
Hi aku Alexa Gabriella panggil aku Lexa terlahir dari keluarga yang jauh dari kata sederhana lebih ke cukup untuk hidup di kota Jakarta.
Rumahku bukan komplek atau rumah mewah hanya sebuah kontrakan kecil yang beralaskan triplek dan saling berhimpitan.
Awalnya memang sangat terasa sesak terlebih saat ibu dan adik laki laki ku meninggalkan kami tanpa sepatah katapun. Saat itu usiaku lima tahu tidak mengerti apa yang dikatakan orang dewasa.
Meskipun begitu ayahku adalah seorang pekerja keras berangkat pagi dan pulang malam. Dia bekerja disalah satu universitas ternama di Jakarta yang sebatas Office Boy. Ayah selalu bersemangat dan tidak pernah bersedih atas semua masalah hidupnya. Hingga lahir lah Alexa yang kuat dan mandiri.
Kelulusan sekolah SMA, aku pergi bersama ayah, Ayah memang sibuk tapi dia akan menyempatkan waktu untuk hal yang penting apa lagi Alexa anak perempuan satu-satunya baru lulus pendidikan menengah akhir.
"Selamat ya pak anak bapak Lexa mendapatkan juara umum" Kepala sekolah
"Terimakasih Bu guru saya sangat bahagia, semua ini tentu saja berkat bapak dan ibu guru semua" Sorot mata ayah terpukau, senyum berseri anak kesayangannya menjadi juara umum
Kesempatan emas datang, kepala sekolah mendatangi kami untuk lanjut kuliah melalui sistem beasiswa.
"Pak mari ikut saya sebentar" kepala sekolah
Aku dan ayah mengikuti Ibu kepala sekolah yang menyampaikan arahan mengenai beasiswa tahap gratis bergengsi Alexandria Grade Internasional.
Mengubah masa depan ini adalah saatnya, bermimpi menjadi orang kaya. Tapi, Ayah mengajakku pulang terburu-buru. Aku hanya anak yang jauh dari kata sempurna kampus itu hanya untuk kalangan anak yang kaya raya dan berfasilitas tinggi. Gaji OB yang Ayah dapatkan tidak mungkin cukup untuk menghidupi putrinya.
"Bapak Lexa, tunggu sebentar mohon dipertimbangkan.. ini menyangkut masa depan Lexa" Ibu kepala sekolah
"Saya akan pikiran baik baik, tawaran yang Ibu maksud, kalau begitu saya izin pamit karena ada hal mendadak yang harus saya kerjakan, mari Lexa, maaf"
Lalu Alexa pergi mengikuti ayah, sebenarnya impian hati kuliah disana. Cukup tau diri
Meski pintar cobaan terbesar adalah kesusahan finansial. Aku telah melewati banyak hal dari ibu meninggalkanku sampai memimpikan aku adalah seleb yang kaya raya.
"Ayah ko pergi kita mau kemana?" Tanyaku
"Kita mau ke Mall, kamu sangat ingin kesana kan" Ayah tersenyum menuntut ku
"Wa serius aku mau" Alexa
Ayah membawaku pergi ke salah satu mall di Jakarta, tempatnya besar jika aku sendiri sepertinya tersesat. Kami berhenti di salah satu Restoran.
Grubuk.. grubuk..
suara perut mulai keroncongan
"Nak mau beli makan disana" Ayah melihatku lapar
Saat Alexa melihat bandrol harga tertera 99.000 all you can eat.
"Tidak ayah lebih baik kita ke warung mie dibawah saja" Lexa memantapkan hatinya
"Kamu yakin?" Ayah
"Yakin ayah" Lexa
Sebenarnya harga yang tertera memang sangat menggiurkan, untuk Alexa 99.000 adalah bekal sekolahku selama seminggu. Kalau di warung mie, mungkin aku sudah bisa membeli 1 dus mie 40 bungkus. Alexa sangat perhitungan untuk soal uang. Terlebih makanan yang sama saja. Hemat pangkal Kaya.
Sampai di rumah ayah menanyaiku apa yang dikatakan Ibu sekolah tadi pagi.
"Kamu bersedia untuk lanjut kuliah disana?" ayah
"Entahlah ayah, kalau aku pergi ayah gimana tinggal seorang diri disini, lagian meskipun gratis mungkin nanti bakal ada tambahan lain biaya asrama dan lain-lain kan" Lexa
"Lexa kamu terlalu memikirkan ayah, ayah bisa jaga diri, nak kesempatan tidak datang dua kali pergilah gapai cita-citamu kamu harus lebih hebat dari ayah" Ayah
"Baik ayah, Lexa janji akan mengangkat derajat keluarga kita" Lexa
"Nah itu baru anak ayah" ayah tersenyum
*******
Hari pertama masuk kuliah Alexandria Grade Internasional. Alexa sangat berantusias dan semangat.
Tak disangka mereka sangat jauh dari yang aku bayangkan memakai busana yang bermerk sekelas, Gucci, mengenakan mobil b jauh berbanding terbalik denganku.
