
Mang Dudung yang melihat Aldo yang terus tertawa tanpa henti sedangkan Basti yang terlihat panik dan kebingungan lantas ia memberanikan untuk bertanya kepada tuannya tersebut.
"Ada apa dengan Aldo Tuan? kenapa dia tertawa sampai segitunya?" Tanya Mang Dudung kepada Bastio.
"Entahlah, setelah memakan roti aneh ini dia menjadi seperti ini." Jawab Bastio sambil mengernyitkan dahi dengan jari telunjuk nya mengarahkan ke piring yang berisikan ubi kayu rebus itu.
"Aneh, memangnya kenapa dengan makanan seenak ini?" Ucap Mang Dudung sambil mengambil sepotong ubi, dan segera ingin melahapnya.
"Stop! Jangan di makan! ini pasti ada racunnya. jangan di makan rotinya itu!"
Ucap Bastio kepada Mang Dudung memberikan perintah agar tidak jadi memakan ubi kayu rebus tersebut sambil melambai-lambaikan tangannya memberi isyarat.
Aldo yang awalnya mulai sedikit berhenti tertawa, melihat sikap Bastio dan mendengar pembicaraan antara Bastio dan Mang Dudung menjadi melanjutkan tertawanya dengan semakin tertawa terpingkal-pingkal hingga berguling-guling di lantai.
Mang Dudung memasang wajah kebingungan sambil membolak-balikkan ubi kayu yang ada di tangannya. setelah berkali-kali di bolak-balik kan Ia pun tidak tahan menahan seleranya, dan akhirnya sepotong ubi rebus telah di nikmati oleh Mang Dudung dengan sekali memasukkan ke dalam mulutnya.
"Tidak mungkin ubi ada rancunya. kalau ada racunnya pasti Aldo koit bukan nya malah tertawa seperti ini. pasti ada yang tidak beres, hmmm, biarkan saja yang penting makan ubi, lama sekali aku tidak memakannya." Gerutu Mang Dudung di dalam hatinya.
Sementara itu Bastio terus saja memperhatikan wajah dan gerak gerik Mang Dudung, dari atas sampai bawah. melihat perkembangan setelah memakan ubi kayu rebus tersebut.
"Tidak terjadi apa-apa?" Gerutu Bastio sambil memperhatikan Mang Dudung. sementara Mang Dudung sudah melahap dua potong ubi rebus dan akan mengambil nya lagi untuk yang ketiga kalinya.
"Stop! ini tinggal bagianku!" Ucap Bastio kepada Mang Dudung sambil memukul punggung tangan Mang Dudung yang hendak mengambil ubi rebus tersebut. kemudian Bastio mengangkat piring yang berisikan ubi rebus tersebut ke arah badannya dan melahapnya seperti anak kecil yang takut tidak
kebagian jatah.
"Loh...loh... si Manang juga masih mau Den? Aden tidak usah memakan nya itu kan ada racunnya, nanti kalau Aden keracunan terus mati gimana? sini untuk saya saja, kalau saya yang mati tidak apa-apa, saya kan sudah tua."
__ADS_1
"Enak saja, ternyata kalian berdua mengerjai saya!" Ucap Bastio menggerutu.
"Aduuuh,... udah dong Mang, cukup ampun. sudah tidak kuat lagi Aldo tertawa." Ucap Aldo ngos-ngosan menahan tawanya, sambil terduduk lesu di pojokan rumah nya tersebut.
"Hahaha, memang dasar anak muda." Jawab Mang Dudung Santai dengan posisi berdiri dengan melipatkan kedua tangannya di atas perut.
Beberapa menit kemudian, Icha sudah selesai memasak untuk sarapan pagi ini. Icha memanggil Aldo untuk mengajak Bastio dan Mang Dudung untuk sarapan pagi.
Setelah mereka sarapan bersama Bastio berniat akan pergi ke rumah sakit menemui Santi, Ia mengajak Aldo sekalian untuk mengambil motornya yang sedang di perbaiki di bengkel.
Icha sebenarnya ingin ikut ke rumah sakit, namun Bastio menolak nya, supaya tetap di rumah. untuk menjaga kesehatan nya, karena jika malam ini Santi masih belum bisa pulang, maka, Icha di minta untuk bergantian menjaganya nanti malam dengan ayah dan ibunya.
