TERIKAT PERJANJIAN BADBOY TAMPAN

TERIKAT PERJANJIAN BADBOY TAMPAN
Bab 3 Ternyata Mimpi


__ADS_3

"waktu kalian 10 menit lagi" pak Brayn


Semua murid tertib ketika pelajaran pak Brayn si dosen Killer. Tapi meskipun begitu, ada baiknya mereka dapat memahami bahwa belajar itu butuh keharusan bukan yang penting lulus.


"Oke waktu habis kumpulkan, dari belakang ke depan jangan semua maju ke depan bapak ingin semua masih di dalam meja!" saut Pak Brayn


"Kamu yang diluar silahkan masuk"


"Baik pa terimakasih" Mona


Mereka duduk kembali di bangku masing-masing terlihat Jesselyn mencariku yang ternyata dibelakangnya adalah Jason.


"Loh ko Jason, Lexa mana" Jesselyn


"Tuh di belakang" Reva


Aku tersenyum kepada Jesselyn dan melambaikan tangan,


"Oke semua perhatikan sebentar, saya tidak mau saat pelajaran saya tidak kondusif seperti tadi kalian paham!"


"Baik pak"


"Soal tadi adalah permulaan, agar saya bisa mengukur sampai mana tingkat pengetahuan matematika kalian"


"Pak maaf apa soal tadi akan dimasukan sebagai nilai ujian" Viona


"Iya nanti akan di bagi dengan soal berikutnya, nama kamu siapa?" Pak Brayn


"Pertanyaan bagus, sebaiknya kalian lebih keras untuk belajar matematika jika di ulangan berikutnya nilai kalian tetap sama hukuman ditambah menjadi tambahan soal yang lain, paham viona"


"Pa-paham pak" Viona menjadi kaku


Aku hanya terdiam melihat pak Brayn memberikan arahan, jarang sekali ada dosen setegas ini pikirku. Pasti akan berguna bagi kami di kehidupan yang sebenarnya.


Karena seorang guru adalah amanah yang sangat besar tanpa balas jasa.


"Sekarang kalian berdiri, saya akan bagi bangku masing-masing, yang merasa mata kalian minus acungkan tangan"


Pak Brayn mengubah tempat duduk kami,  Reva, Mona, Viona dan jesselyn jadi terpisah dari bangkunya.


"Pak saya Complain kok saya sama Jason sih" Reva memelas


Reva duduk di bangku pertama terlihat tidak suka berdekatan dengan Jason di sampingnya.


"Tadi sebelum ujian kamu bilang mata kamu minus kan sudah di depan saja dengan Jason ada lagi" Pak Brayn


Letak duduk kami jadi berjauhan, Reva duduk paling depan bersama Jason, Mona duduk paling barat bangku ke dua dan di belakang viona. Sementara Jeseelyn dan aku duduk paling timur dengan Jesselyn di depanku. Tentu saja aku duduk paling belakang dengan sosok laki laki yang misterius. Ketika ku baca namanya tertulis "Aleandro"


"Oke sekarang seperti ini saja, pemilihan Ketua Murid dan lain lain saya tunjuk pada yang dibelakang" Pak Brayn melirik ke arahku


"Saya pak" sautku tak menyangka


"Iya nama kamu siapa?" Pak Brayn


"Alexa pa, maaf pak saya jadi Ketua Murid gitu maksudnya"


"Benar saya tunjuk kamu jadi ketua murid, kenapa? mau membantah" Pak Brayn


^^^'aduh bagaimana ini, mana aku tidak pernah memimpin siapapun lagi? Lagian aneh aja masa aku perempuan jadi ketua murid nya'^^^


"Pak maaf Lexa tanya lagi, kalau untuk sekretaris atau bendara kelas itu bagaimana ya? Apa dilakukan pemilihan"


"Tidak perlu saya tidak membutuhkan semua itu, kalau kamu keberatan biarkan yang di sampingmu membantu, kalau begitu saya tinggal dulu kalian boleh pulang"


Seketika aku melirik laki laki yang duduk di sampingku, dia terlihat tidak menghiraukannya dengan tatapan yang sangat dingin. sosok pria dingin bermata api, beralis tebal dan berhidung mancung itu.


