TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Kapal Pecah


__ADS_3

"Hei, apa katamu?" Ucap Bastio kesal tidak terima.


"Eh.. ummmm. tidak. cuma ada nyamuk lewat di depan ku tadi. hahaha," Jawab Diki asal.


"Hei hei, kamu kira ruangan ku ini gudang? sampai-sampai ada nyamuk nya?" Protes Bastio.


"Siapa yang bilang kalau ruangan anda gudang?" Jawab Diki mengelak.


"Pergi tidak?" Ucap Bastio yang semakin kesal dengan memegang vas bunga siap untuk melempar.


"Hahaha, kena kau." Tawa kemenangan dari Diki karena sudah mengerjai sahabat nya sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan bosnya tersebut.


Bastio termenung di ruangan nya, sambil bersandar di kursi putarnya melihat ke sembarang arah. Ia mencerna kalimat sahabat nya tersebut. Sebenarnya Bastio sendiri tidak tahu bagaimana perasaan nya terhadap Santi, namun karena rasa bersalah nya lah yang membuat Bastio kwhatir dan berusaha untuk mencari keberadaan Santi.


Hari berganti hari begitu cepat. sementara anggota Bastio Belum mendapatkan kabar mengenai keberadaan Santi. Bastio terlihat gelisah berjalan mondar mandir di balkon tempat biasanya dia memenangkan diri.


Hari ini adalah hari ke delapan setelah kepergian Santi dari rumah Bastio. berarti lebih satu hari Santi pergi. Bastio lalu teringat dengan sebuah surat yang sempat Santi titipkan kepada Mbok Minah untuk dirinya.


Bastio bergegas menuju kamar tidur nya dan mencari-Cari surat yang belum sempat Ia baca itu. Bastio masih mencari hingga di setiap sudut ruangan kamarnya tersebut. Namun Ia tidak menemukannya.


"Seingat ku, surat itu aku letakkan di laci meja ini, kenapa tidak ada?" Gumam Bastio di dalam hatinya sambil terus mengingat dan mencari surat tersebut.


karena Bastio tidak dapat menemukannya, Bastio bergegas keluar mencari Mbok Minah.


tok.. tok... tok..., Apa Mbok ada di dalam? ini Tio, boleh Tio masuk Mbok?" Tanya Bastio kepada Mbok Minah setelah sampai di depan kamar Mbok Minah.

__ADS_1


"Oo iya, boleh, masuklah Den?" Saut Mbok Minah kepada majikannya tersebut dari balik kamarnya.


"Cekreeek," Bastio membuka pintu kamar dan langsung menghampiri Mbok Minah yang sedang berbaring di tempat tidurnya sambil memijat keningnya.


Beberapa hari ini memang Mbok Minah sedang kurang enak badan. sebenarnya Bastio sudah membujuk Mbok Minah agar mau di rawat di rumah Sakit, Namun Mbok Minah melarang dengan alasan tidak terbiasa dengan aroma rumah sakit. beberapa cara juga sudah di lakukan oleh Bastio untuk membujuk Mbok Minah. Lagi-lagi Mbok Minah tetaplah bersikeras untuk istirahat di rumah saja. akhirnya Bastio mengalah, dan membiarkan Mbok Minah tetap di rumah, namun harus di rawat oleh Rio dokter pribadi keluarga Bastio yang pernah merawat Santi sewaktu sakit.


"Bagaimana keadaan Simbok? Apa sudah baikan?" Tanya Bastio sambil berjalan mendekati Mbok Minah dan merapikan selimut Mbok Minah yang sempat berantakan ke sembarang arah.


"Sudah Den, cuma masih sedikit pusing saja." Jawab Mbok Minah sambil mencoba untuk tersenyum.


"Oooo baguslah, Apa Simbok sudah makan dan minum obatnya?" Tanya Bastio lagi.


"Sudah,... itu mangkuk bekas buburnya masih ada di meja." Jawab Mbok Minah sambil menunjuk mangkuk kosong di atas meja yang tidak jauh dari tempat tidurnya tersebut.


