TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Lani


__ADS_3

Bastio sudah siap untuk berangkat ke kantor. sementara Santi masih terlelap dalam tidurnya, sangat jelas sekali bahwa Ia terlihat sangat kelelahan. Bastio pun bergegas untuk turun dan segera sarapan pagi. pagi ini Bastio sarapan sendirian tanpa di temani oleh istrinya. kemudian Ia pun berisiniatif untuk menyuruh pembantunya mengantarkan sarapan pagi ke kamar untuk istrinya tersebut. sarapan selesai, dan Bastio langsung bergegas pergi ke kantor seperti biasanya bersama dengan Diki asistennya.


Sesampainya di kantor, Bastio sudah di tunggu oleh Lani sekretaris pribadinya setelah Diki. Lani sudah menunggunya di depan ruangan Bastio sekitar lima menit yang lalu. ketika Bastio melihat Bastio datang Ia bergegas pergi ke samping ruangan Bastio. sesampainya di samping ruangan bosnya Ia kemudian melakukan aksinya. karena sebelum bertemu dengan bosnya Ia harus mempersiapkan dirinya agar terlihat semenarik mungkin. dan sudah pasti untuk menarik perhatiannya bosnya itu. Ia sengaja menaikkan rok span nya sekitar tinggi seperempatnya itu, agar terlihat belahan pahanya dari belakang. tak lupa juga Ia membuka dua kancing bajunya agar terlihat belahan dada nya.


Lani adalah sekertaris lama dari almarhum Papa nya, dia sudah mengabdi sekitar tujuh tahun ketika Ia masih melanjutkan pendidikan sarjana nya sewaktu Ia masih di semester enam.


Lani adalah gadis pintar dan cepat tanggap dalam mempelajari sistem kinerjanya nya, itulah sebabnya papanya menjadikannya sebagai sekretaris pribadi nya hingga sampai sekarang.


Lani juga, gadis yang memiliki paras cantik dan berbadan tinggi yang ideal. namun Ia memiliki kepribadian yang tertutup juga sombong. meskipun Ia sudah lama beranda di kantor Admaja Group hampir tidak pernah terlihat mengobrol dengan salah satu karyawan lainnya. bahkan teman-temannya juga enggan untuk berada di dekatnya karena kesombongannya itu.bagaimana tidak, Ia merasa karena posisinya atau jabatan nya berada di level paling atas, Ia tidak segan dalam mengkritik hasil kinerja karyawan-karyawan yang lainnya. sebagai seorang senior Ia juga sering meremehkan teman-temannya dan karyawan-karyawan barunya, bukanya berbagi ilmu untuk mengajari malah seakan menjatuhkan mereka. itulah sebabnya Ia tidak memiliki teman.


Semenjak Bastio menggantikan posisi ayahnya, Lani sudah mulai tertarik dan secara diam-diam mencuri-curi pandang di setiap ada kesempatan terhadap Bastio.


***


pagi hari di kantor.


Dari balik kaca Lani sedang memperhatikan Bastio yang sedang duduk di kursi kuasanya sambil termenung. melihat hal itu, kemudian Lani melanjutkan aksinya menuju ruangan bosnya itu untuk menyerahkan beberapa berkas kantor yang memang sedang di butuhkan oleh bosnya tersebut.


"Tok-tok,(pintu di ketuk) bos ini laporan yang bos minta kemaren." Seraya menyodorkan beberapa berkas yang berada di tangannya dengan memasang wajah seanggun- anggunnya.


"Letakkan di meja." Ucapnya dingin sambil beranjak dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan nya ke luar ruangan kerjanya.


Lani hanya bisa terdiam dan sesekali melirik bosnya yang pergi meninggalnya. Ia tidak percaya dengan reaksi bosnya saat ini yang sama sekali tidak merespon atau mengomentari penampilan nya itu. padahal ia sangat berharap kalau Bastio akan mengomentari atau memuji penampilan nya itu. karena tidak mendapat respon dari sang pujaan hatinya, kemudian Ia meletakkan map berkas yang berada di tangannya ke meja bosnya dengan perasaan teramat kesal.

