
Keesokan harinya, Bastio menepati janjinya, Ia menikahi Santi. angggap saja samereka menikah secara diam-diam yang di laksanakan di musholla terdekat, tidak ada sanak saudara ataupun kerabat yang menghadiri hanya Mbok Minah dan Diki sekretaris sekaligus sahabatnya yang ikut menyaksikan pernikahan tersebut. secara agama kini mereka berdua telah sah menjadi suami istri. tidak ada yang sepesial dalam pernikahan itu, tapi entah mengapa Santi begitu gugup saat ijab Kabul di lantunkan oleh Bastio.
Selesai sudah acara yang digelar hari ini, Bastio dan Diki langsung bergegas menuju kantornya, karena terlalu banyak nya pekerjaan yang harus Ia selesaikan. sementara Santi dan Mbok Minah kembali pulang ke rumah bersama dengan supirnya Mang Dudung.
" Apa bos tidak ingin cuti dulu? Ini kan hari sepesial mu?" Ucap Diki kepada sahabatnya yang sedang mengemudikan mobilnya tersebut.
"Sejak kapan kau mengurusi urusan pribadiku?" Jawabnya ketus dengan memainkan ponselnya di samping sahabatnya tersebut.
"Ups salah ngomong rupanya aku ya?" Ucapnya sambil tersenyum mengejek sahabatnya itu.
Hari ini berlalu sangat cepat, Bastio yang di sibukkan oleh pekerjaan yang sempat Ia tinggalkan beberapa hari terakhir membuat nya kewalahan di hari ini. selain harus menandatangani berkas-berkas yang sudah menunggunya juga harus melaksanakan beberapa rapat yang sempat tertunda sebelumnya. terhitung ada tujuh rapat yang telah usai hingga jam menunjukkan pukul dua puluh nol-nol. Bastio benar-benar kelelahan saat ini. masih ada tiga rapat yang belum terselesaikan. karena mengingat waktu yang tidak memungkinkan Ia memutuskan untuk melanjutkan di keesokkan harinya.
Karena saking kelelahan Bastio memutuskan untuk beristirahat sebentar di kantornya dan tentu saja di temani oleh sahabatnya dan beberapa karyawan yang sengaja mempersiapkan perlengkapan dan apa saja yang di butuhkan untuk rapat hari esok.
Satu jam telah berlalu, beberapa karyawan satu persatu sudah mulai undur diri untuk pulang dan beristirahat ke rumah mereka masing-masing. kini hanya tinggal Bastio dan Diki. Bastio yang sudah merasa cukup lebih baik dari sebelumnya, Ia pun memutuskan untuk mengajak Diki pulang, yang kemudian di setujui oleh sahabatnya tersebut.
Mereka kembali pulang bersama dengan menggunakan mobil yang sama ketika mereka berangkat tadi. Bastio terlihat sangat kelelahan sekali.
Sesampainya di rumah Bastio segera masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya, sesampainya Ia tidak menemukan Santi di sana. sementara kamar terlihat sangat rapi seperti ketika ia meninggalkannya pagi hari tadi.
__ADS_1
"Kemana dia? kenapa malam-malam begini belum tidur, tidak ada di kamar lagi." Gumam Bastio dalam hatinya.
Bastio meletakkan tas dan jasnya di atas sofa, lalu Ia melonggarkan dasinya dan berniat untuk membuka kemejanya.
"Baru pulang?" Tanya Santi kepada Bastio yang tiba-tiba muncul dari arah balkon kamarnya, dan kemudian segera mengambil jas dan tasnya Bastio untuk di letakkan ke tempatnya.
"Iya, kenapa belum tidur?" Tanya Bastio kepada Santi sambil berbalik mengarahkan tubuhnya ke arah Santi.
"Ak.. aku menunggumu." Jawabnya gugub, tidak berani menatapnya.
"tidak perlu, lain kali tidak usah menungguku, kau istirahat saja. kesehatanmu lebih penting, ingat itu." Ucap Bastio kepada Santi yang menatapnya dengan lembut.
"Uhmmm, ( menarik nafas dalam-dalam seakan tau apa yang akan di katakan oleh istrinya tersebut) bisa kau simpan dulu, aku sedang tidak ingin mendengarnya. aku cukup lelah hari ini." Berlalu meninggalkan Santi ke kamar mandi untuk membersihkan diri yang sedang menundukkan kepalanya terlihat sangat ketakutan terhadap dirinya.
