TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

"Kenapa kita di sini?" Tanya Santi gemetaran ketika berada di depan ruangan dan sudah mulai mendung hingga tak terasa tetesan bening keluar dari sudut matanya.


Bastio meraih dan meremas tangan istrinya untuk memberikan kekuatan, kemudian membawanya ke dalam pelukannya. Santi sudah tidak kuasa, Ia semakin emosional dan akhirnya Ia pun menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan suaminya sambil menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, sehingga tidak begitu terdengar suara tangisannya.


"San, kau harus kuat dan sabar." Ucap Mita memberi semangat sebelumya menepuk punggung Santi.


"Kenapa bisa seperti ini? Bukankah kau tadi menjaganya?" Tanya Santi sesenggukan.


"San, yang ada di dalam sana bukan Rangga, tapi orang lain yang sangat berarti dalam hidupmu." Ucap Mita kembali dengan menundukkan kepalanya tidak berani menatap sahabatnya.


Sejenak Santi menghentikan tangisnya dan terdiam. lalu Santi dan Basti kemudian saling pandang memandang, tidak mengerti dengan apa yang barusan Mita ucapkan. Santi kemudian melonggarkan pelukan dari suaminya.


"Apa maksudmu? aku sedang tidak ingin bercanda." Jawabnya gugub dengan mata yang mulai berkaca-kaca kembali kemudian meleraih handel pintu kamar mayat tersebut. tanpa menunggu lama, Santi langsung bergegas menuju menerobos kamar tersebut.


Bastio masih tidak mengerti. sementara Mita hanya bisa memandang Bastio dengan layu dan memberikan kode untuk menyusul istrinya. Bastio lalu berlari ke ruangan itu setelah mendengar teriakkan istrinya.


"Tidaaaak,..."


Bastio semakin mempercepat langkahnya. lalu berdiri di samping istrinya yang sedang memeluk seorang wanita yang sudah terbujur kaku di sana. wanita itu adalah ibu mertuanya, ibu kandungnya Santi. Bastio mengacak-acak rambutnya dengan kasar. kemudian ia mencoba menenangkan istrinya. namun istrinya tidak bergeming sama sekali. hati Santi sedang kalut dan serasa sedang hancur berkeping-keping.


"Ibu.., buka mata ibu? ayo bangunlah, bicara kepadaku ibu. bukankah ibu ingin bertemu dengan cucu ibu? ayolah ibu, bangunlah! aku akan mengajak ibu untuk bertemu dengan cucu ibu. ayo ibu...hiks...hiks.." Tangisnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibunya yang sudah terbujur kaku.

__ADS_1


Tidak terasa Bastio juga meneteskan air matanya, tiba-tiba saja Ia teringat kepada ibunya yang dulunya sempat memaksanya untuk segera mandiri, menggantikan posisi ayahnya dan yang terpenting segera menikah. ibunya juga Sudah tidak sabar ingin melihat cucunya. Ia ingin sekali memeluk dan menimang cucunya. namun, belum sempat Ia mewujudkan impian ibunya, ibunya sudah lebih dulu meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.Bastio meraih tubuh istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya kembali.


"Kau harus kuat sayang, kau tidak boleh lemah seperti ini." Ucap Bastio kepada istrinya sambil mengecup puncak kepala istrinya.


"Kemaren ibu baru saja menghubungi kita bukan? kau juga mendengarnya kan? ibu ingin bertemu dengan putri kita. tapi sekarang? apa ini maksudnya? coba kau jelaskan?" Tangis Santi semakin menjadi, sementara Bastio yang tidak kuasa melihat istrinya yang begitu rapuh hanya bisa memeluknya.


"Kau tidak boleh seperti ini. aku yakin, ibu pasti tidak suka dan akan marah jika melihat mu seperti ini." Ucap Bastio mensejajarkan keningnya dengan kening istrinya. kemudian ia mengusap air mata istrinya dengan lembut.


"Ayo kita persiapkan semuanya untuk ibu. kita cari yang lain. kita pulang sekarang." Bujuk Bastio kepada istrinya. istrinya pun mengangguk tanda setuju.


