TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Syakira Sbastiani Admaja


__ADS_3

"Aku tidak sanggup, kita rujuk saja ya, kita ambil jalan operasi saja." Ujarnya seraya meraih tangan istrinya dan mengecup punggung tangannya berkali-kali dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak perlu, karena tinggal sedikit lagi. lagi pula, kondisi ibunya baik dan ibunya juga cukup kuat. jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan." Ucap Dokter memberi penjelasan kepada Bastio yang mendengar pembicaraan nya dengan istrinya sambil tersenyum.


"Berikan yang terbaik untuk istri dan anak saya dokter!" Ucap Bastio memelas.


" Itu sudah pasti, Bapak tenang saja. tenang kan pikiran anda. ibunya saja semangat, kenapa bapak panik." Ledek dokter kepada Bastio untuk menyemangati nya.


"Dokter? sakit lagi dokter." Ucap Santi dengan mengatur nafasnya berlahan-lahan.


"Baiklah, ibu sudah siap?" Tanya dokter dengan sigap. dan di anggukkan kepala oleh Santi tanda siap. sementara Bastio berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlihat gugub dengan keringat yang sudah membasahi tubuhnya.


"Bagus, dengarkan aba-aba dari saya, hitungan ketiga dorong ya Ibu!... satu, dua tiga!" Aba-aba dari dokter dan sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh dokter Santi menurutinya, dan akhirnya terdengar suara tangisan seorang bayi. sehingga membuat semua orang yang berada di ruangan baik di dalam maupun luar ruangan pun tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur.


"Alhamdulillah...." Ucap Mbok Minah dan Mita yang mengintip dari balik pintu kaca ruangan persalinan Santi.


Sementara itu Bastio, langsung memeluk istrinya sambil mengecup seluruh wajah istrinya dengan tanpa henti mengucapkan terima kasih kepada istrinya dan mengucapkan rasa syukurnya.


Santi terlihat sangat lelah, tetapi juga bahagia karena akhirnya putrinya dapat terlahir ke dunia dengan selamat, sehat, utuh dan terlahir sempurna tidak kurang dari suatu apapun.


Setelah suster membersihkan bayi Bastio dan Santi, Ia pun kemudian memberikan bayi itu kepada mereka berdua. kemudian Mbok Minah dan Mita juga sudah di perbolehkan untuk melihat dan masuk ke dalam ruangan persalinan Santi. mereka semua sangat bahagia dalam menyambut kehadiran bayi Bastio dan Santi.


"Lihat matanya seperti matamu, bulat." Ucap Bastio kepada istrinya.


"Iya, tapi hidungnya seperti hidungmu." Jawab Santi seraya memegang hidung bayinya.


"Eits..., udah dong! ada yang kepanasan ni. sini gantian kami yang menggendong bayinya, iya kan Mbok?" Ucap Mita yang merasa cemburu melihat kebahagiaan mereka berdua.

__ADS_1


"Hahaha,... kau ini, masih juga cemburu." Jawab Santi terkekeh.


"Biar! bawa sini keponakan ku? memangnya kalian saja yang mau menggendongnya" Ucap Mita yang merebut banyi Santi dari gendongan nya. sementara Mbok Minah dan Bastio yang melihat tingkah Mita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.


"Hallo cantik? keponakan Tante?" Sapa Mita kepada banyi mungil yang berada di gendongannya.


"Apa kalian sudah mempersiapkan nama untuk keponakanku ini?" Tanya Mita bersemangat.


"Tentu saja." Jawab Santi santai.


"O ya, siapa namanya?" Tanya Mita antusias.


"Syakira Sbastiani Admaja." Jawab Bastio mantap.


" Ooo...Cooswetet, perpaduan nama yang bagus." Jawabnya gemas sambil mengecup pipi mungil baby Syakira.


