
"Apa mungkin kita sedang bermimpi yang sama?" Tanya Aldo kepada kakaknya Icha, masih belum yakin.
Sementara ayah Santi masih juga belum berada di alam bawah sadarnya. ia merasa tidak percaya karena sebelumnya Ia tidak pernah mendapatkan perlakukan seperti ini.
"I... ini sungguh tidak perlu nak, pulanglah, bawalah dan simpan saja semua ini untukmu, kami sungguh tidak membutuhkan ini. kau bahagia kan putri kami saja itu sudah cukup membuat kami bahagia. maaf ayah tidak bisa menerimanya." Dengan mendorong tangan Bastio yang memegangi berkas-berkas dan sebuah kunci tersebut.
"Ayah, ini sungguh bukan apa-apa, ini semua tidak ada artinya bagi saya, ayah sudah memberikan izin dan restu kepada kami saja, saya sangat bersyukur. jadi, tolong jangan menolak ini." Kembali menyodorkan kertas bekas sertifikat tanah beserta kuncinya seraya memaksa meraih tangan ayah Santi untuk menerimanya.
"Apa itu tidak berlebihan nak Tio?" Tanya ayah Santi yang tidak bisa menolak keinginan Bastio.
"Tidak. tidak sama sekali. justru kalau ayah menolaknya, saya fikir itu malah masih kurang." Jawab Bastio menyakinkan.
"Itu tidak benar, sungguh semua ini lebih dari cukup. saya menolak, bukan karena kurang, justru kami merasa tidak pantas menerimanya. karena,... Maaf kami tidak menjual putri kami..." Jawab ayah Santi gugub bercampur ragu, karena takut membuat Bastio tersinggung.
"Siapa bilang ayah menjual putri ayah kepada saya? justru saya merasa, karena kalian semua adalah keluarga yang aku punya, jadi apa salahnya jika saya membahagiakan nya. iya kan sayang?" Ucap Bastio kepada Santi yang kemudian dengan terpaksa di anggukkan kepalanya olehnya.
Semua orang yang berada di sana merasa sangat terharu. begitu juga dengan Santi. meskipun ia merasa ini sangat berlebihan, namun ia melihat ketulusan hati dari Bastio ketika ia menyerahkan berkas-berkas dan kunci rumah kepada ayahnya tersebut.
Karena tidak bisa menolak, akhirnya ayah Santi menerima pemberian Bastio meskipun sebenarnya berat. Namun, ayah Santi juga tidak bisa memungkiri nya, bahwa saat ini Ia sedang membutuhkan tempat tinggal. karena rumah yang mereka tinggali selama ini sudah bukan hal milik keluarga nya, ayah Santi telah menggadaikan nya untuk biaya operasi ibunya sekitar lima bulan yang lalu karena sedang menderita kangker rahim. dan tanpa ayah Santi sadari ketika Bastio menginap di rumah nya. ada seorang wanita paruh baya datang memberi peringatan agar sesegera mungkin untuk mengosongkan rumah tersebut.
***
__ADS_1
flashback on
"Selamat pagi?" Ucap seorang ibu paruh baya kepada Bastio yang sedang memandangi rumah besar yang berada di seberang rumah Santi.
"E'eeh, umh selamat pagi." Jawab Bastio gugub karena tidak mengenal dan melihat kedatangan ibu tersebut.
"Kalau boleh tau, ibu mau mencari siapa ya?" Tanya Bastio kepada ibu paruh baya itu.
"Oooo, saya sedang mencari Tuan rumahnya?" Jawabnya tanpa basa-basi.
"Kalau begitu Maaf yang punya rumah sedang tidak di rumah. kalau ada yang penting boleh ibu pesankan kepada saya!"
"Umhhh, saya menantunya." Jawabnya gugub, karena tidak tau harus menjawab apa.
Dari percakapan antara mereka lah akhirnya Bastio mengetahui keadaan keluarga Santi. Maka dari itu Bastio bernegosiasi kepada ibu paruh baya tersebut, untuk melunasi semua hutangya ayah Santi dan meminta informasi mengenai kepemilikan rumah besar yang berada di seberang itu.
