
Aku terdiam melihat Bella yang tengah kebingungan dengan pikirannya sendiri. Apapun yang ada padamu, kamu tetap sahabatku Bella terlepas dari kamu Aleta sekalipun.
"Sudah lah jangan ngelantur Lo tumben inget Aleta, kenapa? Pasti Bima kan yang kasih tau" tanyaku merangkul Bella
"Gak tau sih, saat gue pesen makanan tadi si mba nya bilang gue Aleta? Karena pusing aku duduk di luar mencerna apa yang terjadi tiba-tiba gue inget wajah sahabat gue" jawab Bella
"Bella mungkin Lo di rasuki Aleta atau mungkin dia suka deket sama kita, karena Lo sekarang sahabat gue" timpalku
"Whahaha ada-ada saja lagian ini masih pagi loh emang ada ya? Ngaco.. tapi kalau gue Aleta gimana?" Bella melirik padaku dengan tatapan tidak meyakinkan
"Haduh masih saja dibahas, bella mau Lo kucing atau gak burung sekalian gue gak peduli, sekarang dari pada Lo berfikir yang aneh begitu, nanti gue datang ke rumah Lo, kalau orangtua Lo tau gue, sudah pasti Lo Aleta, simple kan" jawabku sambil memakan beberapa gorengan
"Emm iya sih bener juga, haha" Bella
Sampai rumah semua sudah beres dibantu beberapa orang suruhan Ale sebagai packing, beberapa barang sudah terangkut ke dalam mobil ekspedisi.
"Wah cepet banget selesainya" antusias melihat seisi rumah yang tampak kosong
"Siapa dulu ahlinya, nih.." Ale menepak dada
"Eh iya guys ini gue beli gorengan tadi di depan, sama beberapa onigiri, makan dulu sebelum masuk mobil" Jelas Bella
"Makasih ya" Ale
Akhirnya kamipun makan seadanya dulu, sambil beristirahat sejenak, udara panas Jakarta membuat Max dan Ale sangat kepanasan. Mereka terduduk di depan rumah sambil jongkok memakan onigiri, saat ku masuk terlihat ayah tidak ada.
Saat aku kebelakang rumah terlihat ayah sedang berdiri diam dengan kesedihan yang mendalam.
"Loh ayah disini? Ayah gak apa-apa " tanyaku penuh khawatir
"Eh anak ayah sudah pulang," jawab ayah sambil melihat kearah sungai yang memang di belakang rumah triplek ku.
"...." Aku menghampiri ayah perlahan menggengam tangan ayah
"Lexa waktu berubah begitu cepat, baru saja ayah merasakan kamu lahir di rumah ini saat ibumu masih bersama kami, sekarang kamu sudah tumbuh besar, menjadi anak yang mandiri dan cantik,,, ayah bangga sama kamu..." Ayah tersenyum
Terlanjur sebentar saat aku bertemu ibu kandungku di jamuan Regastara, sudah lama sekali, ternyata ibu sudah bahagia bersama pilihannya.
^^^'ayah aku belum bisa mengatakan ini meski Ayah akan tau, ibu dari Max dan Ale adalah mantan istri ayah atau ibu aku sendiri'^^^
Tak terasa tangis ku bercucuran, sangat ingin mempertahankan rumah ini, meski sudah sangat tua, menjauhi mereka dan tidak berurusan lagi dengan Regastara.
Tapi tidak ada mereka, aku malah sangat kesusahan. Terlebih aku mencintai Max dari saat memfoto dirinya secara tidak sengaja.
^^^'Dilema Cinta ayah atau Max pangeran kegelapan' hehe^^^
...----------------...
Sudah terasa cukup untuk istirahat tak lupa kami berpamitan kepada tetangga, sambil membayar semua hutang ayah. Rumah triplek itu kami hibahkan kepada seorang pemulung yang memang merupakan teman ayah disini.
__ADS_1
Teman ayah sangat senang dan bersyukur sekali, karena dia jadi gampang untuk bekerja mencari botol bekas. Terlepas rumahnya sangat jauh di pondok seberang dekat pemakan umum.
Meski begitu, keluarga pemulung itu sangat bahagia memiliki istri dan anak yang selalu mereka jaga. Aku tidak tau kalau ayah memiliki teman seperti bapak Yanto. Tapi bagaimanapun sudah hampir enam bulan aku tinggal di asrama jarang kerumah ayah. Rasanya kesepian seperti apa yang dia rasakan.
