
Santi menangis seorang diri di dalam ruang perawatan. Bastio mengintip dari balik kaca kecil yang berada di pintu masuk ruangan tersebut. Sebenarnya Bastio sangat kecewa kepada Santi. namun setelah melihat kondisi Santi seperti ini, membuatnya tidak tega. Bastio ingin masuk kedalamnya dan mencoba untuk membujuknya, tetapi Ia urungkan. karena Ia ingin memberi ruang untuk Santi.
"Permisi Tuan? Maaf saya akan mengecek kondisi pasien?" Panggilan seorang perawat mengagetkan Bastio yang sedang menghalangi jalan pintu masuk ruangan perawatan tersebut, karena Ia sedang memperhatikan Santi dari balik kaca pintu.
"suster? maaf, tapi kalau bisa nanti saja boleh? soalnya pasien sedang tidak enak hati." Jawab Bastio sambil meringis dan mengernyitkan dahinya dengan muka memerah menahan malu.
"Hmm, ibu hamil memang seperti itu Tuan, hormon nya naik turun, makanya kita harus hati-hati ketika berkomunikasi dengan ibu hamil. salah-salah bisa mengamuk nantinya. tapi, tenanglah karena itu tidak masalah. asalkan anda pandai merayu." Jawab perawat menjelaskan sambil tersenyum.
"Oo, begitu ya sus? apa itu tidak bermasalah, untuk bayinya atau ibunya? Tanya Bastio antusias.
"Tidak apa-apa, Anda tenang saja." jawab perawat kepada Bastio sambil tersenyum.
Perawat masuk ke ruangan untuk mengecek kondisi Santi, Bastio mengikuti nya dari belakang. mendampingi Santi yang sedang mendapatkan pemeriksaan.
Setelah Santi menerima pemeriksaan, perawat menyatakan bahwa masih ada pemeriksaan sekali lagi dari dokter kandungan siang nanti. jika kondisi nya stabil seperti sekarang, maka Santi sudah bisa meninggalkan ruang perawatan dan boleh kembali pulang sore nanti.
Santi merasa lega, karena akhirnya Ia diperbolehkan untuk pulang hari ini juga. setelah melaksanakan pemeriksaan, perawat pun berpamitan keluar kamar kepada Bastio dan Santi. Kini tinggallah mereka berdua kembali di dalam satu ruangan tersebut.
"Ucapan ku yang tadi, jangan di masukkan ke hati." Ucap Bastio kepada Santi dengan nada yang lembut karena sudah mendengar penjelasan langsung dari suster dalam menghadapi ibu hamil.
"Kamu istirahat saja? Ingat kata suster kalau ingin segera pulang ya tidak boleh banyak pemikiran yang tidak-tidak, intinya ibu hamil itu tidak boleh stres." Ucap Bastio sambil membantu merapikan posisi tidur Santi dan menyelimutinya dengan selimut.
"Apa kau menginginkan sesuatu? atau ingin makan makanan apa? jika ingin, katakan saja? karena aku tidak mau kalau sampai anak kita nanti keluar encesan." Tanya Bastio kembali kepada Santi yang kemudian di balas dengan gelengan kepala oleh Santi.
__ADS_1
"Ya sudah istirahat lah!"
Santi menarik nafas dalam-dalam dan kemudian membuangnya dengan pelan. Bastio kembali ke Sofanya Ia kemudian menatap layar ponselnya dan memainkannya di sana.
"Lalu, bagaimana hubungan kita untuk selanjutnya? maksudnya bukan apa-apa, masalah nya Keluarga ku mengira kita sudah menikah?" Tanya Santi sedikit ragu kepada Bastio, sementara Bastio yang mendengar ucapan Santi langsung menghentikan memainkan ponselnya tersebut dan nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu maunya seperti apa?" Tanya Bastio berbalik bertanya.
