TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Selamat Ulang Tahun


__ADS_3

"What...? Ke kampung Santi?" Ulangnya Dimas terkejut mendengar Mita mengucapkan kampung Santi.


"Kenapa? (expresi tidak suka) sudah tidak ada komentar, hubungi Bastio sekarang juga." Perintahnya seraya menghubungi seseorang kembali. entah untuk yang ke berapa kalinya Mita melakukan panggilan telepon nya tersebut. soalnya selama perjalanan, Mita selalu sibuk dengan ponselnya dan selalu berbeda orang yang di hubunginya. bahkan dia tidak ada kesempatan untuk berbicara kepada Dimas. hanya sesekali saja, Mita mengarahkan jalan yang akan di lalui nya. sementara di bayangan nya Dimas, Mita saat ini sengaja mengajaknya untuk berlibur ke suatu tempat. dan saat ini Mita sedang sibuk menelfon dan menghubungi teman-temannya atau saudaranya untuk di ajaknya bergabung dalam liburannya itu.


"Ok. oke terimakasih. bay..?" Ucap Mita mengakhiri panggilan telepon nya. sementara Dimas masih berusaha menghubungi Bastio namun tidak dapat tersambung karena jaringan sibuk.


"Jika ini ulahmu, aku tidak akan memanfaatkan mu. dasar brengsek, bedebah, kau benar-benar manusia licik yang pernah aku temui." Umpat Mita emosi sambil berteriak.


Dimas tidak tahu harus berbuat dan bicara apa. dia takut salah bicara. karena melihat kondisi Mita, sepertinya Mita sedang tidak baik-baik saja. akhirnya Dimas hanya fokus dalam mengemudikan mobilnya.


"Apa sudah bisa kau hubungi Bastio?" Tanya Mita setelah tersadar dan bisa mengontrol emosinya.


"Belum bisa, nomornya sibuk terus." Jawabnya gugub.


"Baiklah. biar aku hubungi saja. tolong kau percepat laju mobilmu." Ujarnya seraya mengambil telepon miliknya dan berniat menghubungi Bastio. namun, saat Mita hendak memencet tombol panggilan keluar, Nomor Bastio lebih awal muncul menghubunginya. dan Mita pun tak menunggu lama, langsung menekan tombol hijau untuk menerima panggilan telepon tersebut.


"Halo Bas, tolong sekarang juga kau susul istrimu ke kampung! dan tolong kau usahakan jangan mengendarai mobil sendiri. kau bawa saja supir." Ucap Mita tanpa basa-basi.


"Ada masalah apa?" Tanya Bastio penasaran.


"Sudahlah, tidak usah banyak tanya, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, karena aku sendiri tidak yakin. kau susul kami saja, dan kau akan tau sendiri nanti." Ujarnya seraya mengahiri panggilan telepon Bastio, karena merasa kelelahan, kemudian Mita menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya dan bersandar di kursi mobil.

__ADS_1


Sementara itu, mobil Diki yang membawa Bastio yang sebentar lagi sudah memasuki area perumahannya pun, di minta oleh Bastio untuk putar balik dan memintanya melajukan mobilnya untuk langsung berangkat ke kampung Santi.


"Apa kau bercanda? sekarang juga kita ke kampung Santi?" Tanya Diki kepada bosnya setelah mendengar permintaan bosnya tersebut.


"Apa kelihatan nya aku sedang bercanda?" Tanya Bastio balik kepada Diki dengan tatapan mematikan.


"Yaaa- ya -ya, baiklah, Tapi bisa kau menjelaskannya, kenapa kita ke sana?" Tanya Diki kembali.


"Tidak ada penjelasan yang akurat untuk saat ini." Tegasnya dengan memasang wajah kesal akibat ulah sahabatnya itu.


"Hmmmmm, ok. santuy saja lah..." Jawabnya tanpa memperdulikan bosnya yang mulai terbakar emosi akibat ulahnya.


"Apa kau gila?" Teriak Bastio melihat tingkah sahabatnya.