^^^'siapa dia?' Alexa^^^


"Hai namamu Aleandrokan, kenalin gue Alexa" aku memperkenalkan diri


"Maaf saya tidak ada urusan" berbisik di telingaku melangkah pergi


Lalu dia diam membalik "panggil gua Al" pergi menjauh


Perasaan kaku mendengar suara laki laki yang baru seperti menolak ku. 'apakah pria yang yang kutemui kemarin akan menjawab seperti ini? Sedingin ini'


"Lexa Lo gak apa-apa" Jesselyn datang menghampiri


"gak ada yang luka kan hehe, memang Jahat banget ya itu cowok, si paling nyebelin" Reva


"tapi dia tampan aa misterius, seneng deh sekelas sama dia" Jesselyn


"Apaan sih yang jahat itu pak Brayn salah apa aku dan Jess coba? kita malah gak dapat nilai kan" Mona


"Bener sih sad banget ya kita heuheu" Jesselyn


"Dia adalah keluarga paling milenial disini keluarga Regastara" Viona


"Maksud kamu yang ayah nya seorang pemilik perusahaan Grup ASKA" Reva


"Yap wait kakaknya juga sekolah disini loh lupa gue namanya, dibanding adiknya lebih keren kakaknya loh dia terkenal, anak geng motor dan tampan keren pokonya" Viona


"Tapi Al juga tampan, sayangnya sikapnya dingin ya kaya batu beda jauh sama kakaknya yang temperamental" Reva


"..."


Aku memperhatikan mereka, Sebenarnya apa yang mereka katakan


^^^'keluarga Regastara itu siapa? Mereka ini ngomongin apa sih?'^^^


"Guys dari pada gibah gak jelas bagaimana kalau kita jalan dan shopping keren gak tuh" Jesselyn


"Gue izin gak ikut ya" sautku


"Loh kenapa?" Reva


"Emmm ada janji sama pacarku emm yah pacarku" mengarang alasan


"Ahh melting gue kapan sih punya pacar yang sering ketemu begitu" Jeseelyn


"Kalau gitu gue duluan ya, bye nanti aku kabarin lewat grup" berlalu pergi


Sebenarnya bukan tidak ingin jalan dengan mereka, uang yang ayah beri tidak cukup untuk foya-foya setidaknya aku harus berhemat agar dikemudian hari aku bisa membeli barang yang diperlukan.


Rutinitas sebelum pulang asrama aku mampir ke sebuah minimarket sengaja jauh dari kampus berharap tidak ada yang melihat.


"Ini saja ka" Kasir


"Iya ka"


Seolah kasir itu tau dimana sekolahku, setelah selesai aku memasukan belanjaan.


^^^'akhirnya mudah mudahan cukup selama seminggu, buat ngemil hihihi'^^^


^^^Setelah sampai asrama, aku mulai merebahkan diri dan mendengarkan musik kesayangan ku KPOP "ohh oppa hari ini baik, terimakasih semoga kebohongan ini tetap menjadi rahasia"^^^


Lalu tak terasa aku terlelap tidur,


****


"Lexa kita semua sudah tau Lo bohong selama ini" Viona


"Bener bener ya Lo ternyata PEMBOHONG" Mona


"Gue gak nyangka, ku kira kita teman Lex ternyata Lo bohongin kita" Jesselyn


"Yap ternyata hanya seorang pembohong punya pacar atau jangan jangan Lo juga bukan anak orang kaya" Reva

__ADS_1


"Iya bener dasar anak OB aja belagu minta ampun"


"Ha ha ha anak OB anak OB ngapain sih sekolah tinggi-tinggi Kamu pikir kita sederajat gitu ha ha ha"


Terdiam ku duduk sendiri melihat teman meledek dan menertawakan ku ini semua salahku karena berbohong. Aku menangis dan terisak malu, tiba aku tersadar sebentar bukannya aku sedang tidur.


