TERIKAT PERJANJIAN BADBOY TAMPAN

TERIKAT PERJANJIAN BADBOY TAMPAN
Bab 25 Otak Nakal


__ADS_3

"ehehe siang tuan maksud saya pak" tersenyum malu-malu


Ayah Max berada disini, tumben bersama Max, apa sekarang Max udah tinggal lagi di rumahnya. Sepertinya Tuan Regastara baik. Tidak seperti yang aku pikirkan.


"Tinggal disini Lexa" tanya tuan Regas


"Oh iya pak tentu saja, asrama ini yang paling mewah menurutku, hehe" jawabku


"Upsi"


^^^'apa yang ku katakan, paling mewah aduh ketawaan deh orang kismin, eh miskin' ^^^


"Terimakasih Lexa, kalau begitu saya pergi dulu ya, silahkan lanjutkan urusan kalian" tuan Regas berlalu dan pergi dengan supirnya.


Aku tersenyum melambaikan tangan, jika Alexa menikah dengan Max. Mungkin aku akan punya banyak pelayan, rumah megah, pokonya harus ada eskrim yang banyak. Menghayal sangat jauh dari kenyataan. Bagaimana respon ayah kalau aku menikah dengan Max sementara ibu kandungku adalah ibu tirinya. Pelaminan yang aneh


"Hey kenapa bengong?" Max menggugah lamunanku


Ku lihat wajah Max begitu dekat, matanya yang sayu bikin aku meleleh, bahkan hari ini dia menggunakan kameja putih formal, berjas hitam seperti CEO. Lamunanku semakin menjadi saat ku lihat dada Max sedikit terbuka,


"Boleh ku sentuh" pintaku


Plek tanganku mendarat tepat di dada Max. Semilir angin menghembus sampai tercium aroma tubuh Max layaknya capuccino.


^^^'apa yang ku pikirkan Lexa bangun, kamu nakal, seperti gue yang omes... Aduh pacarku tampan sekali'^^^


Max menatapku, lalu aku tersadar


"Eh sorry emm khawatir aja ya.. takutnya jantungnya gak hidup hehe" jawabku asal


^^^'eh ko gak idup, aduh ngomong apa sih aku hari ini random banget' meyingkirkan tanganku^^^


Max menahannya dan membiarkan tanganku menyentuh dadanya bahkan ke dalam kemeja putihnya.


"Raba saja, itukan yang kucingku mau" Max menggenggam tanganku menatap dengan penuh rasa sensasional


Hatiku berdegup tidak teratur, baru kali ini aku menyentuh bidang dada Max, hangat dan berdetak seakan jantungku ikut berlari dengan sangat cepat.


"Max sadar gak kita di tempat umum, malu lah" jawabku bisik manja


Lalu max melepaskan tangannya dan menyuruhku untuk ikut bersama.


"Kalau begitu ikut gua, akan ku tunjukan tempat paling bagus" Max meninggikan sebelah alisnya


"Max tunggu! Lo gila ya jangan-jangan kita mau ke hotel enggaaaa mau! Semuanya untuk suamiku nanti, jangan mengharapkan apapun dariku" pikiranku sudah sangat tidak baik sepertinya aku membutuhkan sebuah senjata untuk menjaga tetap positif.


"Ha-ha-ha bukannya kamu yang mulai, udah ikut Lexa Lo milik gua.." mendekatkan wajahnya lalu membuka pintu mobil mempersilahkan ku untuk duduk.


Dengan perasaan gemetaran dan takut aku mengikuti pinta Max,


"Gerah ya.." Max


Di dalam mobil Max membuka jasnya hanya tersisa kemeja putih berkeringat dan beberapa kancingnya terbuka. Badannya putih bersih bahkan tidak berbulu lebat. Dulu saat aku masih tinggal bersama ayah aku terbiasa melihat pria di pasar yang bekerja tanpa memakai baju karena panas, tapi mereka kadang bau keringat berbulu di dadanya atau bahkan kulitnya berwarna gelap karena terpapar sinar mentari langsung terlebih saat kerjanya mengangkat barang.


Tapi Max, semakin kamu berkeringat kenapa badanmu semakin harum. Apakah aku halu? Benar sepertinya aku meriang karena habis kehujanan lalu kepanasan tadi pagi.


Max menjalankan mobilnya,

__ADS_1


"Oke kita berangkat, sayang kamu gak apa-apa dari tadi terlihat tidak baik, ada yang kucingku pikirkan" tanya Max


Saat itu sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tanyakan, dari mulai Ale hingga kenapa tuan Regas ada di asrama bahkan kamu juga tidak menepati janji hingga aku kehujanan mengira kamu menungguku. Tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat. Perasaan takut mulai menghantui, dibawa Max pergi kemana.


^^^'apa hari ini aku akan di unboxing oleh ketua geng motor Argala yaitu Max, lebih cepat lebih baikan terlebih tuan Regas akan mendapatkan cucu dariku, seperti yang dia inginkan, apa yang aku pikirkan, tuhan tolong aku' ^^^


Sepanjang jalan aku hanya terdiam sesekali melihat jalan, Max memutar musik di mobilnya. Perasaan semakin jauh dari arah kota. Bahkan melewati jalan tol, apa ini yang namanya bulan madu


"Max aku belum siap" tertunduk dan gemetar


"Belum siap apa?" Max yang masih menyetir mobilnya


"I-tu aku" ku lirik sisi jendela yang aku tidak tau berada dimana, rumahpun sangat minim, banyak sekali pepohonan yang rindang di sepanjang jalan.


