TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Apa Kau Sedang Menggodaku?


__ADS_3

"Hai.. jagoan papa? kau sedang apa? Papa sudah tidak sabar ingin mengajakmu berjalan-jalan dan bermain bersama


mu. Oo iya jangan di dengar, apa yang barusan di katakan oleh Mamamu. Mamamu itu suka bercanda." Ucapnya di depan perut Santi dan seketika ingin meraba perut istrinya yang mulai membuncit itu. namun dengan refleks Santi mundur menghindari nya dan berputar membelakangi suaminya tersebut.


"Sial, ternyata kaki jenjang nya saja mampu membuat ku berkeringat seperti ini." Decak Bastio di dalam hatinya dengan pandangan yang tidak bisa teralihkan oleh kaki jenjang Santi yang sengaja membelakangi nya tersebut.


"Apa kau sedang menggodaku?" Tanya Bastio seraya bangkit dari posisi berjongkok. dan lagi-lagi masih memperhatikan penampilan Santi yang kali ini dari atas sampai ke bawah.


Bastio adalah lelaki normal, tentu saja Ia akan merasa tertarik dengan penampilan Santi saat ini yang hanya mengenakan kimono dengan panjang di atas lutut nya. dan handuk kecil yang sengaja Ia lilitkan bersama dengan rambut di kepala nya sehingga terlihat jelas bentuk tengkuk dan kaki mulusnya tersebut.


"Apa maksudmu?" Tanya Santi gugub dan berbalik arah melihat suaminya dengan perasaan takut.


"Aku tanya, apa kau memang sengaja sedang menggodaku?" Ucapnya mengulangi kalimatnya sambil berjalan berlahan ke arah istrinya. dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.melihat hal tersebut, membuat Santi gemetaran sambil melangkahkan kakinya berlahan kebelakang dan menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. membuat Bastio semakin ingin mengerjai istrinya dengan terus berjalan mendekatinya hingga akhirnya mereka berdua benar-benar sangat dekat, karena Santi yang sudah terpojok akibat dinding dan tidak bisa kemana-mana.


"Mau apa kau?" Tanyanya gugub sambil menundukkan kepalanya dengan perasaan takut. sementara Bastio mulai meraba tengguk istrinya dengan lembut.


"Jangan? aku mohon! apa kau lupa dengan perjanjian kita?" Ucapnya bergetar.


" Ck.Sial, bahkan aku benar-benar sudah terpancing dan hampir tidak bisa mengendalikan nafsuku." Decaknya kesal kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Plak...(memukul dinding) Persetan dengan perjanjian itu. yang membuat perjanjian adalah kau, bukan aku. apa kau pikir aku takut dengan perjanjian yang kau buat itu? kau sungguh tidak mengenali ku nyonya Bastio, kemanapun kau pergi, bahkan ke ujung dunia sekalipun, aku pasti bisa menemukan mu." Bentaknya dengan penuh emosi.


Seketika membuat Santi menjadi bertambah ketakutan dan melipatkan kakinya bersimpuh di lantai dengan lemas dan keringat bercucuran dari tubuhnya. Ia juga menyembunyikan kepalanya di kedua lengannya di sana.


Melihat keadaan Santi yang seperti ini, tentu saja membuat Bastio merasa khawatir dengan kondisi istrinya. Bastio tidak tau lagi harus berbuat apa, dia sendiri prustasi melihat tingkah laku nya yang tidak mampu mengontrol emosinya yang sejak tadi sengaja Ia tahan akibat rasa cemburunya yang berlebihan, yang akhirnya, tertumpah kan juga. namun Ia tidak menyadari kalau sikapnya itu akan berujung seperti ini. apalagi membuat istrinya menjadi ketakutan. sungguh semua di luar dugaannya.


Bastio mengusap wajahnya dengan kasar. kemudian duduk di lantai samping istrinya berada. Ia berusaha menenangkan pikirannya dan berlahan menarik nafasnya dalam-dalam dan meng???hembuskan nya perlahan.


"Maaf, bukan maksudku seperti itu." Ucapnya berusaha lembut mengendalikan emosinya.


mendengar ucapan Bastio, malah membuat Santi terisak di sana.


