
Di dalam hatinya Bastio yang paling dalam, sebenarnya Ia juga ingin menikah dengan orang sangat Ia cintai. bukanya menikah seperti ini. memang selama ini Bastio belum berfikir untuk mencari pasangan apalagi untuk menikah, sungguh jauh dari perkiraan nya. apalagi Ia sempat berjanji kepada dirinya sendiri setelah kepergian kedua orang tuanya untuk fokus mengurus perusahaan keluarganya, dengan baik dan sampai benar-benar sukses. tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain.
Sebenarnya Bastio bisa saja tidak mau bertanggung jawab atas apa yang dilakukan nya kepada Santi. dan bisa saja dengan mudah untuk meminta kepada Santi agar mau mengugurkan kandungannya. namun, bukan hal yang seperti itu yang telah di ajarkan oleh almarhum Papa nya. Ia di didik dalam menjalankan sebuah tanggung jawab bukan untuk menjadi seorang yang pengecut.
Bastio terus menerus di hantui Kalimat terakhir dua hari sebelum terjadinya kecelakaan yang menimpa papanya yang akhirnya harus kehilangan kedua orang tuanya untuk selama-lamanya."Menjadi lelaki itu tidak lah mudah, semua keputusan berada pada para lelaki, sementara keinginan berada di bawah kendali kaum wanita, jika lelaki tidak mampu memutuskan, maka wanita lah yang akan menjadi penguasa ( "bay writter"). keduanya memiliki kedudukan yang sama namun berbeda makna." jadilah pria yang bertanggung jawab.
Tanpa terasa terdengar suara tangisan dari Santi, Bastio yang mendengar pun merasa bersalah kembali dan Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa..
Karena tidak tau harus berbuat apa, akhirnya Bastio meninggalkan Santi lagi. Namun baru beberapa langkah, rupanya Icha sudah datang dan langsung masuk sambil berlari dan berteriak memanggil kakaknya.
"Hmmmmm, syukur lah akhirnya kau cepat datang juga." Ucap Bastio di dalam hatinya sambil menatap Icha dengan rasa lega.
" Ka Santi?...".
Santi yang mendengar teriakkan adiknya segera menghapus air matanya. kemudian Ia pun memasang wajah ceria di hadapan adiknya. sementara Bastio yang melihat kedatangan Icha menghentikan langkahnya dan tidak jadi berniat untuk keluar. Ia memilih untuk duduk di sofa kembali dengan perasaan lega.
"Kakak.., apa kakak sudah baikan? apa kakak menginginkan sesuatu? ayo katakan?" Tanya Icha kepada kakaknya Santi.
"Tidak, kakak tidak menginginkan apa apa, apa kamu tidak bisa lihat, kakak sudah sangat baik. daaaan, sore nanti kakak sudah bisa pulang."Jawab Santi bersemangat.
"Huuum, baguslah." Jawab Icha senang.
"Kak..?" Panggil Icha.
"Hmmm," Jawab Santi.
"Kenapa kakakku ini jahat sekali?" Ucap Icha kepada kakaknya Santi.
__ADS_1
" Apa yang kau katakan, Jahat kenapa?" Jawab Santi santai.
"Hmmm, apa kakak tidak merasa?" Tanya Icha cemberut.
"Sama sekali." Jawab Santi santai sambil tersenyum.
"Benarkah?" Tanya Icha kepada kakaknya sambil memandangi wajah kakaknya lebih dekat. dengan di anggukkan kepala oleh kakaknya tersebut.
"Apa kakak habis menangis?" Tanya Icha kepada kakaknya sambil membulatkan bola matanya.
Bastio yang mendengar pembicaraan kedua kakak beradik itu yang awalnya sedang berbaring di sofa langsung terduduk sambil terus memperhatikan kakak beradik tersebut.
"Tidak..."Jawab kakaknya kikuk.
"Kakak jangan bohong. mulut kakak bisa bilang tidak, tapi mata kakak yang sembab ini mengatakan iya."
"Kakak,...! apa kakak ipar yang sudah membuat kakak menangis?" Tanya Icha geram sambil melirik ke arah Bastio, sementara Santi hanya bisa menggigit bibirnya.
