
Pagi-pagi sekali Bastio sudah terbangun, Ia benar-benar hampir tidak bisa tidur sama sekali. semalaman Bastio merasakan panas yang luar biasa. meskipun kipas angin di dalam kamar nya di nyalakan full, Namun Ia tetap merasa kepanasan bahkan Dia membuka seluruh pakaiannya. hanya menyisakan celana bokser saja, itupun Ia masih merasakan gerahn di sekujur tubuhnya.
Bastio keluar kamar hendak mencari kamar mandi, Ia celingukan ke sana kemari namun sepertinya belum ada yang terbangun mengingat jam masih menunjukkan pukul empat dini hari. akhirnya Bastio menyusuri ruangan dapur, dan Dia menemukan kamar mandi tersebut. Dengan terpaksa Ia membersihkan diri dengan menggunakan bak mandi kecil dan peralatan mandi apa adanya disana.
Selesai mandi Bastio berniat untuk jalan-jalan di sekitar rumah tersebut. Bastio keluar berkeliling di sekitar rumah Santi, dari depan hingga belakang. Sungguh Ia merasakan nuansa pedesaan yang menakjubkan, di belakang rumah Ia melihat perkebunan yang tidak begitu luas, Namun banyak sekali bermacam-macam jenis sayuran dan cabai, yang subur dan terawat. tidak jauh dari tiga puluh meter terdapat persawah padi milik warga setempat yang sudah mulai menguning. di samping kiri rumah Santi juga terdapat beraneka ragam jenis tanaman atau pembibitan buah-buahan. tempat nya tidak terlalu lebar, Tapi karena dibuat kan tempat seperti tak bertingkat menjadikan lebih rapi dan tidak membutuhkan ruang yang terlalu besar. kemudian pada halaman depannya terdapat beraneka ragam jenis tanaman bunga.
Keseharian ayah Santi memanglah disibukkan oleh mengurus Empang juragan Yoko. namun disela-sela kesibukan nya Ia selalu menyempatkan diri untuk bercocok tanam dan membudidayakan berbagai jenis tanaman.
Setelah puas Bastio berkeliling lokasi dan berjalan jalan santai di sekitaran perumahan di rumah Santi Bastio kembali kerumah Santi. Karena cuaca yang sudah mulai terang, sepertinya seluruh masyarakat di kampung ini sudah mulai melakukan aktivitas nya masing-masing.
Bastio duduk di kursi panjang di depan rumah Santi sambil melihat suasana pagi hari. ada beberapa warga yang sengaja menyapanya ketika sedang melintasi rumah Santi. meskipun tidak saling mengenal menandakan keramahan dan tanda keterbukaan terhadap warga baru dari penduduk setempat.
"Huuum, seperti nya menyenangkan jika tinggal di perkampungan seperti ini. orang nya ramah-ramah dan tentunya jauh dari keramaian kota." Bastio berbicara sendiri sambil menepuk-nepuk pahanya dan tersenyum-senyum sendiri.
"Ini tehnya Tuan? Silahkan di minum selagi masih hangat!" Ucap Icha kepada Bastio yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah dengan menyuguhkan secangkir teh dan ubi kayu rebus di atas meja panjang yang terbuat dari kayu namun di disain seperti balok kayu tersebut.
"Terimakasih, kemari duduk lah di sini." Jawab Bastio sambil menepuk-nepuk bangku di sebelah nya.
Icha menuruti permintaan Bastio dan duduk di samping Bastio dengan jarak yang cukup jauh.
"Ada apa Tuan?" Tanya Icha kepada Bastio.
"Eeh, tidak usah sungkan, panggil saja seperti yang Aldo sebutkan." Jawab Bastio santai sambil tersenyum.
"Baiklah tu.. maaf maksudnya kakak ipar?" Jawab Icha memastikan.
"Iya." Jawab Bastio singkat.
"Siapa yang menanam semua tanaman di rumah ini?" Tanya Bastio to the poin.
__ADS_1
"Ayah." Jawab Icha singkat.
"Apa ayahmu menjualnya?" Tanya Bastio lagi.
"Kalau ada yang berminat ya di jual. tapi kalau sayuran tidak. cukup untuk kebutuhan sendiri." Jawab Icha.
" Ummm, Lalu kenapa tidak menanam yang lebih banyak dan membuat semacam toko yang melayani sejenis tumbuh-tumbuhan?" Tanya Bastio penasaran.