"San....? kumohon jangan seperti ini. aku tidak bermaksud untuk memarahimu. percayalah?" Ucapnya lirih karena tidak tau harus berbuat apa.


"Hmmmmm, baiklah aku tidak akan memaksamu. tapi coba kau pikirkan kembali ucapanmu. apa tidak ada cara lain lagi?" Tanyanya seraya mengendurkan dasinya dan beranjak dari posisinya. kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar dari kamarnya dengan langkah gontai.


Bastio meninggalkan rumah dengan perasaan yang berkecamuk. Ia mengendarai mobilnya dengan sangat pelan tetapi dalam keadaan tidak fokus. kemudian Ia menghentikan laju mobilnya dan menelpon Diki sahabat nya untuk menghandle pekerjaan nya. kemudian Ia juga berpesan, jika ada kebutuhan kantor yang mendesak, agar menjumpainya di apartemen nya saja. karena dalam beberapa hari Ia akan tinggal di sana.


Setelah menelpon Diki, Bastio melajukan mobilnya kembali menuju apartemen pribadinya. sesampainya, Ia langsung masuk dan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Ia membaringkan tubuhnya di sana dengan mata tertutup namun tidak sedang tertidur.dalam banyangangnya Ia terus mengingat kejadian barusan. betapa ketakutannya Santi terhadapnya.


"Apakah dia, sebegitu bencinya terhadapku? atau di hatinya memang tidak pernah ada aku? apa hatinya benar-benar seutuhnya untuk Rangga?" Ucapnya menerka-nerka.


"Aku harus bagaimana? sementara aku sudah mulai membuka hatiku untukmu. kau malah mengabaikan aku. Umhhh."


"Apa kau tau? aku tidak mudah jatuh cinta. entah mengapa aku bisa dengan mudah tertarik kepadamu. entah sejak kapan aku mulai mencintaimu, tapi aku benar-benar jatuh cinta kepadamu." Ucapnya sambil memandang foto istrinya di ponselnya yang sengaja Ia Ambil secara diam-diam di saat istrinya sedang tertidur. entah mengapa ia ingin menggambil foto istrinya pada saat itu, karena Ia merasa posisi tidurnya yang cukup menarik baginya, dengan senyuman manis dengan memeluk guling begitu sangat eratnya.


Karena kelelahan, akhirnya Bastio ketiduran dengan terus menatap ponselnya. hingga sore hari baru Ia terbangun karena merasa kelaparan. Ia pun kemudian berniat keluar mencari makanan.


Malam ini, Santi seperti biasanya menunggu suaminya pulang. Ia sudah menyiapkan air untuk mandi suaminya dan pakaian nya. berkali-kali ia melihat jam dinding di kamarnya. namun suaminya tidak kunjung pulang juga.


"Tok-tok-tok.(pintu di ketuk). Makan malam sudah selesai nyonya. nyonya mau makan di bawah atau saya ambilkan?" Tanya pembantu dari balik pintu kamarnya.


" Oo, iya bik, terimakasih. tidak usah repot-repot, saya turun saja." Jawabnya dari dalam kamarnya dan bergegas untuk membuka pintu kamar tersebut.


"Oo, baiklah nyonya." Ucapnya lagi dengan sopan dan berlalu pergi meninggalkan kamar majikannya itu.


Malam ini Santi makan malam seorang diri. Ia terlihat tidak berselera sama sekali. berkali-kali ia menatap pintu masuk dan jam dinding di ruangan meja makannya. berharap suaminya pulang dan langsung ikut bergabung di meja makan bersamanya. namun, hingga habis makana di piringnya, suaminya tidak kunjung kembali juga.

__ADS_1


"Tidak seperti biasanya. kenapa selarut ini? apa pekerjaan nya hari ini sangat banyak? atau dia marah karena sikapku?" Ucapnya kwatir sambil berlalu meninggalkan meja makan dan menuju pintu keluar rumah, lalu di bukanya dan Ia keluar menunggu suaminya di teras depan rumah nya.


Beberapa menit kemudian, Ia merasa kedinginan, karena Ia tidak menggunakan jaket. kemudian Ia masuk ke dalam rumah dan berniat untuk menunggunya di dalam kamar saja. sesampainya di kamar Ia merasa bosan dan memilih duduk di sofa kemudian Ia menyalakan Televisinya.


__ADS_2