TERIKAT PERJANJIAN BADBOY TAMPAN

TERIKAT PERJANJIAN BADBOY TAMPAN
Bab 59 Perasaan


__ADS_3

Sebera pun kamu berjuang, akan selalu ada orang yang jahat, entah jahat dengan berpura-pura baik atau memang baik tapi memanfaatkan. Bahkan jahat dengan terang-terangan.


Di dunia ini tidak semua orang baik harus kamu percaya. Terlebih jangan sesekali berbuat baik dengan rasa kasihan sama seperti ku. Kadang tidak semua orang membutuhkan itu. Jason yang baik ternyata seorang penguntit, bisa jadi orang lain seperti itu juga.


Berbuat baik boleh, hanya saja coba lihat dirimu sendiri sebelum membantu orang. Apakah kamu sudah mampu. Dunia itu adil dan tidak semua usaha itu gratis.


*Terikat Perjanjian Badboy Tampan*


Aku menulis dalam sebuah kertas dengan pensil yang akan di berikan pada Jason. Tidak mungkin aku bercerita tentang rencana ku di tengah maraknya orang bermuka dua.


Jason


...Kasih tau gue semua tentang Viona, Jesselyn dan Reva beserta silsilah keluarganya. Secara teliti kirim ke email gue. Jangan bilang siapapun! Kalau gue yang minta...


"...ok" Jason mengiyakan permintaan itu dengan jempolnya.


Lalu aku membawa kertas itu lagi dan menghapusnya. Semua rencana ini harus tanpa jejak.


......................


Beberapa menit berlalu seperti biasa, aku mengerjakan soal itu dengan cepat. Tanpa membantu Jason sekalipun,


"Oke semua waktu habis segera kumpulkan ke depan" saut Pak Bram


"Baik pak" mahasiswa


"Eh iya semua udah beres, gue udah tulis nama Lo dan gue di kertas ulangan.." timpalku sambil menyimpan kertas ulangan


Jason hanya terdiam sambil memutar pensilnya terlihat gugup dan malu untuk bertanya.


"Sudah... gue tahu, nih Lo butuh ini kan... Ambil saja belajar yang rajin ya" pintaku tersenyum ramah


Aku memberikan coretan ulangan matematika tadi pada Jason. Kalau Jason hanya tau jawabannya itu bukan pembelajaran tapi contekan. Dengan memberikan kertas coretan ku, Lexa berharap Jason juga ikut belajar mengenai soal yang menjebak tadi.


Sorot mata Jason berkaca-kaca, "terimakasih Lexa, ini yang aku butuhkan" perasaan haru sambil memeluk kertas bekas coretan itu.


"Sudah jangan di peluk begitu, kamu anak baik ko, sekarang masukan ke dalam tas kalau orang lain lihat bahaya loh nanti di rebut" Sautku


Meski Jason kamu melukai kepercayaan ku, kita hanya teman aku harap kamu juga lebih baik. Kesempatan kedua akan selalu ada untuk orang yang sangat ingin mau berubah kecuali untuk teman yang tidak tau diri.


"Baik anak-anak, selamat istirahat" Pak Brayn pergi meninggalkan ruangan


...----------------...


Sorot ujung mata, terlihat Ale mengepal tangan erat ketika bibir ini tersenyum pada Jason. Seketika datang ke arah bangku kami.


Aku melihat Ale yang tepat di sampingku dengan perasaan cemburu yang luar biasa.


"Sudah ngobrolnya! ayo kita pergi dari sini" mata itu dingin melirik kami Ale menggengam tanganku erat meninggalkan Jason.


"Eh ... Eh sakit mau kemana ...., Aku belum selesai" pintaku


Terlihat teman-teman ku sedang bergerombol di bangku depan.

__ADS_1


"Aduh sakit, guys gue duluan ya .. nanti gue susul kalian ke kantin bye,, Ale pelan-pelan dong" sambil Ale masih menarik tanganku


"Oke Lexa di tunggu ya" Jesselyn


"Bye" Reva


"Cih jelalatan" bisik Viona


Ale menarik ku sampai luar kelas, lalu melepaskan tangannya. Terlihat mahasiswa mencibir kami. Aku merasa Ale sangat malu makanya melepaskan tangannya.


"Aaaa jangan marah ya, sayangku, pangerannya aku... Aku traktir eskrim ya, jelek tau marah gitu kaya sapi mou" timpalku berusaha memperbaiki keadaan di tengah sorotan mahasiswa lain yang menyorot pandangan jelek ke arah kami.


Ale menghela nafas panjang, melihat aku yang menggemaskan. Tatapan dingin itu mulai redup memperhatikan gerik Alexa yang semakin lucu.


"Hem ternyata benar Lo kaya kucing" timpal Ale tersenyum di tutupi sebelah tangannya


"Maksudmu.." Sautku memelototi Ale dengan tatapan yang sangat dalam berharap Ale takut melihat mataku.


^^^'hanya Max yang boleh memanggilku kucing, titik!'^^^


"Ngapain kamu? Matamu juga besar ya, gak tau kalau otaknya, sudah ayok ku tunjukan Lo sesuatu di atap" timpal Ale.


DEG


Ale pergi lebih dulu di banding aku, perasaanku bercampur aduk, jika Ale akan melakukan sesuatu di atap nanti. Mungkinkah dia menyiapkan sarapan siang romantis di atap bangunan, itu tidak mungkin. Ale sedari tadi tidak luput dari pandanganku.