Icha merasa kecewa, namun Ia berfikir benar juga apa yang di katakan oleh Bastio. kalau sempat kakaknya Santi malam ini masih menginap di rumah sakit, maka kasihan kepada ayah dan ibunya yang sudah tua harus berjaga kembali, dan sudah pasti mereka bergadang sepanjang malam.
Bastio berangkat ke rumah sakit di temani oleh Mang Dudung. sebelumnya mereka bertiga dengan Aldo, karena Aldo yang akan sekolah hari ini jadi Ia tidak bisa menemaninya sampai di rumah sakit, dia hanya menggambil motornya saja. sementara itu Bastio juga menyempatkan diri untuk pulang ke Fila untuk menggambil baju gantinya. Bastio juga tidak lupa menyuruh Mang Dudung membelikan sarapan pagi untuk ayah dan ibunya Santi. di perjalanan Ia menerima panggilan dari Mbok Minah.
"Iya Mbok, ada apa?" Tanya Bastio setelah menekan tombol biru.
"Assalamualaikum Den? apa kabarnya? gimana pencarian nya apa sudah ada hasilnya?" Tanya Mbok Minah kepada majikan mudanya dengan nada lembut.
"Waalaikum salam Mbok, Maaf belum sempat memberi kabar. Tio baik. Santi juga sudah ketemu." Jawab Bastio kepada Mbok Minah.
"Alhamdulillah, akhirnya. syukurlah kalau begitu Den. sekarang dia dimana? boleh Simbok ngobrol sama Santi?" Ucab Mbok Minah dan kemudian Ia meminta kepada Bastio untuk mengobrol dengan Santi.
"Ummmm, Tio masih di perjalanan Mbok, sedang tidak bersamanya. nanti saja kalau sudah sampai, Tio terfon Simbok." Jawab Bastio kepada Mbok Minah.
"Oo, baiklah. jangan lupa sampaikan salam Simbok mu ini ya? terutama kepada orang tuanya Santi."
__ADS_1
" Iya.., sudah ya Tio tutup telfonnya." Ucap Bastio kepada Mbok Minah.
"Baiklah, jangan lupa jaga kesehatan! cepat pulang. assalamualaikum," Jawab Mbok Minah.
"Baiklah, Waalaikum salam." Ucap Bastio mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Bastio sudah sampai di rumah sakit Bakti Medika. tempat Santi di rawat. sesampainya di sana Bastio langsung masuk ke gedung rumah sakit tersebut menyusuri setiap koridor menuju ruangan Santi di rawat.
Sesampainya ternyata Bastio sudah di tunggu oleh ayah Santi. ayah Santi mengajak nya duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Nak Tio, maaf sebelumnya. bapak tidak bisa berlama-lama di sini, bapak harus bekerja. maaf sekali lagi, bapak dan ibu memang tidak bisa meninggalkan pekerjaan bapak. lagipula bapak harus membicarakan sesuatu yang penting kepada bos bapak."
" Apa nak Tio bisa bapak tinggal, nanti sore sepulang kerja bapak Sama ibu pasti akan langsung kemari, iya kan Bu?" Ucap Ayah Santi kepada Bastio yang juga meminta persetujuan dari istrinya tersebut, dan kemudian dianggukkan oleh istrinya tanda setuju.
"Ummm, bekerja ya? membicarakan sesuatu," Ucap Bastio sambil berdecak dan seakan memikirkan sesuatu, Namun dengan gaya tenang.
"Iy... iya, apa nak Tio kebenaran?" Tanya ayah Santi kepada Bastio.
"Tidak. bukan itu masalah nya." Jawab Bastio tenang.
"Lalu apa?" Tanya ayah Santi yang tidak mengerti dengan maksud Bastio.
"Masalahnya ya? saya mau bapak tidak usah bekerja lagi, dan kalau boleh saya minta, jangan berhubungan dengan Manusia licik seperti juragan Yoko." Jawab Bastio dengan gaya yang masih tenang, Namu tetap sopan.
" Maksud nak Tio?" Tanya ayah Santi yang semakin penasaran.
"Maksud saya, bapak sama ibu tidak perlu bekerja tanpa upah untuk melunasi hutang piutang lagi. karena saya sudah membereskan semuanya.
__ADS_1