
Santi ketiduran dari sore sekitar pukul enam sebelum kedua orang tuanya pulang hingga dini hari. Sementara kedua orang tuanya tidak sampai hati untuk membangunkan putri nya yang sedang tertidur dengan nyenyak nya itu. karena biar bagaimanapun mereka juga sangat menyayangi anak-anaknya. walaupun sebenarnya ada banyak pertanyaan di benak mereka, melihat putrinya yang secara tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar sama sekali.
Santi terbangun, dan hendak melaksanakan Sholat Magrib.
"Astaga, ternyata aku ketiduran, belum sholat lagi." Gumam Santi dalam hati.
"What! jam dua?... yang benar saja," Santi terbelalak masih belum yakin.
Santi turun dari ranjang, kemudian keluar mencocokkan apakah jam dinding yang berada di ruangan santai sama dengan jam alarm nya.
Dan ternyata jam alarm dengan jam dinding nya sama. Ia pun kaget dan lesu. Ia kemudian bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk melaksanakan Sholat Sunnah dan melanjutkan sholat subuh.
Setelahnya, Santi bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan sarapan pagi untuk seluruh keluarga nya dan menata nya di meja makan.
Seluruh pekerjaan rumah tangga baik, dari menyiapkan makanan juga bersih-bersih rumah sudah selesai di kerjakan. Namun, karena kondisi yang masih pagi keluarga nya belum juga ada yang terbangun.
"Selesai juga, sekarang tinggal aku bersih-bersih diri dulu. bauk acem kayak nya ni." Ucap Santi mengomentari dirinya sendiri.
Santi bergegas mandi, setelah selesai mandi Ia melihat dirinya sendiri dari balik cermin yang ada di kamarnya. Ia lalu berputar-putar sambil melihat penampilan nya sendiri.
"Tidak ada yang berbeda dengan diriku, aku harus kuat dan aku tidak boleh lemah seperti kemarin." Ucap Santi menyemangati dirinya sendiri.
" Pokoknya dalam tiga hari ini, aku harus mencari pekerjaan yang baru. supaya ayah sama ibu tidak curiga. Semoga saja secepatnya aku bisa langsung dapat pekerjaan. ini semua gara-gara bis kemarin, coba kalo tidak pakai acara mogok, pasti aku sudah sampai dari kemarin dan hari ini sudah bisa mencari pekerjaan"
"Hari ini aku akan menelpon Rangga, mana tau di kota tempatnya dia bekerja, ada yang membutuhkan tenaga kerja. kerja apa saja bolehlah."
"Tok-tok," Terdengar suara ketukan pintu kamar Santi dari luar.
"Siapa?" Tanya Santi dari balik kamarnya.
"Ini ibu nak, boleh ibu masuk?" Jawab ibu Santi.
__ADS_1
"Ooo ibu, mari ibu?" Ucap Santi membukakan pintu kamar nya sambil tersenyum manis, kemudian mengajak ibunya masuk kekamarnya.
Santi dan ibunya duduk bersebelahan saling menghadap di ranjang tempat Santi beristirahat dengan kondisi diam seribu bahasa.
"Kamu apa kabarnya sayang? kenapa pulang tidak memberi kabar? Apa ada masalah?" Tanya ibu Santi mengawali pembicaraan sambil tersenyum dan membelai rambut Santi yang basah dan terurai asal karena belum sempat Ia menyisirnya.
"Hmmmmm, ti.... maksudnya Santi memang ingin pulang Bu, karena Santi rindu... dengan semuanya terutama ayah sama ibu." Jawab Santi gugub.
" Tapi kenapa tidak memberi kabar?... apakah Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ayah dan ibumu?" Timpal ibunya dengan masih memberikan senyum tulusnya kepada putrinya tersebut.
"Tidak seperti biasanya putri ibu seperti ini, biasanya putri ibu itu selalu menyelesaikan masalahnya dengan tenang." Sambung ibunya Santi yang rupanya sudah bisa membaca dari raut wajahnya.
"Deg," Jantung Santi seakan berhenti berdetak seketika.
Santi menggigit bibirnya dan berusaha tetap tenang menghadapi ibunya tersebut. Namun siapa sangka kalau ternyata seorang ibu itu tanpa mendengar penjelasan langsung dari mulut anak-anak nya, tetapi sudah mampu membaca dari expresi wajah dan cara bicara anak-anaknya.
