TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Siapa Pria Itu?


__ADS_3

"Hei... ini belum selesai, kenapa kau tinggalkan? kau mau kemana?" Tanya Bastio kepada Santi keheranan. karena tiba-tiba saja setelah membaca pesan masuk dari ponselnya Ia langsung meninggalkan dirinya.


"Tunggulah di sini sebentar." Ucapnya sambil melangkah kan kakinya ke luar.


"Ck, sialan. pasti karena Rangga" Decaknya kesal seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tapi, tunggu dulu, barusan Dia berbicara dengan ku?" Ucapnya sambil tersenyum senang.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Santi kembali lagi dengan membawa paper bag di tangannya. dan tentu saja membuat Bastio merasa keheranan tapi juga senang.


"Ternyata dia kembali?.. Aku pikir, hmmm sudahlah." Ucapnya dalam hati sambil tersenyum seperti seseorang yang sedang kasmaran atau sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.


" Bukalah bajumu!" Perintah Santi kepada suaminya itu.


"Haaa? Apa kau yakin?" Tanya Bastio salah tingkah.


"Cepatlah, ganti bajumu! bukanya kau baru sembuh? dan aku tidak mau kalau kau sakit lagi" ucapnya seraya mengeluarkan pakaian dari dalam paper bag yang ada di tangannya.


"Hmmm, kirain." Ucapnya kesal dalam hati.


"Aku tidak mau." Ucapnya dingin.


"Apa kau ingin sakit lagi? cepatlah! bukanya kau harus kembali ke kantor?" Ucap Santi sedikit kesal melihat tingkah suaminya.


"Biar saja aku sakit. asalkan kau terus di samping ku, hehehe." Ucapnya dalam hati.


"Aku tidak peduli." Ucapnya sok dingin sambil menatap wajahnya dari kaca besar di depannya yang ada di kamar mandi.


"Kau ini benar-benar menyebalkan ya? Kalau kau Sakit kau pikir aku bisa tenang? apa kau pikir aku tidak khawatir ha, bisa tidak kau tidak egois?" Ucapnya emosi.


"Apa? dia menghawatirkan ku? apa aku salah dengar?" Ucapnya dalam hati.


Melihat dan mendengar hal itu tentu saja membuat Bastio merasa senang dan seakan-akan hatinya sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


"Dia benar-benar memarahi ku? Hehehe, sepertinya aku senang melihat mu seperti ini," Ucapnya dalam hati.


"Memangnya kenapa?" Tanya Bastio sok cute.


"Kau,...(marah) Terserah kau saja. mau ganti atau tidak. bukan urusanku." Seraya membanting paper bag di lantai dan berniat untuk pergi meninggalkan Bastio di sana. Namun ketika Santi memutarkan tubuhnya dan hendak melangkahkan kakinya, Bastio menahannya. tangan kiri Bastio menyambar dan menggenggam serta menarik lengan Santi dengan paksa. sehingga membuat Santi berbalik dan mereka berdua pun saling berhadap-hadapan.


Bastio menatap mata Santi dengan intens.kemudian dengan gerakan cepat tangan kanan Bastio menyambar punggung bawah bagian belakang Santi dan menariknya ke dalam pelukannya. sontak saja membuat Santi membulatkan matanya lebar-lebar.


"Apa ini nyata?... Bastio memelukku." Ucap Santi dalam hati sambil menatapnya dengan lembut.


Mereka berdua saling pandang dengan tatapan penuh kelembutan, hingga semakin lama hidung mereka semakin dekat dan menempel. Bastio tidak berniat untuk melewatkan kesempatan ini. ia hendak mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya, kurang satu inci lagi ketika bibir mereka hampir beradu, tiba-tiba saja Santi tersadar dan langsung menarik bibirnya dan memalingkan wajahnya ke samping. dengan gerakan itu tentu saja membuat bibir Bastio mendaratkan ciuman nya di pipi Santi.


Santi terbelalak dengan jantung berdegup dengan kencang Ia yang menyadari nya langsung menjauhkan wajahnya dari wajah suaminya dan mendorong keras wajah suaminya itu. merasakan penolakan dari istrinya tentu saja membuat Bastio geram.


"Ck sialan." Ucap Bastio kesal dalam hati. sehingga membuat Bastio mencengangkan tubuh istrinya dengan kuat di pelukannya.


