
"Ooo Mbok kira Aden mau minta di buatkan apa gitu den. ya sudah kemarilah, sini duduk di sini?" Sambil menepuk tepukkan telapak tangannya di kasur yang ada di sebelah tempat duduknya Mbok Minah tersebut.
Bastio menuruti permintaan Mbok Minah dan kemudian Bastio meraih kedua kaki Mbok Minah hendak memijatnya. Namun Mbok Minah menolak dan menggeser kan kakinya ke samping.
"Eeeh Den Tio mau ngapain? Gak usah Den,"
" Mbok, Simbok pasti capek kan? seharian sudah mengurus rumah sebesar ini,"
"Sudahlah Mbok, Simbok gak perlu sungkan," Bastio tetap memaksa Mbok Minah agar mau di pijat kakinya.
"Jangan Den, Simbok gak kenapa-kenapa ko den, lagipula Simbok juga cuma mengawasi pekerjaan pembantu yang lainnya, bukan Simbok juga kan yang mengerjakan pekerjaan rumah ini." Timpal Mbok Minah menolak secara halus kebaikan tuan mudanya tersebut.
"Mbok? tau tidak, meskipun Mbok itu bukan orang yang melahirkan saya, tetapi Simbok lah yang lebih memahami dan mengerti saya dari kecil sampai saya sebesar ini."
"Bahkan semasa Mama masih ada, Simbok juga yang selalu menemani saya. jadi kalau boleh saya minta, maukah Simbok menjadi pengganti Mama saya dan jangan menolak pijitan saya?" Bastio tersenyum sambil meremas kedua telapak tangan Mbok Minah, kemudian mengecupnya dengan tulus.
"Subhanallah, Den sebelum Aden memintanya Mbok juga sudah menganggap Aden itu anak Simbok. dan sampai kapanpun Den Tio tetap akan menjadi anak Simbok."
"Terimakasih Mbok? karena Simbok sudah mau menjadi ibu saya?"
"Justru saya yang berterima kasih kepada Aden, karena sudah mau menjadikan seseorang pembantu yang hina ini sebagai pengganti orang tuanya Aden. apa Den Tio tidak malu punya orang tua seperti Mbok ini?" Jawab Mbok Minah.
"Simbok ini ngomong apaan sih, kenapa pula saya harus malu? daaaan, semua orang itu sama Mbok. gak ada manusia hina, yang ada semua orang itu hina di mata Allah. bener gak Mbok? hehehe." Bastio tertawa mencairkan suasana.
"Hehehe,. tumben den, omongannya bener hari ini." Jawab Mbok Minah yang sudah mulai terbawa suasana.
Setelah beberapa saat Bastio dan Mbok Minah terlihat sedang bercanda, sesekali juga terlihat keakraban layaknya seorang ibu dan anak yang sedang bersenda gurau.
"Tangan ini yang telah merawat dan membesarkan aku." Lagi-lagi Bastio mengelus-elus punggung tangannya Mbok Minah dan menciumnya untuk yang kedua kalinya. sehingga membuat mata Mbok Minah berkaca-kaca menahan haru.
"Mbok, ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Mbok. saya berbicara sebagai putra Simbok. jadi, saya ingin Mbok memberikan solusi yang menurut Mbok Minah benar. apapun solusi yang Mbok berikan saya sebagai putra Simbok akan mempertimbangkan nya baik-baik."
__ADS_1
"Memang nya ada hal penting apa Den? " Tanya Mbok Minah penasaran.
"Hmmmmm," Bastio mulai bingung, mencari cara bagaimana harus menyampaikan nya kepada Mbok Minah tersebut.
"Kenapa bingung?" Tanya Mbok Minah mendesak.
"Saya tau, apa yang Aden maksud," Tambah Mbok Minah sok tau.
"Pasti tentang Santi kan?" Sambung Mbok Minah semangat sambil tersenyum mengejek majikannya yang sudah menjadi anak angkatnya tersebut.
"Hmmm," Bastio kaget dan bingung, mengira kalau Mbok Minah sudah tau permasalahan yang sebenarnya.
"Den Tio tidak usah cemas dan khawatir, lagipula Santi kan cuma pergi sebentar saja." Ucap Mbok Minah.
