
1
2
3
Play
" ..... "
Sebelum pergi, ku putar suara alarm polisi melalui speaker bluetooth yang tersimpan di balik rumput.
Uwiw uwiw
"Ayo bel tancap gas! Kaburrr"
Kami segera pergi dari tempat itu, para geng motor berhamburan dari lapangan kecil. Sampai asrama kami menyimpan kembali motor pak satpam. Untungnya satpam itu sedang tertidur pulas tak menyadari kehadiran kami.
Dap
Dap
"Misi berhasil tos!"
"Sstt nanti satpam bangun ayo" Bella
"Iya benar hiks"
Aku baringkan badan yang penat lelah. Meski begitu Alexa sungguh puas dengan apa terjadi hari ini.
"Makasih ya Bella sudah membantuku semoga mereka benar-benar bubar"
"Sama-sama Lexa, sekarang tidurlah besok kita yang harus perang" Bella
"Perang apa?"
"Perang belajar hahaha" Bella
"Haha benar bisa aja Lo"
Malam itu Alexa memejamkan mata dan tertidur.
^^^'semoga esok lebih baik dari hari ini, Max maafkan aku menggagalkan rencananya, itu karena aku peduli'^^^
...----------------...
Pagi harinya seperti biasa Max sudah ada di depan gerbang menungguku dengan motor ninja hitamnya.
"Bye bella"
"Bye"
Aku menghampiri Max, yang terlihat begitu kesal.
"Pagi sayangku, bagaimana rencana malam kemarin lancar" tersenyum
"Lancar dong, dan kamu tau gua menemukan sesuatu?" Max
DEG
DEG
Sepertinya tidak akan bertahan lama Max menemukan speaker mini di balik rerumputan.
"Apa coba?"
"Rahasia, mana ponselmu?" Max
"Nih, buat apa rencananya pulang kuliah akan diperbaiki ko"
"Tidak perlu ini mudah.. ayo naik" Max
Brrrrmm
*
*
*
Ruangan kelas dipenuhi mahasiswa Mathematics, Mereka menyapaku. Kampus Alexandria seperti istana ditambah sekarang aku di kenal sebagai kekasih Max ketua geng motor Argala.
"Hai guys good morning" Reva
"Lexa waktu itu Lo gak apa-apakan" Jesselyn khawatir
"Tidak.." jawabku, jelas ku lihat kau tersenyum saat aku terjatuh bukan menolongku.
"Cih jangan sampai Lo ngadu sama Max, nanti kita semua kena bala nya" Viona
Aku mengerti Viona menjadi kesal dan geram padaku, pasti karena apa yang yang dilakukan Max pada Bram malam itu.
__ADS_1
"Apa sih Viona, kasihan kan Lexa.." Jesselyn
"Gak apa-apa ko, Mona kemana Rev biasanya sama kamu" Sautku
"Nah gue gak tau Lexa, beberapa hari ini juga Mona susah dihubungi" Reva
Sorot mata memandang tepat di pintu kelas Aleandro sudah mulai masuk kelas kembali.
"Duh si dingin udah sembuh tuh"
Aleandro duduk disamping bangku, menatap Reva dan Jesselyn dengan tatapan tajam.
"Tolong kalian bertiga, termasuk kamu Viona.. pergi dari hadapanku"
DEG
DEG
Mereka segera pergi dari tempat dudukku, tentu saja Aleandro adalah teman sebangku.
"Pagi Ale, sudah membaik hari ini" tersenyum menyapa Ale
"Bukan urusanmu" Ale
"Dasar cowok kulkas" kesal
Meskipun Ale sosok pria dingin, aku merasa senang akhirnya dia bisa kembali beraktivitas seperti biasa, Alexa memperhatikan Aleandro yang duduk disampingnya, lalu kelas dimulai.
"Selamat pagi anak-anak kita mulai pelajarannya" Bu Mikha
...----------------...
Jam istirahat aku perhatikan Aleandro pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Lalu beralih mencari Max yang selepas pagi tidak terlihat lagi. Alexa pergi menuju kantin belakang tempat Max dan teman lainnya berkumpul.
"Aneh biasanya disini, ko gak ada?" Sautku
"Cari Max ya" seseorang mengagetkanku
"Iya Max kemana ya?" Tanyaku penasaran
"Dia bolos kelas hari ini katanya ada urusan mendadak gitu"
"Oh gitu ya terimakasih"
Max hari ini kemana saat adiknya mulai masuk kampus tiba-tiba dia pergi, akhirnya aku memutuskan untuk balik ke kelas.
"Lexa dari mana? Cari Max ya wit wiw" Jesselyn
"Nah kita baru saja mau kesana, ayo guys" Reva
"gue titip aja ya hehe"
"Gak makan Lexa?" Reva
"Masih kenyang gak apa-apakan gue mau yougurt aja 1"
"Boleh, nanti gue beliin ya" Jesselyn tersenyum manis seolah kejadian kemarin berlalu tanpa penyesalan sedikitpun
Akhirnya Reva dan Jesselyn pergi dari ruang kelas, Viona masih memainkan ponselnya dan menatap foto Bram. Tentu saja Bram sosok yang penting bagi Viona, pasti menyakitkan ketika orang tersayang terluka di depan mata.
"Viona gue perlu bicara berdua denganmu"
"gue tau kamu akan melakukan ini, ayo jangan disini"
Kami berdua pergi dari kelas menuju toilet perempuan. Tampak beberapa murid sedang menggunakan toilet tersebut.