"Katakan! apa hubungan mu dengan pria itu?" Tanya Bastio dengan tatapan nanar.


"Mati aku, apa yang harus aku katakan." Ucapnya bingung dalam hati.


"Teman. katakan yang jelas." Tanya Bastio dengan tatapan yang mematikan.


"Aduuuh, bagaimana ini. apa jangan-jangan dia tadi melihat Rangga menciumku?" Ucapnya dalam hati.


"Teman. iya benar dia itu memang temanku waktu masih sekolah. dulu." Jawabnya gugub sambil meronta-ronta berusaha melepaskan cengkraman Bastio.


"To.. tolong lepaskan. aku merasa sesak. kau menyakiti anakmu yang ada di perutku." Ucapnya ngos-ngosan karena Bastio benar-benar menekan perutnya yang membesar itu.


Mendengar ucapan Santi dan melihat wajah Santi yang memerah karena kesakitan, membuat Bastio kwhatir. karena rasa cemburunya itu membuat Ia tidak menyadari bahwa perlakuan nya itu telah menyakiti istri dan calon bayinya yang berada di perut istrinya itu. sebenarnya Bastio tidak berniat untuk menyakiti keduanya, dia hanya refleks saja.


Dengan rasa bersalah dan panik Bastio melepaskan pelukannya. kemudian Ia mengecek setiap inci perut istrinya tersebut.


"Maaf, aku tidak tau. mana yang sakit? yang ini, yang ini, atau yang ini?" Seraya memegang perut istrinya bergantian dari arah kanan kiri dan belakang.

__ADS_1


Santi hanya terdiam sambil memegang dada dan perutnya serta mengatur nafasnya berlahan-lahan. dengan demikian tentu saja membuat Bastio semakin panik. tidak berfikir panjang Bastio lalu mengangkat tubuh Santi ala bridal style. dan berniat melangkah kan kakinya keluar ruangan.


"Tunggu! tunggu... tunggu sebentar. turunkan aku dulu aku mohon." Ucap Santi kepada Bastio memelas dan memohon.


Bastio tidak tega melihat istrinya saat ini, dengan terpaksa akhirnya Ia mengikuti kemauan istrinya.


"Kau sungguh tidak apa-apa? kau membuatku takut." Ucap Bastio Santi seraya menurunkannya berlahan dari gendongan nya dan kemudian memegang kedua pipi istrinya dengan mesra.


"Apa kau tidak percaya kalau dia temanku?" Ucap Santi berbalik bertanya dengan sedikit takut. sementara Bastio memperhatikan istrinya dengan intens.


"ck, Lupakan." Jawab dingin, seraya melepaskan tangannya dari pipi istrinya tersebut.


Santi merasa suasana hati suaminya sedang tidak bagus. kemudian Ia kembali mengambil bag paper yang di buangnya di lantai. kemudian Ia mendekati suaminya dan kembali melanjutkan membuka kancing kemeja suaminya. setelah selesai, Ia mengambil dan memakaikan kemeja berwarna krem ke tubuh suaminya. dengan sangat hati-hati Ia mengancingkan kemeja suaminya tersebut, tanpa bersuara begitu juga dengan Bastio yang hanya bisa menuruti kemauan istrinya sambil terus memandangi wajah istrinya.


"Kau membelikannya untuk ku?" Tanya Bastio memecahkan keheningan.


"Bukan, pak supir yang membeli." Jawabnya polos.


"Ck, aku tau." Ucap Bastio kesal melihat kepolosan istrinya.


"Terus kenapa bertanya?" Tanya Santi polos.


"Hmm, lupakan." Jawabnya dingin.


"Dasar aneh." Decak Santi dalam hati.


Santi selesai memakaikan baju suaminya, kemudian Ia melanjutkan memakaikan dasi untuk suaminya dan terakhir memakaikan jas kerja nya.


"Hmmm, selesai. sekarang kau boleh keluar!" Ucap Santi kepada Bastio sambil tersenyum.


"Andai saja ini terjadi setiap hari. pasti aku sangat senang. Hmmmmm." Ucap Bastio lirih sehingga tidak terdengar jelas oleh Santi yang sedang melipat pakaian Bastio yang kotor untuk di masukkan ke paper bag.


"Apa katamu?" Tanya Santi dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


__ADS_2