"Ko diam, ayo ikut! Ini perintah" bisik Ale pada telingaku


Aku yang tersadar di tengah lamunan, "dasar Ale gak jelas! Jangan panggil gue otak kecil ya, gue masuk kuliah karena beasiswa ble, eh ups (keceplosan)" Sautku menutup mulut


^^^'dasar Ale minuman tusuk si paling menyebalkan tiada dua!' pekikku ^^^


Aku berjalan di belakang Ale dengan malu-malu, menaiki tangga bersama Ale. Terlihat sepi sekali di atas sini tidak ada orang lain melihat.


Yang ku lihat hanya atap yang gersang dan panas.


......................


"Huh cape mana banyak banget lagi anak tangganya" Sautku kelelahan


Ale terlihat menaiki sisi atap seakan hendak terjun bebas.


"Eh ale Lo ngapain disana, turun gak!" Aku panik ketika Ale hendak melangkah terjun ke bawah tanah


"Lo mending naik sini" timpal Ale dengan raut wajah yang dingin hembusan angin itu menghembus mengibas rambut Ale yang hitam jambul itu.


Dengan perasaan gemetar dan terpaksa aku naik ke atas dinding itu bersama Ale.


"Al Lo gak apa-apa! Plis jangan kaya gini kalau ada masalah" pintaku.


Awalnya aku berfikir kalau Ale menyiapkan surprise untukku. Ternyata dia melakukan hal yang tidak terduga.


"Emang gua kenapa" Ale menatap aneh

__ADS_1


"Iya iya gue tau, gue salah Lo maafin gue kan? Gue dan Jason gak ada apa-apa ko, Plis turun yu gue takut" pintaku


Dengan santai Ale berjalan padaku. Jalan atap itu memang terlihat sedikit besar tapi masih ngeri saja karena di bawah langsung menghadap taman. Terlebih tinggi sekali sampai orang terlihat bagai sebutir beras.


Ale memegang tanganku, "gua tidak cemburu dengan Jason Lexa, gua mau menunjukan sesuatu" saut Ale dengan wajah yang datar dan tenang.


"Deg.. terus Lo mau ngapain disini ngajak gue lagi ngeri tau!" Alexa kesal namun tetap memegang tangan Ale


"Cemburu itu untuk orang yang lemah, selama Lo masih bersama Max dan gua kuat menghadapi kenyataan yang tak bisa gua miliki, bukan kah berarti gua orang paling tak punya hati perasaan" saut Max menatap langit


DEG


Hati Alexa berdegup kencang, sepertinya saat ini Ale akan memberi arahan tentang perjalanan cinta segitiga yang rumit ini. Di buku itu tertulis tidak ada yang kuat menghadapi cinta segitiga karena sesungguhnya akan ada orang yang sangat sakit hatinya. Siapapun orang itu.


^^^'gue harus gimana ini, novel tamat yang kubaca adalah sad ending pria kedua itu pergi mengakhiri hidupnya, apakah ini juga akhir' bisiiku dalam hati sambil melihat sebuah taman yang indah itu. ^^^


"Tuh kan Lo bengong lagi, Lexa gua ngajak Lo kesini hanya mau bicara, empat mata tanpa mata-mata, Lo jangan ambil pusing tentang hubungan kita, gua akan berusaha menahan perasaan yang gua simpan, gua tau Lo hanya buat kakak gua" saut Ale menenangkan aku yang termenung merasa sangat bersalah.


"Maafin gue ya Ale, Lo malah terlibat" saut ku


"Lo ga salah... sekarang lebih baik kita berfikir jernih ya, setelah rencana berhasil kita bicarakan lagi" Ale menggengam tanganku dengan yakin.


Dia mengajakku duduk, "Ale hanya itu yang mau Lo bicarakan? haha bisa juga ya romantis begini, pake tanganku dipegang terus" saut Lexa


^^^'anjir gue ngomong apa, keceplosan deh aduh malu gue' Lexa tertunduk ^^^


"Eh eh gak usah masukin hati ya, gue becanda ko" Sautku malu


"Tenang saja, Lo bebas mau apakan gua" Ale dengan tenangnya


"Sebenarnya gua ajak Lo kesini, mau nunjukin ini di atap, Lo lihat kan tiang hitam yang di atas sana" Ale menunjuk tiang yang sangat jauh dari sini


"Iya tau ... Terus" Sautku


"Dan tiang merah sebelah sana, itu batas jangkauan wilayah Argala Storta seusai dengan warna bendera komunitas hitam dan merah" saut Ale


"Wah jauh juga ya lumayan.. emm jadi apa hubungannya dengan gue" Sautku polos takjub


"Gua sepertinya tau siapa dalang di balik kematian Bara, saat gue melancarkan aksi, gua minta Lo tetap di sekitar sini jangan keluar dari garis, karena jika iya membuatmu celaka" saut Ale menatapku.


"Maksudmu al, Lo tau siapa dalangnya? Terus sekarang gimana? gue mau ikut juga! Gue sudah janji pada Max" Timpalku


"Bagus, rencananya Argala akan konpoy besok malam!"


.


.


.


.


Bersambung 🌹

__ADS_1


Apakah Ale tau bahwa dalang kematian Bara Om Heno. Tidak mungkin, bagaimanapun aku harus ikut dengannya.


__ADS_2