"Loh ini dimana?" Tanyaku melihat ke arah depan


"Kita akan kepuncak Bogor, tenang saja kucingku akan selalu aman bersamaku" Max


Rasa takut berubah ketika aku melihat pemandangan jalan yang sangat indah, kubuka jendela sisi mobil semilir angin menembus kalbu hingga rambut coklat tuaku tertimpa angin.


"Gimana sayang, kamu suka?" Tanya Max


"Ah suka banget,, huuhuuwww" teriakku


Seolah Dejavu mengingatkanku saat hidup ini bahagia tanpa rasa beban, dimana umurku masih kecil aku dan keluargaku lengkap, rasanya ingin kembali ke moment itu. Mereka sangat bahagia ketika melihatku tumbuh besar dengan baik tapi sekarang mereka bercerai, hanya ayah lah penopang ku hingga sampai di titik ini. Namun sekarang situasi berbeda.


^^^ 'Ibuku adalah ibumu Max '^^^


"Kamu pernah kesini?" Tanya Max


"Jelas ya, tapi udah lama sekali saat dunia masih indah"


DEG


DEG


Diam menahan malu wajahku memerah saat Max berkata demikian, ku kira kita brake ternyata kamu mengejarku juga. Apa kamu merasakan hal yang sama seperti apa yang ku rasa.


Tiba di sebuah vila pegunungan tak jauh dari Puncak Bogor. Pikiranku yang dari fresh malah kembali memburuk terlebih hanya kami berdua yang berada di vila ini.


"....." Menelan ludah


"Max kita ngapain disini?" Tanyaku


"Ini adalah vila keluarga Regastara, ayo masuk anggap lah rumah sendiri" timpal Max


Bukan masuk aku malah mundur menjauh dari vila itu, saat Max melangkah masuk. Aku mengamati sekitar vila hanya ada kita berdua.


......................


...'dugaanku benar' ...


"Lexa ngapain jalan mundur?" Max menghampiriku


"Jangan mendekat! Stop disitu" tegas dan gemeteran


Dengan sikap kerennya Max terus berjalan tanpa menghiraukan kata-kataku, lalu dia mengendong tubuhku meski aku berteriak.

__ADS_1


"Max stop max Auch, turunkan gue! Hey turunkan gue bilang"


Sampai dalam vila dia menidurkanku kasar, pada sebuah kursi panjang di ruang tamu. Max menimpa penuh badanku hingga aku tidak bisa berkutik.


Kulihat mata sayu itu melihat ke arah mataku yang ketakutan, dadanya semakin lebar terlihat, aroma tubuhnya semakin tercium capuccino, perlahan mendekat hendak mencium bibir ini. Aku menutup mata dan sesekali mengelak meringkuk ketakutan.


"Max .... Tolong... Aku belum siap" jawabku gemetaran


Kurasakan setiap hembusan nafasnya berada disekitar wajahku, meski aku takut melihat rupa Max saat ini.


Tiba-tiba dia meniup dahiku lalu bangun dan tertawa


"Ha-ha-ha apa yang kamu pikirkan sayang, wajahmu ketakutan begitu tambah manis gua gak tahan" Max tertawa


Aku langsung terduduk dan bangun


"Hey Max! Jangan coba-coba ya atau ku cubit nanti" timpalku


Max tertawa sambil keluar air mata melihatku sedari tadi ketakutan, lalu diam mendekat.


"Tenanglah sayangku, bukan hari ini gak tau kalau besok" Max


DEG


'Maksudnya apa? Besok? Apa berarti aku akan menginap disini bersama Max? Hanya berdua tidak bahaya!! '


"Max dengar aku sebentar, kita gak bisa masukan Ale dalam geng motor itu yang mau gue bicarakan" tegasku.


Lalu Max hanya terduduk diam beberapa menit di sampingku.


"Jangan bahas itu!" Max dengan tatapan rasa sesal yang dalam


Entah mengapa aku merasakan sedih pada Max, padahal sedari tadi dia tertawa berhasil menggodaku.


"Sorry gue gak tau kalau itu menyakiti hatimu" menggenggam tangan Max


"Lexa peluk gua" Max


Gep!!


Belum sempat bicara Max langsung memeluk erat, aku mengusapnya berharap lebih baik. Ternyata pria besar ketua geng motor dan paling di takuti sangat mencintai keluarganya.


'aku salah seharusnya tidak membahas itu disaat kita date untuk pertama kalinya'


"Lexa Lo milik gua!" Max


.


.


.


.


.


Apa yang terjadi setelah ini, Max dan Alexa hanya berdua di vila, kenapa Max begitu sedih ketika berkata tentang adiknya Aleandro.

__ADS_1


Apakah Aleandro mencintai Alexa juga seperti yang ada pada buku yang dia pinjam "secret Admire" (pengagum rahasia)


Next episode 🌹


__ADS_2