
Terisak sakit menahan rasa di dada, sekian lama pergi, baru sekarang melihat seorang Ibu kandung berdiri menyapa. Ingin peluk dirinya dengan sekuat tenaga berkata bahwa aku sangat merindukannya. Tapi itu tidak mungkin Ibu lebih memilih pergi dari kami, dan menikah dengan tuan Regastara, ayah dari Max dan Aleandro.
"Lexa Lo kenapa? Pucat begitu, Lo kenal ibu..." Max
"Ah ya kami pernah bertemu beberapa kali" senyum terpaksa
Wajah ibu terlihat cantik terawat berbeda saat bersama kami, ku lihat kedalam matanya dia seakan bahagia dengan kehidupan sekarang.
"Baiklah, ayo makan semuanya" Ibu
Max menggandengku menuju ruang makan, tampak kulihat Aleandro, Tuan Regas dan seorang anak yang telah tumbuh dewasa 'Beril' adik laki-lakiku.
Dia tampak dekat dengan tuan Regas, memanggil dengan sebutan ayah. Tentu dia tidak mengerti karena ibu meninggalkan kami saat Beril masih usia bulan. Alexa tetap berusaha menahan air mata yang hampir berjatuhan. Teringat ayah yang sedang berjuang sendirian hingga aku hidup sampai saat ini.
"Malam tuan, perkenalkan nama saya Alexa"
"Silahkan duduk Lexa" Tuan Regas
Berjalan duduk di samping Aleandro dan Max. Aleandro melirikku tajam mengepalkan tangannya. Perasaan ku saat ini semoga cepat selesai. Hatiku sudah tidak sanggup melihat keluarga Regastara.
Lalu Aleandro seakan pergi meninggalkan ruang makan.
"Eh al"
"Biarkan saja dia memang seperti itu" Max
"..." menghirup nafas berat
"Jadi Lexa, kamu kenal Al?" tuan Regas
"Ya tuan, Al teman sekelas Lexa" Sautku
"Panggil pak saja, tidak apa-apa" tuan Regas
"Baik pak" Lexa tersenyum
"Berarti Al teman sekelas dan Max pacarmu, wah kebetulan sekali, jangan sampai terlibat cinta segitiga ya hahaha"
"Haha tidak mungkin itu, Lexa benar-benar mencintaiku, benar kan sayang" Max
"Ah iya itu tentu saja"
"Sudah jadi ingat papa masa muda, ayo Lexa silahkan di makan" Tuan Regas
Alexa menikmati jamuan dengan perasaan sedih, menghadapi kenyataan orang yang duduk di depanku adalah ibu ku sendiri.
Beberapa menit berlalu waktu makan malam selesai, segera berdiri beranjak untuk pergi.
"Terimakasih untuk jamuannya, namun saya harus segera pergi karena ada urusan" Lexa
"Benar anak kuliah memang sibuk, kembalilah kapanpun kau mau" Tuan Regas
Tiba ibu mengikuti langkahku,
"Alexa kita perlu bicara" Ibu
Membalikan badan dengan perasaan yang sudah tak kuat ku pendam, tak terasa ai mata jatuh membasahi pipi "Bicara apa? Untuk merahasiakan ini! tenang saja Lexa akan melakukannya!" Berlari
__ADS_1
"Lexa tunggu!" Max berjalan mengejar ku
"Max tolong jaga Alexa" Ibu
"Tentu, tapi kalian semua jangan ganggu kami" Max menatap tajam Ibu tiri dan pergi.
Berlari tanpa arah tujuan hingga salah satu kaki tersangkut batu dan jatuh menimpa lumpur, pakaianku kotor dan basah. Alexa menangis sejadi-jadinya tuhan tidak adil.
Lalu Max datang dengan motor besarnya,
"Lexa ayo naik, gua akan mengantarmu" Max
"Max Lo jahat" Lexa menangis
"Lexa apa Lo mau, gua tinggal disini" Max
Dengan segan aku pergi pulang di antar Max menuju gerbang Asrama. Sampai hati dia tidak berucap satu patah kata, ditengah air mata yang masih deras mengalir. Sampai asrama Max pergi tanpa bilang apapun, bahkan seakan mengucapkan selamat tinggal.
Tidak mungkin Aku masuk ke dalam asrama dengan baju kotor dan riasan yang berantakan karena menangis. Semua mata akan bertanya padaku, Alexa berjalan terus berjalan hingga tepi di sebuah danau.
"Apa aku mati saja" pikirku melihat arah air danau
Akhirnya aku terduduk di pinggir danau meratapi nasib buruk menimpa. Harusnya Alexa tidak berbohong sedari awal. Ku lihat beberapa orang melintas bergandengan tangan layaknya pasangan romantis.