"Haaa, memangnya....." Belum sempat Bastio menyelesaikan kalimatnya sudah di potong oleh Mbok Minah lagi.
"Ia,.... Santi bilang, dia cuma sebentar saja pulang kampung nya. katanya dia sudah rindu sama keluarganya makanya dia pulang kampung sebentar."
"Ooo iya hampir lupa Simbok, Santi juga menitipkan pesan surat untuk Den Tio. dan saya letakkan di atas meja kamar Aden, apa sudah Aden buka? apa isinya? Simbok juga pengen tau, hehehe."
"E'ee dasar anak jaman sekarang, di ajak ngobrol masalah perempuan kok langsung melamun, ayo cerita sama Simbok, apa isi surat Santi?"
Suara Mbok Minah mengagetkan lamunan Bastio. wajah Bastio memerah menahan malu mendengar ucapan Mbok Minah barusan.
"Ayo apa isinya?" Desak Mbok Minah agar Bastio mau menceritakan isi surat Santi tersebut.
"Oooo, surat yang di atas meja itu surat dari Santi ya Mbok? karena saya tidak tahu, ya Belum saya baca.malahan saya simpan di dalam laci." jawab Bastio yang memang belum membaca surat dari Santi tersebut.
"umhhh dasar anak muda jaman sekarang, pelit pelit ?" Gerutu Mbok Minah sambil cemberut.
"Yeea Simbok, memang suratnya belom saya baca kok di bilang pelit sih." Jawab Bastio yang kemudian mendekap Mbok Minah kepelukannya agar tidak marah lagi.
__ADS_1
"Memangnya kapan Santi perginya Mbok?". Tanya Bastio.
"Di hari Den Tio berangkat ke Singapore. Den Tio berangkat pagi, dan Santi sore hari nya berangkat pulang ke kampung juga."Jawab Mbok Minah.
"Aden tidak usah khawatir. tadi kan Sudah Mbok bilang, perginya cuma seminggu. sudah kangen ya?... Goda Mbok Minah kepada majikannya tersebut.
"Simbooook," Panggil Bastio manja, kemudian mengelus-elus punggung Mbok Minah.
"Mungkin belum waktunya untuk aku sampaikan ke Mbok Minah mengenai aku dan Santi." Gumam Bastio dalam hatinya.
"Ummh Mbok, kalau begitu saya kembali ke kamar ya, mau istirahat, badan ku pegal-pegal semua ni, dari kemarin tidak bisa tidur nyenyak." Ucap Bastio kepada Mbok Minah.
"Oooo iya sudah, kalau begitu Mbok buatkan wedang jahe dulu ya Den? biar mengurangi rasa capek-capek nya? Aden tunggu saja saja di kamar!" Ucap Mbok Minah menawarkan.
"Apa tidak merepotkan Simbok?" Tanya Bastio.
"Tidak, sudah sana Aden tunggu saja di kamar!" Usir Mbok Minah kepada majikannya tersebut.
"Ya sudah lah."Jawab Bastio pasrah sambil berlalu meninggalkan Mbok Minah.
Mbok Minah berjalan menuju dapur menyiapkan wedang jahe untuk Bastio.
Sementara itu Bastio mengambil ponselnya dan segera menghubungi sahabat sekaligus sekertaris nya tersebut.
"Diki, cepat kerahkan seluruh anggota mu untuk mencari di mana kampung tempat tinggal Santi. Kalau sudah dapat, segera share Lok ke saya." Bastio memberikan perintah kepada Diki dari ujung telepon.
"Maksud kamu Santi bibi sister pribadi kamu?" Tanya Diki.
"Menurut kamu? apa ada nama Santi yang aku kenal selain dia? dasar ngaco loo, udah gak usah banyak tanya! pokoknya cari sampe ketemu." Jawab Bastio sambil mematikan telepon nya tersebut.
"Tunggu-tunggu,....tut-tut-tut." sambungan teleponnya pun terputus.
__ADS_1
"Huuuh dasar, belum-belum main di matikan saja, untung saja bos. kalau tidak sudah habis kamu?" Gerutu Diki.
"tunggu tunggu? memang nya kenpa dengan Santi? kenapa harus mencari kekampungnya sih? bukankah Santi bekerja sama Dia?" Diki semakin bingung.