TERIKAT PERJANJIAN BADBOY TAMPAN

TERIKAT PERJANJIAN BADBOY TAMPAN
Bab 58 Sekutu


__ADS_3

Aku segera kembali ke kamar asrama, memakai baju pemberian dari Ale, memang kedua pacarku paling bisa bikin aku tampil cantik. Bahagia di tangan orang yang tepat.


Ale memberikan ku pakaian rok pendek dan crop panjang, aku mengurai rambut coklat lurus ku yang ku sisir, lalu ku tambahkan jepit di bagian poni. Entah mengapa aku merasa badanku sangat keliatan berbentuk dan sangat tidak nyaman dikenakan. Tapi bagaimanapun semua ini hanya kebohongan. Agar temanku tidak mencurigai identitas ku. Tak lupa aku merias sedikit wajahku agar tidak terlihat sayu, rasanya seperti uzzlang.


Tok!tok! Mengetuk jendela mobil Ale.


Ale membukakan pintu, sambil melihatku tanpa berkedip.


"Al.. gue udah cantik kan, aduh pakaiannya terlalu kecil harta gue keliatan membentuk" bisik Lexa sambil masuk kedalam mobil Ale.


Seketika Ale terlihat tertawa, melihatku menutup sebagian dada dengan kedua tanganku.


Tanpa basa-basi Ale langsung melakukan mobilnya menuju asrama. Sampai tiba di parkiran. Ale mendekatkan wajahnya padaku.


^^^'apa-apaan nih gue mau di cium Ale, aduh gawat'^^^


Aku menutup kedua mata sambil dihantui rasa ketakutan.


Seketika Ale meniup hidungku, "huh .. Lo memang cantik" tepis Ale


Lexa membuka mata lebar-lebar ternyata dugaannya salah.


"Nih pakai jaket gua, gua gak mau harta berharga gua di lihat orang banyak" tegas Ale sambil keluar mobil memberikan jaketnya.


Karena memang terasa gak enak aku memakai jaket milik Ale, dengan sigap Ale menggandeng tanganku dan mengajakku berjalan bersama. Seketika mulut itu berbisik dengan lembut di telingaku.


"Semua orang harus tau sekarang Lo punya gua disini! Ikut gua" pinta Ale


"Ehh.. adu duh..." Teriakku kesakitan, genggaman tangan Ale sangat kuat. Berjalan melewati segerombolan mahasiswa yang melihat ke arah kami.


Aku hanya tersenyum tunduk malu, sekejap gosip itu berubah *Alexa Pawang Pria Tampan*


^^^'aduh malu-maluin banget gue, mereka tau gue break sama kakaknya, eh nyatol sama adiknya.. mau di taruh dimana muka gue'^^^


Saat sampai kelas Ale masih memegang tangan gue, dengan keras dia menggebrak Meja depan kelas.


Brak!!


"Pengumuman!! Mulai saat ini Alexa adalah kekasih gua, jadi kalau ada yang berani macam-macam disini siapapun berurusan dengan gua" Saut Ale


Tiba suara perempuan terdengar mencemooh kami, "eh eh bukannya Lexa sama Max belum putus ya katanya break cieh" Jesselyn


Seketika tatapan itu mengarah pada temanku Jesselyn dengan sangat sinis, seakan Ale akan menampar mulut Jesselyn itu.


"Ehehe sudah-sudah dia temanku, jangan seperti itu" senyumku malu


Lalu Ale berjalan ke bangkunya, aku menghampiri Jesselyn dan Reva sekaligus meminta maaf. Perasaan ini sama dengan saat Max memukuli Bram. Aku tidak ingin bertindak gegabah.


"Maafkan Ale ya Jesselyn, dia memang seperti itu" pintaku


"Lo si aneh Lex.. udah sama kakaknya sama adiknya hih gak malu" timpal Reva


Tiba Jesselyn memelukku sambil menangis tersedu.


"Gue yang harusnya minta maaf Lexa, maafin gue ya hiks" Jesselyn menangis dihadapan ku

__ADS_1


"Eh ini bukan salahmu, tidak apa-apa emang kamu berbuat salah apa?" Tanyaku balik berharap Jesselyn terus terang padaku


"Gue bilang gitu tadi, seharusnya sahabat gak kaya gitu kan?" Saut Jesselyn sambil mengusap air matanya


Teringat perkataan Viona untuk berhati-hati pada Jesselyn, apa sekarang dia akan merencanakan hal buruk terhadapku, dia bahkan menjilat ludah sendiri. Tapi kenapa aku merasa Jesselyn adalah orang baik dan polos. Apa hanya dugaan ku saja.


"Sahabatku itu gak ada rahasia semua harus kompak, kita mulai dari awal ya" Lexa tersenyum dengan palsu


...'jesselyn sebenarnya gue ingin tau siapa Lo?'...


"Ah Lo sahabat terbaik Lexa" peluk Jesselyn


Tak berlangsung lama wanita populer yang sudah mengambil cuti kuliah karena liburan ke autralia hadir kembali, Dia datang memakai semua barang mewah dan gemerlap.


...----------------...


"Hai guys gue rindu kalian semua" saut Viona tersenyum lebar


Tak lupa dia memberikan bingkisan untuk kami, "oh iya ini buat kalian, gue kepikiran sama gelang buccin jadi gue beli, harus di pake ya gue belinya mahal loh hahaha" saut Viona


"Ahh makasih Lo memang paling keren Vi," Reva yang sangat kegirangan


Lalu Viona duduk sambil melihat dirinya di cermin. saat itu Aku ingin mengetahui terakhir melihat Viona ke vila milik Max lalu pergi ke autralia. Namun, aku sudah tau jawabannya saat aku dan Max ke puncak di hari perayaan ulang tahun Argala. Di saat itulah Viona dan keluarga Mertabara berkunjung juga di hari berikutnya untuk ziarah di kuburan Bara yang memang tidak jauh dari sekitar Vila Bogor.