Tiba depan mobil terlihat Pak supir yang mengantarkan kami menjemput kembali.
"Eit karena gua yang rencanakan ini, jadi sekarang gua yang di depan" Max dengan laga sok keren masuk ke mobil lebih dulu
"Ayah sama saya saja dibelakang, tidak apa-apakan, karena di kursi dua pasti duo ketek ini haha" Ale tertawa
Aku dan bella saling menatap.
^^^'kenapa Ale bisa tau duo ketek,, saat perang melawan mush terbesar bumi' (kecoa)^^^
Seakan teringat saat cleaning service datang membersihkan asrama, lalu Max membawa boneka kecil milik Bella yang ternyata adalah sebuah kamera kecil. Boneka itu dia bawa dan belum sempat aku tanya.
Jangan-jangan yang menyimpan boneka itu Ale, ko bisa seperti itu, lantas dari mana dia bisa tau duo ketek. Ledekan aku bersama Bella
...'misteri'...
"Ih Ale dasar minuman Tusuk sebal" Bella kesal, dia sangat benci dipanggil seperti itu.
Aku malah bengong terdiam seolah takut melihat tatapan Ale yang sangar. Benar sama sekarang kamera sekecil itu bisa disisipkan di mana saja. Terlebih zaman ini kamera dua muka sudah banyak di pasaran.
Dia tidak hanya bisa melihat tapi bisa mendengar suara.
^^^'miris'^^^
......................
Sampai di markas Argala, ayah turun dan sangat terkejut melihat rumah seperti rumah hantu, tak terawat, rumput yang panjang, dan cat yang susah pudar.
"Sudah ayo masuk" pinta Max
Kami mengikuti Max dari belakang, "ayah tenang saja, di dalam ramai orang ko" memegang tangan ayah.
Saat pertama masuk disambut oleh bibi yang sudah menanti kedatangan kami.
Tok!tok!
"Eh udah pada datang, silahkan masuk... " bibi
Ternyata meski tampak luar sangat seram, dalamnya sangat bersih wangi dan rapih.
"Nah ayah, sekarang tinggal disini rumahnya memang seperti ini, oh iya ini kenalin ini Bi Cicih terus Andre, kalau tiap malam Minggu pasti ramai orang karena pada kumpul" tegas Max
"Maaf ya ayah rumah kakak saya begini, orangnya memang mageran haha" saut Ale
"Diam kau!" Max kesal
__ADS_1
"Maaf ya pak, biasa anak-anak memang suka bertengkar, kalau begitu saya bikin kan minum dulu ya" bibi
"Ah tidak usah repot-repot bi" jawabku
"Pasti semuanya teh kepanasan kan dari luar, sudah bibi bikinin es jeruk saja ya" timpal bibi
"Nah enak tuh Bella mau bi" Bella
"Ni anak kalau urusan makan cepat ya.." Max
"Biarin ble!" Bella
"Salam pak, saya andre seorang ajudan Argala storta" Andre
"Saya ayah Lexa, salam kenal nak" timpal ayah
"Ohh ayah si kucing?" Jawab Andre
"Andreeeee" sinisku
"Hehe maaf, silahkan ayah saya antar melihat ruangan, buat kalian gua tau capek kan sudah sampai sini saja, biar gua yang urus" jawab Andre
"Aaa keliling rumah kan gue ikutt!!" Timpal Bella mengikut langkah ayah bersama Andre.
...----------------...
Inilah kesempatan ku menanyakan hal tersebut pada mereka berdua. Karena kalau tidak pikiran ini akan terus melayang dengan sebuah jawaban kosong. Saat kedua pria Badboy itu duduk di sebuah sofa.
Aku berada di depan keduanya, dengan tatapan yang sinis dan rasa ingin tau yang kuat.
"Kenapa Lo?" Tanya Ale datar
"Apa Lexa sayang mau bilang terimakasih" Pinta Max
"BUKAN! Apa rencana kalian sebenarnya" Tanyaku dengan tatapan yakin seratus persen.
.
.
.
.
.
Inginku saat itu bertanya hal yang panjang, kemana boneka kecil milik Bella yang di bawa oleh Max dan kenapa Ale bisa tau pertempuran aku dan Bella melawan kecoa malam itu.
^^^'jebakan'^^^
__ADS_1
Bersambung 🌹