TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Surprise


__ADS_3

"Huuuh, sombong," Jawab Santi sewot dengan lirikan mata yang mematikan.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Ujarnya sambil menyisir rambutnya di depan cermin.


"Kemana?" Tanya Santi penasaran.


"Surprise dong, kalau aku kasih tau sekarang namanya bukan kejutan." Jawabnya sambil menaik-turunkan alisnya.


"Iya sudah kalau begitu aku tidak mau ikut." Jawab istrinya ketus sambil memasang wajah kusutnya.


"Astaga, kau sungguh lucu dan menggemaskan sekali jika seperti ini." Decak Bastio di dalam hatinya.


"Tidak masalah, kau kira aku tidak kuat menggendong mu?" Jawab Bastio santai sambil tersenyum licik.


"Kau itu, benar-benar suka memaksa orang ya? menyebalkan! tidak tau malu!" Teriak Santi protes.


"Baru tau ya?" Ledek Bastio dengan tertawa licik. sementara Santi terlihat sangat marah sambil membulatkan bola matanya.


"Sudahy, jangan marah! ayo kita turun, aku sudah sangat lapaaar," Ucap Bastio kepada istrinya sambil berniat membantu mengangkat bahu istrinya dengan hati-hati.


"Aku tidak mau. kau sudah membuat ku kesal." Jawabnya ketus sambil menyingkirkan tangan suaminya dari bahunya.


"Ck, kau mau aku mati kelaparan? sudahlah jangan marah lagi, itu kan kejutan untuk mu. pokoknya setelah sarapan kita langsung ke sana ok! aku jamin kau pasti akan senang jika sudah sampai di tempatnya." Ucap Bastio kepada istrinya dengan sangat hati-hati karena dia tidak mau istrinya semakin. mengamuk nantinya.


"Kau selalu bisa membuat hatiku luluh dalam seketika. bahkan kau sangat sabar menghadapi ku yang tingkahku seperti kekanak-kanakan. apa iya aku bisa jauh darimu?" Ucap Santi di dalam hatinya sambil berkaca-kaca memandangi wajah suaminya.

__ADS_1


"Hei kenapa malah ingin menangis? ya sudah aku minta maaf. baiklah sekarang aku kasih tau kita mau kemana, kita akan pergi ke..." Ucap Bastio kepada istrinya yang kwhatir melihat istrinya akan menangis, dan kemudian Ia berniat untuk jujur akan mengajak nya ke suatu tempat, namun belum sempat Ia sebutkan di mana tempat nya, mulutnya sudah di tutupi dengan telapak tangan oleh istrinya. sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tidak setuju. dan suaminya yang memahami pun segera mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


Santi berdiri dengan di bantu oleh suaminya. kemudian mereka berdua turun bersama untuk sarapan. Bastio begitu peduli dengan istrinya, setiap pagi Ia menuntun istrinya dengan sangat sabar dan ekstra hati-hati. semenjak istrinya hamil tua, dia juga sering di rumah menemani istrinya. sementara pekerjaan nya, iya seperti biasanya Diki yang selalu berdiri di depan.


Setelah mereka selesai sarapan, sesuai janjinya, Bastio mengajak istrinya ke suatu tempat. mereka berdua sangat menikmati pemandangan yang berada di sepanjang jalan. setelah beberapa saat, akhirnya Bastio menghentikan mobilnya dan meminta istrinya untuk menutup matanya dengan kain yang sudah di siapkan oleh Bastio.


"Apa harus pakai penutup mata?" Tanya Santi keheranan.


"Ehem,... karena ini adalah salah satu dari kejutan yang aku berikan untuk mu." Jawab Bastio sambil tersenyum.


"Bawa kemari, biar aku memakai nya sendiri." Ujarnya sambil meraih kain penutup mata yang berada di tangan suaminya.


"Awas jangan mengintip ya?" Ujar suaminya sambil terkekeh.


"Tidak, mana mungkin aku mengerjaimu." Ujarnya seraya merapikan penutup mata istrinya.


"Sudah?" Tanya Santi kepada suaminya.


