TERIKAT PERJANJIAN BADBOY TAMPAN

TERIKAT PERJANJIAN BADBOY TAMPAN
Bab 50 Mystery


__ADS_3

Aku memperhatikan tatapan Max dengan penuh kebencian, aku melirik pria yang tengah terduduk di warung kopi dengan membelakangi kami. Tiba aku teringat sosok Vidio dari email Bram yang lebih jelas.


"Euh..." Tanpa basa-basi Ale menyimpan barang belanjaan ku dan pergi sambil berlari menghampiri pria itu.


"Eh Al!!! Lo mau kemana?" Teriak Bella dengan nyaring hingga terdengar pada bapak itu.


Aku kebingungan kaget ternyata dia adalah sosok pria yang membunuh Bara. Saking takutnya aku diam mematung. Namun sayangnya saat itu aku sedang tidak memakai kacamata ku.


^^^'samar tak ku lihat dengan jelas raut wajah itu, ternyata aku si pintar minus -2' ^^^


Pria itu menyadari Ale berlari menghampirinya, dia panik dan lari sekuat tenaga menghindar dari kejaran Ale.


"Eh Al tunggu gue ikut!! KEJAR PRIA ITU MALING!!!! TOLONG" Bella berlari mengejar Ale dengan sautan Maling. Berharap para warga mendengar dan membantu kami menangkap pria itu.


Max memegang bahuku manatap dengan wajahnya yang tampan tersenyum kecil, jelas ku ingat harum capuccino itu di sekujur badannya. Baru kali ini aku melihat Max menggunakan kemeja berwarna hitam dengan Levis sobek tanpa jaket kulitnya. Rambutnya berjambul poni dan tersenyum menenangkanku.


"Tenanglah semua baik-baik saja, kamu percayakan sama gua, tunggu disini!" Seru Max mengusap lembut ujung bibirku.


Lalu pergi berlari kencang mengejar Bella dan Ale yang telah lebih dulu pergi meninggalkan aku. Seketika aku terdiam mematung. Hanya tinggal aku sendirian di gang ini, dikeremuni para warga menanyakan hal yang terjadi.


"Ahh gue gak tau!! Aduh mereka temen gue pada bikin onar lagi, mana belanjaan di simpan sembarangan di tengah jalan siapa yang harus beresin gue lagi, sial.... Ah gue benci hari ini" gerutu ku duduk tengah jalan.


Tiba seorang penyelamat datang, perlahan menghampiri dan mengulurkan tangannya membantu aku terbangun.


"Gua bantu" Seru pria itu tersenyum


"Bima???" Terbangun kaget


"Ibu-ibu bapak-bapak semua, gak ada apa-apa disini.. maafkan keonaran teman saya ya" Bima sambil mengatupkan kedua tangan meminta maaf pada semua orang.


Lalu lambat laun wargapun pergi.


...----------------...


"Lo kenapa ada disini?" Tanyaku


"Lah aneh gua yang tanya? Lo kenapa bisa kaya begini, biasanya telepon gua dulu kalau mau pulang" Bima


"Ceritanya panjang, gue mau kasih kejutan buat ayah, sama beberapa temen kesini, eh dia malah ngejar pria ke arah sana" seru ku sambil mengemas barang yang bergeletakan.


"Ohh pantas saja, yasudah gua antar pulang yuk" Bima sambil merapikan barang yang ku bawa.


Akhirnya Bima mengantarkan ku pulang bersama,


"Yaudah yuk Lo yang angkat deh gue cape, eh ngomong-ngomong Lo gak kerja?" Sautku


"Engga kan Minggu, pabrik libur" Bima


"Bener juga sih, haha" Sautku tertawa bahagia, entah bagaimana jadinya kalau aku harus menunggu mereka.


Mengejar seseorang berlari bukan untuk di tunggu karena itu penjahat gak tau lari sampai mana.

__ADS_1


"Eh Lo kesini sama Bella kan?" Saut Bima


"Cieh yang pertama ditanyain Bella naksir Lo ye sama Bella, dia ikut ko sama dua pacar gue, ehhh ups!" Sautku


"Hah Lo bawa pacar ke rumah ayah, Lo mau nikah? Modelan begini ada yang mau haduh Lexa mimpi Lo ketinggian kali" saut Bima menyindir


"Cih jangan salah pacar gue duaaa, sarimi isi dua enak di mulut kenyang di perut.. mantap, eh Lo ngapain jalan sini tumben ke gang Suparman" tanyaku


"Gua disuruh ibu susul bapak di warung kopi, tapi nanti lah gua bantu Lo dulu kasian, tau gak kaya tupai ngangkut bola haha" seru Bima tertawa


"Hah tupai, sembarangan ya kalau ngomong gue ini kancil sat set sat set" timpal ku mempergakan dengan sebelah tangan.