Ibu tersebut membantu Bastio untuk bertransaksi mengenai pembelian rumah tersebut. karena memang pemilik rumah tersebut sengaja meninggalkannya dan tidak akan kembali makanya rumah itu di jual.
***
Meskipun demikian, ternyata hasil penggadaian rumah tersebut, ternyata belum cukup untuk membiayai seluruh operasi ibunya. itulah sebabnya ayah Santi akhirnya nekat meminjam uang kepada juragan Yoko sebanyak lima puluh juta.
__ADS_1
Karena tidak bisa menebus hutangnya, akhirnya rumah satu-satunya peninggalan almarhum kakek Santi pun harus Ia relakan kepada orang lain untuk melunasi hutang-hutangnya tersebut.
Hal demikian ternyata Santi sengaja tidak di beri tahu oleh kedua orang tuanya. karena memang keluarga nya tidak ingin Santi merasa terbebani. meskipun penghasilan Santi selama Ia bekerja di serahkan kepada orang tuanya semua, ternyata uang tersebut hanya cukup untuk membiayai sekolah kedua adiknya tersebut. hingga akhirnya Icha bisa menyelesaikan sekolahnya walaupun hanya sebatas sekolah menengah atas saja.
Sementara penghasilan kedua orang tuanya selama bekerja kepada juragan Yoko, hanya bisa untuk menyicil hutangnya kepada juragan Yoko saja. itupun tidak bisa untuk melunasi hutang piutang tersebut. itulah sebabnya Icha dan Aldo sengaja mencari uang tambahan untuk kebutuhan keluarganya sehari-hari dan untuk uang sakunya Aldo di sekolah.
Untung saja Aldo bukanlah tipe anak yang manja dan banyak tuntutan. dari sebuah situasi dan keadaan Ia bisa mengambil pelajaran, justru menjadikan Ia lebih mandiri dan tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya. hingga Ia mau bekerja apa saja setelah sepulang sekolah.
Sebenarnya ayah Santi keberatan jika Aldo ikut andil dalam hal ini mengingat ia yang masih sekolah. Namum, karena Aldo yang bersikekeh untuk membantu meringankan beban kedua orang tuanya, membuat ayah Santi tidak bisa melarang keinginan putranya tersebut, dengan syarat tidak mengesampingkan pendidikan nya. karena menurut kedua orang tuanya, pendidikan itu sangat lah penting.
Melihat hal ini, ayah Santi tidak bisa berkata apa-apa, Ia memeluk Bastio dengan sangat erat. Ia lalu menyerahkan Santi seutuhnya kepada Bastio dengan perasaan lega. Entah mengapa ayah santi merasakan lelaki yang ada di depannya adalah lelaki yang tepat untuk putrinya, meskipun ia tidak di beri tahu tentang pernikahan nya yang seperti apa. Ia hanya bisa berfikiran positif saja. toh pada akhirnya mereka juga akan mengetahuinya dengan sendirinya. Ia yakin apapun keputusan yang telah mereka ambil, sudah pasti mereka pikirkan dengan matang-matang.
Kalimat demi kalimat terus muncul di ucapkan oleh ayah Santi kepada bastio dalam pelukannya tersebut. Bastio pun menyanggupinya dan terus menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia pun berjanji akan selalu menjaga dan melindungi serta akan membahagiakan Santi sampai kapan pun. sehingga membuat ayah Santi dan ibunya merasa lega untuk melepaskan putrinya kepadanya.
Santi dan Bastio berpamitan, Santi bergantian memeluk kedua adiknya dan terakhir kepada ayah dan ibunya. Ia tidak bisa membendung air matanya ketika memeluk ibunya. Santi memeluk ibunya begitu lama, ia merasakan kenyamanan dan tidak ingin berpisah ketika berada di pelukan ibunya. ia seakan menumpahkan segala kegundahan hatinya di sana.
Setelah merasakan puas barulah Santi melepaskan pelukannya dan beranjak pergi mengikuti langkah Bastio menuju mobilnya.
Mobil beranjak pergi meninggalkan rumah Santi, keluarga Santi dan tempat di mana Santi menghabiskan waktunya semasa kecilnya menuju kota tempat tinggal Bastio.
Di sepanjang perjalanan, mereka berdua kembali terdiam seribu bahasa. entah apa yang sedang mereka fikirkan.
__ADS_1