"Semua yang berada disini keluar sekarang!" Viona mengunci toilet
DEG
Apa yang dilakukan Viona, tidak aku harus melawan, Alexa kamu kuat lebih dari yang kau tau.
"Toilet adalah tempat yang paling aman" Viona
"Oke dengar Vi, gue tidak percaya padamu atau pada Jesselyn semuanya terasa begitu baru" tanyaku
"Hahaha gue tau kamu akan menjawab begitu?"
"Vi aku menganggap Lo adalah teman sama seperti Jesselyn"
"Teman? Lexa kamu tau apa yang terjadi dengan Ale"
"Tentu saja dia sakit dan harus masuk ICU kan"
"Bodoh" Viona
"...."
"Lexa, saat kamu membawa Ale ke ruang UKS dan kami mencela Lo tak sedikit kah curiga?" tegas Viona
Pikiranku teringat ketika aku membawa Ale keruang UKS, mereka menyuruhku membantunya, dengan perkataan menyakitkan hanya karena Ale teman sebangku.
__ADS_1
^^^'how are you Ale?''^^^
...----------------...
"gue tidak mengerti Viona, beritahu gue?"
"Tepat pagi harinya Mona memberikan racun pada minuman Ale" Viona
"Jangan menuduh orang sembarangan! Mona tidak mungkin melakukan itu" jawabku, Mona adalah temanku dia tidak akan setega itu, Viona sudah kelewatan. Fitnah adalah pembunuh paling kejam
"Buka matamu Lexa orang yang Lo bantu, tubuhnya membiru bukan kah itu karena racun?" Viona
"Benar .. tapi Viona gue dengar saat pesta Jesselyn karena pacarmu Bram kan sampai terjadi pertengkaran hebat"
Viona tersenyum sinis menyilangkan kedua tangannya berjalan mendekat ke arahku.
"Kau pikir gue bodoh, setelah Ale mendapat perawatan di UKS dia sudah membaik karena pertolonganmu, tapi Lo tidak tau apa yang terjadi setelah itu bukan?" Viona
"simple, setelah itu gue meminta Miss untuk cek kondisi Ale, itu saja"
"Dan lalu pergi pulang benar, Lo tau... Saat itu Ale sudah membaik dan segera pulang tapi kejadian yang tidak ingin gue lihat terjadi di depan mata" Viona
"....."
"Saat Ale sampai gerbang seseorang pengendara motor memukul Ale, tepat di punggungnya menggunakan tongkat baseball" Viona
"Apa tongkat baseball?" Sautku
Jelas kulihat tongkat baseball yang dibawa Max malam itu,
^^^'apa jangan-jangan Max, tidak mungkin atau Max sudah jauh lebih tau mengenai kejadian yang menimpa Ale?'^^^
"Gue berusaha memberitahu Ale sambil teriak, meski begitu Ale masih tidak bisa selamat akhirnya gue yang membawa Ale kerumah sakit untuk mendapat pertolongan" Viona
Viona menceritakan kisahnya yang panjang lebar, kenapa menolong orang malah berakibat fatal untuk dirinya. Semua orang berbeda apa lagi ketika menaruh sebuah dendam.
"Vi gue mengerti perasaanmu, Lo pasti tertekan" sautku
"Kamu tidak mengerti Lexa, kenapa gue suruh kamu menjauh dari kami!" Viona
"Dan Lo tau apa yang gue terima karena menolong Aleandro, pacar gue Bram dijadikan umpan oleh Blacktunder" Viona diam perlahan menangis tersedu
Aku yang tidak tega mendengar cerita Viona memeluknya, berat baginya menanggung beban seorang sendiri. Paribahasa maju kena mundur kena.
"Vi sabar Vi, Bram akan baik-baik saja percaya padaku"
"Tidak kenapa gue menangis," Viona menyusut air matanya
"Lexa Lo tau, akhirnya gue juga yang membocorkan Racun itu pada Pak Brayn" Viona
"Dan sekarang Mona di skor karena perbuatannya, gue berharap lebih dari itu, kalau bisa biarkan dia dikeluarkan secara tidak hormat" Viona
Selama ini yang terjadi pada Aleandro diluar nalar, aku pikir Aleandro hanya sakit dan harus mendapatkan penanganan tapi ternyata diluar ekspektasi.
"Tapi Vi, kenapa Mona bisa setega itu? Apa dia geng juga itu kan aneh, gue bener tidak paham" pikirku
"Alexa orang pembenci dapat melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau" Viona
"Sudah ayo pergi dari sini, mereka pasti mencari kita, tolong rahasiakan ini karena teman terkadang musuh"
JLEB
Apa yang dikatakan Viona benar, musuh bisa dari mana saja bahkan teman sekalipun, tapi bagaimana mungkin Mona bisa setega itu meracuni Aleandro, hal yang mengganjal.
...----------------...
Sampai kelas benar saja mereka mencari kami,
"Kalian dari mana aja sih gak ajak kita ya kan Jesselyn" Reva
"...." Jesselyn menatap ke arah Viona
"Kami dari toilet sebentar" Sautku
Kelas kedua dimulai, aku duduk berdampingan dengan Aleandro. Ketika dosen sedang menerangkan materi, Ale mengacungkan tangannya.
"Pak saya mau bertanya, Jika seorang manusia menelan sebuah racun berbahaya adakah mereka selamat, dan apa kerugian yang terjadinya terimakasih" Ale
DEG
.
.
.
.
Relate itu pasti benar? Tapi kenapa Mona melakukan hal itu?
Next episode
__ADS_1