Lalu aku terbangun menatap sekeliling dan ternyata MIMPI.


"Ternyata aku mimpi, masih untung huh"


Itu semua ketakutan, sampai kapan aku terus berbohong, jika aku jujur akankah mereka percaya padaku.


Kubuka grup chat bersama mereka, terlihat memamerkan barang-barang yang mereka beli, harga satu tas saja seharga jatah makan ku sebulan.


"Tas semahal ini harganya bisa sampai lima juta padahal kecil, beda sekali denganku bagaimana jika mereka menanyakan mas pacar lagi mana foto cowok yang ku dapat hanya satu" menghela nafas


Waktu sudah tepat tengah malam aku tidak bisa tidur, memikirkan bagaimana nasib besok. Mataku tertuju oleh satu kotak pink dari sisi kamar.


"Aku tidak ingat ternyata aku membawanya" membuka bungkusan kotak berwarna pink.


Sebuah kado dari sahabatku ketika aku SMA kami hidup ditempat yang sama namun tak sempat ku buka karena sahabatku telah meninggal lebih dulu. Air mata bercucuran teringat kenangan indah yang kami alami.


"Leta sorry gue belum sempat mengunjungimu, andai saja Lo masih disini apa yang gue butuhkan sekarang"


Ku buka kotak berisi riasan perawatan diri dari iklan KPop yang aku sukai in limeted edition,


^^^"leta kenapa kamu pergi secepat itu meninggalkanku seorang diri, tidak ada teman sebaik kamu semuanya fake, mampukah aku bertahan" merintih menangis^^^


Tertulis satu surat untukku "Lexa thanks to everything, remember semua akan baik baik saja" Aleta


Tak kuasa ku menahan air mata yang berjatuhan mengenai pipi. Teringat Aleta yang telah tiada kami selalu dipanggil kembar Aleta & Alexa padahal kami tidak sedarah.


Kecelakaan naas saat pariwisata menghancurkan semuanya. Saat kamu ikut tour. Harusnya aku juga bersamamu tapi karena ayah sakit tidak ada yang menjaganya,


"Maafkan aku Aleta"


Malam semakin larut terlelap tidur.


****


Di pagi harinya seperti biasa aku pergi sekolah paling pagi, terlihat kelas masih kosong, sambil membereskan meja dan peralatan lainnya . Hari ini adalah hari yang beda aku memakai liptint sedikit dan memoles wajahku karena semalam tak henti derai mata membekas dan mataku sembab.


^^^'jangan sampai terlihat mata panda'^^^


"Hey Lexa waaa Lo paling rajin ya" Reva


"Bukan paling rajin gue gak mau kita di cap paling Bandel seperti kelas sebelah" jawabku enteng


"Oh iya bener juga kelas sebelah emang paling Bandel orang mereka beda kelas sama kita" Mona


"Hai kalian pada ngomongin apa" Jesselyn baru saja datang bersama Viona


"Biasa itu kelas sebelah"


"Oh iya Lexa gue bawa sesuatu buat Lo " Viona menyerahkan bingkisannya padaku


"Ini apa?" Sautku sambil membuka bingkisan dari Viona


Bungkusan kado berbalut tas bermerek dan cocok untuk dipakai sekolah. Sangat tidak sesuai dengan perkiraan aku berfikir ini terlalu berlebihan memberi barang pada temanmu yang baru kamu anggap seorang sahabat.


"Ini tas untukku?" Sautku


"Yap jreng jreng" serempak


"Kita berempat memakai tas yang sama loh" Jesselyn


"Tapi aku ini"


Aku berfikir bagaimana jika Viona meminta bayaran atas tas ini dan ketika aku cek harganya pun sangat mahal untukku.


