
Seseorang misterius itu juga kemudian melepaskan tangannya yang di gunakan untuk menutupi pandangan Santi. dengan wajah yang berseri-seri.
Karena mata Santi yang baru terbuka, Ia tidak bisa menstabilkan pandangan itu. saat ini pandangannya masih terasa blur. hingga Ia mengucek-ucek matanya sesaat, barulah ia mulai bisa melihat di sekeliling dengan jelas.
"Rang... Rangga?.. benarkah itu kau?" Ucap Santi tidak percaya. sementara lelaki misterius yang berada di depannya hanya tersenyum bahagia melihat Santi yang shok dan masih mengenalinya itu.
"Hmmm, menurutmu?" Ucap lelaki di depannya dengan santai.
Santi masih tidak percaya dengan lelaki yang berada di depannya. Ia terbelalak kemudian Ia mengucek matanya untuk ke sekian kalinya mencoba menyadarkan dirinya jika sedang mimpi atau menghayal. dan ternyata lagi-lagi lelaki di depannya memanglah nyata.
"Kau... kenapa, ...ck, Apa ini kejutkan yang di bilang Mita?" Tanyanya gugub dengan to the poin. dan lagi-lagi lelaki itu hanya tersenyum bahagia melihat pujaan hatinya yang masih mengenalnya dengan baik.
"Rangga. kenapa dunia ini terlalu sempit." Decak Bastio dalam hati setelah mendengar Santi memanggil dengan sebutan Rangga. Bastio yang mengenali wajah seseorang yang berada di depannya tidak jauh darinya pun lantas langsung menghentikan langkah kakinya.
melihat pemandangan di depannya tentu saja membuat Bastio merasa tidak senang. kebetulan ada seorang pelayan yang membawa hidangan hendak berjalan melewatinya. kemudian Ia tidak melewatkan kesempatan tersebut. Bastio mendadak melangkahkan kakinya ketika pelayan restoran itu berada di depannya. dan tentunya membuat makanan dan minuman yang di bawa oleh pelayan restoran tersebut tumpah di pakaian Bastio.
"Prang...."nampan berisi makanan dan minuman dari tangan pelayan berserakan di lantai. tentu saja hal itu membuat semua pengunjung menoleh ke arah sumber keributan tersebut tanpa terkecuali Santi dan Rangga.
"Maa... Maaf tuan, saya tidak sengaja. sekali lagi saya minta maaf." Ucap pelayan restoran ketakutan.
__ADS_1
"Eh mbak, punya mata itu di pakai dong! jelas-jelas di sini ada orang. main tambrak saja. bisa kerja gak sih?" Bentak Lani kepada pelayanan restoran tersebut.
"Maaf mbak, saya benar-benar tidak sengaja." Ucapnya bergetar karena ketakutan.
"Kamu fikir dengan meminta maaf dan bilang tidak sengaja bisa mengembalikan keadaan. apa kamu tidak ingin bekerja lagi?" Ucap Lani dengan lantang nya membuat pelayan itu semakin ketakutan. dan tentu saja memancing kepada semua pengunjung dan berbisik-bisik melihat tingkah Lani.
"Sudahlah, dia sudah minta maaf sepertinya dia juga memang tidak sengaja. lagian aku juga tidak kenapa-kenapa. cuma bajuku yang kotor dan basah." Ucap Bastio dengan tenang. karena akhirnya dia bisa mengalihkan perhatian nya Santi kepada dirinya.
"Bastio?.. kenapa dia ada di sini?" Ucapnya dalam hati sambil terbelalak melihat Bastio berada di tempat yang sama dengan dirinya.
Lani menggerutu kesal karena tidak mendapat pembelaan dari bosnya itu, Bu malah pelayan itu yang di belanya. kemudian Lani meraih tisu yang berada di atas meja kebetulan tidak jauh darinya berdiri. dan Ia berniat untuk mengelap baju serta jas Bastio yang kotor karena tumpahan makanan dan minuman. namun Bastio menolaknya dengan halus.
"Tuan Bastio? kenapa seorang Bastio berada di tempat seperti ini?.. Apa anda sengaja mengikuti ku? apa anda sudah sadar dan berbalik ingin memohon kepada saya untuk bergabung dengan perusahaan anda?" Ucap Rangga kepedean dengan senyuman mengejek.