Alexa minder dengan mereka tidak seharusnya aku disini "ini adalah mimpimu Kamu tidak akan menyerah begitu saja, semangat"
Aku bersiap memasuki ruang kelas, alangkah terkejutnya ketika melihat semua mahasiswa telah memiliki kelompok masing-masing.
Effort mereka jauh lebih tinggi daripada aku yang seorang anak OB.
"gue harus berbaur dengan mereka"
Terlihat ada tiga wanita yang sudah berkelompok menyapa seorang gadis di samping bangku tempat Alexa duduk, dengan wajah pamer tas pemberian ayahnya dari Italia.
"Hai Guys kita ketemu lagi"
"Ah ternyata kita satu kelas, I very happy"
"Halo sudah sampai kalian"
Lalu aku berjalan mendekati mereka dengan memuji tas yang mereka miliki
"Wow tas Lo bagus banget" sautku kepada salah satu dari mereka
Mereka hanya tersenyum seolah tidak ingin berteman denganku,
__ADS_1
"Hai semuanya kenalin gue Alexa panggil saja Lexa" aku sandarkan tanganku kepada mereka dengan berharap bisa berkawan baik.
Tampak tidak ada yang peduli padaku sampai salah satu dari mereka berkata
"Oh hai Lo punya apa?"
Hatiku masih di guncang-ganjing tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku tidak memiliki apa-apa dan ayahku hanya seorang OB, pasti mereka akan menyisihkan ku dan impianku akan hancur.
Lexa setidaknya aku harus membaur.
"Emm jujur sih gue gak punya apa-apa hanya saja gue punya pacar tampan sekelas geng motor lah yang selalu perhatian padaku" jawabku penuh kebohongan
Aku terdiam mendengar perkataan yang keluar dari mulutku, padahal belum pernah pacaran dan berpura-pura sudah memiliki pacar tampan. Jika aku pacaran dengan Artis. Mana mungkin mereka akan percaya.
"mimpi.."
^^^'Oh oppa andaikan saja aku memiliki pacar sepertimu dan kamu mau menerimaku apa adanya' menghayal^^^
Salah satu dari mereka mendekatiku. Aku terkujur kaku karena takut ketahuan kalau aku bukan orang kaya seperti mereka dan tidak memiliki pacar. Tidak mungkin aku berkata masuk lewat beasiswa bahwa aku pintar, malah akan memperkeruh suasana dan dipandang aku sok pintar.
"Hai gue Jesselyn, orang yang paling imut cantik lucu mungil di antara teman-teman yang lain" Jesselyn orang pertama yang menghampiriku
Lalu disusul teman yang lain,
"Hai gue Mona dan ini Reva" tampak keduanya masih belum menyukaiku dan orang yang duduk di bangku samping masih diam dan memperhatikan dirinya pada sebuah cermin.
Reva mulai mendekatiku "pakaian Lo biasa aja apa jangan-jangan bukan orang kaya ya"
JLEB
"..." Terdiam bergetar, tidak tahu harus berkata
"Aneh Lo ini, jangan-jangan dia paling kaya, kamu tahu kan pendiri Facebook dia juga orang kaya tapi tampilannya biasa aja" Mona
"Apa yang Lo bilang bener sih" Reva
Seketika yang sedang berkaca berdiri dan menatapku dengan sangat tajam.
"Hai gue Viona Kalau boleh...gue mau lihat seberapa tampan dan geng motor kelas mana pacar Lo itu?" Viona
"Iya Viona bener"
MAMPUS
*****
Nasib baik berpihak padaku, bel berbunyi dan kelas pertama dimulai, setidaknya Jesselyn masih berbaik hati dan menemaniku.
Meski aku memiliki tabungan, yang telah aku kumpulkan dari keseharian saat SMA itu tidak mungkin cukup bahkan untuk membeli tas Gucci 1 pun.
Awal pertemuan kuliah bebas terbatas pengenalan sekolah dan mahasiswa.
Aku tinggal di asrama, berharap Viona melupakan pertanyaan tadi. Lalu temanku mengajak berkeliling ke sebuah kantin terdekat area Kampus.
"Guys gimana kalau kita ke kantin dulu" Reva
"Benar juga kita kan udah lapar dari tadi" Mona
"Gimana Viona kamu ikut juga kan" Reva
"Ya udah hari ini gue yang traktir" Viona
"...." bengong
"Lexa mari ikut" Jesselyn mengajakku bersamanya lalu aku mengikuti mereka
Sekilas memang tampak biasa saja, ketika bersama mereka aku merasa menjadi pusat perhatian golongan anak orang kaya. Akhirnya, aku memiliki teman meski rasa penasaran menghantui, siapa mereka Kenapa murid lain sopan sekali pada kami.
Viona traktir seluruh jajanan yang kami pesan, cukup makan ramen dan jus.
"Lexa beneran kamu pesan ini aja" Mona
"Iya ini aja kenapa emangnya"
"Apa kalian gak tahu mungkin lexa kangen Korea yang terkenal sama ramyeon" Reva
"Iya bener juga Lexa kamu pernah ke Korea" Mona
"Itu"
Aku hendak menjawab pertanyaan mereka Jeseelyn menepis pundak ku.
