
"Bella Lo ngagetin gue hiks, gue kira Lo duluan" saut ku
Bella tiba datang berjalan perlahan-lahan melihatku yang masih berfikir, datang dengan suara jelas nan penuh makna 'Pu'
"Hahaha habisnya sih, pacar Lo tatapannya nyakitin gue eheh, gue kabur aja mangpret takut di hadang sama si Max kekar begitu hih, Lo bayangin aja dia harimau gue tupai, menciut gue haha" seru Bella berkata yang tak jelas
"Hemm dia lagi mau bertemu Vander, gue gak tau dia siapa?" Seruku
"Yasudah lah masa bodo, yuk masuk oh iya kita bilang ke satpam sama pos habis bertemu Aleandro saja ya" timpal Bella
"Lah kenapa? Kita kan gak jadi ketemu Ale? Awas saja kalau dia besok masuk kuliah, mana izin kita keluar ya kan" jawabku
"Betul tuh emang gak ada adab, kalau Lo ga bilang gitu ke satpam yang jaga wah kita kena pasal harus keluar dari asrama tau kan ada peraturannya," Bella
"Jangan keluar asrama lebih dari jam 8 malam" bisik Bella menakuti aku.
"Ich iya iya sih, kita beli martabak depan dulu mau gak?" Jawabku
"Tumben beli martabak bukannya Lo ga suka manis?" Jawab Bella
Bisikku "buat nyogok, bukan buat gue"
"Hahaha p.a Lu, yasudah lah gas, kaki gue udah pegel nih" saut Bella
Akhir malam yang tenang hujan pun sudah terlihat redup. Kami melewati pengawas asrama begitu saja,
^^^'ya dia memang sudah tau aku pacarnya Max dan teman sekelasnya Ale, tentu saja asrama ini milik Regastara orangtua dari mereka, terlebih lagi ibu tiri mereka adalah ibu kandungku, wah semua terjadi begitu saja'^^^
Meski keadaan khawatir aku masih sempat mengirim pesan pada Ale,
[Alexa]
[Ale, Lo dimana? Baik saja kan]
Tapi semuanya tidak membuahkan hasil, kekhawatiran ku bertambah tentang malam ini, Max bertemu dengan Vander. Pikiranku kalut, aku harus berbicara dengan siapa?
Call
Dengan cepat ku angkat,
"Hallo, Ale Lo dimana" ku kira dia Ale, setelah sore hari dia tampak tak ada kabar, aku hanya takut dia jadi Sandra Blacktunder.
"Ini ayah Lexa" saut ayah
"Ahh ayah, eheh kirain teman Lexa, ayah baik-baik saja kan, sudah makan, sudah diperiksa dokter kan?" Alexa
"Ayah baik saja sayang, ayah tau kamu sedang khawatir" jawab ayah
"Loh bagaimana ayah tau?" Jawabku
"Alexa anak ayah,, kamu sudah bersama ayah dari kamu kecil tentu ayah tau bagaimana kamu" seru ayah
...'terdiam' ...
"Lexa hanya gak mau kehilangan teman kesayangan Lexa seperti Aleta" terduduk diam
__ADS_1
"Sayang kekhawatiran itu tak selamanya baik, mereka sudah besar pasti bisa jaga dirinya sendiri, tak perlu merasa bersedih berfikir lah semua baik-baik saja" seru ayah
"Makasih ayah.. Lexa sayang ayah"
Tut-tut-tuut
Lexa mematikan teleponnya, dan bergegas tidur.
Malam sayup mendung tak satupun bintang terlihat, aku menyimpan rahasia yang lebih besar dari dugaanku. Ternyata benar berbohong itu tidak mudah.
^^^'apa lagi ketika kamu berpura-pura baik-baik saja, nyatanya kamu terluka' ^^^
Aku menyembunyikan jati diriku yang terlahir dari keluarga miskin, bukan karena gengsi. Kenyataannya Realita lebih nyata, saat kamu memiliki gelar, harta semua orang tunduk. Aku hanya salah pergaulan, seharusnya aku terus bersama ayah.
Kini ketakutan terbesarku, gadis kecil tinggal di perantauan yang menyembunyikan jati dirinya hanya Bella, Max, dan Ale yang tau. Bertambah dengan siapa pembunuh sosok Bara, ayah dari sahabat sedari kecil.
^^^'Bagaimana aku bilang pada mereka? Bagaimana perasaan Bima?'^^^
Ditengah lamunan aku memejamkan mata tak terasa menangis bercucur membasahi bantal. Hingga terlelap tidur.