Dari pertemuan pertamanya antara Mita dan Dimas, sepertinya Dimas terlihat tertarik kepada Mita. sehingga membuatnya menanyakan perihal Mita kepada Bastio. karena Bastio yang tidak tau apa-apa tentang Mita, tentu saja Bastio tidak bisa membantu sahabatnya tersebut. Bastio hanya bilang, kalau Mita adalah sahabat istrinya. sejak saat, Dimas juga sengaja sering datang berkunjung ke rumah Bastio. hanya sekedar ingin melihat Mita dan mencuri-curi pandang serta kesempatan.


"Lihatlah sayang, Mamamu benar-benar keterlaluan. masak Tante mu ini tidak boleh membawa mu pulang. padahal Tante sangat menyayangi mu dan ingin terus melihat mu setiap hari. masak iya Tante setiap hari harus kemari." Gerutu nya kepada putri mungil Santi dengan cemberut.


"Apa? kau mau membawa putriku pulang? enak saja, kau buat sendiri saja sana." Ujar Bastio yang tiba-tiba datang bersama dengan Dimas.


"Hei, siapa yang berbicara denganmu? kau sama saja dengan istrimu. pelit. kau pikir buat anak mudah." Celetuk Mita tidak terima dengan ucapan Bastio.


"Mudah. tinggal cari pasangan. mumpung ada yang bersedia denganmu." Jawab Bastio terkekeh sambil melirik sahabatnya Dimas yang berada di sampingnya.


"Apa?" Teriak Mita tidak terima.

__ADS_1


"Hei, sudahlah berhenti bertengkar. apa kalian tidak bosan bertengkar setiap jumpa. ayo kita makan siang bersama, mumpung masih hangat." Ucap Santi yang mulai menghidangkan makanan tidak jauh dari tempat mereka.


"Jangan terlalu capek sayang?" Ucap Bastio yang berjalan kearah istrinya dan kemudian mengecupnya setelah sampai.


"Lihatlah Papa Mamamu, seakan sengaja pamer kemesraan kepada Tante. membuat jomblo Tante meronta-ronta huhuuuu." Ucap Mita mengadu kepada bayi mungil. sehingga membuat Bastio dan Santi tertawa. dan membuat Dimas berdehem.


"Hei kalian kan sama-sama jomblo, kenapa tidak bersama saja?" Ledeknya Bastio kepada keduanya. sehingga membuat Dimas menjadi salah tingkah dan Mita terbelalak.


"Ekspresi apa itu? kenapa tidak di coba saja mana tau cocok." Ucap Bastio lagi.


"Benar juga." Ucap Mita di dalam hati sambil tersenyum licik.


Mereka makan siang bersama. Bastio terlihat manja kepada istrinya. Ia meminta kepada istrinya untuk menyuapinya. di depan teman-temannya. tentu saja membuat kedua temannya itu merasa iri tapi juga sebal.


***


Tiga bulan kemudian


Pagi ini Bastio seakan enggan untuk meninggalkan istrinya di rumah. Ia ingin terus bersama dan menemani istrinya. namun istrinya menolak nya, dan memaksa suaminya untuk tetap bekerja.bahkan sesampainya di kantor pun Bastio masih kepikiran dengan istrinya.


***


Di Rumah


"Tring-tring (suara telepon miliknya berbunyi). Hallo assalamualaikum?" Ucap Santi mengawali pembicaraan Lewat telepon miliknya. Entah apa dan dengan siapa Santi berbincang melalui telepon tersebut. hingga saat itu juga Santi menjadi kaget.


"Apa?" Itulah kalimat terakhir yang Santi ucapkan. dengan wajah pucat bercampur panik dan langsung membuatnya lemas. dengan tanpa bersuara tiba-tiba air matanya berlinang begitu saja dan tidak dapat terbendung lagi sambil berlutut di bawah kursi.

__ADS_1


Saking shok dan terpukulnya atas berita tersebut, Santi tidak menghiraukan putrinya yang sedang menangis hingga histeris di atas ranjang nya. Mbok Minah yang tidak sengaja melewati kamar Santi pun kaget mendengar tangisan bayi Santi dan tanpa mengetuk pintu lalu menerobos masuk ke dalam kamar Santi.


__ADS_2