" Huuum, kita akhiri saja. kita bilang apa adanya kepada keluarga ku." Jawab Santi kepada Bastio sambil menarik nafas dalam-dalam menahan sesak, karena sebenarnya bukan kalimat itu yang Ia nantikan dari mulut seorang Bastio. namun Ia sangat sadar, siapakah dia, dan dia tidak pantas untuk mengharapkan sesuatu yang mustahil. ya.. memang, untuk meminta sebuah pertanggung jawabkan pun hal yang sangat tidak mungkin. apalagi mereka jelas-jelas tidak pernah menjalin sebuah hubungan sebelumnya. hanya sebatas pembantu dan majikan saja.
Kalau itu maumu aku tidak setuju." Jawab Bastio santai.
"Kalau kita bicarakan yang sebenarnya, sudah pasti aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan anakku selama-lamanya."
"Hei, sudahlah. jangan menangis. aku bukan orang seperti itu, sudah pasti aku tidak akan pernah membiarkan mu bersedih lagi, apalagi menderita sendiri untuk menjaga dan merawat anakku. kita rawat anak ini bersama-sama ok? masih ada cara yang lain." Jawab Bastio yang berjalan mendekatinya untuk menenangkannya.
Santi kembali menangis. karena Lagi-lagi jawaban Bastio sungguh tidak bisa menenangkan hatinya.
"Hei,.... ayolah. aku tau aku salah. setelah pulang dari sini, kita akan pulang ke kota, ya..? kita rawat anak ini bersama-sama. ok!" Bastio mencoba menenangkan hatinya.
"Aku tidak mau." Jawab Santi sesenggukan.
"Hmmmmm, terserah kamu setuju atau tidak, yang penting kita akan pulang ke kota. lalu kita akan menikah di sana." Ucap Bastio dengan tatapan yang menyakinkan.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?" Tanya Santi kepada Bastio.
"Iya,.." Jawab Bastio.
"Bagaimana bisa, kita menikah tanpa di dasari cinta?" Tanya Santi kembali.
" Hmmm,...Kita coba saja." Jawab Bastio sambil menarik nafas panjang.
"Apa ini tidak terlalu jauh? bagaimana dengan perasaan mu? dan bagaimana dengan pasangan mu?" Tanya Santi yang sudah mulai serius.
"Kau ini bicara apa? Aku mana ada punya pacar. apa itu semacam ejekan untuk ku?" Tanya Bastio kepada Santi sambil menatapnya intens.
"Bu.. bukan." Jawab Santi takut-takut.
"Lalu bagaimana jika aku memiliki seseorang yang sepesial di hatiku? dan ternyata aku tidak bisa mencintaimu?"
"Itu tidak masalah, aku tidak memaksakan kehendak mu. kita hanya menikah saja kan? setelah anak ini lahir, kamu bisa mengejar impianmu itu." Jawab Bastio asal, takut jika salah bicara Santi akan marah dan menangis lagi.
Santi terdiam mendengar ucapan Bastio. Ia ingin teriak sejadi-jadinya. Ia ingin protes kepada dirinya sendiri,menanyakan pernikahan macam apa yang akan terjadi. pada umumnya impian setiap wanita, menikah adalah suatu momen yang sangat membahagiakan. duduk bersanding menjadi raja dan ratu sehari dengan orang terkasih. menjalin sebuah ikatan janji untuk terus bersama dalam berbagi suka maupun duka. namun, lagi-lagi apalah dayanya. Ia hanya bisa mengubur dalam-dalam impian nya tersebut.
Bastio menghela nafasnya. entah apa yang sedang Ia fikirkan. namun, sangat tergambar jelas dari raut wajahnya yang sedang menyimpan tanda tanya. hatinya begitu berkecamuk seakan tidak terima dengan keputusan yang diambil nya.
Ia merasa ragu, namun semua mengharuskan untuk menjalaninya. apakah Ia harus bahagia atau malah sebaliknya itu juga Ia tidak paham. Ia bahagia, yang akhirnya bisa membujuk Santi agar bisa hidup bersamanya dan mempertahankan anaknya untuk bisa mendampingi nya setiap saat.namun juga ragu dengan sebuah ikatan yang akan Ia jalin bersama dengan ibu dari anaknya tersebut. Bastio benar-benar merasakan sedang di lema oleh keadaan.
__ADS_1