
Gep!! Ale memeluk tubuhku di kampus dengan terang-terangan, sorot mahasiswa memandang kami penuh rasa romantis.
"Gua kangen Lo Lexa..." Timpal Ale
Mataku masih membulat terkejut, bahkan dengan jelas ku lihat Max berdiri dengan mengepalkan tangannya. Mata nya tajam di bakar api cemburu. Dengan segera aku mendorong Ale, untuk melepaskan pelukannya.
"Eittt dasar omes ble" berlari menjauh dari hadapan Ale
Dimana tempat yang aman sekitar kampus sekarang, apa aku harus bertemu Bella dengan pergi ke kelasnya. Lagian bentar lagi kelas dua di mulai, pergi kantin pasti Max berada disana, diam di kelas pasti Jesselyn dan Reva juga ada disana. Apa lagi perpustakaan Ale masih sekarang mencariku.
^^^'yap aku tau sebuah toilet, tidak akan ada yang menganggu disana kan, kalau ada.. hantu itu bohong percayalah pada Tuhan Lexa..' ^^^
Aku bergegas ke toilet perempuan. Tampak ku lihat, waktu kelas tinggal sepuluh menit lagi, aku malu jika berpapasan dengan Ale, saat ini. Terlebih dia adik dari pacarku..
Suasana ramai, banyak para mahasiswi dengan riasan makeup nya, aku menutup diri di salah satu toilet itu.
^^^'ayo waktu sekarang berjalan lah lebih cepat, kelas ku tidak jauh dari sini...'^^^
Saat aku berada dalam bilik toilet, suasana tampak hening tak satupun suara terdengar. Benar itu lebih baik.
Beberapa menit kemudian, tiba aku mendengar suara orang menangis dari sisi pintu toilet, buluk kudukku langsung merinding dari ujung kaki hingga ujung ubun. Aku segera keluar pintu toilet, ketika aku berbalik sosok yang ku lihat bukan perempuan menangis di sisi pojok, tapi Max yang menakut-nakuti aku dengan rekaman suara ponsel
"..Maxx kamu dari man-a" belum selesai aku berbicara Max dengan sigap mencium tepat di bibirku, di dalam toilet perempuan. Sesekali dia memainkan lidahnya. Aku membalasnya dengan perasaan rindu.
"Muahh"
"I love you kucingku" Max sesekali, mengenggam tangannya dengan sangat kuat ke arah pipiku. Aku menatap mata dia yang terpejam. Aku berfikir ini salah,
Aku mendorong Max menjauh dariku,
"Max stop!! Apa yang kau lakukan, berada di toilet perempuan begini, malah menciumku seenaknya! Dasar sampah!!" Aku membuat Max makin kesal, agar dia menjauh sementara dengan ku di kampus ini.
DEG
^^^'jujur saja aku takut saat mengatakan seperti itu, pada hari Max yang rapuh' (sampah)^^^
Aku berjalan pergi meninggalkan Max, ke arah pintu luar
"Tunggu! Lexa gua cemburu.." timpal Max dengan lesu
Aku tidak menggubris apa yang dia lakukan padaku, karena menurutku ini adalah tempat umum terlebih kita bukan siapa-siapa. Disini! Berjalan pergi meninggalkan dia seorang diri.
Akhirnya aku berjalan lambat ke ruang kelas. Entah seperti apa rasanya aku merasa kepalaku mulai pusing dan hampir kehilangan sadar. Aku berpegangan pada dinding Kampus lalu ku lihat pria tinggi, memangku badanku dan berlari sekuat dia bisa.
__ADS_1
^^^'apa yang terjadi kenapa aku merasa lemas begini, aduduh bahkan aku tidak bisa merasakan kakiku, terjatuh namun mataku masih sayu melihat sekeliling' ^^^
*
*
*
Alexa pingsan dan orang pertama yang melihatnya pingsan adalah Max, dia segera membawa Alexa ke ruang perawatan. Jelas ku ingat percakapan mereka yang tampak samar.
"Tolong selamat Lexa, saya mohon" Max
Aku melihat dia menjatuhkan air matanya melihatku dengan lemas.
Bahkan aku ingat dia yang menemaniku selama perawatan hingga cairan infus menusuk nadiku.
"Lexa hanya kecapean, biarkan dia istirahat" perawat
Tanpa terasa aku menutup mataku dan tidak ingat apa yang terjadi hari itu.