"Diamlah! aku sedang fokus." Jawabnya serius dan masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


***


Di tempat lain


Santi sudah sampai di rumah lamanya. setelah Ia membayar taksi dengan biaya yang cukup fantastis, Ia kemudian berlari menuju rumah lamanya dan langsung masuk ke dalam rumahnya tersebut.

__ADS_1


Keadaan rumah lamanya dan rumah baru yang berada di seberang terlihat sepi. seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. seperti rumah kosong tanpa ada penghuninya sama sekali. kemudian kedua rumah itu juga tampak gelap seperti tidak mendapat aliran listrik di dalamnya.


"Apa yang terjadi? kenapa seperti tidak ada orang di sini? apa aku terlambat, tidak mungkin." Gumam Santi dalam hati setelah memasuki halaman rumah nya dengan langkah ragu.


"Yah... Ayah? Icha? Aldo? Kakak sudah pulang, ayo buka pintunya?" Teriak Santi seraya menggedor-gedor pintu rumah lamanya.


Saat Santi semakin kuat menggedor pintu rumahnya dengan kekuatan penuh. pintu rumah itu malah terbuka dengan sendirinya. tanpa pikir panjang, Santi langsung berlari memasuki rumah nya dengan perasaan berkecamuk di dalamnya.


Setelah Santi memasuki rumahnya, alangkah terkejutnya ia. Ia melihat ke sekeliling rumahnya itu tampak bersih dan rapi. masih seperti semula, namun terlihat sedikit agak berbeda. di lantai terdapat taburan bunga mawar merah yang di susun berbentuk hati. kemudian di setiap sudutnya juga di taburi bunga mawar, namun dengan beraneka macam warna dari bunga mawar tersebut. kemudian untuk menuju ke taburan bunga mawar tersebut, di kelilingi oleh lilin membentuk sebuah anak panah untuk melewati nya. sungguh pemandangan yang sangat indah dan romantis.


Kemudian Santi melihat ke arah sudut ruangan terdapat sebuah meja dan dua kursi yang sepertinya sudah di susun kian sebelum kedatangan nya. Santi berjalan mendekati meja tersebut. Ia melihat di atas meja itu tersusun beberapa makanan mewah yang masih hangat seperti baru di hidangkan. dan di tengah meja ada sebuah penutup kecil berbentuk kerucut dan berlapiskan pernak pernik permata tiruan. entah apa isi di dalamnya, karena sepertinya itu sangat rahasia. dengan kondisi yang masih tertutup dengan baik.


Santi menyentuh meja hidangan dan berjalan meninggalkan meja tersebut menuju ke taburan bunga mawar tersebut. dengan berjalan menyusuri anak panah yang terbuat dari susunan lilin. ketika Santi sudah berada di tengah tepatnya di depan taburan bunga mawar tersebut, tiba-tiba lampu hiasan warna warni hidup menghiasi redupnya ruangan yang gelap hanya mendapat sedikit pantulan dari cahaya lilin saja. lampu hias tersebut berada di dinding ruangan tersebut. lampu hias itu menyala bergantian naik turun. Santi kemudian memperhatikan dinding itu dengan seksama. Ia menangkap sebuah tulisan di sana yang bertuliskan "Selamat Ulang Tahun". Santi terbelalak melihat surprise yang di siapkan untuknya.


"Ibu, Ayah, kenapa kalian melakukan ini? aku sungguh khawatir, malah kalian menyiapkan ini." Ujarnya sambil tersenyum dengan menutupi mulutnya dengan mata berkaca-kaca.


"I love you so much my mother and father. I love you (terharu hingga tak terasa air matanya menetes). I love you my family, love you." Ucapnya sesenggukan.


"Ayah, Ibu..., keluarlah! kalian pasti sudah tau kalau aku Sudah pulang. aku ingin memeluk kalian." Ujarnya sambil menangis dan terseyum bahagia.


Tidak ada sautan dan tidak ada yang muncul dari dalam rumah tersebut. suasananya masih seperti semula, hening dan sunyi sepi hingga beberapa saat suasananya masih tetap sama, membuatnya menjadi penasaran.

__ADS_1


__ADS_2