"Ooo, Simbok jangan banyak bergerak dulu ya? biarkan saja yang mengurus rumah Bik Inah dan pembantu baru itu. pokoknya Mbok harus istirahat total." Ucap Bastio sambil menekan kalimatnya.


"Hmmm Mbok ada yang mau Tio tanyakan?"


"Tanya apa?" Jawab Mbok Minah.


"Hmmm, surat yang Mbok letakkan di meja untuk ku dari Santi kemaren lupa belum sempat Tio baca, dan seingat Tio kemaren surat itu Tio simpan di laci lemari meja. tapi, barusan Tio mencarinya kok sudah tidak ada ya Mbok? apa Simbok ada memindahkannya atau menyimpan nya?" Tanya Bastio sedikit ragu menahan malu.


"Ooo, surat itu, kemaren memang Mbok menyuruh mang Udin untuk memindahkan isi laci lemari Aden ke gudang belakang. karena Mbok lihat laci Aden sudah penuh dan sesak dengan barang barang, makanya Mbok suruh bersihkan dan memindahkan barang Aden ke sana. Mbok pikir Aden sudah membacanya!" Jawab Mbok Minah sambil tersenyum menggoda majikannya tersebut.


"Kenapa? Sudah kangen ya?" Goda Mbok Minah lagi sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Simbok, sedang sakit pun masih bisa menggoda." Gerutu Bastio.


"Kalau begitu baiklah, Tio akan mencari nya di sana." Bastio bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar kamar Mbok Minah tersebut. Namun beberapa langkah kemudian Ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik badan sambil tersenyum melihat Mbok Minah yang masih menahan tawanya melihat majikan mudanya yang sedikit canggung dan malu-malu itu.


"Dasar anak muda jaman sekarang." Ucap Mbok Minah Sambil menggelengkan kepalanya menggerutu sendiri yang ternyata masih bisa di dengar oleh Bastio.


"Mboook?" Ucap Bastio.


"Hmmm." Jawab Mbok Minah.


"Oooo iya, Mbok tau tidak?" Tanya Bastio yang kemudian menggantungkan kalimatnya.


"Tau apa?..." Jawab Mbok Minah.


"Aaa sudahlah, Mbok istirahat saja!" Jawab Bastio yang sudah kepalang malu.


Mbok Minah hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang punggung majikan mudanya yang telah menjadi anak angkatnya tersebut berjalan keluar meninggalkan kamarnya tersebut.


Bastio menuju gudang tempat dimana surat Santi di pindahkan dari kamarnya tersebut. setelah sampai Ia mulai mencari lagi di setiap tumpukan kertas dan surat surat penting lainnya. Sebenarnya Bastio bisa saja menyuruh Mang Udin atau pembatu lainya yang bekerja di rumahnya tersebut. Namun karena Ia gengsi akhirnya mau tak mau Bastio mencari surat itu sendiri.


Dengan bersusah payah dan membutuhkan waktu sekitar dua jam, akhirnya Bastio menemukan surat tersebut. Meskipun dengan kondisi gudang yang awalnya tersusun rapi menjadi seperti kapal pecah dengan berbagai macam kertas berhamburan di sana sini, kalau untuk membereskan mungkin bakal memakan waktu kurang lebih satu Minggu. bayangkan sendiri saja bagaimana se berantakannya gudang tersebut ya?


"Huuuh, akhirnya kamu ketemu juga, apa sih isinya?" Gerutu Bastio dengan expresi wajah penuh dengan rasa penasaran nya.


Setelah menemukan barang yang di cari nya Bastio keluar gudang menuju teras depan menemui Mang Udin yang berada di pos tempat beliau berjaga.Bastio meminta kepada Mang Udin untuk membersihkan gudang keesokan harinya.

__ADS_1


Di dalam kamar Bastio penasaran dengan isi surat Santi. Ia pun membuka dan mulai membaca isi surat tersebut. Bastio kaget tidak percaya dengan apa yang barusan Ia lihat dari isi pesan surat Santi yang diberikan kepadanya tersebut. Bastio mengulangi membaca surat Santi untuk yang kedua kalinya. Namun isinya ternyata tetap sama dan tidak berubah sama sekali.


__ADS_2