
Ale menggenggam tanganku begitu erat, seakan pandangan mengarah pada kami, kini orang yang berjalan bersamaku Ale. Bolehkah aku merindukan sosok Max.
Kami berjalan menuju ruangan perpustakaan,
"Ini adalah tempat ternyaman untukmu" Ale membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan ku masuk
Ku lihat beberapa anak lain sedang membaca buku tanpa sepatah katapun, hening sepi. Ruangan senyap ternyaman. Aku memejamkan mata menarik nafas lega merasakan kedamaian.
"Ada apa Lexa ayo masuk, Lo boleh membaca sepuas Lo mau" Aleandro
"Terimakasih Ale, tapi apa Lo juga menemaniku" tanyaku polos
"Tentu saja, baru saja gua alihkan pandanganku, kamu sudah berurusan dengan pria yang mencoba merusak Lo" Ale
DEG
DEG
Sosok yang terkenal dingin, kenapa hari ini begitu hangat dan berbeda tak henti bibir dia melambai senyum ke arahku.
^^^'apakah Aleandro menyukaiku? Ah tidak mungkin... Tekad ku sudah bulat untuk menghentikan sandiwara ini' Alexa^^^
Aku berjalan mengambil beberapa buku, mataku terpilih kepada salah satu buku tentang rumitnya cinta segitiga.
"Lo pilih buku apa?" Ale mendekat menghampiri.
Brak!! Alexa menjatuhkan buku yang dia genggam
Ale mengambil buku dan membaca judulnya "rumitnya cinta segitiga", aku menggelengkan kepala tertunduk kaku.
"Ale itu tidak seperti yang Lo pikirkan" pekikku
Ale menahan tawa melihatku diam malu, "hiks kamu pikir kita terlibat cinta segitiga?" Pikir Ale
"Em entahlah Lexa terbawa suasana kali ya hehe" menggaruk kepala
Pandangan dingin itu menatap dalam lalu mendekat hingga aku menahan nafas "sepertinya kamu bukan tipeku Lexa, tidak tau kalau nanti" tersenyum lalu membuka buku itu,
"Hahaha bagus kalau begitu, emang tipe Lo seperti apa?" Tanyaku mengelak
"Bukan orang caper, tentu saja bukan Lo" saut Ale
Jadi hanya aku yang terlalu bawa perasaan, pikiranku berlebihan padahal tampak biasa saja.
"Terus kenapa kamu membantuku?"
"Max menyuruhku menjagamu" saut Ale
DEG
DEG
"sudah ayo, nih kamu baca saja bukunya" memberikan buku itu padaku.
Sebenarnya apa yang terjadi di kampus saat aku ambil cuti, pada kenyataannya Max peduli.
...----------------...
Jam istirahat ku habiskan di ruang perpustakaan, sampai kelas kedua di mulai, Ale masih berada bersamaku.
"Emm Ale Max gak masuk ya?" Tanyaku
"Tidak" jawab Ale datar
"Kenapa?"
"Kamu tidak perlu tau, untuk saat ini lebih baik Lo jangan jauh dari gua" timpal Ale
^^^'ini orang kenapa? Katanya tidak menyukaiku tapi bilang jangan jauh dariku, jadi yang benar yang mana' pikirku^^^
Benar saja saat jam pelajaran kedua masuk, Ale masih tepat berada di sisiku. Sebelum itu, bahkan dia mengantarku ke toilet wanita.
__ADS_1
"Aduh kayaknya kamu duluan aja deh, gue harus ke toilet dulu" menahan pipis
"Yasudah gua antar" Ale
"Ih ga usah toilet wanita loh, Lo mau ikut juga? aneh"
"Udah ayo, gua tunggu diluar" Ale
Di dalam sebuah bilik toilet, ku dengar suara seseorang berbicara tentangku.
"Senang banget ya jadi si Lexa, sudah dapat tuannya eh ke adiknya"
"Iya ganjen so paling cantik, pasti dia tau tuh apa yang terjadi pada Max terus lari ke Ale"
"Bener jahat banget kan dia ternyata wanita so keren haha"
"Sudah jangan bergosip disini nanti orangnya denger hiks, kayaknya ada disini tuh bodyguard aja diluar"
"Hih iya cabut yuk"
Merekapun pergi, aku masih di dalam bilik toilet terduduk menangis.
^^^'sebenarnya apa salahku? Haruskah aku dibenci seperti ini? mimpiku akankah hancur?' Alexa^^^
......................
"Sudah Lexa" Ale
"Iya ayo pergi"
Kelas kedua di mulai, tampak mereka tak berhenti menatapku penuh jijik. Jika Ale tidak ada saat ini mungkin aku sudah dibully habis-habisan. Meski aku tidak tau apa salahku.
