
"Begitu baru benar." Ujarnya seraya menyodorkan makananya ke mulutnya.
"Huuu, apa sih maksudnya? kenapa dia sangat susah di tebak. kadang baik, kadang cuek, kadang juga menyeramkan." Celetuk Santi dalam hati.
" Apa kau ingin aku suapi?" Tanya Bastio menggoda dengan tatapan nakalnya. karena Santi hanya memandangi makanannya sendiri tadi.
"Haaa, itu,... tidak, maksudnya aku bisa makan sendiri." Jawabnya gugub, kemudian Ia memulai untuk memegang sendok yang berada di depannya tersebut.
"Makan yang banyak, pokoknya jangan sampai kau kekurangan makanan di sini." Ucap Bastio kepada Santi yang terlihat murung membolak-balikkan makanan nya.
"Hmmm." Ujarnya sambil memonyongkan bibirnya.
"Kau, sungguh manis jika seperti ini." Celetuk Bastio di dalam hatinya yang diam-diam memperhatikan Santi.
"Apa kau tidak menyukai makanannya? kalau iya biar aku suruh pembantu saja untuk mengganti makananya." Karena Santi yang sedari tadi belum memulai untuk memakannya, malah asyik memainkannya di atas piring.
"Ti... tidak, aku hanya tidak terbiasa saja makan semeja dengan anda." Jawabnya asal, dan kemudian Ia pun mulai memasukkan beberapa sendok makananya ke dalam mulutnya dengan terpaksa.
"Hmmm, kenapa aku ingin makan rendang jengkol ya, tetapi tidak mungkin kan aku memintanya kepada Bastio, sudah pasti dia tidak akan memperbolehkan nya hidangkan seperti itu ada di meja ini. biarlah nanti aku akan pergi ke pasar sendiri untuk membeli dan memasaknya sendiri. untuk sekarang aku bayangkan saja makanan ini seperti rendang jengkol. hihihi." Santi berbicara di dalam hatinya sambil membayangkan sedang makan rendang jengkol.
"Huuuh, ternyata rasanya sungguh berbeda." Gerutu Santi di dalam hati sambil memonyongkan bibirnya.
Bastio yang tidak henti-hentinya memperhatikan, menjadi terkekeh di buatnya. karena menurutnya Santi begitu lucu jika sedang begitu.
" Kau kenapa, kalau kau tidak suka bilang saja. jangan kau paksakan." Ucapnya seraya memegang sendok Santi dan membenarkan arah sendok yang digunakan nya.
"Benarkah boleh aku memintanya?" Dengan wajah berbinar-binar.
"Apa aku boleh makan rendang jengkol?" Ucapnya semangat, karena Ia tidak bisa menahannya lagi.
"Apa? apa tidak ada yang lain?" Jawabnya sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Ayolah ini bukan aku yang meminta, tapi anak ini." Ucapnya merengek sambil menunjukkan keperutnya.
"Biar aku pikirkan." Jawabnya ragu.
"Huuuum, ayolah. boleh ya boleh." Lagi-lagi Santi merengek dengan manjanya kepada Bastio.
" Kalau kau begini, mana bisa aku menolaknya." Gumamnya didalam hati.
"Baiklah." Jawabnya santai.
"Yeeeaaa," Kegirangan.
Akhirnya Santi bisa makan dengan hati senang.Setelah mereka selesai makan, Santi seperti biasanya membereskan bekas makanan majikannya juga dirinya. sementara Bastio langsung bergegas pergi ke kamarnya untuk menggambil jaket dan kunci mobilnya, karena Ia akan pergi ke luar sebentar. untuk Santi, setelah ia menyelesaikan tugasnya Ia langsung bergegas menuju kamar pribadinya atau kamar pembantu yang biasanya Ia tempati.
Namun, setelah sampai di kamarnya, alangkah terkejutnya dia, Santi tidak menemukan satupun barangnya berada di sana. padahal se ingat nya, Ia sengaja meninggalkan beberapa barangnya di sana. karena waktu itu koper nya tidak muat untuk membawa seluruh barangnya. Ia pun langsung bergegas mencari Mbok Minah, karena menurutnya Mbok Minah tau segalanya tentang yang terjadi di rumah ini.
Sesampainya, "Tok-tok, assalamualaikum Mbok? Boleh saya masuk?" Ucapnya meminta izin kepada Mbok Minah.