"Hahaha kancil aduh jauh Lexa, udah Lo itu tupai kecil lincah juga kan, tapi ini barang yang kamu bawa banyak banget, tau gak kaya tupai angkat bola jawabannya gak mungkin hahaha" Bima meledek


"Ih dasar oke gak papa, makasih udah bantuin gue?" Seru ku


"Iya sama-sama, tapi gua gak bisa lama-lama di rumah Lo ya, gua harus cari bapak gua, kalau telat wah Auman serigala muncul di rumah gua haha" saut Bima


"Pasti itu ibu Lo kan hahaha, malah ngomongin binatang lagi mau bikin kandang ayam ya Lo haha, iri banget punya ibu.." seruku


"Boleh sih tapi kandang ayam bau, kalau kandang ikan boleh lah.. hahaha" timpal Bima


"Nah bener tuh nanti Lo jadi punya kolam renang sendiri di kutuk deh jadi mermed haha, Mermaid Bima hahaaha" tertawa membayangkan Bima pria gendut menjadi putri duyung


"ya dah gua ngalah terserah cewek lah, Wanita selalu paling benar" Bima


"hahaha... tapi aneh rasanya jauh banget ya sampai rumah pegel lagi, oh iya kan gue punya Lo, bodyguard ini jinjing juga ya pegel nih, bye ... Ble! Lari..." Pergi meninggalkan Bima yang memang sebentar lagi sampai rumah.


Sudah jadi kebiasaan dari kami bercanda gurau bersama, Bima sahabatku sedari aku kecil hingga bertumbuh dewasa. Aku menganggapnya lebih dari sahabat, dia seperti sodara. Bima membantuku melewati masa sulit ketika kehilangan Aleta, yang menjadi sahabatnya juga. Sampai saat ini Bima tidak pernah berubah. Bahkan saat awal masuk kampus Bima lah yang sering telepon aku untuk menghindari kebohonganku memiliki pacar tampan. Jauh sebelum bertemu Max.


......................


*


*


*


Sampai rumah triplek terlihat tetangga pada menyapa, aku mengetuk pintu berharap ayah di rumah. Kejutan kecil untuk ayah hanya bahagia ketika anaknya pulang ke rumah


Tok!tok!


"Permisi saya dari debitur, mau nagih hutang" Seru Bima becanda


Saat ayah membuka pintu, "Alexaaa..." Merangkul aku dengan penuh bahagia


"Ayah sehat, kejutan akhirnya Lexa pulang ketemu ayah" seruku


"Tentu saja luar biasa, apa lagi ada malaikat kecil ayah, ayo masuk? Kamu sendirian" tanya ayah


"Em ada ko temen lain nanti mereka menyusul, oh iya tadi Lexa ketemu Bima di simpang gang, Bima bantuin Lexa bawa barang buat ayah" timpalku

__ADS_1


"Wah .. terimakasih nak, Bima emang dari dulu gak pernah berubah ya,, baik hatinya ayah lebih setuju kamu sama Bima" ayah


Aku dan Bima saling melirik dari atas sampai bawah dengan tatapan geli. Tentu saja dari kecil kami bersama jika sampai berujung pernikahan, rasanya sangat aneh. Bukan membangun rumah tangga, tapi adu lempar kekuatan.


^^^'apaan Lo liat-liat' ^^^


"Emm ayah Lexa gak mau mikirin hal itu, Lexa akan buktiin ke ayah, bakal jadi orang sukses" penuh yakin


"Halah .... Bohong tuh ayah orang di kampus juga kerjanya pacaran punya dua lagi tuh huuuuu" seru Bima


^^^'B-I-M-A' *kode* menatap Bima dengan isyarat mode melotot ^^^


"Tatapan serem banget, gak Bima cuma becanda ko haha, oh iya ayah, Lexa, gua gak bisa lama soalnya disuruh ibu" Bima


"Yasudah hati-hati Bima, terimakasih sudah mengantarkan Alexa sampai sini ya.. main lah kapan-kapan lagi kalau ada waktu" ayah


"Tentu saja ayah, Bima gak akan nolak haha, yasudah bye Lexa .. ayah assalamualaikum 🙏"


"Waalaikumssalam"


Bima pun berlari pergi, "Bima anak yang baik ya" timpal ayah


"Iya ayah dia adalah sahabat akan tetap seperti itu" seruku


"Oh iya ngomong-ngomong teman kamu kemana, mereka gak akan nyasar kan... Tumben gak pergi bareng kamu?" Tanya ayah


"Tenang bella ikut ayah, kalau nyasar juga pasti telepon, tadi di depan gang masih samaan tapi mereka pada lari ngejar orang" seruku sambil terduduk di alas tikar.


Ayah ke dapur mengambil minum, melihatku yang kelelahan dan kepanasan. Tiba aku teringat pria yang di kejar oleh Max dan Ale.


"Eh ayah Lexa mau tanya? Ayah kenal gak orang sini yang punya tato naga ditangannya" tanyaku


"Tato naga? Bukankah itu om Heno ya .... Kamu juga kan tau" timpal ayah


'OM HENO AYAH BIMA!!'


.


.


.


.


.


Jadi Vidio yang di kirim Bram lewat email tato Naga itu.. Ayah Bima pantas aku merasa tak asing. Jika iya berarti dia dalang dari meninggalnya Bara Blacktunder dan memfitnah Max.


^^^'ayah dari sahabatmu??' ^^^


Bersambung 🌹

__ADS_1


__ADS_2