"Hmmmm, itu memang keinginan ayah. tapi ayah tidak punya modal. dan untuk lokasi yang sempit serta jauh dari keramaian juga membatasi ayah untuk mewujudkan impian nya." Jawab Icha kurang bersemangat.
"Ooo, begitu." Respon Bastio.
"Kalau begitu saya permisi dulu tu..umhh, kakak. saya belum selesai memasak nya.
"Baiklah." Jawab Bastio sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kak? kakak ipar?..." Teriak Aldo dari dalam rumah arah pintu keluar tersebut.
"Kakak ipar membuatku khawatir saja, Aldo kira, kakak ipar kabur karena tidak bisa tidur nyenyak." Ucap Aldo kepada Bastio.
"Hmmmmm, kau ini. apa setelah kau melihatku sekarang, Semalam tidak bisa tidur nyenyak?" Tanya Bastio kepada Aldo.
"Ti... tidak. Aldo tidak melihatnya." Jawab Aldo sambil meneliti setiap inci wajah Bastio dengan cermat bahkan sampai mendekati wajah Bastio.
"Kau bau sekali, cepat mandi sana! Apa kau tidak sekolah." Ucap Bastio kepada Aldo sambil menutupi hidungnya karena berdekatan dengan Aldo.
"Hehehe, Aldo kan baru bangun. jadi... belum sempat mandi." Jawab Aldo cengengesan sambil menciumi kedua keteknya bergantian, terakhir memasang raut wajah cemberut sambil mengibas tangannya karena mencium aroma asam dari tubuhnya sendiri.
"Sekolahku masuk jam sepuluh. ini adalah hari pertama Aldo UAS. karena komputer di sekolah kami hanya sedikit, kami ujiannya bertahap dan pakai sesi.
__ADS_1
"Ya sudah kau mandi dulu." Jawab Bastio santai.
"Sebentar, Aldo cicipi rotinya dulu." Jawab Aldo kepada Bastio sambil meraih sepotong ubi kayu rebus yang di hidangkan untuk Bastio.
"Kau ini benar-benar jorok ya? Belum membersihkan diri sudah berani makan." Ucap Bastio kepada Aldo mengejek sambil bercanda.
"Biar week, memangnya kalau orang kota apa seperti kakak ipar semuanya dalam masalah makanan pagi?" Jawab Aldo sambil terus mengunyah ubi kayu di mulutnya.
"Yaaa , tergantung." Jawab Bastio santai.
"Ini roti jenis apa? kok baru lihat bentuk roti seperti ini?" Tanya Bastio keheranan karena memang belum pernah melihatnya apalagi memakannya kepada Aldo sambil membolak-balikkan ubi kayu rebus di piring sesekali memencetnya.
"Uuups, wKwkwk." Sepontan pertanyaan Bastio membuat Aldo tertawa terbahak-bahak .
"Di tanya malah tertawa," Ucap Bastio kebingungan.
"wKwkwk, cob...di coba dulu, nanti kakak ipar bakalan tau, itu roti jenis apa." Jawab Aldo kepada Bastio dengan masih menahan tawanya.
Bastio yang penasaran pun lantas mencoba untuk mencicipinya, awalnya Ia hanya mengambil secuil. lalu Ia menambah nya kembali menjadi sepotong.
"Bagaimana, haaa?" Tanya Aldo kepada Bastio sambil menaik-turunkan alisnya.
"Enak, ada rasa-rasa gurih, manis dan ada pahitnya sedikit, tetapi tidak terlalu terasa.tekstur nya juga lembut." Jawab Bastio menilai sebuah rasa dari sepotong roti baginya, yang ternyata adalah ubi kayu rebus.
"Apa ini sejenis roti khas di kampung ini?" Tanya Bastio kembali kepada Aldo.
"wKwkwk, wKwkwk." Kali ini Aldo tertawa sambil terpingkal-pingkal melihat expresi Bastio yang berhasil dia kerjain itu.
"Kenapa malah tambah tertawa? apa gara-gara roti ini?" Tanya Bastio kebingungan sambil meletakkan ubi kayu yang digitnya karena takut ketularan Aldo secara tiba-tiba tertawa sampai terpingkal-pingkal.
__ADS_1
Mang Dudung yang mendengar keributan di luar rumah pun ikut keluar mencari tahu apa yang sedang terjadi.