Bahkan untuk bertanya pada temanku mereka seakan tidak peduli, meski aku tidak ada dalam grup mereka. Ale masih saja berada di dekatku.
"Lexa hey jangan melamun, kita di suruh bagi kelompok. Pokoknya kamu harus bersamaku" Ale
"Oke" senyum terpaksa
Pembagian kelompok dimulai, aku dan Ale terpisah beberapa bangku, ku lihat Viona menjadi teman kelompokku.
Seperti biasa Viona orang paling jutek saat pertama kali bertemu dia tidak akan menjawab kalau aku tidak bertanya. Seakan say hi saja dia paling irit.
Aku mendekati Viona yang sedari tadi diam dengan tatapan yang sinis.
"Vi bantu gue, apa yang terjadi?" Berbisik
Lalu Viona menoleh, "bagaimana kamu sudah putus dengan Max" tanya Viona
"Iya kami putus" jawabku
Viona tersenyum, "baiklah gue akan memberitahu Lo"
Lalu dia menulis di dalam sebuah coretan kertas dan menyerahkannya padaku,
"Nih, tapi jangan baca disini, di rumah saja"
...----------------...
Pelajaran selesai Ale bahkan mengantarkan aku sampai asrama, hari ini adalah hari yang paling berat. Kampus yang ku impikan berubah menjadi lautan kematian. Bahkan bernafas pun sesak.
Saat aku memasuki kamar asrama, seperti biasa Bella sudah pulang, dia diam tidak menyapaku. 'apa dia juga sekarang memusuhiku?'
"Bell kamu sudah pulang" tanyaku
"Iya" Bella
"Sudah makan"
"Bukan urusan Lo" Bella
Berjalan mendekati Bella "Lo juga ikut membenci gue Bella?"
__ADS_1
Bella menatap "tapi boong ble, hahaha" menggelitik ku
"Ih Bella nyebelin, awas kamu Bella, aduduh geli"
Aku tertawa bersama Bella, sekilas ku lupa tentang kejadian hari ini, meski kadang sekelebat pikiranku kembali bertanya tentang Max,
^^^ 'jangan terlalu di ambil beban Alexa'^^^
Kami berdua berbaring di lantai karena lelah tertawa,
"Bell Lo tau gak apa yang terjadi padaku di kampus" tanyaku
"Gak mau tau ble haha, tapi Lexa kalau jadi kamu, gue pasti mundur" Bella
"Emang menurut Lo apa yang terjadi, bahkan hari ini tidak ada yang mau bicara padaku"
"Entahlah kelas mathematics emang gitu sih, orangnya pada serius gak ada humornya haha, makanya mereka di cap kelas paling cool orangnya dingin semua hiks, tapi gue dengar Max salah sasaran makanya dia di skors" Bella
"Salah sasaran maksudnya gimana?" Terbangun dan duduk
"Tapi gue gak jamin ini cerita real atau engga, teman sekelas gue bilang Max adu tinju sama mahasiswa yang dia pikir mata-mata Blacktunder tapi entahlah, mahasiswa itu tidak terima terus laporan dan Max di skors tidak boleh kuliah dulu gitu" Bella
Teringat ku coretan kertas dari Viona tadi, aku bangun dan mengambil coretan itu di saku bajuku,
"Eh Lexa ada apa?" Bella
Saat ku baca coretan itu, tertulis
*Tipu Muslihat Blacktunder*
Lalu Bella menghampiri dan membaca kertas itu,
"Tipu muslihat Blacktunder, maksudnya? Atau jangan-jangan" Bella
"Bell Lo merasakan hal yang sama dengan yang gue pikirkan" menatap Bella
"Dengan begitu berarti saat kamu pulang kampung, Max pikir kamu di culik Blacktunder!" Bella menatap terkejut kearahku
"APA!!"
Jadi selama ini Max benar menjagaku, dan dia tertipu hasutan Blacktunder, bersama pria yang beradu di kampus atau mungkin dia yang menjebak Max juga.
Perasaan kesal saat kubuka secarik kertas, mereka tak hentinya menganggu kami, meski telah ku katakan Putus pada Max, aku merasa harus melindunginya. Meski Ale melarang aku bertemu dengannya. Aku khawatir,
"Bella kita tidak bisa tinggal diam" mengepalkan tangannya
"Benar, itu cara yang licik" Bella ikut kesal
"Kita pergi malam ini!" dengan yakin
"Bentar pergi kemana?" Bella bingung
"Markas Argala Storta" datar
"Loh bukan ke Markas Blacktunder Lexa?" Bella
"gue lebih mengkhawatirkan Max sekarang"
.
.
.
.
.
Apa yang terjadi dengan Max?
Next episode 🌹
__ADS_1