"Tuan Rangga, apakah di mata anda, saya adalah orang yang tidak punya pekerjaan, sehingga harus mengikuti kemanapun anda berada? dan apakah menurut anda saya adalah seorang penjilat?" Ucap Bastio santai dan terlihat tenang juga membalas senyuman ejekannya.
Mendengar ucapan Bastio tentu saja membuat Rangga, bagaikan seakan tersulut emosi nya.
"O iya, jika Anda sudah selesai bicaranya, saya permisi dulu, mau kekamar mandi." Ucap Bastio santai dan masih menunjukkan senyuman manis nya.
__ADS_1
"Tunggu dulu tuan! apa anda datang kemari untuk membahas kerja sama dengan perusahaan kecil milik orang ini? kalau benar, kasihan sekali anda." Ucapnya sombong sambil berjalan mengelilingi kliennya dengan menunjukkan senyuman mengejeknya, tentu saja membuat kliennya Bastio menjadi minder.
"Hmmm, menolak perusahaan sebesar perusahaan kami, malah menerima perusahaan kecil yang sudah aku tolak mentah-mentah. keuntungan apa yang akan anda terima dari perusahaan kecil miliknya?"
Mendengar ocehan Rangga barusan, Bastio kembali mengurungkan niatnya untuk pergi dari ruangan itu, kemudian dia berbalik menatap Rangga dengan tenang dan masih tetap tersenyum.
"Tuan Rangga, saya menolak atau menerima kerja sama dengan perusahaan besar atau kecil. saya rasa tidak ada urusannya dengan anda. dan saya fikir hal ini tidak merugikan anda kan?"
"Lagipula, menurut saya. lebih baik saya menerima bekerja sama dengan perusahaan kecil tetapi mereka memiliki tujuan jelas. dan sejalan dengan visi misi perusahaan saya. dari pada bergabung dengan perusahaan besar yang sama sekali tidak memiliki prinsip, dan tidak memiliki tujuan yang pasti. benar tidak?" Ucap Bastio santai dengan memasukkan kedua tangannya di kantung saku celananya.
"Bukanya setiap bisnis itu memperhitungkan keuntungan besar? dan apakah itu tidak termasuk kedalam tujuan?" Tanya Rangga menimpali.
"Iya, ku akui apa yang anda ucapkan itu benar. tetapi sekali lagi maaf, perusahaan kami tidak memikirkan keuntungan besar, kalau hanya sesaat." Ucapnya mengakhiri perdebatan nya dan berlalu meninggalkan semua orang yang ada di sana.
Bastio sampai di kamar mandi, dan segera menghidupkan kran air yang ada di sana. dan membasuh kan kemeja dan jasnya di sana.
Beberapa menit kemudian, Santi masuk ke dalam kamar mandi yang di gunakan oleh Bastio. dengan rasa takut dan tanpa berbicara serta menatap Bastio Ia berdiri di samping Bastio yang sedang sibuk membersihkan jasnya, kemudian Ia memegang jas yang terkena noda tersebut dan meraih tubuh Bastio untuk menghadapnya. kemudian Ia membantu membukakan jas yang di gunakan Bastio itu. melihat hal tersebut, tentu saja membuat Bastio terkejut juga senang. karena akhirnya dia berhasil mengalihkan perhatian nya dari si Rangga.
Jas yang di kenakan Bastio sudah terlepas. kemudian Santi kembali menatap tubuh kekar suaminya itu, Santi mengendurkan dasi yang di gunakan suaminya hendak melepaskan nya. setelah selesai, beralih membuka kancing kemeja suaminya satu persatu dengan masih tanpa suara. sementara Bastio hanya bisa tersenyum dan menuruti semua yang di lakukan oleh istrinya kepada dirinya.
__ADS_1
Belum selesai Santi membuka kancing kemeja suaminya namun Ia di kejutkan oleh suara telepon miliknya tanda pesan masuk. Santi membuka pesan masuknya, setelah selesai Ia keluar meninggalkan Bastio di sana dengan tetap tidak bersuara.