Tapi, yang jadi pertanyaan adalah kenapa mereka mengambil liburan panjang ke Australia, sampai berminggu-minggu. Bukankah itu tidak adil bagi Bara. Disaat tahun tanggal kematiannya.


^^^'ko di pikir aneh ya, Viona berlibur setelah ziarah ke pemakaman kakaknya, apa hanya firasat ku saja' ^^^


Tiba pak Brayn mulai memasuki kelas dan pelajaran di mulai. Aku kembali ke tempat duduk terlihat Jason masih sangat ketakutan ketika melihatku. Terlebih saat aku bersama Ale dan teman-teman populer ku. Jason sangat terasa di sisihkan.


"Siap anak-anak sekarang ulangan matematika di mulai, karena hari ini cuaca sedang baik kalian boleh baca buku dulu selama 5 menit" Pak Brayn


"Hah 5 menit yang bener aja pak" Jesselyn kesal


"Apa kabar gue baru masuk langsung ujian," Viona


"Malesin, pak gimana kalau ujiannya kelompok berdua gitu jadi kita bisa diskusi" saut Reva


Pak Brayn melangkah dengan yakin, "bagus ide mu, saya bisa mengontrol siapa saja yang belum bisa pelajaran saya di bantu dengan siswa yang bagus nilainya" Saut Pak Brayn


"Yessss" sorak mahasiswa lain


Aku dan Ale hanya menghela nafas, apa lagi jika harus di sandingkan dengan mahasiswa yang malas. percalah itu kerugian yang besar.


Coba pikir saat berkelompok hanya itu saja yang berfikir.


...'Ayo ngaku? apa kalian diantaranya hehe'...


"Huh untungnya kita sebangku ya, pokonya soal nanti bagi dua" pintaku


"Tidak bisa! Lo kerjakan semua saja" timpal Ale


"Loh ko begitu gak adil dong" Sautku kesal


"Gua yang koreksi" Ale dengan meninggikan Alis hitam sebelahnya. Menatapku tanpa berkedip rasa jantungku sangat tidak teratur.

__ADS_1


Menelan ludah berat, 'dasar si tampan otak genius, katanya pintar malah nyerahin ke gue semua' kesal


Tak di sangka, pak Brayn mengganti tempat duduk kami, hanya sebatas ujian saja. Menurutnya nilai bagus di kelas harus berkelompok dengan nilai yang susah meningkat. Dengan memberikan secarik kertas bernama teman kelompok.


"Oke semua sudah ada namanya, sekarang ayo bergeser cari pasangan masing-masing letakan handphone dan bukunya di depan" Pak Brayn


"Lexa Lo sama gue kan" timpal Jesselyn


Saat ku buka perlahan kertas ku tertulis sebuah nama, J-A-S-O-N


^^^'aduh mampus sama penguntit lagi' ^^^


Terkejut tanpa bisa berkata.


......................


Ale mengintip tulisan nama yang aku remas kesal, "oh Jason! Dia bukan ancaman udah sana bangku ini gua yang pertama" saut Ale menambah kekesalan ku.


Aku berdiri dengan wajah kesal memandang Ale, "huh dasar awas saja ya, gue buktiin gue lebih hebat dari Lo" timpalku sambil pindah duduk bersama Jason


Ternyata yang duduk di bangku bersama Ale adalah Viona. Beruntungnya dia baru masuk sudah ulangan, eh sebangku sama si genius.


Entah mengapa aku semakin cemburu di buat Ale ketika dekat dengan Viona. Aku hanya merasa mereka sangat cocok. Lihat saja Marga keluarganya. Ketika menikah sudah jadi sultan dunia.


Aku duduk bersama Jason dengan wajah batu dan kesal.


"Hai Alexa, maafkan aku ya,, aku akan berusaha untuk belajar lebih giat lagi" Jason dengan wajah gugup dan sangat merasa bersalah


"Its okay, gue gak mau bahas" timpalku yang masih kesal


"Sebagai permintaan maaf, Jason akan melakukan apapun yang kamu mau tanpa mengharap imbalan apapun, Jason mohon Lex maafin aku ya" Jason dengan wajah sedikit cemas menahan tangis


Sepertinya dia sudah sangat menderita dan mendesak. Tak ada yang tahan seorang mahasiswa sedang kuliah, saat ini tidak ada satu teman pun yang mendekatinya. Mereka hanya datang mengejek dia. Hanya karena Jason gendut dan berkacamata. Padahal Lexa bersedia menjadi temannya, tetapi karena saat itu Jason adalah seorang penguntit. Lexa merasa ketakutan dan sangat tidak nyaman.


Melihatnya terdiam, keringat dingin dan hampir menangis, seakan dia siap jika harus bersujud di kakiku.


"Lo yakin! Apapun itu?" Pintaku


.


.


.


.


.


Karena kau penguntit yang handal, akan ku suruh untuk bekerja sama denganku tanpa mengetahui rencana brilian, sekarang tinggal pikir mulai dari mana, bagaimana jika Jason ku suruh untuk mengetahui sisi Viona atau Jesselyn bahkan Reva. Tentu saja tanpa sepengetahuan Max dan Ale.


^^^'good job Lexa' ^^^


Akan ku pecahkan kasus ini sendirian!


bersambung 🌹

__ADS_1


__ADS_2