
"Kenapa di luar?" Tanya Santi kepada suaminya, seraya duduk di bangku sebelah suaminya.
"Tidak ada, aku hanya melihat dan menikmati suasana pedesaan yang sejuk. sudah lama aku tidak melihatnya." Jawabnya sambil tersenyum dan memperhatikan istrinya.
"Kau sudah selesai, berbicara dengan ayah? kenapa sebentar sekali?" Tanyanya sambil merapikan rambut istrinya yang melambai-lambai di terpa angin.
"Tidak ada yang serius. hanya mengenang almarhum ibu saja. tentu saja tidak membutuhkan waktu lama." Jawabnya sambil tersenyum dan menatap wajah suaminya.
"Ada apa?" Tanya Bastio kepada istrinya. sementara Santi hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Kau tidak bisa membohongi ku. kemarilah!" Ujarnya seraya merangkul bahu istrinya dan mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.
"Aku serius. aku tidak menyembunyikan sesuatu kepadamu." Jawabnya mengelak.
"Hei.. aku tau siapa kau. dan kau tidak akan bisa membohongi ku." Ujarnya seraya memencet hidung istrinya pelan yang mancung.
"Au..., sakit tau."
"Hahaha,.. mau lagi?" Tawa Bastio menghibur istrinya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan nya. Santi menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mau sambil tertawa ringan.
Mereka berdua sejenak melupakan beberapa kejadian yang hampir membuat mereka berdua lupa bagaimana cara tertawa dan bercanda. Santi yang terlihat sembab karena kebanyakan menangis pun dapat tertawa kembali melihat tingkah konyol yang sengaja Bastio buat untuk menghibur istrinya.
Bastio terlihat asyik menikmati beberapa permainan yang Ia buat. Ia dengan telaten dan sabar menghibur istrinya. bahkan dia bersedia menirukan beberapa tingkah binatang untuk membuat istrinya tertawa.
"Sepertinya kau cukup handal dalam berperan sebagai badut. hahaha." Ucap Santi di sela-sela tawanya.
__ADS_1
Bastio memperhatikan istrinya dengan lega. ia begitu menikmati melihat pemandangan yang indah yang berada di depan matanya. istrinya begitu menikmati hiburan yang di sajikan oleh Bastio. sehingga membuatnya tidak mampu menahan tawanya. Bastio terseyum dan kemudian Ia mengambil telepon miliknya dan mengabadikan momen yang begitu indah menurutnya. Bastio memotret istrinya yang sedang tertawa tanpa sepengetahuan nya.
"Hei, Kau curang, dasar kau curang." Ucap Santi ketika kedapatan Bastio sedang mencuri gambarnya dari layar ponsel nya seraya hendak meraih Paksa ponsel suaminya.
"Hahaha, tidak. kau tidak boleh tau." Jawabnya sambil menyembunyikan ponselnya dan di simpannya di dalam saku celananya, sehingga membuat Santi tidak dapat menggapainya.
Mereka berdua terlihat sangat bahagia. tertawa bercanda bersama. layaknya sepasang kekasih yang baru bertemu dan menjalin kasih saja. karena cukup melelahkan mereka bercanda, akhirnya mereka terdiam sejenak.
"Bolehkah aku membawa Icha bersama kita?" Tanya Santi kepada suaminya sambil menggelayut manja di pundak suaminya sambil memainkan dasi Bastio di sana.
"Pertanyaan macam apa itu? kenapa tidak boleh? bukankah rumahku itu juga rumahmu? jadi tentu saja keluarga mu juga boleh menempatinya." Jawabnya sambil memicingkan setelah matanya dan kemudian memainkan hidung istrinya.
"Benarkah?" Matanya Santi berbinar-binar.
"Hmmmmm." Mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya dan menceberutkan mulutnya. Bastio yang melihat tingkah istrinya malah merasa sangat menggemaskan dan ingin memangsanya.
"Hentikan tingkah menggemaskan mu itu. kalau tidak, aku akan memakanmu di sini, sekarang juga." Desahannya yang mulai gelisah karena tidak dapat menahan diri.
Santi yang menyadarinya, menjadi salah tingkah melihat suaminya. dan segera mengajak suaminya masuk ke dalam rumah. setelah mereka sampai, tentu saja sudah tau apa yang akan mereka lakukan. karena kebetulan sekali hari ini Santi sudah selesai datang bulan. dan selama satu Minggu pula mereka berdua tidak bisa melakukan olahraga panas yang sangat di gemari oleh Bastio.
