
Bastio tidak memperdulikan kondisi malam yang semakin larut. Ia bergegas menuju kampung Santi yang baru Ia terimanya dari Mbok Minah tersebut. Dengan ditemani Pak supir Ia menerobos sunyinya malam. Keadaan semakin mencekam saat melewati beberapa pepohonan yang berada di sisi kanan kiri sepanjang perjalanan menuju kampung tujuannya.
Sementara itu untuk urusan kantor Ia sudah menyerahkan kepada Diki orang kepercayaan nya sekaligus sahabatnya tersebut melalui via telepon. Bastio juga memintanya untuk mengatur jadwal rapat untuk besok dan beberapa hari mendatang. Karena Dia sendiri belum tahu kapan Ia bisa pulang dan memimpin perusahaan nya kembali.
Karena sebelum nya Bastio yang tidak pernah memiliki kekasih dan tidak pandai untuk merayu wanita, maka akan sulit baginya untuk membujuk Santi agar mau kembali ke rumah nya tersebut.
Di sepanjang perjalanan Bastio diam seribu bahasa, Ia bingung apa yang akan Ia katakan kepada Santi ketika Ia berjumpa dengan nya nanti. Karena kelelahan akhirnya Bastio ketiduran. Sementara pak supir yang Ia Bawa kebetulan sudah tau kampung yang dimaksud oleh majikannya tersebut. bahkan sudah beberapa kali pak supir itu datang ke kampung itu.
*Di kediaman Santi"
"Ayah, Ibu? Santi belum siap menikah, bahkan tidak ingin menikah. Pasti ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini," Rengek Santi kepada kedua orang tuanya.
Ibu Santi hanya bisa memandang Santi dengan tatapan sedihnya. sebenarnya ibu dan ayah Santi tidak tega melihat putrinya tersebut. Namun apalah daya mereka, saat ini mereka hanya bisa diam tanpa bisa berkomentar apa-apa.
"Apa kamu mau jadi anak durhaka?" Bentak ayah Santi. sebenarnya disini ayah Santi lah menentang keras atas perjodohan ini. Bahkan sebelum nya ayah Santi juga sempat beradu mulut dan rela mendapatkan pukulan demi putrinya tersebut. Namun berbeda jika di depan Santi Ia terlihat keras, tegas dan seakan tidak menentang perjodohan ini.
Ayah Santi keluar rumah menahan diri. Ia benar-benar tidak kuasa dan hatinya benar-benar hancur melihat putrinya saat ini.
Sementara ibu Santi hanya bisa membujuk Santi dan terus memberikan pengertian kepada putri sulungnya agar tidak menolak perjodohan tersebut.
"Lalu bagaimana dengan Rangga Bu, apa yang harus Santi katakan kepada nya? hik... hiks...hiks." Tangis Santi semakin pecah.
__ADS_1
"Apa kamu masih mencintainya? bahkan sudah hampir enam tahun ini Dia tidak pernah memberi kabar untuk mu? Apalagi pulang, mungkin saja Dia sudah melupakan mu nak." Ucap ibu Santi dengan sedikit menekan kalimatnya.
"Santi? kamu harus sadar diri nak, kamu itu berbeda dengan Dia. kamu itu siapa? kita ini hanya orang kecil. Sementara Dia? Dia bisa saja dengan mudah menggonta-ganti pasangan kapan saja."
Ayolah buka matamu, jangan percaya dengan cinta, cinta itu tidak ada sayang."
"Bu, Santi yakin, Rangga tidak seperti yang ibu fikirkan. Rangga sudah berjanji kepada Santi Bu, dia tidak akan pulang dan memberi kabar sebelum dia berhasil. Dan Santi yakin, Rangga pasti sedang berjuang di sana. Tolong beri kesempatan kepada Rangga Bu, Santi mohon?"
"Tidak, apa kamu ingin melihat ayah dan ibumu ini mati karena di permalukan. Dan apa kamu tidak memikirkan keluargamu?"
