TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Berdebat


__ADS_3

" Ba,.. Baiklah Bu, terimakasih atas informasinya, kalau begitu saja pamit pulang ke rumah dulu. sekali lagi terimakasih? " Ucap Santi dengan menutupi rasa gugupnya tersebut.


Santi meninggalkan rumah tetangganya tersebut dan berjalan gontai menuju kerumah nya sendiri. di sepanjang jalan Ia terus berfikir, dan berbicara sendiri di dalam hatinya tersebut.


"Untuk apa ayah sama ibu terutang uang sama juragan itu?"


"Apa masih kurang uang yang selama ini akun kirim kan ke mereka, padahal uang gajiku itu kan termasuk sudah lumayan cukup besar, kenapa masih meminjam uang lagi sih? belum lagi selama aku bekerja di rumah keluarga Admaja, aku selalu mendapat bonus besar. bahkan bonus itu juga aku tidak pernah memotong nya,"


"Hmmmmm, entahlah, oh ayah ibu, kenapa hidup kita serumit ini sih?" Santi terus saja bergumam dalam hati dengan penuh rasa tanda tanya.


Karena Santi tidak memiliki kunci cadangan rumah nya sendiri, Ia pun memutuskan untuk menunggu keluarganya di teras rumah nya. mengingat pesan dari tetangganya kalau adik-adik nya sebentar lagi akan pulang.


Santi masih terus termenung sambil berfikir di kursi panjang yang berada di depan rumahnya tersebut sambil menunggu kepulangan keluarga nya.


"Kakak? benarkah ini kakak?" Tiba-tiba Santi di kejutkan oleh suara Icha adiknya yang baru saja sampai.


"Eh.. kalian, sudah pulang ya?" Ucap Santi kemudian.


"Iya kak. Kakak kapan sampainya? ko gak ada kabari kita dulu sih, biar kita bisa jemput kakak atau menunggu kakak biar kami tidak kerja. kakak pasti capek ya menunggu kita pulang?" Timpal Icha yang kemudian langsung mengambil kunci rumah dan membukakan pintu nya tersebut.


"Hmmm kurang lebih satu jam setengah kakak sudah sampai." Jawab Santi.


"Kakak lapar tidak? kita tadi cuma beli nasi dua bungkus saja. kita kan gak tau kalo kakak pulang."


"Tapi gak papa kak, kita makan barengan saja ya, lagian nasinya banyak kok, pasti cukup untuk kita bertiga. kakak kalau makan masih sedikit kan? kakak masih diet kan,hehe." Gurau Aldo adik lelakinya yang paling kecil.


"Apaan sih, untuk apa kakak diet coba? memangnya kalau makan kita dikit terus di bilang diet gitu? belum tentu," Timpal Santi kepada adiknya tersebut.

__ADS_1


"Kakak masuk ke kamar dulu ya? kalian makan makanan kalian dulu, kakak mau meluruskan punggung kakak dulu, kram semua nih." Sambung Santi sambil berlalu meninggalkan kedua adiknya kekamarnya.


"Oooo iya kalian habis kan saja makanannya, kakak masih kenyang. tadi sudah makan di jalan sama penumpang yang lainnya." Santi menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk kamarnya tersebut sambil memutar kan badanya ke samping dengan tangan kanannya memegang handel pintu.


"Oo Ok kak. thanks you? tau saja kalau kami sangat lapaaar. "Jawab Aldo kegirangan.


"Hmmm dasar rakus," Ucap Icha yang tiba-tiba muncul dari dapur sambil membawa dua piring di tangannya.


"Biar, dari pada pura-pura alias malu- malu kucing. toh akhirnya gak kenyang. week." Ejek Aldo kepada kakaknya tersebut.


"Plak, " Icha geram sambil memukul kasar pundak adik laki-lakinya tersebut.


"Aooo. sakit tau gak sih? datang-datang main pukul aja!." Gerutu Aldo kepada kakaknya Icha.


