
Aku berkaca-kaca kaget melihat fakta yang mengejutkan, perasaan ku semakin buruk jika mereka menangkap Om Heno, karena bagaimanpun aku dan ayah sangat kenal baik dengannya terlebih om Heno adalah ayah dari sahabatku Bima.
Tidak mungkin bagiku mengatakan hal yang sebenarnya pada Max, tapi aku telah berjanji menemukan pelaku Bara. Di buat bingung dengan apa yang haru ku lakukan sekarang.
^^^'maafkan aku Max, aku tidak bisa membantumu' ^^^
"Nak.. kenapa melamun begitu?" Tanya ayah
"Ah engga ayah, eh ayah ngomong-ngomong om Heno pernah masuk geng motor?" Seru ku mana mungkin sudah bapak-bapak berumur pula masuk geng motor, aku menepiskan pikiranku tidak mungkin om Heno.
"Hah om Heno hahaha, Lexa om Heno mana ada motor keren, lagian udah banyak uban dan tua begitu, aneh aja kamu.. tapi kalau preman kampung dulu iya,, sekarang udah engga kayaknya ngandelin dagangan istrinya, kan ibu Bima jualan gorengan depan rumah" seru ayah
"Haha iya, ayah emang om Heno udah gak kerja lagi di pasar? Dulu kan suka ngakut barang?" Aku yang masih penasaran
"Ayah rasa engga, masalah itu ayah juga gak tau.. " jawab ayah
Tak berselang lama Bella, Max dan Ale pun sampai di rumah ku. Max tampak memperhatikan sekeliling rumah triplek yang tidak layak huni ini.
Meski begitu raut wajah ayah terasa sangat sedih ketika aku datang. Tapi, dia terus berusaha tersenyum menyapa kami. Saat itu aku hanya berfikir kalau ayah merindukan sosok ibu karena membicaran om Heno dengan istrinya.
Jika ayah menikah lagi pun aku sangat setuju, tapi ayah sangat yakin untuk tidak menikah lagi sebelum aku menikah. Ayah selalu berkata mana ada yang mau sama ayah, sudah tua.
"Wey Lexaa aduh untung gak nyasar haha, eh ada ayah... Sore ayah sehat kan" Bella
"Alhamdulillah begini saja di rumah, mari masuk" saut ayah
Lalu Max dan Ale terduduk di tikar dalam rumah. Jangankan kursi televisi yang ku miliki Masih modelan jadul yang kotak Warna hitam putih.
Bukan tidak sanggup untuk beli, hanya saja sayang uangnya karena kamipun jarang nonton tv. Saat disini aku lebih suka bermain bersama Aleta dan Bima.
"Silahkan minumannya udah ayah panaskan tadi, ini siapa?" Tanya ayah tersenyum ramah
"Oh iya pak, salam kenal saya Aleandro dan ini kakak saya Max, kami berdua teman Alexa" seru Ale
...'TEMAN!' ...
......................
Max masih terdiam tanpa sepatah katapun. Di luar bersikeras menjadikanku sebagai pacarnya, depan orangtua ku kamu bilang teman.
^^^'payah, emang boneka apa ya' ^^^
Tidak semua orang mau menerima jati diriku yang sebenarnya. Ternyata ini hanya topeng. Omongannya semua basi
^^^'kali ini dia pasti jijik melihat rumahku, aduh bodoh banget sih harusnya ku simpan rahasia ku seorang diri' ^^^
"Ayah Bella cape boleh ya tiduran dulu" Bella merengek.
__ADS_1
"Haha boleh Bella silahkan, kamu pasti lelah, tuan muda juga boleh istirahat dulu dikamar ayah saja ya, rumah ini hanya dua kamar maaf kalau berantakan" timpal ayah tersenyum ramah
Dengan santai Max berjalan ke kamar ayah dan merentangkan badannya, seolah lelah sekali tanggannya menutup setengah wajah tampan itu.
"Makasih ayah, ehehe maaf kakak saya nyelonong gitu habis ngejar orang tadi" seru Ale
"Tidak apa-apa anggaplah rumah sendiri, ayah sangat senang kalau Lexa banyak teman begini" ayah
Sekelas Ale yang terlihat dingin di mata semua orang, dia sangat sopan berbicara pada ayahku. Berbeda dengan Max yang angkuh.
Lalu Ale dan Max pun beristirahat di kamar ayah. Aku masih terduduk diam, sepertinya aku salah mengajak mereka ke rumahku.