"Iya sudah. sekarang tunggulah di sini, aku keluar dulu nanti aku bantu kau turun." Jawab Bastio sambil membuka pintu mobil hendak keluar dan kemudian Ia berputar ke arah pintu istrinya, lalu Ia bukakan pintu mobil tersebut dan meraih tangan istrinya untuk membantunya turun dari mobilnya.


"Kau sungguh perhatian sekali." Ucap Santi di dalam hatinya, setelah mendapat perlakuan baik dari suaminya.


Bastio menuntut istrinya hingga sampai ke tempat yang di janjikannya kepada istrinya. Santi di persiapkan untuk duduk di di sebuah kursi panjang, dan tetap masih di bantu oleh suaminya dengan sabar.


"Apa sudah sampai? dan apa boleh di buka penutup mata ini?" Tanya Santi tak sabar.

__ADS_1


"Sudah, biar aku saja yang membuka!" Jawab Bastio Seraya membukakan penutup mata istrinya.


"Hitungan ke tiga di buka ya?" Ucap Bastio kegirangan.


"Hmmmmm," Jawab istrinya singkat.


"Satu, dua, tiga....," Ucap Bastio senang. dengan hitungan ke tiga pula Santi membuka matanya perlahan. kemudian Ia melihat-lihat di sekeliling.


"Kenapa kita ada di sini?" Tanya Santi keheranan, karena dalam bayangan nya Ia akan di bawa ke suatu tempat yang menyenangkan. akan tetapi ternyata tebakannya meleset. dia malah di bawa ke danau dekat apartemen nya yang pernah Ia datangi bersama Bastio di malam itu. dan anehnya dia juga di dudukkan di tempat yang sama persis mereka gunakan waktu itu.


"Kenapa? tidak suka ya?" Tanya Bastio sambil mengernyitkan dahinya ketika melihat ekspresi wajah istrinya.


"Ti.. tidak juga." Jawabnya gugub, takut menyinggung perasaan suaminya.


"Biar aku jelaskan." Ucap Bastio yang langsung duduk di sebelah istrinya. dan Santi pun memperhatikan tingkah suaminya yang menurutnya sedikit aneh itu.


"Mungkin, tempat ini adalah tempat yang biasa-biasa saja bagi orang lain. tapi taukah kau? ini adalah tempat pertama yang mengingat kan ku tentang sesuatu dan tidak akan pernah untuk aku lupakan. di tempat ini banyak kenangan tentang kita. apa kau ingat, beberapa bulan yang lalu, di tempat ini, kau mulai mau berbicara dan mau berbagi cerita mu dengan ku sampai hari ini. padahal hubungan kita sebelumnya bagaimana? hubungan kita begitu dingin, bahkan kita tidak pernah terlihat sekalipun berbicara walaupun di tempat dan di ruangan yang sama."


"Apa kau tau, akhir-akhir ini jika aku dalam suasana hati yang kurang baik, aku selalu datang ke sini. Dan aku selalu mengingat pada waktu malam itu. setelah itu suasana hati ku pun berangsur membaik."


"Jadi, beberapa hari ini, aku lihat kau sering menyendiri dan melamun. aku pikir setelah aku membawa mu ke sini suasana hati mu juga akan lebih tenang. dan satu hal yang ingin aku katakan, apapun yang mengganjal dan mengganggu pikiran mu saat ini, berbagai lah dengan ku. aku akan mendengarkanyya."


"Anggap saja, aku orang lain. anggap saja aku sebagai teman mu. bukan suamimu yang menyebalkan."


"Lalu, Jika kau membenciku dan ingin marah dengan ku, marahlah! jika kau ingin memukul ku, pukullah! aku akan menerimanya dan tidak akan membalasnya. jika itu membuatmu lega dan senang." Dengan menatap wajah Santi dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang serta berusaha untuk tersenyum, karena saat mengucapkan kata-kata itu ternyata membuat hatinya merasa sangat perih. jika mengingat kejadian memalukan yang membuat Santi hancur dan sepertinya tidak bisa memaafkannya dengan mudah begitu saja. sementara itu Santi yang menatapnya menjadi berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2