-------------------
POV ayah
Disisi lain kini Ayah Alexa menjalin kasih dengan Bibi yang mengurus Max sedari kecil. Bagaimanapun Alexa sudah dewasa dan Max juga. Benih cinta mengalir seperti air begitu saja.
Bibi Arum yang merawat Ayah sekarang,
"Sebenarnya ada hal yang ingin saya bicarakan berdua dengan anakku, namun keadaan saat ini tidak memungkinkan"
"Ada apa mas?" Bibi menyodorkan kopi
"Saya belum bisa bicara pada Alexa tentang kita, saya takut dia semakin terluka, ibunya menikah dengan konglomerat Regastara sementara saya tidak memberi contoh yang baik untuk anak saya" ayah
"Mas,, Max pun sama dia bagiku adalah putraku sendiri, setelah putus masa remaja akulah yang merawat Max hingga saat ini, dia sangat membenci ayahnya sendiri" seru bibi
"Bagaimana dengan Ale? Alexa terus saja menanyakan kabarnya saat ini" ayah
"Ale dari dulu memiliki sifat tertutup, saya yakin dia sedang membereskan masalah itu, percayalah padanya.. pada kenyataannya bagiku Ale lebih kuat dari Max" saut bibi menenangkan ayah
"Terimakasih telah membantu saya sampai saat ini Arum, tolong rahasiakan kita hingga sampai waktunya bicara, saya tidak mau dibenci putri saya sendiri" saut ayah
"Saya mengerti, karena yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan putra-putri kita" bibi memegang tangan Ayah tersenyum paham
-----------------
*Kampus
Hari yang di tunggu tiba, kampus Alexandria Grade di mulai. Aku bangun seperti biasa dengan Bella yang masih tertidur.
Kring..
Kring..
Telepon masuk berbunyi
__ADS_1
"Ya .. hallo"
"Gua di bawah, ayo turun kesayangan gua.. " timpal Max
Waktu masih menunjukan pukul 6 pagi, padahal kelas hari masuk jam 8, aku membuka tira jendela, ku lihat Max berdiri depan gerbang dengan stelan motor hitam pekatnya, menggunakan jaket kulit hitam sambil membawa satu buah helm di tangannya.
^^^'itu anak aneh banget, jam rebun begini sudah disana, ngapain kemarin suruh gue pulang kalau masih rindu, gue kan pengennya denger "Lo ikut gue ketemu Vander?" Begitulah pasangan geng motor benar, hih'^^^
[Alexa]
[Tungguin ya, batin gue baru kumpul belum siap]
[Max]
[Gua tunggu di kamar Lo ya ...]
[Alexa]
[Hah gak usah, tunggu 10 menit lagi deh ya]
Bergegas mengambil handuk dan mandi. Jika Max sampai masuk kesini seperti tempo hari, aku yang repot.
Ketika sudah selesai, aku keluar dari pintu toilet, terkejut mendapati Max yang ada tepat di depanku. Seketika badanku ter kujur kaku melihat penampakan pria tampan sudah ada di kamarku.
"Aaa .." tarik nafas dalam hendak teriak, namun tertahan oleh jemari Max yang menyentuh bibirku.
"Ssttt," Max meraih badanku.
"Gua lupa punya pacar secantik Lo Lexa" timpal Max
Aku menutup mata, ku kira adegan cium itu nyata, aku yang hanya berbalut handuk piyama, jantungku sudah berdegup kencang tak beraturan. Ternyata Max hanya mengecup keningku sambil mengusap lembut rambutku.
^^^'otak nakal' ^^^
"Cepatlah ada hal yang mau gua tunjukan" timpal Max tersenyum dan berlalu pergi.
Aku masih terdiam gemetar, Max akhir-akhir ini dengan mudah masuk kedalam asrama putri. Aku pikir dia adalah pemilik bangunan karena Regastara dengan bebas masuk seenaknya dalam asrama. Bahkan aku mempunyai kebebasan untuk pulang kapan saja karena dia.
Tapi seperti ada yang mengganjal, jika Max saja bisa masuk kesini. Apakah orang lain yang tidak aku tau masuk kesini juga.
-Part Boneka kecil-
.
.
.
.
.
Ada part dimana saat duo ketek beraksi ditemukan boneka kecil yang ternyata itu adalah kamera, sadarkah kalian jika boneka kecil itu saja bisa masuk? Apakah benda lain bisa saja ada di ruangan ini.
Max telah mengetahuinya, siapa dalang sebenarnya dan mau apa?
__ADS_1
Semakin menggali informasi yang kita tahu, bukankah seorang villain juga sama mencari informasi update tentang Alexa dan Max.