
"hahaha mulai Lexa kecil suka banget interogasi begini" saut Ale yang tertawa melihatku sambil membuka layar ponselnya
"Dia pacar gua selalu serba ingin tau" timpal Max dengan menatap ku seolah tidak mau kalah
Meski begitu tatapan mereka membuatku selalu tidak bisa berkutik, aku selalu penasaran apa yang terjadi, kenapa aku selalu tidak diberitahu. Padahal semua terjadi padaku.
"Maaf ya teman-teman, gue selalu merepotkan kalian, terimakasih sudah mau nerima gue dan ayah" pekikku
Tanpa mereka sepertinya aku tidak akan bisa melanjutkan cerita ini, yang namanya putus sekolah akan ku rasakan. Aku tidak mungkin lanjut kuliah jika kondisi ayah sedang susah kena PHK dan sedang sakit kakinya. Sementara aku malah kuliah dengan beasiswa. Itu terlalu tidak manusiawi.
"Lexa semua itu tidak gratis benarkan" tersenyum sambil menyalakan Vapenya
"Haha iya benar" saut Ale
"Tidak apa-apa, gue mengerti semua yang sudah kalian lakukan sangat luar biasa, gue akan membayarnya saat gue lulus dengan nilai terbaik nanti" jawabku
"Kami tidak perlu membayarnya Lexa, bukan kah dengan kamu di rumah gua seperti ini, kita semakin leluasa pada Lo? Hihi calon ibu dari anak-anak gua tidak mengerti" timpal Max seraya mendekatiku sambil merangkul ku.
Lalu Ale menyimpang ponselnya dengan menggebrak meja.
Brak!!
"Lexa Lo punya nyali besar mendekati kita, terserah padamu gua atau Max" tatapan membara
Aku yang gemeteran segera terbangun, "kalian ngomongin apa sih? Aku sama kalian hahaha, kalian mau ngapain gue ha, beraninya sama perempuan, kena kutuk Lo nanti" kesal
"Tidak perlu kamu menyangkal Lexa sayang, jika terjadi apa-apa padamu gua yang sangat malu" Max tersenyum
Aku hanya membalas dengan senyuman, seorang yang tengah duduk di sampingku sangat melindungi aku terlebih bersama ayah.
"Hehe makasih, tapi gue mau jawaban soal boneka itu, gue kepo... Kalian gak mau kan ratu kalian terjadi apa-apa hehe" jawabku
"Huh ratu katanya, haha iya ratu terbesar si kucing kayaknya" pekik Ale
"Ih lihat Max Ale jahat banget ya, wajar kan kalau gue pengen tau?" Tanyaku
"Haha Lexa sayang, gua yang suruh Ale untuk bongkar dan lihat di dalamnya, gua mana ngerti yang begituan, lebih baik tempur di jalanan itu moto gua" jawab Max
"Ohh selain itu kalian gak menemukan apa-apa lagi kan? Ko bisa sih ada di kamar asrama gue, itu kan privasi berarti bukan cleaning service kan? Sudah lama emang?" Tanyaku
Mereka terdiam tidak menggubris jawabanku, tatapan seakan aku tidak ada diantara mereka. Max dan Ale malah asik mengobrol bersama menceritakan kisah bola dunia yang tidak aku mengerti sambil menyalakan tv.
Krik!krik!
"Heh gue masih pengen tau jawab dong hmmm ... Tau ah kesal" cemberut manyun
"Hey kalian dengar gue kan"
Tiba bibi datang membawa es jeruk,
__ADS_1
"Ehh non kenapa cemberut begitu?" Tanya bibi
"Tau nih mereka malah gak fokus sama aku bi, oh iya ayah dimana bi" tanyaku
"Bibi kurang tau, non disini saja istirahat biar bibi yang carikan ya" jawab bibi
"Eh bibi anu, bibi jangan cerita soal ibu Regastara ya ke ayah, dia em-" gugup takut ayah tau kalau Max dan Ale anak angkat ibu.
^^^'karena Ayah jomblo sudah sangat lama hehe'^^^
"Bibi mengerti, non Lexa tenang saja semua serahkan sama bibi" bibi tersenyum lalu pergi mencari ayah.
Tak berlangsung lama tiba-tiba Bima sahabatku lamaku dari rumah lama menelpon.
Kring!kring!
"Halo bima" Lexa
Belum sempat aku mengobrol dengan Bima, tiba badboy itu berbalik menatapku dengan tatapan sinis.