Ibu Santi seakan sudah tau apa yang sedang terjadi kepada anaknya tersebut. Ia kemudian mengajak Santi untuk berbagi melupakan perasaan nya.
" Bicaralah? jangan kamu simpan sendiri lukamu ini, Apakah majikanmu meperlakukanmu dengan tidak baik? Ataukah ada hal yang lainnya?"
"Ti... tidak ibu, majikan Santi sangatlah baik dan memperlakukan Santi dengan sangat sangat baik."
Hanya saja Santi ingin mencari suasana baru Bu," Terpaksa Santi memberikan penjelasan kepada ibunya tersebut.
"Baiklah, kalau memang itu keputusan mu, tapi ingat! Jangan lari dari masalah. karena masalah tidak akan pernah berhenti dengan menghindarinya, justru itu akan menimbulkan masalah yang baru. Tapi,cobalah untuk menghadapinya, dengan begitu kita bisa tau, bagaimana cara kita untuk menyelesaikan nya. karena pada intinya tidak ada masalah yang tidak bisa terselesaikan."
"Ibu yakin, kamu pasti punya cara untuk menyelesaikan nya." Sambung Ibunya yang perlahan berdiri dan mengangkat dagu putrinya untuk memberikan kekuatan kepada Santi.
Ibu Santi kemudian berlalu meninggalkan Santi seorang diri di kamar yang sempit tapi nyaman untuknya.
Santi tidak mampu untuk berkata kata lagi, hanya air matanya yang mewakili kepedihan hatinya saat ini. Namun kata-kata ibunya seakan memberikan kekuatan tersendiri untuknya.
__ADS_1
* Di gedung perkantoran Admaja*
"Bagaimana? Apa sudah ada kabar mengenai Santi? Tanya Bastio kepada sahabat nya tersebut.
"Menurut informasi dari anggota kita, Santi kemaren pulang menggunakaan bis tujuan kampung x. Namun, waktu di tengah perjalanan, bis tersebut mogok, akhirnya mereka bermalam di daerah perbukitan x. karena minimnya angkutan umum yang mengarah kekampung Santi." Jawab Diki memberikan penjelasan.
"Astaga, jadi perjalanan Santi sempat tertunda?"
"Lalu bagaimana selanjutnya? apa sudah ketemu orang nya?" Ucap Bastio prustasi.
"Ya belum bos,"
"Tapi bos tentang saja, anggota kita sudah berada di kampung Santi sekarang, dan masih dalam proses pencarian. hehehe,"
"Tapi,... kalau boleh tau kenapa si bos mencarinya? Apa Santi kabur membawa sesuatu yang berharga?"
"Semacam perhiasan, atau surat-surat penting gitu? kok si bos tumben sekali mencarinya."
"Hei,... berani sekali bicaramu! sekali lagi kamu bicara aku sumpal pakai sepatu ku ya?" Ucap Bastio tidak terima.
"Hahaha, Santai sedikit booos, kenapa jadi sewot begitu sih." Ledek Diki.
Sementara itu Bastio masih terlihat kesal melihat tingkah sahabatnya tersebut. sambil mengetuk-ngetuk kan pena di tangannya ke atas meja dengan raut muka yang berantakan.
"Kalau bukan mencuri barang, berarti itu tandanya Santi sudah mencuri hati si bos? Wooo wooo, amazing. ternyata Santi hebat juga ya?" Ucap Diki sambil membelalakkan matanya dengan mulut menganga lebar.
"Duggaanku yang terakhir benar kan bos? hihihi." Diki menggoda bosnya tersebut.
"Tuaar." Bastio melemparkan pena di tangannya ke arah Diki. Namun karena Diki mengelak, pena tersebut terjatuh berserakan di lantai.
"Hahaha, akhirnya anda ketahuan." , Ucap Diki.
__ADS_1
"Ketahuan apanya? sudah sana pergi. selesaikan perkerjaanmu. jangan menggangguku." Usir Bastio cuek kepada Diki.
"Hahaha, baiklah. ternyata anda normal juga ya?" Goda Diki lagi.