^^^'Bagaimana aku nolaknya ya, ga mungkin aku terima ini sudah kelewatan'^^^


"Bener setuju"


"Maaf ini bukan maksud seperti itu, gue gak biasa nerima pemberian orang oh iya gue bayar aja"


Aku mengeluarkan dompet kecil dari saku tentu saja uangnya tidak berjumlah seperti yang diharapkan.


"Eit jangan gak usah ini tas dari pacarnya viona bukan asli dari Viona ko tenang aja, kami tau ko orang kaya kan gak terima pemberian orang hiks" Reva meledek


"Iya bener kan Viona" Mona


"Yaps itu bener" Viona


"Aaaa gue jadi iri kalian gak ada temen cowok yang mau jadi mak comblang buat gue gitu" Jesselyn


"Lo sama Jason aja hihi, tuker yuk tempat duduknya hahaha" Reva


"Yeay ogah"


"Gimana Lexa Lo mau kan kenalin pacar tampan ke kita, sekelas anak geng motor loh" Viona sangat berantusias


"Emmm itu"


Bagaimana caraku mengenalkan mereka, orang foto saja aku pilih sembarang, bibir ini jahat mengeluarkan kata yang tidak pantas harus saja dari awal terus terang saja jadi panjang begini urusannya


"Nanti deh gue kenalin ya" sautku


"Oke janji ya"


"..."


"oh iya gue bawa liptint, kalian mau coba?" Sautku mengalihkan topik


Mereka seakan takjub memandangi liptint yang ku pegang,


"Aaaa gue cobain boleh?" Mona


"gue juga" Reva


Misi berhasil setidaknya aku berhasil mengalihkan topik pembicaraan pada pacarku, Mas pacar dimana aku mencarimu.


"Buat kalian juga boleh" jawabku


"Aaa serius" Jesselyn


"Tunggu" viona


"Ingat kita bukan orang rendah guys"


DEG


DEG


Aku terkejut mendengar perkataan Viona apakah liptint itu palsu dan terlalu murah bagi mereka, bukannya wanita sangat suka sekali dengan hal yang mempercantik wajah apalagi sebuah gincu, barang pemberian paling berharga dari sahabatku Aleta.


"Lo kenapa sih viona? Kalau mau ambil saja gak apa-apa, harusnya gue yang berterima kasih telah di belikan tas sebagus ini"


"Bukan itu" viona terlihat memperhatikan liptint ku


"Boleh kami minta"


GUBRAK


"Gue tau liptint ini pasti Lo dapat hasil perjuangan ya, soalnya ini stok cuma 10 aja di dunia loh apa lagi ada tanda tangannya aa keren" Viona


"Iya bener pasti Lexa juga simpan baik-baik kan barang sebagus ini" Mona

__ADS_1


"Bener jadi kalau sudah pakai nanti kita kembalikan ya kan guys" Jesselyn


"Yaps okidok.." Mona


Akhirnya terselamatkan, mereka sangat antusias mengoleskan gincu itu di bibir yang sangat cantik, lalu aku duduk di bangku bersama Al, meneguk minuman yang tadi ku bawa sebelum pelajaran di mulai sambil membuka layar ponsel mencari tahu Lipthit yang ku pakai.


^^^'oke google'^^^


Uhuk uhuk..


"..." Al memandangiku


"ehee maaf"


Mahal banget dari mana Aleta dapat uang sebanyak ini untuk membeli kado ulangtahun ku. Pelajaran dimulai Pak Brayn masuk kedalam ruangan kelas.


"Selamat pagi" Pak Brayn


"Selamat pagi pak"


Plakk! memukul meja


"Hari ini saya akan membagikan hasil ujian kemarin, hasilnya sangat payah, semua mahasiswa di bawah 50" Pak Brayn


"Ha serius pak" Reva


"Saya sangat kecewa padahal ini adalah kampus paling di banggakan, nilai terbaik di dapat oleh Aleandro dan Alexa" Pak Brayn


Semua mata tertuju pada kami yang berada di bangku paling belakang.