^^^'aduh kenapa mereka cemburu?'^^^
"Siapa BIMA!!"
...----------------...
Telepon 📞
"Iyap kami sudah sampai, Lo santai aja gue kesini sama pacar gue" pekikku sambil memperhatikan Max dan Ale yang sedari tadi memperhatikanku tanpa berkedip
"Syukurlah, Bella gimana? Udah baikan dia" tanya Bima
"Its okay, semua baik ko Bim, Lo mau bicara sama Bella?" Tanyaku
"Tidak perlu ucapkan salam saja padanya, gua juga bentar lagi masuk pabrik nih" jawab Bima
"Wah memang ya Bima anak rajin, baik hati, tidak sombong sudah kerja lagi, pasti wanita mana yang gak klepek-klepek lihat cowok yang sudah mapan ya kan, kalau begitu sudah dulu ya, gue harus mengendalikan para buaya nih" jawabku
"Biasa aja Lo, tumben banget Lo muji gua, tersanjung... Eh Lo disana punya buaya?" Jawab Bima
"Iya dong mereka ganas-ganas, bye Bima.. semangat ya kerjanya" Lexa menutup telepon
Tut Tut tut
Seakan benar Max dan Ale menatapku, seperti seekor buaya yang siap memangsa dagingnya.
Dengan polosnya aku terduduk di kursi sambil menikmati es jeruk bikinan bibi.
"Wah seger nya, panas begini es jeruk makin top kan" seruput Lexa tak mempedulikan mereka.
__ADS_1
"Lexa Bima siapa?" Tanya Ale datar
"Bukan urusan kalian kan dari tadi gue ngomong, kalian juga fokus satu sama lain gak peduli sama gue tuh, sudah deh gue mau cari ayah" berdiri henda pergi tiba Max menahan tanganku sambil menarik hingga badanku terjatuh tepat di tubuh Max.
Harum cappucino itu seakan menyihir, ku lihat bibir coklat Max dan tak sanggup ku tahan. Tapi, tidak mungkin mencium nya disaat Ale juga berada disini.
^^^'tahan Lexa, jangan kau cium, nanti Ale malah minta juga bagiannya' menelan ludah berat ^^^
"Eup!! Lexa kecilku tapi gua mau tau..?" Max memangku badanku ini sampai terduduk di pangkuan paha Max. Dengan senyuman kematiannya.
Aku melamun beberapa detik melihat Max di depanku.
Tiba-tiba suara tak asing membuat terkejut. Dengan perasaan gemetar aku turun dari pangkuan Max. Rasanya sangat malu sungguh jika itu ayah, aku sudah di marahi habis-habisan.
......................
"Lexa Lo ngapain?" Bella
"Ah engga,, terjatuh gue tadi salah langkah" timpalku malu
"Emmm serius tegang begitu haha, tapi ini wajah Ale kenapa suram dia cemburu ya?" Tanya Bella melihat ala yang terduduk sambil mulai memainkan game lagi dengan bunyi hape yang bersuara, tak tak.
"Ohh ini dia mau tau tentang Bima Bell, dia tadi telepon bagaimana kabarmu? Eh ayah mana" tanyaku pada Bella yang duduk di sampingku sambil minum es jeruk
"Oh ayah tadi mau istirahat di kamar katanya, semalem gak tidur" Bella
"Syukurlah biarkan ayah istirahat" timpalku
"Tapi ya kalau kalian ngomongin Bima, seusia kita masih sibuk cari ilmu, dia hebat banget Lo udah kerja bisa mengangkat derajat keluarganya, gak numpang hidup kaya kita, terus dia juga baik, penurut hehe" saut Bella
Tersentuh hati mendengar itu, karena begitu Max dan Ale tanpa Regastara mereka bukan siapa-siapa. Jika aku tidak mendapat beasiswa sepertinya aku akan melakukan hal sama seperti Bima.
"Cieh Lo suka ya sama Bima?" Timpalku menggoda Bella
"Apaan sih enggak lah, emmm gue lebih suka Andre sih hihi" Bella dengan polosnya
Tiba-tiba sosok Andre datang mendengar hal itu.
"Apa? Lo suka sama gua!" Andre
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung 🌹
Nah yang cari Bella jodoh siapa, nih dia suka sama Andre ya, malu gak tuh ngomong depan gebetan.