"Hei, kakak ipar?.. beraninya kakak ipar membuat kakakku menangis. Apa kakak ipar sungguh tidak peduli dengan keponakan ku, haa!" Ucap Icha berteriak sambil menggertak. sementara itu Bastio hanya bisa menatapnya saja.
"Kenapa harus di bawa-bawa keponakan?"Jawab Bastio tenang.
"Hei, apa kau tahu ini rumah sakit? kau tidak boleh teriak-teriak seperti itu di sini. tenanglah biar kakak jelaskan ok!" Ucap Santi kepada adiknya Icha dengan suara pelan.
"Mana bisa aku diam saja, melihat kakakku di sakiti seperti ini." Jawab Icha.
"Siapa yang menyakiti kakakmu haa.." Tanya Bastio protes kepada Icha tidak terima.
__ADS_1
"Icha! bisa tidak kau tidak membuat keributan di sini? kakak tadi memang menangis, dan memang karena Dia. tapi apa kau tahu permasalahan nya apa?" Ucap Santi emosi kepada adiknya Icha.
"Sudah aku duga. pasti kakak ipar pelakunya. apa masalahnya? katakan! dan pelajaran apa yang pantas di terima oleh kakak ipar?" tantang Icha dengan melirik ke arah Bastio. Bastio yang menyadari nya hanya bisa tersenyum.
"Tidak perlu. sebenarnya,kakak tadi ingin makan cilok yang ada di pinggir perempatan jalan dekat pasar langganan kita itu. terus kakak minta untuk membelikannya. E'ee rupanya dia tau lokasinya. jadi kakak kesal sama Dia." Jawab Santi berbohong yang akhirnya membuat Bastio merasa tenang, karena ternyata Santi tidak menceritakan perdebatan antara mereka berdua.
"Apa? cuma gara-gara cilok kakak sampai menangis?" jawab Icha sambil memicingkan matanya.
"he'em. apa kau bisa membelikannya untuk kakakmu dan keponakan mu ini?" jawab Santi memelas sambil memegang perutnya yang masih datar. dan rupanya tiba-tiba saja Santi memang ingin memakannya.
"Baiklah, biar aku hubungi Aldo , sebentar ya?" jawab Icha kepada kakaknya Santi.
Icha mengeluarkan HP nya dan segera mencari nomor Aldo, setelah menemukan nomor Aldo Icha langsung menghubunginya dan meminta bantuan untuk membelikan sesuai permintaan kakaknya tersebut.
Aldo yang baru saja keluar dari pekarangan sekolah pun langsung menuju pasar di mana tempat penjual cilok tersebut. setelah sampai Aldo segera memesannya. hanya membutuhkan beberapa menit saja, cilok sudah selesai di racik dan segera di berikan kepada Aldo. setelah melakukan pembayaran Aldo pun lantas langsung menuju rumah sakit di mana kakaknya Santi di rawat.
Membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit untuk menuju rumah sakit tersebut. sesampainya Aldo langsung memarkirkan motornya, dan segera berlari menuju ruang perawatan kakaknya tersebut.
Santi sudah menunggunya dengan tidak sabar. begitu Aldo masuk ke dalam kamar perawatan, Santi langsung terlihat sangat senang sekali seperti anak kecil yang di beri permen saja.
Aldo menyerahkan cilok tersebut kepada kakaknya Santi. Santi langsung menerima nya dan segera melahapnya. semua orang yang berada di ruangan tersebut merasa aneh melihat tingkah kakaknya begitu juga Bastio.
Karena Santi begitu semangat dan lahapnya, sampai-Sampai tidak memperhatikan bahwa ada beberapa pasang mata memperhatikan nya dengan begitu serius.
"Apa kakakku selama tinggal bersama dengan kakak ipar menjadi serakus ini?" tanya Aldo yang membisikkan kepada Bastio sambil terus menatap keheranan kepada kakaknya Santi.
"Tidak. justru saya kira, Dia aslinya kalau makan seperti itu." Jawab Bastio yang juga membisikkan kepada Aldo.
__ADS_1
"Tidak, sama sekali tidak. kakakku itu adalah orang yang sangat mengikuti diet ketat. mana berani dia makan seperti itu." jawab Aldo menimpali, yang masih belum percaya juga.