"Kamu kayak gak tau kak Santi aja, dia itu pasti lah belum makan. kamu masih ingat tidak, demi kita kak Santi rela membagi kan makanan nya untuk kita berdua. padahal kita sama-sama tau kalo kak Santi belum makan. dan akhirnya seharian kak Santi tidak makan sama sekali." Protes Icha kepada adiknya Aldo tersebut.


"Udah dong kak, jangan mulai lagi deh, gara-gara itu, jadi gak nafsu makan nanti aku." Rengek Aldo.


" Udah dong, kalian ini apa-apa an sih? tinggal makan saja masih berdebat. kayak anak kecil saja."


"Sudah kakak bilang, kakak sudah makan. kakak juga masih kenyang. jadi habiskan saja makanan kalian ok! dan ingat jangan berisik kakak mau istirahat. Tambah Santi dari balik kamarnya tersebut.


"Ok kak. beres...." Jawab Aldo penuh kemenangan.


Aldo dan Icha menghabiskan makanannya. setelah itu mereka berdua membereskan rumah bersama-sama. Hal seperti itu bukanlah hal yang baru atau pertama kalinya, Namun keluarga Santi memang sudah terbiasa dengan kerja sama dalam pekerjaan rumah atau yang lainnya.karena itulah yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya.


Icha dan Aldo membagi tugas dan mengerjakan tugasnya masing-masing, karena sudah terbiasa mereka dengan mudah dan cekatan dalam menyelesaikan tugasnya tersebut.

__ADS_1


Kedua orang tuanya juga tidak ada sistem pilih kasih. meskipun Aldo ank laki-laki satu-satunya di rumah tersebut. namun tetap saja memiliki peran dan kedudukan yang sama dengan anak perempuan yang lainnya.


Itulah sebabnya mereka bertiga selalu hidup rukun. meskipun ada perselisihan atau pertengkaran dalam keseharian mereka, namun mereka tetap berbaikan kembali seperti tidak ada masalah sama sekali.


Kalau masalah berdebat hampir setiap jam Icha dan Aldo berdebat, tetapi mereka pada akhirnya akan akur dengan sendirinya.


*Di kediaman Bastio*


Bastio merebahkan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya. Ia merasa bosan, akhirnya Bastio memutuskan untuk keluar kamar dan turun ke ruang tengah.


Seperti biasanya Bastio memperhatikan pintu kamar Santi yang kebetulan kamarnya berada di sisi samping kiri dekat ruang tengahnya tersebut.


Bastio duduk di sofa sambil terus memandangi pintu kamar Santi tersebut. sambil memikirkan sesuatu.


"Kenapa dari tadi, kupikir kamar itu seperti tidak berpenghuni?" Gumam Bastio dalam hatinya.


"Aah mungkin itu perasaan ku saja."


Bastio berbaring di atas sofa kemudian, mengambil ponselnya dan memainkan nya. namun baru beberapa menit Ia juga merasa sudah bosan. Ia pun meletakkan ponselnya tersebut di atas meja kaca yang berada di sebelah nya tersebut.


"Kenapa rumah ini terasa sangat sepi ya? Andai saja aku punya saudara pasti aku tidak akan kesepian."


" Hmmm kemana Mbok Minah? pasti dia ada di kamarnya, aku susul sajalah. sudah lama juga aku gakk ngobrol bareng sama Mbok Minah."


Bastio beranjak dari tempatnya, Ia pun bergegas menuju kamar Mbok Minah yang sudah di anggapnya seperti orang tuanya sendiri itu.


" Mbo? Simbok ngapain?" Tanya Bastio yang melihat Mbok Minah duduk di tempat tidurnya sambil memijat kedua kakinya tersebut.

__ADS_1


"Eeeh Den Tio, ada apa Den? apa ada yang Aden minta?" Ucap Mbok Minah yang seketika menghentikan memijat kakinya dan hendak turun dari tempat tidurnya tersebut.


"Jangan, jangan Mbok, Simbok gak usah turun. Tio gak minta sesuatu kok Mbok, Tio kemari cuma ingin ngobrol sama Mbok, kan sudah lama kita gak ngobrol bareng karena Ahir-ahir ini Tio sibuk terus." Sambil mengerutkan keningnya Bastio berjalan mendekati Mbok Minah.


__ADS_2