpikir sambil mengambil sekeping cookies yang Grant buatkan untuknya. "Hmmm, bagaimana amu memulainya, yah? Begini, Finn adalah pembeli pertamaku. Kau tau, orang tuaku menjualku pada James Arthur dan Finn-lah yang membeliku saat itu,"


Memori Mia terlempar ke masa pertama kali dia mengenal Finn. "Dia arogan, dingin, dan tidak peduli dengan orang lain. Aku membencinya, apalagi saat aku dipaksa untuk menikah dengannya. Tapi lama kelamaan, dia berubah menjadi lebih lembut dan berhasil membuatku berdebar."


"Luigi dan Finn memiliki sifat yang hampir sama. Mereka sama-sama possessive dan memaksa. Tapi entah kenapa, aku suka seperti itu." lanjut Mia lagi.


Kemudian cerita Mia berlanjut. "Di tempat Finn, aku berkenalan dengan Josh. Apa kau tau, tiga kali aku kabur dari rumah Finn. Kalau dipikir-pikir, aku nakal juga, hehehe. Saat aku kabur pertama kali, aku bertemu dengan Josh. Dia pria yang berjanji akan membeliku dari Finn dan melindungiku."


Mia terdiam sesaat. Ada sembilu pilu yang menusuk hatinya saat dia mengingat Josh. Baru kali ini dia bercerita tentang Josh pada seseorang. Air mata jatuh dari sudut matanya. "Dia melindungiku sampai terakhir kalinya,"


Grant memeluk Mia dan mendekapnya erat. "Menangislah, Mia. Aku akan selalu ada disini untuk mendengarkan tangisanmu,"


Tangisan Mia semakin kencang, dia mengeluarkan rasa rindu, rasa sakit, dan rasa bersalahnya dalam dekapan Grant. "Seharusnya, saat itu aku keluar dari barisan. Karena Beth Parker menembakku. Tapi, Josh menghadang peluru Beth Parker untukku. Itu yang membuatku sakit sekali, Grant. Dia benar-benar menepati janjinya,"


"Dia seorang pemberani, Mia. Aku memberikan rasa hormatku kepadanya," ucap Grant.


Mia mengusap air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Grant. "Dia memang pemberani. Aku sayang padanya dan saat ini aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya,"

__ADS_1


"Dia selalu berada di hatimu, Mia. Aku yakin, saat ini pun dia tetap melindungi dan menjagamu. Dia ada di sini," ucap Grant sambil meletakan telapak tangannya di jantung Mia sambil tersenyum dan menatap tajam manik gadis itu.


Sepintas, Mia melihat Josh dalam diri Grant dan dia memeluk Grant sangat erat, seolah-olah mereka sudah lama tidak bertemu.


"Jangan takut, Mia. Tetaplah menjadi Mia yang ceria, yang tidak mau diam, dan janganlah kau larut dalam kesedihanmu," kata Grant sambil membelai rambut panjang Mia.


Sementara itu, James Arthur sedang mencari tau tentang Mia di desa tempat Mia tinggal.


"Kalian sudah lama tidak melihat gadis itu?" tanya James kepada beberapa orang.


"Ya, terakhir aku melihatnya dia kembali ke rumah orang tuanya," jawab seorang wanita yang merupakan salah satu penduduk desa.


Temannya menyenggol lengan wanita itu. "Hei, itu sudah lama sekali. Kau kenal Akex Colton, bukan? Nah, kabarnya Mia kabur dari rumah karena Alex memaksanya untuk menikah,"


"Oh iya, kau benar! Ya, dia melarikan diri entah kemana," kata wanita yang pertama.


"Argh! Kalian ini, sama sekali tidak bisa kuandalkan!" tukas James Arthur.


Seorang pria datang tergopoh-gopoh dan berbisik kepadanya. Seketika itu juga, kedua mata James membulat. "Benarkah? Bawa Rufus kesini!"