"Aku hanya ingin dicintai dengan tulus, tidak ada satupun orang kah tuhan, aku ingin pulang" menangis tersedu
...----------------...
Beberapa jam berlalu hatiku mulai merasa tenang dan membaik. Aku berdiri dan melangkah pergi jalan sambil tertunduk.
"Bella Lo lagi apa disini?" Menatap Bella dengan wajah kusut
"Ya ampun Lexa, apa yang terjadi dengan Lo ? gue sedang beli nasi goreng tuh di depan, eh lihat wanita sedari tadi duduk tepi danau, gue teringat baju yang Lo pakai saat berangkat berwarna putih, gue kira setan loh" Bella
"....." Aku hanya tersenyum
Bella membuka jaket dan mengenakannya padaku,
"Sudah ayok pulang" Bella
"Makasih bella"
...----------------...
Sampai asrama lesu terdiam disebuah kursi mengarah jendela, tatapannya kosong. Seolah kehidupan sudah tidak berarti.
"Lexa bersihkan badan dulu yu, gue udah siapin air hangat" Bella
Diam tak beranjak, dengan segala yang ku alami, sedari awal memang salah semua ini terlalu baru. Mungkin ini karma karena aku adalah seorang pembohong. Bella berusaha memberi semangat.
"Lexa, meski gue tidak mengerti apa yang terjadi pada Lo saat ini, selama Lo bertahan itu pencapaian yang luar biasa loh.. " Bella
"gue bukan anak orang kaya" Sautku datar
"Lexa lihat gue, kamu pikir gue orang kaya? Ayahku bangkrut dan tinggal dipinggir kota Jakarta, tapi gue tetap bahagia,,,, pasti akan ada salah satu dari keluarga kita yang bahkan merindukan Lo Lexa.." Bella
Menatap mata Bella, seolah kata semangat itu mengingatkanku pada sosok ayah, "kamu benar gue ingin bertemu ayah" tersenyum
__ADS_1
"Oke kalau begitu besok kita bertemu ayah, sekarang Lo mandi dulu gih udah benar-benar kayak kucing nyemplung got haha" Bella
"Bella... Awas ya Lo, tapi besok kan ada kelas"
"Hatimu terluka masih saja mikir kelas udah pokoknya nanti gue anter, we have fun okay" Bella
"Janji ya kalau bohong, mandul tujuh turunan" pekikku
"Haha iya udah sana mandi, habis itu kita makan nasi goreng sepiring berdua romantis kan kita Yeay" Bella
......................
Setiap kesedihan akan selalu ada kebahagiaan, terkadang manusia berlebihan saat merasakan rasa. Bahkan mungkin akan selalu ada orang yang lebih menderita dari pada yang ku rasakan saat ini.
"Benar apa yang dikatakan Viona, lebih baik aku akhiri semua ini, menjauh dari Max dan pergi dari kehidupan kampus milenial"
Haruskah Lexa mengorbankan mimpi yang selama ini dia mau, ataukah menguak kebohongannya yang dia kubur.
......................
Malam ini ku habiskan keluh kesah bersama Bella, tak lupa kabari Ayah lewat Bima, bahwa besok aku ambil libur dan pulang.
"Jadi Lexa Lo memutuskan untuk putus dengan Max seorang ketua geng motor, Lo yakin, nanti nyesel loh?" Bella bertanya
"Entahlah, saat ini selalu gue yang menahannya pergi, sepertinya gue akan menjaga jarak dulu"
"Oke kalau begitu gue setuju, tentang kawan kampus Lo, saran gue lebih baik jaga jarak juga" saut Bella
"Loh kenapa?"
"Gue merasa ada aura buruk kalau kamu dekat dengan mereka, hehe" Bella
"Haha bel bel.. Lo peramal ya? Tapi gue tidak memiliki kawan lagi di kampus bel?" Sedih
"Alexa Lo punya gue, datang saja kapanpun kau mau ingat sastra dua okay" Alexa
Kini sosok Bella yang menemaniku, bahkan Bella yang siap berkunjung dan mengantarku pulang ke rumah bertemu ayah bukan teman kelasku. Dia lebih mementingkan kesehatan mental Lexa dari pada kelasnya. Bahkan dia tidak jijik berkunjung ke rumahku yang hanya beralas triplek.
Ayah menyambut ku penuh haru "Alexa anakku" merangkul memelukku.
Seakan tak percaya Ayah memandangi sosok Bella yang berkunjung bersama.
"Kamu Aleta?" Saut ayah terheran
.
.
.
.
.
Hayo Bella ternyata sosok Aleta, sahabat Alexa yang meninggal terbawa arus sungai.
Hah kok bisa Next episode ya 🧡
__ADS_1