Beberapa jam berlalu, ketika aku tersadar yang ku lihat bukanlah Max tapi Aleandro. Tengah tertidur, padahal jelas ku lihat yang datang membawaku kesini adalah Max, bahkan saat ini aku tidak melihat dia ada dimana.
^^^'apa Max meninggalkanku bersama adiknya' ^^^
Lalu Ale terbangun dan segera memanggil perawat, aku duduk dan mencabut infus dengan tangan ku sendiri. Aku masih berfikir Max dimana, aku harus mengucapkan terimakasih.
Aleandro hanya diam melihatku dengan badan lemas. Karena tidak berdaya aku menuruti apa yang dikatakan perawat.
"Hari ini saya sarankan kamu menginap disini, saya akan jaga supaya lebih fit, kamu terlalu kecapean dan banyak sekali kehilangan cairan, sehingga tubuh kamu melemah, istirahat ya" perawatan
Aku tidak pernah merasakan sakit setelah sekian lama, yang di katakan perawat benar aku pulang dari puncak dan mengalami hipotermia disana, malamnya begadang dengan tugas dan nonton. Kesalahan fatalku, harusnya aku menyayangi badanku sebelum mimpiku.
Karena tanpa hidup, mimpi itu tidak pernah jadi kenyataan. Perawat itupun pergi meninggalkan kami berdua.
Aku tidak ingin menceritakan apapun tentang tadi pada Aleandro. Sebaiknya aku berterimakasih karena dia datang lebih dulu kesini dari temanku bahkan meninggalkan kelasnya.
"Terimakasih Ale.." Sautku lemas
Ale mengenggam tanganku erat dan tak melepaskannya, mataku tertutup kembali badan belum sepenuhnya fit. Samar ku dengar,
"Datanglah padaku kapan saja Lexa" Ale
Jelas ku ingat Max yang menolongku, apakah hari ini aku halusinasi, bagaimana perasaan dia ketika aku berkata sampah padanya.
__ADS_1
......................
Malam tiba, aku masih di kampus dengan beberapa perawat yang menjagaku, ketika aku membuka mata, aku melihat sosok tampan kekasihku tepat di depan memandangiku, jelas tadi sebelum terpejam ku lihat Ale disini.
"Apakah aku bermimpi"
"Tidak gua disini, pacarmu Alexa sayangku" saut Max dengan senyum bahagia atas kesadaranku
Aku bahkan melihat sekeliling, ku lihat satu pria tengah tertidur pulas, tidur sambil menutup wajah dengan tangan kanannya. Aku melirik tapi tak mungkin bertanya pada Max, aku takut dia cemburu.
"Lexa dia Ale, kami bergantian menjagamu" saut Max
^^^'Jadi benar yang ku lihat pertama adalah Max, lalu Ale datang seolah jadi penolong agar gosip aku dan Max putus benar! Apakah seperti itu' gumamku ^^^
"Istirahat lah... kami sudah sewa perawat di kampus ini khusus untuk kamu, sampai kesayanganku benar pulih" Max tersenyum
"Apa yang terjadi denganku Max, bagaimana temanku" Sautku
Max tersenyum, "temanmu tidak ada yang datang satupun Lexa, mereka semua palsu"
"Bella?"
"Oh si kecil cerewet itu, gua gak lihat tuh .. Lo lihat ga Le?" Tanya
Ale mnggelengkan kepalanya, berkata tidak.
"Kenapa kalian jadi barengan disini"
Tanyaku penuh penasaran, baru saja aku terbawa perasaan, merasa Ale jatuh cinta padaku itu ilusi. Seharusnya aku percaya pada mereka berdua, Ale tidak mungkin jatuh cinta padaku. Terlebih aku kekasih kakaknya hanya firasat.
Lalu Ale terbangun, menghampiriku. Mengatakan hal yang mengejutkan, tapi Max tidak marah bahkan dia merasa bahagia.
"Lexa ... Pikirkan jawabanmu pada gua? Karena gua serius mulai sayang sama Lo" Ale dengan wajah dinginnya.
.
.
.
.
^^^'ale berkata apa, hey kamu sakit.. aku masih terbaring lemah malah nanya jawaban' ^^^
__ADS_1
Perawat mana tolong! Dua pria aneh berdiri di sampingku.
Next episode, aduh Lexa pilih si pria dingin atau di pria api 🌹