"Nak sebentar ya, ayah ke depan dulu" timpal ayah terburu-buru
Karena sendirian di rumah, Alexa berinisiatif mengikuti ayah, tapi jalan ayah terasa cepat sekali. Hingga dia sampai di tetangga rumah. Belum sempat aku bicara ikut padanya. Aku mendengar hal yang cukup membuatku sedih.
"Permisi, maaf boleh saya pinjam uang untuk hari ini, ada teman Lexa datang saya tidak memiliki apapun" ayah
"Heh pak tua, kamu juga yang kemarin belum balikin, bagus dong anak kamu pulang berarti hari ini harus di bayar malah minjem lagi" tetangga 1
"Makanya pak mending anaknya suruh kerja, malah so so an kuliah bintang lima kewalahan kan, orang makan saja susah" tetangga 2
......................
Aku bersembunyi di balik sebuah pot besar, tak sengaja mendengar percakapan itu. Lalu segera balik ke rumah berharap ayah tidak melihatku.
"Eh ayah.. ayah .. dari mana, kaki ayah kenapa di tekuk gitu" tanyaku
"Kaki ayah keseleo saja, tadi ayah kedepan sebentar ko.. Lexa anak-anak mau makan apa nanti malam biar ayah ke pasar dulu sebelum tutup" seru ayah
Tidak terpikir bagiku ayah masih menyembunyikan sesuatu padaku jelas tadi aku mendengar ayah meminjam uang pada tetangga. Dia masih berusaha ngutang pada tukang sayur di pasar. Perasaanku sangat sedih seharusnya aku disini membantu ayah.
"Ayah.. gak usah ayah, mari Lexa bantu duduk.. Lexa kesini bawa oleh-oleh buat ayah nih, Lexa juga bawa beras, baju sama beberapa daging kita masak ini saja nanti ya" jawabku
"Alhamdulillah rezeki Alloh memang tidak di sangka ya" ayah tersenyum bahagia
......................
Langit sudah gelap malampun tiba, Max dan Ale sudah terbangun melihatku berada di dapur bersama ayah memasak di kompor tungku.
"Putri ayah cantik dan pintar ya, pinter masak kaya ibu kamu" saut ayah
"Jelas dong pokonya, suatu saat nanti Lexa mau punya restoran bintang lima, lihat saja haha"
Max dan Ale melihat kami begitu akrab dan bahagia. Ale tersenyum melihatku tidak sedih lagi.
^^^'gua bahagia, saat Lo bahagia Lexa' Ale ^^^
__ADS_1
"Aduh seru nih ayah Bella bantu yaa" Bella tiba-tiba nongol dari sisi tirai dapur.
"Nah tumben Lo biasanya nanti kalau mateng baru makan hahaha" seruku
"Ih Lexa nyebelin lihat tuh ayah Bella juga mau jadi anak ayah" Bella merengek pada ayah
Ayah tertawa bahagia melihat kami yang adu lari di sekitar dapur, "sudah .. sudah ayah milik kalian berdua" timpal ayah
"Tuh kan ayah juga sayang bella,, ble!" Bella
"Euuuhhh! Bella nyebelin" gerutuku
Lalu Ale menghampiri ayah dan membantunya memasak dan memotong beberapa bahan,
"Saya bantu ya pak, saya jago masak loh" timpal Ale
Lambat laun, Ale pun terlihat dekat dengan ayah sambil mengobrol bersama membahas resep sesekali Bella nimbrung karena paling suka dengan makanan.
Saat aku tersenyum melihat ayah tertawa lepas, Max menghampiriku lalu memegang tanganku erat.
"Lexa ikut gua!!" Bisik Max
"Aduduh sakit apaan sih.." kesalku
Max mengajakku kebelakang rumah yang memang dibelakang rumahku tepat sungai mengalir. Suatu malam menusuk dingin di tepi sungai yang kelam aku menangis tersedu membaca sebuah kertas yang di berikan Max.
.
.
.
.
.
.
"....." Menangis tak kuasa membaca percikan kertas yang sangat menyayat hati. Kemana saja aku selama ini.
"Lexa Lo pacar gua! Lo kuat! Gua disini semua akan baik-baik saja.." Max memelukku dengan erat, lalu mengalihkan kedua tangannya pada pipiku dan mencium bibir merah muda ini begitu penuh arti
Cup!! Gua disini Alexa
Bersambung 🌹
Apa yang terjadi ya pada Alexa?
__ADS_1