Setelah mendapat izin dari sang empunya, Santi masuk dengan berlahan, dan mendekati Mbok Minah yang sedang berbaring istirahat di ranjangnya tersebut.
"Oooo, rupanya Den ayu, sudah bangun to? Ada apa? ayo sini, duduk sama Mbok! sudah lama kita Ndak ngobrol to?" Ujarnya sambil hendak bangkit dari istirahat nya.
"Tii... tidak usah bangun Mbok, lanjutkan saja istirahat nya! Mbok pasti capek, Santi cuma sebentar kok." Jawabnya dengan santun sambil tersenyum.
"Heees ora popo cah ayu. capek opo to?Simbok Ndak capek sama sekali, lawong kerjaan Simbok Lo cuma mengontrol dan ngatur-ngatur para pembantu di sini, yang ngerjain tugas ya mereka semua." Ujarnya seraya menggelungkan rambut panjangnya yang hampir keseluruhan nya mulai memutih tergerai berantakan karena tidur.
Mendengar ucapan Mbok Minah Santi hanya bisa tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. dan kemudian Ia pun mengambil posisi duduk nya di samping Mbok Minah.
"Ada apa cah ayu? hmmm?" Tanya Mbok Minah yang seakan tau maksud kedatangan Santi kekamarnya.
"Umhh, Mbok? apa Mbok tau dimana semua barang-barang ku? kok sepertinya tidak ada lagi di kamarku?" Tanya Santi balas bertanya.
__ADS_1
"Oooo itu? Maksudnya kamar yang mana? bukanya semua barang-barang mu sudah di pindahkan semuanya di kamar Den Tio, apa masih ada yang tertinggal?" Jawabnya dengan lembut sambil membelai rambut nya.
"Maksudnya Mbok Minah apa ya?" Gerutu Santi di dalam hati tidak paham dengan ucapan Mbok Minah. namun ia tidak berani untuk menanyakan kan kembali.
"Rupanya kau di sini?" Ucap Bastio yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Mbok Minah.
Santi kaget mendengar suara Bastio, dan menoleh ke arahnya, sementara Mbok Minah tersenyum melihat kedatangan Tuan Mudanya tersebut.
"Aku akan keluar, mungkin akan malam baru kembali.kau tidak usah menungguku, istirahat saja duluan." Ucapnya kepada Santi.
"What, ngapain juga aku menunggunya, GR banget jadi orang. lagian mau pulang mau gak pulang, emang gue pikirin. bila perlu tidak usah pulang sekalian." Ketusnya di dalam hati.
" hmmm, iya." Jawabnya singkat sambil tersenyum sinis kepada Bastio. sementara Bastio yang menyadarinya malah berniat mengerjainya dengan mengedipkan sebelah matanya. dan tentu saja membuat wajah Santi menjadi memerah.
"Kalian ini, seperti baru saling mengenal saja." Ucap Mbok Minah kepada Bastio dan Santi menggoda.
"Mboook?" Ucap Santi sambil menenggelamkan wajahnya di bahu Mbok Minah karena menahan malu.
"Hahaha, lihatlah wajahmu begitu lucu jika sedang memerah menahan malu." Goda Mbok Minah kepada Santi.
Sementara Bastio yang melihat keakraban antara Santi dan Mbok Minah begitu bahagia. kemudian Ia pun berpamitan kepada Mbok Minah. dan Ia pun segera bergegas keluar dari kamar Mbok Minah, namun baru beberapa langkah Ia kembali menghentikan nya dan berbicara kembali dengan Santi.
"Oo iya San, mulai sekarang kau tidur di kamarku. ingat tidak ada penolakan, apa kau paham?" Ucap Bastio kepada Santi.
"Apa?... maksudku, kenapa bisa begitu?" Tanyanya gugub.
"Memangnya kenapa? apa kau lupa? kalau aku pernah bilang, jika kita kembali ke kota kita langsung akan menikah. lagi pula besok pagi juga kita akan segera menikah." Jawabnya santai.
"Apa? (terbelalak semakin bingung) Tap.. tapi apa anda benar-benar serius?..." Tanyanya. Lagi-lagi dengan gugub.
"Apa kau keberatan? menurutku tidak ada lagi yang perlu di bahas kan, karena kita sudah membahasnya sebelumnya?
__ADS_1