__ADS_1


"Kenapa tidak ada reaksi sama sekali! apakah masih ada yang kurang? kerah baju sudah aku buka sebelah, meninggikan rok juga sudah.." Gerutu Lani sambil memperhatikan penampilan nya sendiri, Lalu mengambil kaca kecil yang Ia simpan di saku kemejanya dan memperhatikan keseluruhan wajahnya di sana.


"Ckck, sudahlah." Berdecak kesal sambil berjalan keluar meninggalkan ruangan bosnya tersebut dengan penuh emosi.


"Diki? bukanya kita ada pertemuan dengan pimpinan perusahaan GOKH hari ini." Mengagetkan Diki yang sedang berkonsentrasi dalam laporan yang berada di depannya.


"Ai, sibos mengagetkan saja. kenapa bos kemari? kenapa tidak menghubungi lewat telepon saja? buat jantung ku mau copot saja." Gerutu Diki kepada bosnya dengan wajah kusutnya karena Ia sangat terkejut sekali karena mendapati bosnya secara tiba-tiba saja muncul menghampirinya di ruangan kerjanya tersebut.


"Memangnya kenapa kalau aku kemari, haaa? apa kamu lupa kalau aku ini bosmu? aku mau kemana saja itu terserahku kan?" Jawabnya sewot.


"Hmmmmm, iya, iya deh iya. maaf." Ucapnya mengalah dari bosnya. karena sekuat apapun Ia berdebat, toh akan percuma juga, sudah pasti ia akan kalah.


"Hei, kau belum menjawab pertanyaan ku kan?" Seraya berjalan mendekatinya dan meraih kursi dan duduk di depan asisten nya itu.


"Umhh, iya, memangnya kenapa?" Ucapnya namun tidak memperhatikan bosnya dan lebih asyik menatap layar komputer nya itu.


"Kalau tidak salah jam makan siang, di resto King Prize. sebentar aku cek dulu." Seraya membuka buku agenda harian nya itu.


"Iya benar, jam makan siang." Ucapnya setelah mengecek buku agendanya itu.


"Oke. kalau begitu persiapkan semuanya dari sekarang." Ucapnya seraya beranjak dari tempat duduknya dan hendak kembali ke ruangannya.


"Aneh, (tersenyum) CK, kalau cuma tanya hal seperti ini, kenapa tidak menelpon saja dari ruangannya." seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan melihat bosnya yang berlalu meninggalkan nya itu.

__ADS_1


***


Di rumah.


"Tring-tring, ( Suara telepon Santi berbunyi). Santi yang baru keluar dari kamar mandi segera bergegas menuju ke telepon yang berada di atas meja sisi ranjang nya dan segera mengambil dan menekan tombol biru di layar ponsel itu.


"Halo.. assalamualaikum?" Ucapnya Santi mengawali pembicaraan di panggilan telepon.


"Santi......," Teriaknya dari ujung telepon yang berada di seberang. mendadak Santi menjauhkan telepon nya yang semula Ia tempelkan di telinga nya itu.


"Huuuh, dasar. berisik sekali, siapa sih ini pake teriak-teriak segala." Gerutunya di dalam hati.


"Santi? woi..., kau masih mendengar ku kan?" Ucap suara dari teleponnya lagi.


"Iya, ini siapa?" Sapanya dengan lembut. padahal di dalam hatinya sedang teramat kesal.


"Yeaelah, ini Mita, woy Mita. apa kau sudah melupakan aku? kejam sekali kau ini." Ucapnya dengan intonasi yang meninggi dan tanpa henti sama sekali.


"Haa, Umh,... eh Mita, benarkah ini kau?" Ucapnya tidak percaya.


"Iya, ini aku. apa kau benar-benar sudah melupakan aku, bahkan kau tidak mengenali suaraku? huuum." Ucapnya dengan nada kesal karena Ia merasa Santi sudah melupakan nya.


"Apa kau marah? maafkan aku. aku benar-benar tidak bisa mengenali suara mu. karena dari tadi kau teriak-teriak tidak jelas.

__ADS_1


Akhirnya mereka bisa damai dengan sendirinya, dan mengobrol panjang lebar hingga beberapa menit lamanya. sehingga membuat mereka mengakhiri obrolan.


Mita adalah sahabat Santi sewaktu masih duduk di bangku SMP hingga SMA. mereka dulunya cukup akrab sekali, bahkan tidak ada rahasia di antara mereka berdua.


__ADS_2