"Tentu saja pasti pernah.. kalian nggak lihat tasnya, banyak Kota Soul nya" Jesselyn
Aku hanya tersenyum, 'terimakasih tas kamu penyelamat' sautku dalam hati.
Sebenarnya tas ini ada sejarahnya, zaman SMA ikut dalam ajang cosplay dan salah satu hadiahnya adalah tas ini. Alexa tidak tahu kalau tas ini memang langsung dari Korea. Padahal sebenarnya mimpiku adalah pergi liburan ke sana.
Lalu kami makan dan bercerita tentang kehidupan mereka, alangkah terkejutnya ketika mendengar bahwa Viona adalah anak CEO grup Ina. Grup Ina adalah perusahaan yang bergerak dalam properti impor luar negeri. Tentu saja pasti Viona sangat kaya raya.
"Oh iya tadi bilang lo punya pacar geng motor kan boleh lihat fotonya gak, soalnya gue sudah tau lingkup Jakarta dan sepertinya gue juga akan tau pacar mu" Viona tersenyum
Hening, ponselku hanya foto Idol tidak mungkin berkata pada mereka aku seorang penipu.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar "Ini ponsel ku..."
kring kring kring
Tiba saat seseorang menelpon ku.
"Tunggu sebentar ya, pacar gue nelpon nih hehe" Saut ku pergi berpura-pura ke kamar mandi menjauhi mereka
"Halo sayang gimana? aku sudah di kampus ini" jawab berpura pura
"Sayang sayang kepalamu peyang, gue Bima loh"
"Sorry sorry tumben banget Lo telpon ada apa?" Lexa
"Gak sepi aja ni gang Supratman gak ada Lo" Bima
"Thanks ya Bim, Lo harus bantuin gue" sambil menutup teleponnya
Bima adalah sahabat, dia yang selalu menemaniku. Tidak mungkin aku memintanya untuk berpura-pura jadi pacar, terlebih Bima bukan geng motor dan mereka tidak akan menyukainya. Aku harus putar pikiran bagaimana aku bisa mendapatkan laki-laki tampan hari ini juga.
Selesai menelpon aku ber pamit pulang,
"Guys maaf gue pergi duluan ya soalnya pacarku jemput bye" dengan tergesa-gesa
****
Sebenarnya jarak sekolah dan asrama tidak begitu jauh namun yang paling nyaman disini adalah asrama yang layak hotel dengan fasilitas sendiri sendiri tidak berkelompok.
"wah memang ya, Kampus internasional ini the best" memandangi Asrama
Aku membuka pintu kamarku dengan nomer 605 lalu baringkan badan sebentar di kasur empuk itu.
"Sudah lama aku tidak tidur di ranjang empuk ini, bagaimanapun aku merindukan ayah, ayah kamu baik?" Lexa
Sekelebat pikiran tertuju pada perkataan Viona tentang foto pacarku
^^^'aku tidak bisa beristirahat dengan tenang, perkataan Viona membuatku harus bergerak' pekikku^^^
"Bagaimana jika mereka sekarang tengah membicarakan gue, terlebih tadi gue bilang pulang bersama pacar... aduh mampus sudah ke taman dulu deh cabut kali aja disana ketemu cowok tampan pasti banyak kumpulan geng motor kan" pikirku
Aku mengenakan jaket dan topi agar tidak dicurigai dan segera meninggalkan asrama.
Sampai sebuah taman tempat geng motor selalu berkumpul disana, terlihat ada seseorang yang sedang memarkirkan motor besarnya tampaknya dia pantas dijadikan sebagai pasangan hidup, aku terlalu gugup.
"Aduh banyak kawan-kawannya lagi, berani Lexa semua demi keamanan, semangat!" meyakinkan diri
Aku perlahan mendekatinya dari rumput ke rumput, dari tiang ke tiang, selangkah demi langkah.
Dap dap dap
"Hi ka maaf lihat sini sebentar ka ada sesuatu" Lexa
CEKREK
"makasih ka" aku menundukkan kepala dan berlari meninggalkan pria itu
"Hey hey hey tunggu dulu" terdengar saut pria itu
Aku tetap berlari tidak menghiraukan suara pria itu.
"terserah dengan pria tadi yang penting aku sudah dapat foto nya, ah so cute banget terlihat natural, good Alexa good" sautku
Sebelum aku pulang ke asrama aku singgah ke salah satu minimarket untuk membeli beberapa mie instan.
Sampai salah satu dari teman kampus menggabungkan ku di salah satu grup
#GrupCewekHitz
[Save Viona]
[Lexa kami semua penasaran sama pacarmu besok tunjukin ke kita ya]
[Iya bener aku iri]
[Pengen juga dapat pacar tampan terlebih geng motor lagi pasti keren huhuhu]
Deg
Deg
Deg
"gue sudah punya fotonya" aku tersenyum lebar
.
.
.
Sampai kapan Lexa akan berbohong ya?
Apakah mereka tidak akan menyadarinya.
__ADS_1