Bastio mengajak istrinya untuk keluar. namun Mita tiba-tiba muncul dan mengajaknya kembali untuk mengikuti langkah nya. Mita berjalan kembali menyusuri setiap koridor yang ada rumah sakit tersebut. kemudian ia berhenti di depan pintu ruangan melati yang di jaga ketat oleh seorang bodyguard gagah lebih mirip dengan preman. namun anehnya, ketika Mita datang mereka langsung memberikan hormat kepada Mita.


Mita membisikkan sesuatu kepada kedua bodyguard tersebut. entah apa yang di bisikkan oleh Mita, setelahnya kedua orang tersebut memberi hormat dan menundukkan kepalanya seperti selayaknya hormat kepada bosnya sendiri, sehingga membuat Bastio dan Santi merasa heran dan terlihat lucu.


Setelah sampai di ruangan, Santi melihat ayahnya yang sedang beristirahat dengan beberapa selang yang menempel di tangannya. Santi tidak kuasa dan tidak berniat untuk membangunkan ayahnya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap suaminya dan memeluknya sambil terisak di sana, namun tidak mengeluarkan suaranya.


Bastio merasa hancur melihat keadaan istrinya saat ini. mengapa cobaan itu datang silih berganti kepada istrinya. Ia memeluk erat tubuh ramping istrinya sambil mengusap punggungnya berkali-kali untuk memberikan kekuatan dan semangat kepada istrinya.


Beberapa menit kemudian, Icha datang dengan Aldo. Icha mendorong Aldo yang berada di kursi roda dengan tubuh hampir di penuhi dengan perban. entah apa yang sebenarnya terjadi, saat ini Santi seakan seperti orang bodoh. yang tidak mengetahui apa yang sedang menimpa keluarganya.


Santi berfikir ayahnya terbaring di ranjang rumah sakit karena tidak terima dengan kepergian ibunya. tetapi melihat kondisi adiknya Ia merasa ada yang janggal. Santi menatap suaminya dengan tatapan intimidasi, namun Ia kembali urungkannnya karena sepertinya, suaminya tidak mengerti apa-apa. Aldo dengan di bantu oleh kakaknya Icha telah sampai di samping suami istri itu.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Santi kepada Aldo dan Icha. namun Aldo dan Icha tidak berani menatap kakaknya.


"Apa yang kalian sembunyikan dari kakak? ada apa ini? ayo Jawab Kakak?" Tanya Santi yang sudah mulai terbawa suasana.


Bastio yang menyaksikan hal itu, kemudian memeluk istrinya dari belakang mencoba untuk menenangkannya.


"Lihatlah mereka bahkan tidak ingin berbicara dengan ku?" Ucap Santi kepada suaminya.


"Sayang, tenanglah dirimu dulu. mereka berdua bukannya tidak ingin berbicara denganmu. sepertinya mereka juga sedang shock, beri waktu untuk mereka menjelaskan sendiri. ayolah kita duduk dulu."


"Bagaimana aku bisa tenang, keluarga ku saat ini sedang tidak baik-baik saja." Ujarnya Sambil menangis.


"Aku tau, ini berat untuk mu. tapi kau harus tenang."


Icha dan Aldo saling pandang dengan air mata yang tidak terbendung lagi, kemudian mereka pun kembali terisak. Icha yang sudah tidak tahan lalu berlari memeluk kakaknya sambil menangis. Ia tidak menghiraukan bahwa kakaknya saat ini sedang di pelukan suaminya. melihat Icha memeluk istrinya Bastio pun melepaskan pelukannya dan memberikan ruang kepada mereka berdua.


"Huuu, huuuu, ibu kak. ibu...." Ucap Icha terbata-bata." Mereka menangis berdua.


Bastio mendorong kursi roda Aldo dan mengajaknya ke sofa yang berada di sudut ruangan rumah sakit tersebut.


"Sebenarnya ada apa? apa yang sedang terjadi?" Tanya Bastio mulai mengawali pembicaraannya dengan adik iparnya Aldo.

__ADS_1


"Ceritanya panjang. dan aku juga tidak menyangka." Jawabnya datar.


__ADS_2