"Coba Alexa dan Aleandro kamu jawab dan bahas soal kemarin" Pak Brayn


Aleandro mengacungkan tangan "maaf pak saya tidak bisa"


"Loh kenapa?" Pak Brayn


"Saya mencontek dari Alexa" Aleandro


"Apa itu tidak mungkin pak, Al dan saya saat ulangan bangkunya berjauhan ko" sautku


"Sudah sudah Aleandro kamu nanti keruangan saya Alexa kamu praktekan biar teman-temanmu pada belajar"


Hari ini ada yang salah dengan Al dia terlihat lesu dan duduk diam biasanya dia paling dingin dan diam seribu bahasa.


^^^'Al kamu baikan?'^^^


Ah sudah lah pikirku. Setelah pelajaran selesai teman-teman mendatangi dan memuji keahlian ku dalam belajar.


"Waaa hebat Lo Lexa bisa encer gitu ya otakmu" Mona


"Aaa keren" Reva


"Betul kan Viona ga sia-sia Lexa masuk geng Kita, ajarin ya lexa" jesselyn


"Kalau di rumahmu gimana, kita bisa bawa mobil ko" Viona


DEG


DEG


"Ha ha ha itu si kecil, sekarang kan sudah tidak ulangan lain kali saja kalau mendekati ujian ya biar ga ngebul otak hahaha" sautku


^^^'aku tidak mungkin membawa mereka ketempat dimana aku tinggal. Mereka pasti akan jijik dan meninggalkanku, pura-pura punya pacar aja bohongnya susah apa lagi diriku yang sebenarnya' Alexa^^^


"Oke setuju lagian malas banget kan kalau belajar" viona


"Bagaimana kalau sekarang kita ke kantin beli yang dingin giliran gue yang traktir" Mona


"Waaa setuju" jesselyn


"Ayo Lexa" Mona


Sesampai di kantin kami membeli beberapa jus dan cemilan.


"Viona Lo yakin cuma jus aja gak sama makannya" tanya Reva


"Gue lagi diet kalian saja, gue tunggu disini" Viona duduk disebuah bangku dengan terus memainkan ponselnya


"Lexa Lo juga ko cuma susu aja bukan jus" Mona


"Ehehe gue bawa roti dari rumah jadi pilih ini aja" senyum manis


"Yasudah kalau begitu, padahal hari ini gue yang traktir tapi gak apa-apa deh nanti gue belikan kalian yang lain hikshiks" Mona


"Eits kalo kita engga" Reva


Reva dan Jesselyn membawa banyak makanan di kedua tangannya,


"Kalian pesan sebanyak ini" Mona terkejut


"Yap karena viona gak makan jadi jatah gue" Reva


"Gue juga karena Lexa bawa bekel jatahnya jatahku hehe gak papa kan" Jeseellyn


"Aduh kalau begini sama saja Bangkar Bandar ha ha ha" Mona


Kami duduk berlima disebuah bangku kantin dengan menikmati jus dan makanan itu, ttiba viona menepak meja dengan sangat kuat.


Plak!!


"Buset kaget kenapa Vi?" Reva


"Lexa gue kayaknya tau pacar Lo?" Viona


DEG


DEG


"siapa?" Mona


"Iya siapa Lo kenal?" Jeseelyn


Situasi macam apa ini? Hatiku makin berdetak tidak teratur.


"Pacar kamu Max Julio" Viona


"APA"


"Max Julio ketua geng motor Argala, dia kakaknya Aleandro dan penerus tertinggi Regastara" Viona


"Jadi pacarnya Alexa,, tunggu bukannya Max juga kuliah disini" melirik ke arahku


"..." sekujur tubuhku kaku, jangan sekarang ku mohon.


Tanpa sengaja Max yang sedang membawa makanan melewat ke arah kami dan mendengar percakapan tersebut Langkahnya terhenti.


"Kalian semua ngomongin gua?"


.


.


.


Bagaimana kelanjutannya? Apakah ini semua akhir dari Alexa?


Bukan

__ADS_1


Permainan di mulai ..


__ADS_2