"Tidak keduanya, Rufus," jawab James.


"Seingatku, semua tagihanku sudah selesai. Lalu, apa masalahmu?" tanya Rufus.


James turun dari kursi kayunya, dengan angkuh dia menjentikkan jarinya di depan wajah Rufus. "Aku mencari Mia. Di mana gadis kecil itu?"


"Ck! Gadis sialan itu! Dia nyaris saja membunuhku! Kau lihat ini? Itu hasil karyanya!" jawab Rufus sambil menunjukan luka di kepalanya akibat pukulan gunting rumput yang dilemparkan Mia di malam itu.


"Hahaha! Kau saja yang bodoh! Gadis kecil seperti itu tidak sanggup kau hadapi! Cuih!" James membuang salivanya di depan Rufus. "Lalu, dia kabur setelah membuat kepalamu terbelah seperti itu?"


Rufus mencebik. "Aku tidak peduli dengan Gadis Sialan itu!"


James mengeluarkan seikat uang. "Carikan aku informasi tentang Mia. Besok sore aku menunggumu disini!"


Mata Rufus berbinar saat melihat ikatan uang itu. "Hahaha, itu hal mudah. Kita bertemu besok sore di tempat ini,"

__ADS_1


Setelah membuat perjanjian dengan Rufus, James pergi ke tempat orang tua Mia. Rumah itu tampak kosong dan sepi. "Colton! Colton!"


Alex membuka pintu. Begitu dia melihat James, Alex ketakutan. Dia khawatir, pria itu akan menagih kembali hutangnya setelah Finn Walter menceraikan Mia. "Oh, ha-, halo, Tuan Arthur. Apa yang membawa Anda datang ke sini?"


James meminta anak buahnya untuk memeriksa seisi rumah Alex. "Periksa semua ruangan! Jangan sampai ada yang terlewat!"


"A-, ada apa ini? Kami tidak melakukan kesalahan apa pun tapi kenapa, ...."


"Papa, apa yang terjadi? Siapa orang-orang ini?" tanya Lilian yang saat itu sedang membuat makan malam untuk suaminya.


Alex menggeleng. "Tuan Arthur, apa kesalahan kami?"


"Di mana Mia? Di mana putrimu?" tanya James.


Alex dan Lilian saling memandang. "Kami tidak tau, Tuan. Beberapa waktu yang lalu, dia kabur dari rumah dan kami juga sudah mencarinya di seluruh desa ini, tapi kami tidak berhasil menemukannya,"


"Benar, Tuan. Kami juga sudah meminta penjelasan kepada Tuan Walter, tapi Tuan Walter sudah menemukan pengganti Mia saat itu," sambung Lilian, menyetujui ucapan suaminya.


James mendengus. "Huh! Orang tua macam apa kalian, tidak tau di mana anak kalian berada tapi tetap bisa tenang!" Dia menendang beberapa kursi di depannya.


Setelah membuat huru hara, James keluar dengan gaya angkuhnya sambil bersiul. Dia menunggu di sebuah bar hingga besok sore.


"Tuan Arthur, aku menemukan Mia," kata salah seorang anak buahnya.


"Dari mana sumbernya? Aku sedang meminta Rufus mencari tau tentang Mia," kata James, dia tidak mau mempercayai informan yang salah. Bisa habis dia di tangan Beth Parker.


"Apa kau tau rumah menari di kota Barat? Dia bekerja di sana. Nama Mia sudah terkenal seantero kota. Kalau kau tidak percaya, kau bisa memeriksanya ke sana," kata informan tersebut.


James berpikir sambil memiringkan kepalanya. "Aku tidak mau gegabah. Aku akan menunggu sampai matahari terbenam esok hari, setelah itu aku akan datangi rumah menari itu,"


'Tunggu aku, Mia. Aku pasti akan menemukanmu!' sahut James dalam hati.


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2