"Jangan menambahkan masalah lagi,"
"Ibu mohon, turuti saja permintaan ayah dan ibu untuk yang terakhir kalinya ini." Ucap ibu Santi dengan suara bergetar dan kemudian Ia meninggalkan Santi seorang diri karena ibunya juga sudah tidak kuat menahan rasa pilu yang dialami putrinya tersebut.
Santi beranjak dari tempat duduknya, Ia kemudian membuka lemari plastik nya dan mengambil foto seseorang.
Seseorang yang di maksud adalah Rangga kekasih Santi yang sudah menjalin hubungan dengan nya sejak mereka masih duduk di bangku sekolah SLTA. Rangga adalah seorang lelaki yang sangat baik menurut Santi. Rangga selalu ada setiap Santi membutuhkan teman untuk berbagi rasa.
Rangga juga lelaki yang sangat perhatian dan pengertian terhadap Santi. Namun cinta mereka terhalang oleh ayah Santi yang menurut ayahnya tidak pantas untuk putrinya tersebut.
Ayah Santi sangat menolak keras hubungan Rangga dengan putrinya. setelah ayahnya mengetahui kalau Rangga itu lelaki yang sangat pemalas dan selalu tergantung kepada kedua orang tuanya. Belum lagi keadaan orang tuanya yang suka mengucilkan orang kecil seperti keluarga Santi.
__ADS_1
Keluarga Rangga adalah termasuk keluarga terpandang di kampung Santi. Namun, ibunya terkenal sok dan sombong. keluarga Rangga juga belum mengetahui hubungan Rangga dengan Santi. jika mereka tau sudah pasti mereka akan menolak mentah-mentah hubungan tersebut.
Beruntung ayah Santi yang dapat mengetahui terlebih dahulu tentang hubungan mereka. jadi ayah Santi bisa melarangya dengan alasan seadanya dari pada penolakan dari keluarga Rangga yang akan menyakiti hati putrinya tersebut.
Saat ini Rangga sedang menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Ia melanjutkan pendidikan sarjana di kota seberang. sementara Santi setelah menyelesaikan pendidikan SLTA Dia langsung mencari pekerjaan dari seorang pembantu rumah tangga hingga menjadi bibi sister.
Santi sendiri tidak bisa melanjutkan pendidikan nya karena keterbatasan dalam ekonomi keluarga nya.
Santi memandang dan mengelus-elus foto Rangga dengan berlinangan air mata.
"Apa kamu masih mengingat ku? dan apakah masih ada cinta di hatimu untuk ku?" Santi berbicara sendiri sambil memegang wajah Rangga di dalam foto yang ada di depannya.
"Kenapa kamu tidak memberiku kabar? apa kamu tahu, saat ini aku sangat membutuhkan mu. di saat-saat seperti ini,biasanya kamu selalu ada dan terus menemani ku."
"Bukankah kamu sudah berjanji? kalau kamu akan selalu ada di saat aku membutuhkan kamu. sekarang apa? kamu tidak ada disini, bahkan ketika aku merindukan mu kamu sama sekali tidak tahu."
"Kamu jahat, hiks...hiks hiks." Santi menangis sambil memeluk foto Rangga.
"Jika kamu ada di sini, dan melihat keadaan ku sekarang, apa yang akan kamu lakukan? apa kamu akan membiarkan aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai atau kamu akan membawaku pergi dari sini?" Santi kembali berbicara sendiri dengan foto Rangga.
"Daaaan, apakah jika kamu sudah tau kalau aku sudah bukan gadis lagi, apakah kamu juga masih mau dan menerima ku?" Kali ini Santi berbicara di dalam hati sambil terus menerus mengalir air matanya.
__ADS_1
"Tuhan kenapa hidup ku seperti ini? tidaklah kau sisakan sedikit kebahagiaan untuk ku?" Santi menjerit dan meraung-raung yang sudah mulai terbawa emosi.
"Hidup ini tidak adil! aaaark." Santi meraung dan menghancurkan seisi kamarnya.