"Istirahatlah! tak usah memikirkan yang tidak-tidak" Ucap Bastio dingin kepada Santi yang sudah berada di depan pintu kamar mandinya.
"Ba.. baiklah." Ucap Santi kemudian bergegas menuju kasurnya, dan merebahkan tubuhnya di sana dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut hanya menyisakan kepalanya saja.
Ketika Ia hendak memejamkan matanya, Ia teringat bahwa Bastio saat ini sedang mandi, Ia kemudian kembali bangkit untuk mempersiapkan pakaian Bastio dan meletakkan nya di atas meja dekat sofa. setelah itu barulah ia kembali berniat untuk tidur.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Bastio sudah selesai mandi. Ia kembali ke kamarnya dan mendapati Santi yang sudah tertidur membelakangi nya. Entah mengapa ada rasa aman jika Bastio melihat Santi sedang tertidur seperti ini
Bastio memakai pakaian yang di siapkan oleh Santi, setelah itu ia menghampiri istrinya dari belakang dan mencium aroma tubuhnya tanpa menyentuhnya. kemudian Ia bangkit mematikan lampu kamar dan bergegas menuju ruang kerjanya meninggalkan istrinya sendiririan di sana. karena saat ini, Ia harus menyelesaikan pekerjaannya tersebut.
Ternyata Santi belum benar-benar tertidur, bahkan Ia dapat merasakan kehadiran Bastio berada di dekatnya tadi. ketika Bastio berada sangat dekat dengannya tadi, Ia begitu ketakutan dan merasakan sekujur tubuhnya bergetar. hingga tidak terasa keluar keringat dingin nya. untung saja Bastio tidak menyentuhnya. Ia tidak bisa membayangkan jika sampai Bastio menyentuhnya saat ini, mungkin Ia bisa copot jantung nya dengan seketika pada waktu itu juga. ya meskipun saat ini mereka sudah sah menjadi suami istri, Namun, Santi benar-benar tidak bisa dan belum siap. mengingat pernikahan mereka yang terjadi akibat dari sebuah kesalahan.
Dua jam telah berlalu, Namun, Bastio tidak kunjung datang kekamarnya. lagi-lagi ada rasa kekhawatiran yang muncul di hatinya Santi. Ia lalu bangkit dan mengintip ke ruangan kerjanya Bastio yang kebetulan tidak dikuncinya dan berada masih dalam satu kamarnya yang hanya di batasi dengan sekatan dinding saja.
Ia melihat Bastio yang masih sibuk dengan layar komputer nya, dari raut wajahnya, terlihat sangat melelahkan sekali. melihat hal itu, Santi akhirnya bergegas menuju dapur dan membuatkan kopi untuk Bastio. entah mengapa ia begitu peduli dan perhatian kepada Bastio.
Setelah kopi selesai, Santi membawanya ke pada Bastio ke ruangannya. sesampainya Santi meletakkan kopi tersebut di atas meja depan Bastio. Bastio yang terlalu sibuk dengan pekerjaan nya tidak menyadari keberadaannya Santi yang tiba-tiba meletakkan kopi di hadapannya pun terbengong.
"Bukanya kau sudah tidur?" Tanyanya keheranan.
"Aduuuh, mati que. benar juga, setahunya dia kan aku sudah tidur." Gumam Santi di dalam hati
"I.. iya, tiba-tiba aku terbangun dan melihat lampu ruangan ini masih menyala. ku kira anda lupa mematikannya. makanya aku datang. rupanya anda ada masih di ruangan ini dan masih bekerja. ku lihat anda sangat mengantuk, jadi saya pikir kopi ini bisa menemani anda." Jawabnya gugub dan asal bicara, karena Ia tidak tau harus berbicara apa. karena jika Ia jujur bahwa sebenarnya Ia belum tidur pun tidak mungkin. makanya ia mencari alasan.
"Oooo, baiklah terimakasih. kau lanjutkan kembali tidurmu, aku masih sibuk." Jawabnya dingin, tanpa melihatnya Sama sekali kearah Santi.
__ADS_1