Bastio yang sudah tidak sabaran. langsung mengunci pintu kamarnya dan langsung memeluk istrinya, meraih dagu istrinya menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. kemudian ******* bibir istrinya dengan rangkusnya. Santi yang tidak bisa bernafas teratur karena saking lamanya suaminya menikmati bibirnya kemudian menarik dasi suaminya dengan kencang. Bastio yang merasa tercekik pun melepaskan ciuman bibir istrinya.
"Kau sudah berani nakal sekarang ya" Bastio berbisik di telinga istrinya.
"Kau membuatku tidak bisa bernafas." Jawab istrinya sambil tersenyum penuh kemenangan dan melonggarkan dasi suaminya kemudian melepaskannya.
__ADS_1
"Sekalian kemejaku sayang!" Pintanya dengan suara parau di telinga Santi karena tidak dapat menahan nafsunya.
Santi lalu membuka kancing kemeja suaminya satu persatu dengan sangat hati-hati. sementara tangan Bastio sudah mulai bergerilya melalang buana menyusuri lekuk tubuh istrinya yang ramping. dengan terus memberikan kecupan di telinga istrinya dan lambat laun berpindah-pindah ketengkuk dan berhenti di leher kemudian meninggalkan beberapa jejak kepemilikannya di sana.
Bastio meraih tubuh istrinya agar semakin merapat dengan tubuhnya. setelahnya Bastio mengangkat tubuh istrinya dengan masih mencium tengguk istrinya dan merebahkan tubuh istrinya di ranjang dengan sangat hati-hati. Bastio mulai membuka kancing baju istrinya dan menenggelamkan wajahnya di belahan gunung kembar istrinya. sehingga membuat Santi mendesah merasakan kenikmatan dengan memanggil-manggil nama Bastio.
Bastio kembali melanjutkan aksinya, membuka seluruh pakaian istrinya dan hanya menyisakan bra dan celana dalam istrinya saja. Santi yang sudah pasrah, terseyum kepada suaminya, dan mengalungkan tangannya di leher suaminya dan mendekatkan bibirnya di bibir suaminya. mereka berdua kembali berciuman untuk waktu yang singkat. sementara tangan Bastio mulai meraba mencari pengait bra istrinya dan membukanya. menyaksikan tubuh istrinya, tentu saja membuatnya semakin bergairah dan terjadilah pertempuran hangat di sana.
mereka berdua melakukan nya dengan sangat bergairah sehingga tidak di sadari, sudah hampir satu jam mereka melakukan nya, dengan berbagai gaya. mereka berdua terlihat kelelahan. kemudian tertidur dengan posisi berpelukan, hingga sore hari. mereka terbangun ketika mendengar kampung tengah milik Santi sedang berdemo.
"Perutmu berisik sekali sayang? berapa hari tidak kau isi?" Tanya Bastio yang mulai mengerjapkan matanya. sementara Santi hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena ketahuan jika dia memang tidak berselera makan setelah kejadian yang menimpanya bertubi-tubi.
Bastio duduk menyandarkan kepalanya di dipan sambil memperhatikan istrinya.
"Bangunlah, bersihkan tubuhmu! aku ambilkan makanan untukmu." Ucap Bastio kepada istrinya dengan lembut dan memainkan rambut istrinya.
"Tidak, aku tidak mau makan di rumah. aku ingin makan di luar. dan mencari udara segar." Ujarnya memohon kepada suaminya.
"Baiklah tuan putri. sekarang mandilah duluan aku akan menunggumu! apa kau ingin kita mandi bersama?" Tanya Bastio sambil memainkan matanya dengan jail.
"Tidak, aku tidak mau. nanti akan semakin lama." Jawabnya sambil menggerakkan tubuhnya dan menurunkan kakinya kemudian menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai Busana itu dengan selimut berlari menuju ke kamar mandi dengan tergesa-gesa hingga hampir terjungkal.
"Hei, berhati-hatilah!" Terkekeh melihat tingkah lucu istrinya.
"Hampir saja, huuuh. (bernafas lega) Dasar lelaki. perasaan tidak ada puas-puasnya." Gerutu Santi di dalam kamar mandi.
__ADS_1